Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk kalian semua yang merayakan. Mohon maaf lahir batin ya....
-
-
Sudah pukul 9 malam ketika mobil Dion memasuki garasi di rumahnya. Sisil perlahan meninggalkan mama mertuanya yang baru saja terlelap. Ia membuka pintu saat Dion baru saja menginjakkan kakinya di teras rumah. Ia tersenyum melihat Sisil yang langsung mengambil tas kerjanya dan membawanya ke dalam.
"Sudah makan, Di?" tanya Sisil.
"Sudah, tadi ada acara makan malam dengan klien," jawab Dion sambil melepaskan dasinya.
Suami istri tersebut bersama-sama menaiki tangga menuju kamar tidur mereka. Sisil meletakkan tas kerja Dion di atas meja kecil di samping meja rias. Ia mengambil dasi yang baru saja dilepaskan Dion. Dion melepaskan kemeja yang ia kenakan dan hanya menyisakan kaus dalam putih yang mencetak sempurna tubuhnya. Pemandangan indah ini sudah menjadi keseharian buat Sisil. Ingin ia bersandar di d**a bidang Dion, tapi apalah daya. Ia masih harus menunggu saat yang tepat sampai Dion benar-benar bisa mencintainya.
"Aku mandi dulu ya, Sil," ucap Dion.
"Mau aku siapkan air hangat?" tanya Sisil.
"Ngga usah, aku bisa siapin sendiri," tolak Dion halus.
Selama berada di kamar mandi, Dion masih kepikiran mengenai teman pria yang tadi berada di kedai kopi bersama Sisil. Apa mungkin itu teman dekat atau mantan kekasihnya Sisil? batinnya. Ingin ia bertanya perihal pria itu tapi entah mengapa pertanyaan yang seharusnya sudah meluncur dari bibirnya tak jadi ia sampaikan. Ada rasa gengsi, takut dipikir cemburu. Sisil menunggu sambil mencoba menyusun pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada Dion setelah suaminya itu mandi.
15 menit berlalu. Dion melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggangnya. Sisil merasa jengah melihat tubuh Dion yang setengah telandjang. Butiran air masih menetes dari rambut hitamnya, perlahan mengalir ke dadanya. Sisil pura-pura mengalihkan pandangan ke ponsel yang ada di tangannya. Dion mengambil baju yang sudah disiapkan Sisil dan kembali masuk ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Dion keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Kali ini Sisil menyiapkan kaus tanpa kancing depan sehingga ia tak perlu melihat bulu-bulu yang tumbuh di dadda kekar suaminya itu.
"Tumben hari ini pulangnya malam, Di," ucap Sisil saat Dion sudah menyandarkan tubuh di sofa bed-nya. Sebenarnya ia ragu bertanya, takut mendapat jawaban yang hanya akan menyakitkan hatinya.
"Iya, Sil. Tadi harus ngecekin semua berkas buat proyek barunya paman," jawab Dion. "Untung ada si Bara yang bantuin jadi bisa selesai. Habis itu kami makan malam dengan salah satu klien karena paman berhalangan datang." Tentu saja Dion berbohong. Tak mungkin ia menceritakan perihal pertemuannya dengan Angel hari ini. "Tadi gimana hasil pembicaraan kamu dengan dokter Ryan, Sil?" Dion mencoba mengalihkan perhatian.
Sisil terdiam sebentar sebelum menjawab. "Hasil observasinya kurang bagus, Di. Menurut Bang Ryan, kanker yang menyerang tubuh mama sudah mengalami metastase atau penyebaran. Satu-satunya jalan adalah kemoterapi." Sisil kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai efek samping yang mungkin akan terjadi setelah mama mertuanya menjalani kemoterapi. Dion sedikit terkejut saat mendengar Sisil menyebut nama 'Bang Ryan.' Sedekat itukah mereka? batinnya.
"Di, lain kali kita atur waktu untuk ketemu sama Bang Ryan, ya. Dia juga mau ngobrol sama kamu perihal kondisi mama," lanjut Sisil.
"Ya, baiklah. Kamu atur aja waktunya, ya."
"Ok. Nanti aku infoin ke kamu, ya. Aku nanti buat janji sama Bang Ryan di hari Sabtu, biar kamu bisa ikutan." Sepasang suami istri itu kemudian melanjutkan obrolan mereka tentang banyak hal, terutama tentang pengobatan yang akan dijalani Mama Dion sampai akhirnya keduanya terlelap di ranjangnya masing-masing. Sisil mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal pertemuan suaminya dengan sang mantan kekasih. Begitu juga Dion, ia tak jadi bertanya tentang pria tampan yang bersikap manis pada Sisil di kedai kopi.
