Meeting 3

2306 Kata
Buat yang sudah mampir ke cerita MHMFL pleaseee jangan lupa tekan love-nya ya. Tringgggg.... Suara alarm dari ponsel Sisil mulai berkumandang. Wanita yang sedang sibuk mencuci piring menghentikan aktivitasnya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja makan. Setelah mematikan suara alarm ia beranjak menaiki tangga menuju kamar tidur. Melihat suaminya masih tertidur dengan posisi terlentang, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Melangkah pelan lalu membuka jendela kecil dan membiarkan gorden terbuka. Cahaya matahari pagi seketika masuk menerangi kamar. "Di, bangun. Sudah jam 7 nih," Sisil menggoyang-goyangkan lengan Dion. "Masih ngantuk, Sil," jawab Dion sambil menutup mukanya dengan bantal bersarung putih polos. "Semalam 'kan janji mau bawa mama jalan ke taman. Kasian mama udah lama ngga keluar rumah, biar seger. Ayo bangun," Sisil kembali menggoyangkan lengan suaminya itu. Dion menyingkirkan bantal yang tadi ia gunakan untuk menutup mukanya. "Oh ya, aku hampir lupa. Tunggu di bawah, ya. Aku bersih-bersih dulu." Dion meninggalkan sofa bed-nya dan melangkah menuju kamar mandi. Sisil beranjak turun dan menunggu di bawah sambil menyiapkan roti untuk sarapan. "Sarapan roti sama s**u dulu aja ya, Di," ujar Sisil ketika melihat Dion masuk ke ruang makan. "Iya, Sil. Aku sih terima aja apa yang udah kamu siapin," jawab Dion. "Aku panggilin mama dulu ya." "Ok." Beberapa saat kemudian Dion kembali bersama mamanya. “Ini jus ABC buat mama. Kata temanku ini bagus buat penyintas kanker." Sisil meletakkan segelas jus berwarna merah keunguan. "ABC maksudnya apa, Sil? Baru denger aku," tanya Dion. "Apple, beet, carrot," jawab Sisil. Perlahan mama mertuanya menyesap minuman yang diberikan Sisil. "Aku juga mau dong dibikinin. Lama-lama bosen juga sarapannya minum susu." Sisil mengangguk seraya tersenyum mendengar permintaan Dion. "Iya, ntar aku bikinin. Ma, makan rotinya juga, ya. Kemarin aku coba bikin selai srikaya kesukaan Mama." Sisil menyodorkan piring kecil yang berisi beberapa potong roti yang sudah dioles dengan selai srikaya. "Wah, ini enak banget, Sil. Kamu ini benar-benar seperti mama kamu. Dia itu jago masak, bikin kue juga. Beruntung banget si Dion ini punya istri kayak kamu." Mama Dion memuji Sisil sambil mengunyah roti dalam mulutnya dengan pelan. "Yuk, kita jalan nanti keburu panas," ajak Dion setelah mereka selesai sarapan. "Ok. Aku beresin mejanya dulu, ya. Kamu sama Mama tunggu di teras aja," sahut Sisil sambil memindahkan piring dan gelas kotor ke tempat cuci piring. "Biar saya yang cuci, Bu," ujar Mbak Minah yang sedang berada di dapur. "Iya, Mbak. Jangan panggil aku Ibu dong, Mbak. Panggil aja Sisil," sahut Sisil. "Tapi, Bu-," "Ngga ada tapi-tapi," potong Sisil cepat. "Aku ini seumuran dengan anaknya Mbak Minah." "Baik, Nak Sisil." Mbak Minah menjawab terpaksa. "Nah, begitu lebih baik. Kami pergi ajak mama ke taman dulu ya, Mbak," pamit Sisil. *** Dion mendorong kursi roda yang sudah diduduki mamanya di jalan setapak di pinggir taman sementara Sisil berjalan di samping Dion. Senyum mengembang di bibir Mama Dion. Sudah beberapa waktu ia habiskan hanya di dalam rumah. Mereka berhenti di bawah sebuah pohon. Sisil dan Dion duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari besi, berhadapan dengan Mama Dion. "Segar sekali udara hari ini," ucap Mama Dion. "Iya, Ma. Cuacanya juga cerah," jawab Sisil. "Sebenarnya Mama ingin ngomong serius sama kalian berdua. Mama lihat beberapa hari ini kalian sibuk jadi Mama omongin sekarang aja, ya." Mama Dion memulai percakapan dengan mimik serius. "Iya. Ada apa, Ma?" tanya Dion penasaran. "Jadi begini. Akhir-akhir ini Mama sering kepikiran yang aneh-aneh. Malah beberapa hari yang lalu Mama mimpi kalau Mama tidak bisa selamat dari penyakit ini," jelas Mama Dion. "Mama kok ngomong gitu sih?" ucap