***
Akhir pekan pun tiba. Hari ini Sisil dan Dion berencana untuk berkunjung ke rumah Ryan untuk berbincang-bincang lebih jauh mengenai pengobatan Mama Dion. Awalnya mereka berencana untuk bertemu dengan Ryan di sebuah restoran, tetapi hari ini kebetulan Sonya akan berkunjung ke rumah Ryan. Sisil yang sudah rindu dengan sahabatnya itu langsung setuju ketika Sonya mengajaknya untuk bertemu di rumah Ryan.
"Hai, Sil, Di," sapa Sonya dengan bahagia ketika sepasang suami istri itu menjejakkan kaki di teras rumah Ryan. Ia memeluk Sisil dengan erat. Ryan dan James yang sedang bercakap-cakap di ruang tamu ikut menyambut Sisil dan Dion.
"Di, kenalin ini Bang Ryan, dokternya mama. Bang, kenalin ini Dion." Sisil memperkenalkan Dion dengan Ryan. Kedua pria itu berjabat tangan dengan senyuman mengembang di bibir mereka masing-masing. Ohh, jadi pria yang bersama Sisil waktu itu ternyata Ryan? Tapi mengapa mereka terlihat begitu akrab ya? batin Dion. Jadi ini si Dion itu? Hmm ... ternyata dia ganteng juga, pantes Sisil ngga bisa move on, batin Ryan.
Kelima orang dewasa itu pun terlibat dalam perbincangan hangat. Ternyata kedatangan James dan Sonya ke rumah Ryan adalah untuk membicarakan tentang rencana pertunangan mereka yang akan diadakan bulan depan dan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dua bulan setelah acara pertunangan. Sisil ikut bahagia melihat Sonya dan James yang akhirnya akan meresmikan hubungan mereka. Kedua sahabatnya itu dengan semangat menceritakan secara detail segala persiapan yang akan dilaksanakan. Jauh berbeda dengan pernikahan Sisil dan Dion dulu. Semua perencanaan dilakukan dengan tiba-tiba.
"Jadi seperti itu ya rencana kami, Bang. Aku harap Abang bisa membantu kalau-kalau kami ada kendala," ucap Sonya setelah memberikan penjelasan mengenai rencana pertunangannya.
"Ok, baiklah. Abang senang dengan rencana kalian. Lagipula ngga bagus kalau terlalu lama pacaran, rentan bikin dosa," sahut Ryan santai.
"Aku juga turut senang, akhirnya dua sahabatku ini akan segera menikah," ujar Sisil. "Kalau perlu bantuan, aku dan Dion usahain untuk bantu. Ya kan, Di?" tanya Sisil sambil memandang ke suaminya yang duduk tepat di sebelah kanannya.
"Ya, tentu saja. Kebetulan aku ada kenalan seorang pemilik wedding organizer. Beberapa teman di kantor udah pernah pakai jasanya. Kalau kalian berminat, nanti aku kasih kontaknya," timpal Dion.
"Oh ya? Boleh juga tuh, Di. Nanti kirimin aku kontaknya ya," jawab Sonya semangat. Dion menjawab dengan anggukan.
"Bang Ryan, jadi soal mama bagaimana?" tanya Sisil setelah mereka selesai membicarakan mengenai rencana James dan Sonya.
"Ok. Dion, aku memang sengaja minta Sisil supaya bisa ngobrol dengan kamu." Ryan mengawali pembicaraan.
"Ya, Dok. Maaf kalau kemarin-kemarin aku ngga bisa ikut Sisil ketemu Dokter," jawab Dion.
"Panggil aku 'Abang' aja, seperti Sisil dan Sonya," sahut Ryan. "Jadi kondisi Tante Mawar ini sudah di stadium akhir. Saranku Tante Mawar harus menjalani kemoterapi. Nanti ada dokter lain yang khusus menangani tindakan kemo," papar Ryan sambil meminum kopi yang baru saja dibuatkan oleh Sonya.
"Apa kemo ada efek sampingnya, Bang?" tanya Dion yang juga ikut menyesap kopinya.
"Tentu saja ada, misalnya mual, muntah, tidak nafsu makan, kerontokan rambut dan penurunan berat badan. Itu yang biasa terjadi." Dion mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan dari Ryan. "Kalian bisa berkonsultasi dengan ahli gizi tentang asupan makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi untuk mengurangi efek samping kemo-nya. Setelah itu baru kita lakukan operasi pengangkatan tumor," lanjut Ryan lagi. Mereka kemudian lanjut berbincang-bincang. Secercah harapan terbit di hati Dion mengenai kesembuhan mamanya.
"Pa-pa-pa," oceh seorang batita di gendongan Sonya.