Dion pelan. "Jangan dipotong dulu. Biarin Mama ngomong sampai selesai." Dion dan Sisil diam sambil mengangguk, menunggu kalimat yang akan diucapkan wanita paruh baya itu. "Jadi Mama sudah pasrah. Permintaan Mama hanya satu. Walaupun nanti Mama harus meninggalkan kalian, Mama ingin kalian tetap akur. Mama tahu mungkin sampai saat ini kalian belum bisa saling mencintai. Dion, kamu harus ingat nasihat Mama. Jangan pernah kamu menyakiti dan meninggalkan Sisil." Dion terdiam mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari mulut mamanya, begitu juga dengan Sisil. "Iya, Ma." Sisil menjawab setelah melihat tak ada jawaban dari Dion. "Mama jangan terlalu banyak berpikir. Yang penting adalah menjaga supaya tubuh Mama bisa siap untuk menerima obat kemo," lanjut Sisil. "Benar apa yang dibilang Sisil, Ma. Aku pasti ingat semua nasihat Mama," timpal Dion. "Jangan cuma diingat, tapi harus dilakukan." Perintah Mawar diiyakan oleh Sisil dan Dion dengan anggukan. Mawar beserta anak dan menantunya lanjut mengobrol sambil menikmati udara segar. "Pulang, yuk. Udah mulai panas nih," ajak Sisil. "Ayok, lagian aku udah laper. Tadi makan rotinya cuma sedikit," sahut Dion sambil mendorong kursi roda mamanya. Sudah hampir jam sembilan ketika mereka tiba kembali di rumah. Selama perjalanan pulang, Sisil kembali mengingat setiap perkataan yang diucapkan mertuanya itu. Jika Mama tidak bisa bertahan, apakah pernikahan ini akan tetap berlanjut? Akankah Dion meninggalkan aku? Ahh, mengapa aku jadi berpikir buruk seperti ini? batin Sisil. Mengingat Dion yang menikahinya dengan harapan kesembuhan mamanya membuat Sisil merasa khawatir akan keberlangsungan pernikahan mereka. Sesampainya di rumah Sisil yang sudah merasa kegerahan segera mandi dan membantu Mbak Minah menyiapkan makanan. Sudah jam 10 ketika ia, Dion, dan Mama Dion makan bersama. Tak bisa disebut sarapan, tak bisa juga disebut makan siang. Selesai makan, Dion dan mamanya duduk di ruang keluarga menonton TV sementara Sisil membantu Mbak Minah mencuci piring. Kringg ... kringg ... Suara panggilan masuk terdengar dari ponsel Dion yang tertinggal di meja makan. Sisil yang baru saja selesai mencuci piring mengambil ponsel itu dan memberikannya kepada Dion. "Ada telpon nih, Di." Sisil menyerahkan ponsel ke tangan Dion. "Siapa?" tanya Dion. "Nomor tak dikenal," jawab Sisil. Dion menerima ponselnya dan melihat nomor yang sedang memanggil. Ia meninggalkan ruang keluarga dan duduk di kursi yang tersedia di teras. "Ya, ada apa?" Dion membuka percakapan. "Hai, Di. Boleh minta tolong ngga?" tanya sang penelpon. "Angel, waktu ketemuan kemarin 'kan aku sudah bilang jangan telpon aku lagi. Status kita sudah berbeda. Lagipula aku harus menjaga perasaan Sisil," sahut Dion. Ia mengecilkan suaranya agar tak terdengar oleh mama dan istrinya yang sedang berbincang di ruang keluarga. "Tapi, Di. Aku ngga kenal siapa-siapa di sini," rengek Angel. "Ada apa?" tanya Dion. "Di, semalam suamiku datang. Dia ... dia pukul aku karena aku ngga mau ikut pulang ke Yogya," rengek Angel lagi di sela isakannya. "Apa? Kok tega sekali suamimu itu?" Dion terkejut mendengarkan jawaban Angel. "Huuu huuu huuuu ...." Angel lanjut menangis. Lalu, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Dion lagi. "A-a-ku.... Kamu bisa datang ke tempatku ngga, Di?" Dion termangu mendengar permintaan Angel. "Iya baiklah. Kirim lokasi kamu sekarang. Tunggu di situ sampai aku datang," jawab Dion setelah berpikir beberapa saat. "I-iya, Di. Huuu huuu...." Suara tangisan Angel masih terdengar, meluluhkan pertahanan Dion. Ia segera memutuskan sambungan telepon lalu masuk ke ruang tamu dengan tergesa-gesa. "Sil, aku ada kerjaan mendadak. Aku keluar sebentar ya," ucap Dion saat berpas-pasan dengan Sisil di ruang tamu. "Kerja apa? Hari Minggu begini kok kerja?" tanya Mama Dion yang ikut mendengar ucapan anak