"Halo, Jagoan Papa." Ryan melebarkan kedua tangan dan membawa putranya itu ke dalam pelukannya.
"Ini Bimo, Sil." Ryan memperkenalkan putranya kepada Sisil.
"Hai, Bimo. Ini Tante Sisil," sapa Sisil. Ia mengelus pipi lembut Bimo. "Ihh ... ngegemesin banget sih." Sisil mencubit gemas pipi Bimo.
"Ganteng ngga, Sil?" tanya Ryan.
"Iya, Bimo ganteng banget," lanjut Sisil.
"Iyalah, siapa dulu papanya." Ryan terkekeh. Sisil hanya tersenyum mendengar celotehan Ryan. Ia lanjut memegangi jari-jari mungil Bimo.
"Bang Ryan ... Bang Ryan, udah jadi bapak masih aja suka gombal." Sonya hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan abangnya itu.
"Loh kamu ini gimana sih, Nya. Emang bener 'kan si Bimo itu ganteng. Mirip banget sama aku," ujar Ryan tak mau mengalah.
"Ya, iyalah mirip Abang. Mana mungkin mirip James," gerutu Sonya.
"Apa sih, bawa-bawa namaku?" tanya James yang sedang asyik main game di ponsel-nya.
"Kalau lagi kumpul ngga boleh main game." Sonya mengambil ponsel yang ada di tangan James lalu memasukkannya ke dalam tasnya.
"Iya, Tuan Putri." James pasrah menurut dengan perintah kekasih yang segera akan dinikahinya itu.
"Di, si Bimo lucu banget ,ya," ucap Sisil yang sedang menggendong Bimo yang baru berulangtahun ke satu. Ia menciumi puncak kepala Bimo yang berambut hitam legam. Aroma khas wangi minyak telon membuat Sisil betah berlama-lama menciumi Bimo.
"Iya, lucu banget. Sini aku mau coba gendong." Sisil menyerahkan Bimo ke pelukan Dion. Bimo terlihat menyukai Sisil dan Dion. Ia tak menangis ketika digendong pasangan suami istri itu secara bergantian. Dion pun menggendong sambil sesekali mencium pipinya.
"Wahh ... kalian berdua udah cocok nih jadi papa dan mama muda," goda Sonya. Sisil dan Dion hanya tersenyum. "Apa jangan-jangan udah isi nih?" goda Sonya lagi.
"Isi nasi sama lauk-pauknya," canda Sisil.
"Loh, kok jawabnya gitu? Kalian 'kan sudah hampir tiga bulan menikah. Siapa tahu di dalam perut kamu sudah ada calon bayi," timpal Ryan.
"Belum ada tanda-tanda, Bang," jawab Sisil.
"Kalau ada kesulitan kalian bisa konsultasi ke aku. Siapa tahu aku bisa bantu," ucap Ryan serius. "Yang penting diusahakan terus. Dion jangan terlalu capek, kalau bisa berhenti merokok juga," saran Ryan.
"Kami memang sengaja menunda, Bang. Saat ini kami mau fokus dulu untuk mengurus mama," bohong Sisil. Bagaimana mau hamil? Disentuh aja belum, batin Sisil.
"Iya, Bang. Apa yang dibilang Sisil itu benar, kasihan Sisil sudah capek setiap hari mengurus mama. Kami masih menunggu waktu yang tepat," timpal Dion yang masih menggendong Bimo.
"Yaa, aku mengerti keadaan kalian. Tapi jangan keterusan, ya. Pasti Tante Mawar juga ingin lihat cucunya," jawab Ryan.
"Sil, ikut aku sebentar, yuk. Aku punya bahan kebaya buat kamu pakai nanti pas acara pertunangan kami. Kamu yang pilih sendiri, ya," ajak Sonya. Ia menarik lengan Sisil untuk menuju ke kamar yang memang disediakan Ryan untuknya.
"Di, aku tinggal sebentar, ya," pamit Sisil. Suaminya mengangguk mengizinkan.
Kedua sahabat itu berlalu meninggalkan ketiga pria dewasa di ruang tamu. Di kamar Sonya sudah tersedia beberapa bahan kebaya dengan corak dan warna yang berbeda.
"Kamu pilih yang mana, Sil?" tanya Sonya. Sebentar Sisil mengamati satu per satu kain kebaya yang disodorkan Sonya dan menjatuhkan pilihannya pada bahan kebaya warna salem.
"Aku pilih yang ini," jawab Sisil. Sonya membantunya melipat kain itu kemudian memasukkanya ke dalam plastik bening.
"Aku boleh tanya sesuatu yang pribadi ngga, Sil?" tanya Sonya pelan.
"Iya, ada apa?" Sisil balik bertanya.
"Apa benar kalian menunda untuk punya anak karena Tante Mawar?" selidik Sonya.
"Iya, benar kok," bohong Sisil. Ia berusaha untuk menghindari tatapan penuh selidik dari Sonya.
"Sisil ... Sisil, kita itu berteman udah bertahun-tahun. Kamu ngga usah berbohong deh," ucap Sonya.
"Jadi aku harus jawab apa dong?" balas Sisil.
"Kalau kamu masih anggap aku sahabat, coba jujur, siapa tahu aku bisa bantu," jawab Sonya.
“Kami ... mmm ... kami belum ... mmm," Sisil tergagap. Susah payah ia berusaha untuk menjelaskan keadaannya.
"Are you still a virgin?" tanya Sonya dengan nada selidik sambil menyipitkan kedua matanya layaknya detektif berpengalaman. Ia tak mau lagi berbasa-basi. Sedari tadi ia sudah penasaran.
"Ya," jawab Sisil singkat.
"Apaaa?" Sonya terkejut bukan main mendengar jawaban sahabat baiknya itu. "Coba kamu periksa jangan-jangan suamimu itu penyuka sesama jenis," lanjut Sonya.
"Gay sih ngga," jawab Sisil lagi.
"Sil, aku ada ide. Coba kamu kasih dia semacam obat yang bisa meningkatkan gairah," saran Sonya.
"Maksudmu obat perangssang?" Sisil terkejut mendengar saran sahabatnya itu. Yang benar saja, masa sih untuk bisa tidur sama suami sendiri harus pakai obat perangssang? batin Sisil.
Jari-jari lentik Sonya dengan lincah berselancar di ponselnya mencari obat yang tepat untuk Dion.
“Terbukti ampuh! Suplemen ini bisa membuat pria lebih kuat, tahan lama, dan lebih perkasa. Inilah rahasia pria perkasa menggapai surga dunia,” Sonya membaca iklan obat kuat pria yang ada di layar ponsel-nya. "Aku pesenin ya, Sil. Murah kok, cuma dua ratus ribu rupiah," lanjut Sonya sambil menunjukkan gambar suplemen yang dimaksud.
"Apaan sih, Nya? Ngga usah pesen," tolak Sisil.
"Tapi ini perlu, Sil. Mungkin si Dion itu menghindar dari tugasnya di ranjang karena dia ada masalah. EDI, kamu tahu kan?" tanya Sonya.
"EDI, maksudnya?" Sisil tak paham maksud Sonya.
"Helehh, itu aja ngga tahu. EDI itu maksudnya edjakulasi dini," jelas Sonya sambil tersenyum kecil.
"Hahh? Mana mungkin, Nya? Impossible." Sisil menggoyangkan kedua tangannya tanda tak setuju. "Tahu ngga, Nya. Badannya Dion aja sekekar itu. Mana mungkin punya masalah edi-edi itu. Ngada-ngada aja kamu ini," lanjut Sisil.
"Badan besar, kekar, belum tentu perkasa di ranjang loh, Sil. Aku pesenin, ya." Sonya berkeras.
"Ya udah, pesen aja buat James. Badannya 'kan kekar kayak Gatot Kaca. Siapa tahu dia termasuk yang bermasalah dengan si edi itu," saran Sisil.
"Ngga bakalan. James pasti tokcer," jawab Sonya.
"Ohh, kalau seyakin itu sepertinya kamu udah pernah coba ya. Hayoo ngaku," goda Sisil.
"Idihhh mana ada. Aku ini masih ting-ting loh, Sil. Suerr," ujar Sonya sambil mengacungkan dua jarinya.
"Pokoknya ngga ada acara pesen-pesen suplemen itu ya, Nya. Awas kamu!" ancam Sisil.
"Ngga janji," jawab Sonya sambil melenggang keluar kamar meninggalkan Sisil. Suara tawanya seperti kaleng kosong terdengar keras membuat telinga Sisil sakit. Ia mengambil bungkusan yang berisi bahan kebaya yang sudah dibeli Sonya dan ikut melangkah keluar meninggalkan kamar.
"Ketawain apa sih, Sayang?" tanya James ketika melihat Sonya yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
"Itu loh, James. Si Sonya punya secret admirer alias penggemar rahasia. Namanya Edi." Sisil menjawab cepat sebelum Sonya keceplosan menceritakan perihal EDI.
"Si Edi itu siapa, Sayang?" tanya James kebingungan.
"Dasar Sisil ngaco. Kamu jangan dengerin dia ya, Sayang. Ngga ada tuh, Sisil cuma ngarang," ucap Sonya sambil melihat Sisil dengan tatapan penuh ancaman. Sisil hanya menanggapi dengan tertawa terbahak-bahak.
Sampai jumpa besok