lelakinya itu. "Ini dadakan, Ma. Nanti kalau sudah selesai aku langsung pulang kok." “Iya, Di. Ada yang harus dibawa ngga?” tanya Sisil. "Ngga kok, Sil." Sisil dan Dion naik menuju ke kamar. Sisil menyiapkan pakaian ganti Dion dan memberikannya kepada suaminya itu. Tak butuh waktu lama bagi Dion untuk bersiap-siap. "Aku jalan ya, Sil," pamit Dion. "Iya, hati-hati. Kalau pulangnya agak lama kabarin ya." Dion mengangguk mendengar jawaban Sisil. Mereka bersisian menuruni tangga. "Dion jalan dulu ya, Ma," pamit Dion seraya mencium tangan mamanya. "Ya, hati-hati di jalan." Dion mengemudikan mobilnya keluar pekarangan. Ia mengaktifkan GPS untuk memudahkannya menemukan lokasi yang dimaksud Angel. Jalanan yang cukup ramai membuatnya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk tiba di alamat tempat tinggal Angel. Dion menghentikan mobilnya di sebuah rumah bergaya minimalis berwarna putih. Setelah memastikan bahwa itu adalah alamat yang dituju, ia keluar dari mobilnya. Dengan pelan, Dion melangkah teras rumah. Ada rasa ragu untuk menekan bel. Namun rasa penasaran yang membuncah mengalahkan rasa ragunya. Ting tong ting tong Dion menekan bel yang ada di sebelah kanan pintu. Tak lama seorang wanita berusia sekitar 40 tahun membuka pintu. "Maaf, Bu. Apa benar ini rumah Bu Angel?" tanya Dion. "Iya, benar. Ini dengan Nak siapa ya?" wanita itu kembali bertanya. "Saya temannya Bu Angel. Nama saya Dion, Bu. Apa saya bisa bertemu Bu Angel?" "Oh ini Nak Dion. Iya, boleh banget. Nak Angel sudah menunggu di dalam. Ayo masuk, Nak." Wanita itu mempersilakan Dion untuk masuk. Dion mengikuti langkahnya menuju ke ruang tamu yang bernuansa putih dan abu-abu. "Nak Dion tunggu di sini dulu. Ibu panggilin Nak Angel ya." Dion mengangguk dan mendudukkan tubuhnya di sofa empuk yang berwarna abu-abu tua. Dion mengamati tiap sisi rumah. Di dinding terpampang foto pernikahan Angel dengan sang suami. Rasa sakit kembali menusuk di hati Dion. Namun ia berusaha membuang jauh-jauh perasaan tersebut. Tak lama kemudian Angel melangkah masuk ke ruang tamu. Dion bangkit dari duduknya. "Dionnnnnn...." Angel berlari kecil ke arah Dion lalu memeluk pria itu. Dion mematung tak siap dengan pelukan Angel. Kedua tangannya mengepal, jiwanya memaksanya untuk tak membalas pelukan wanita yang merupakan cinta pertamanya itu. "Huuu huuu huuuu...." Angel terus menangis di dalam pelukan Dion. Air matanya mengalir membasahi kemeja biru tua yang dipakai Dion. Dion tetap tak bergeming, ia membiarkan wanita itu menangis di pelukannya. Tersadar akan posisinya, Angel melepaskan pelukannya dari pria itu dan menunduk dalam. Dion mengambil sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya pada Angel. Angel menerima saputangan itu dengan diam. Lalu ia mengusap air mata dan ingus yang ikut meleleh. "Sudah nangisnya?" tanya Dion ketika melihat Angel yang sudah mulai tenang. Angel masih menunduk dan mengangguk lemah. "Duduk!" perintah Dion. Angel duduk di sebelah Dion. "Kalau kamu sudah siap, boleh cerita sekarang," lanjut Dion. Diam, Angel hanya terdiam sambil sesekali mengatur nafasnya untuk menenangkan diri. "Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dion sambil menatap Angel dengan rasa penuh iba. Wajah wanita itu sungguh menyedihkan. Angel menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Akhir-akhir ini Mas Tommy suka bersikap kasar kepadaku, Di. Terakhir dia menamparku karena aku tak sengaja menjatuhkan laptopnya. Berhari-hari setelah itu dia ngga pulang ke rumah. Aku ngga tahan, Di. Aku kabur ke sini, tapi semalam dia datang. Dia suruh aku ikut dia pulang ke Yogya. Aku ngga mau karena aku takut dia kasar lagi sama aku. Dia marah lalu mendorongku sampai aku terjatuh menabrak meja, tak cuma sampai di situ dia juga mengancam akan menceraikan aku kalau aku berani mengadu ke papa mamaku.” Dion terdiam mendengar Angel mengadu. Matanya terarah ke lengan kiri Angel, ada biru lebam di sana. Dion membuang keraguannya lalu menyentuh dan mengusap lembut bekas lebam itu. "Bagaimana bisa kamu disakiti suamimu sendiri? Ini harus dikompres biar lebamnya hilang. Di mana aku bisa mendapatkan es?" tanya Dion sambil bangkit berdiri hendak melangkah ke dapur. "Ngga usah repot-repot, Di. Biar Bu Tuti aja yang ambilin." Angel memanggil wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangganya. "Ada apa, Nak Angel?" Bu Tuti menghampiri Angel dengan sedikit tergesa-gesa. "Tolong ambilkan es dan handuk kecil ya, Bu," jawab Dion. "Baik, Nak Dion." Bu Tuti berbalik meninggalkan Angel dan Dion. Tak berapa lama ia kembali dengan benda-benda yang diminta Dion. Dion mengambil mangkuk berisi bongkahan es batu dan sebuah handuk kecil berwarna putih dari Bu Tuti. Perlahan ia mengusap lengan mulus Angel dengan handuk yang sudah diisinya dengan bongkahan es batu. Diam, tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Sementara Angel pun terdiam. Ada rasa senang dalam hatinya karena sudah diperhatikan oleh pria yang pernah menjadi bagian masa lalunya. "Sudah, semoga lebamnya lekas hilang." Dion kembali memasukkan handuk ke dalam mangkuk kecil. "Terimakasih, Di. Kamu memang yang terbaik," lirih Angel. "Apa boleh aku ngobrol sama suami kamu?" "Jangan, Di. Nanti dia malah tambah marah sama aku." "Tapi ini tidak boleh terjadi lagi. Kamu harus lebih nurut sama suamimu. Mudah-mudahan kalau kamu patuh suamimu tidak akan kasar lagi sama kamu," nasihat Dion. "Iya, Di. Aku minta maaf karena sudah mengganggu waktu kamu," jawab Angel. "Angel, mungkin ini pertemuan terakhir kita. Status kita sekarang sama, aku sudah punya istri dan kamu sudah punya suami. Aku tidak mau Sisil berpikir buruk tentang kita. Aku juga tak mau mengecewakan dia dan juga mamaku. Jadi kalau kamu ada masalah, coba bicarakan dengan baik sama Tommy. Suami mana pun pasti kecewa kalau tahu istrinya malah lari ke mantan kekasihnya kalau ada masalah," ucap Dion panjang lebar. Ia harus menjaga batas antara dirinya dan Angel. "Iya, aku paham, Di. Terimakasih kamu sudah mau membantuku," lirih Angel. "Di, untuk terakhir kali bolehkah aku mentraktir kamu makan? Anggap saja ini sebagai pertemuan terakhir kita. Setelah itu aku tidak akan menelepon atau mengajak kamu ketemuan lagi," mohon Angel. "Maaf aku ngga bisa, Angel. Aku makan malam di rumah aja," tolak Dion. "Tapi please, Di. Ini untuk yang terakhir kalinya." Angel kembali memohon. Dion terdiam sebentar sambil memandang Angel dalam. "Please, Di." "Baiklah. Aku harap ini yang terakhir. Setelah ini kamu harus berusaha untuk memperbaiki rumah tanggamu." Angel tersenyum mendengar jawaban Dion. "Aku tinggal sebentar ya, Di." Angel melangkah meninggalkan Dion dan masuk ke kamarnya. Sambil tersenyum, Angel memilih baju yang akan ia pakai. Pilihannya jatuh pada blouse berwarna pink lengan pendek dan celana jeans berwarna biru. Kemudian ia memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan menyapukan lipstick berwarna merah muda. Tak lupa ia juga mengikat rambutnya menjadi kuncir ekor kuda. Sekali lagi ia memandang wajahnya di cermin. Sempurna, batinnya. "Yuk, kita jalan, Di." Dion yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya seketika mengangkat wajahnya ketika mendengar suara Angel. Ia terpana melihat penampilan Angel yang terlihat jauh lebih muda dari umurnya sekarang, persis ketika mereka masih baru menjadi mahasiswa. "Ayok jalan, Di. Kok bengong aja?" ucap Angel lagi. "Oh i-iya. Ayok jalan," jawab Dion tergagap. Keduanya melangkah menuju mobil Dion yang terparkir di halaman. Setelah berdiskusi sebentar, Dion memutuskan untuk mengajak Angel untuk makan malam di restoran yang menyediakan makanan khas Jawa Tengah. Bersambung Besok aku kasih yang manis-manis deh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN