Please Forgive Me

2042 Kata
Butuh waktu 30 menit untuk Dion dan Angel berkendara ke tempat yang ingin mereka tuju. Sepanjang perjalanan keduanya terlibat pembicaraan tentang masa-masa kuliah dulu dan teman-teman yang saat ini sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dion menghindar agar pembicaraan mereka tidak mengarah pada hubungan yang dulu pernah mereka jalani. "Sudah sampai," ujar Dion ketika mereka memasuki parkiran rumah makan. Angel melepas seat belt-nya dan melangkah keluar diikuti oleh Dion. Keduanya sedang asyik berbincang-bincang sambil berjalan memasuki rumah makan yang bertempat di sebuah ruko ketika Dion mendengar seseorang memanggilnya. "Di ... Di ... Dionnn." Dion menoleh ke arah datangnya suara. Lampu jalan menerangi suasana yang agak temaram. Walaupun malam ini bulan tak bersinar begitu terang, Dion tahu bahwa Sisil lah yang sedang memanggilnya. "Sisil, kok kamu ada di sini?" tanya Dion yang sangat kaget melihat sang istri yang sedang berlari-lari kecil menghampirinya. "Iya, tadi disuruh Sonya temanin dia ke tukang jahit kebayanya. Aku juga jadi ikutan jahit kebaya untuk acara tunangan Sonya. Tuh di ruko sebelah," jawab Sisil sambil menunjuk ruko yang bersebelahan dengan rumah makan yang dituju Dion dan Angel. "Ohh, trus si Sonya kemana?" tanya Dion. "Tadi pas pulang kerja, James jemput Sonya. Mereke pergi ke mall. Mau cari cincin, aku diajak sih, tapi takut kemalaman ntar pulangnya." Sisil menjawab dan Dion hanya mendengar sambil menganggukkan kepalanya. Dalam hati ia berpikir alasan apa yang akan ia berikan kepada Sisil jika istrinya itu tahu mengenai keberadaan Angel di tempat yang sama. "Kamu ngapain di sini, Di?" tanya Sisil. Ia tak begitu memperhatikan sosok wanita yang berdiri tak jauh dari Dion. Angel melangkah mendekat. "Sisil, masih ingat aku ngga?" tanya Angel saat ia sudah berada di depan Sisil. Sisil mengernyitkan dahinya sambil mencoba mengingat wajah yang sepertinya tak asing baginya. "Kamu ... kamu Angel?" tebak Sisil. Ia terkejut bukan main. "Betul, Sil. Rupanya kamu masih ingat sama aku, padahal kita udah bertahun-tahun ngga ketemu," ucap Angel sambil menyodorkan tangannya untuk menjabat Sisil. Sisil pun menerima dan membalas jabatan tangan Angel. "Ehm, jadi gini, Sil. Tadi Angel kabari aku kalo dia lagi ada urusan di Jakarta, jadi aku temuin dia." Dion mencoba menjelaskan agar Sisil tak beranggapan yang salah mengenai pertemuannya dengan Angel. "Iya, Sil. Besok aku rencananya akan pulang ke Yogya." Sisil mengangguk mendengar penjelasan Dion dan Angel walaupun dalam hatinya ada rasa yang mengganjal. "Kita makan bareng yuk." Dion mengajak Sisil. Ia menggandeng tangan Sisil. Ketiga orang itu melangkah masuk ke rumah makan. "Kamu pesan apa, Sil?" tanya Dion sambil menyodorkan menu makanan yang terasa asing buat Sisil. "Aku ngga tahu mau pesan apa, Di," jawab Sisil bingung. "Aku yang pesen ya. Ini menu enak banget, nasi gudeg pakai ayam sama sambal goreng krecek. Pasti kamu suka," ucap Dion sambil menulis pesanannya. "Ya udah, aku ikut aja, Di." Sisil menyetujui pilihan Dion. "Wah, itu sih menu favoritnya kamu, Di. Tau ngga, Sil. Dulu waktu kuliah si Dion paling suka menu ini." Sisil berusaha tetap tersenyum mendengar perkataan Angel walaupun ada rasa dongkol di dalam hatinya. "Kamu pesan apa, Angel?" tanya Dion ke Angel. "Seperti biasa, memangnya kamu lupa?" Angel balik bertanya. "Lontong opor?" tebak Dion. "Betul banget. Ternyata kamu belum lupa menu favoritku," jawab Angel sambil tersenyum. Sisil mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan Angel. "Tapi tetep, menu favoritku yang nomor satu masih nasi goreng sosis Mama Sisil. Besok bikinin buat sarapan ya, Sayang." Dion melingkarkan tangannya di bahu Sisil. Deg, Sisil terkejut dengan panggilan ‘Sayang’ dari Dion dan rangkulannya yang tiba-tiba. "Gimana, bisa 'kan?" tanya Dion. Ia menatap Sisil sambil tersenyum semanis mungkin. "Bi-bisa." Sisil menjawab gugup sembari manggut-manggut. Dalam hati ia mulai bertanya-tanya mengapa Dion tiba-tiba memperlakukannya dengan manis. "Duhh, pengantin baru, masih mesra-mesranya," goda Angel. Dion menurunkan lengannya ketika pelayan membawakan pesanan dan meletakkannya satu per satu di atas meja. Ketiganya menikmati makanan sambil sesekali mengobrol. "Di, ini sih banyak banget, aku mana bisa habisin," ucap Sisil yang sudah mulai kekenyangan. "Sini, aku habisin." Dion mengambil piring Sisil dan memakan sisa makanan yang belum tersentuh olehnya. Dengan lahap Dion menghabiskan makanan dari piring Sisil. Sisil merasa ada yang aneh dengan tingkah Dion malam ini. Angel hanya terdiam melihat kemesraan yang ditujukan Dion kepada Sisil. Hadehh, kenapa aku jadi kayak kambing congek gini? Ngapain juga pakai acara ketemu sama Sisil? gerutunya dalam hati. "Jadi besok rencananya berangkat jam berapa?" tanya Dion kepada Angel setelah mereka selesai makan. "Nanti aku cek tiket dulu, Di. Kalau penerbangan untuk besok penuh aku coba ambil tiket untuk lusa," jawab Angel sambil menyeka ujung bibirnya dengan tisu. "Oh iya, kabarin aja ya," sahut Dion. "Kita pulang yuk, Di. Mama pasti udah nungguin, tadi aku bilang mau keluar sebentar. Ini sudah telat satu jam," ucap Sisil setelah mereka selesai menikmati makan malam. Ia memang kepikiran dengan sang mertua di rumah. "Ya udah, kita pulang. Angel, kamu aku pesenin taksi online aja ya." Dion mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi online ke alamat rumah Angel. Sebenarnya Angel ingin menolak, tapi tak mungkin juga ia terang-terangan mengungkapkan keberatannya. Setelah Angel pulang dengan taksi yang sudah dipesan, Dion dan Sisil juga kembali pulang ke rumah. "Maaf ya, Sil. Tadi aku ngga bilang kalau aku mau ketemuan sama Angel," ucap Dion pelan sambil mengemudikan mobilnya. Sisil yang duduk di sampingnya hanya diam sambil melihat keluar jendela. "Tadi dia nelpon, katanya lagi ada masalah. Ternyata semalam dia dipukuli sama suaminya. Aku ... aku ...," ucap Dion terbata-bata. Ia tak enak hati karena sudah terpergok jalan berdua dengan wanita yang merupakan mantan pacarnya. "Di, kamu pasti tahu tingkah lakumu itu benar atau salah." Sisil menjawab sambil masih menatap keluar. "Iya, aku mengerti kalau aku salah. Tadi aku sudah bilang sama Angel kalau ini akan jadi pertemuan terakhir kami," jawab Dion sambil mengemudi dan menatap ke depan. Sisil tetap diam. Ada rasa kecewa dalam hatinya karena Dion menemui Angel secara diam-diam. "Aku hanya merasa iba karena suaminya memperlakukannya dengan kasar. Apalagi di sini ia tak punya siapa-siapa," lanjut Dion lagi membela dirinya. "Ngga bagus urusin rumah tangga orang lain. Apalagi kalau suaminya tahu kamu ketemuan sama Angel. Bisa-bisa rumah tangga mereka tambah kacau," nasihat Sisil. "Iya, kamu benar. Sekali lagi aku minta maaf ya, Sil. Aku janji ini yang terakhir," janji Dion. "Jangan janji kalau kamu ngga bisa tepatin. By the way, aku juga lihat kalian berdua di Kedai Kopi Senja." Dion terkejut dengan pengakuan Sisil. "Iya, aku minta maaf. Tak ada apa-apa lagi di antara kami." Dion kembali memohon. "Aku mau kita konsentrasi dengan pengobatan mama.” "Kamu betul, Sil. Terimakasih kamu sudah mau mengerti aku." Keduanya kembali terdiam. Sisil berharap Dion akan menepati janjinya untuk tidak menemui Angel lagi. Dalam diam, Dion berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan lagi mencampuri urusan rumah tangga Angel. Ia bisa melihat kekecewaan dari raut wajah istrinya itu. "Sudah sampai," ucap Dion memecahkan keheningan setelah mobil yang ia kendarai terparkir dengan sempurna di garasi rumahnya. Sisil yang masih melamun langsung melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil lalu berjalan ke dalam rumah meninggalkan Dion di belakangnya. Dion menutup dan mengunci mobilnya kemudian melangkah lebar mengejar Sisil. "Sil, Sisil," panggil Dion. Sisil tetap melangkah tak memperdulikan Dion yang memanggilnya. "Tunggu, Sil." Dion mempercepat langkahnya mengejar Sisil yang sudah melangkah masuk ke kamar. Dion mencengkeram lengan Sisil, membuat istrinya itu menghentikan langkahnya. "Sil, aku minta maaf. Aku tahu aku salah," mohon Dion sambil menggenggam kedua tangan Sisil. "Aku kecewa karena kamu sudah bohongin aku, Di. Kalau tadi kita tidak ketemu, apa yang akan terjadi? Kamu pasti akan ketemuan terus sama dia di belakangku. Iya 'kan?" cecar Sisil. Ia menunduk dan mencoba untuk membendung air matanya yang akan segera jatuh. Dion terdiam sambil menyesali pertemuannya dengan Angel hari ini. Jika waktu bisa diputar, ia pasti memilih untuk menolak permintaan Angel. "Aku minta maaf, Sil,” pinta Dion lirih. Ia kemudian memeluk Sisil dengan erat. Sisil menyandarkan wajahnya ke dadda Dion yang bidang. Air mata yang tadi dibendungnya mengalir deras tak terkendali. Dalam satu hari ini, kemeja Dion dibasahi tangisan dua wanita sekaligus, yang satu mantan kekasihnya dan yang satu lagi istrinya. Dion membiarkan Sisil memuaskan tangisannya. "Sudah nangisnya?" tanya Dion setelah tak mendengar suara isak tangis istrinya. Sisil menggangguk pelan dengan wajah masih dalam pelukan Dion. Terlalu malu ia melihat langsung wajah suaminya itu. Dion mengusap lembut rambut Sisil lalu mengecupnya pelan, menghirup aroma bunga dari shampoo yang biasa dipakai Sisil. Dion melepaskan pelukannya dari sang istri kemudian mengangkat wajah cantik yang masih tertunduk itu. Ia menangkup wajah Sisil dengan kedua tangannya, menatap matanya dalam-dalam. "Tolong maafkan aku jika hari ini aku sudah buat kamu kecewa." Perlahan Dion mendekatkan wajahnya kepada Sisil lalu mengecup puncak kepalanya, keningnya, dan kedua matanya. Tak cukup sampai di situ, Dion mulai mengecup bibir Sisil pelan. Setelah beberapa saat, kecupan Dion berubah menjadi ciuman yang panas. Sisil pun berusaha untuk mengimbangi panasnya ciuman Dion. Kedua bibir yang sudah basah akan air liur itu terus bertaut, tak ingin lepas. Puas bermain-main dan sedikit menggigit bibir Sisil, Dion mulai menjelajahi leher mulus istrinya. Tubuhnya mulai memanas terbawa gairahh. Tangan Dion juga mulai ikut menjelajahi tubuh Sisil, meremas punggungnya pelan lalu merayap masuk ke perut rata Sisil. Belum sempat tangan itu merayap lebih jauh ketika Dion mendengar Sisil berkata, "Ma-maaf, Di. Aku tidak bisa." Dion seketika menghentikan aksinya dan mengangkat wajahnya yang sedari tadi bersembunyi di dadda Sisil. Ia menatap wajah Sisil lalu mengangkat kedua alisnya dengan penuh tanya. "A-aku lagi ... mmm ... aku lagi datang bulan, Di." Susah payah Sisil menyelesaikan kalimatnya. Dadanya bergemuruh kencang tak karuan. Dion menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. "Baiklah, kita masih punya banyak waktu," jawab Dion pelan. Ia membantu Sisil merapikan bajunya yang mulai berantakan. "Aku ... aku mandi dulu ya, Di." Sisil meninggalkan Dion dan berlalu ke kamar mandi. Dion yang sempat terbakar gairahh juga memilih untuk mandi di kamar mandi yang berbeda dengan Sisil. Dion mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap itu bisa membantunya menghilangkan gairahh yang sempat memuncak. Setelah merasa tubuhnya sudah netral kembali, Dion menyelesaikan mandinya. Ia memakai handuk keluar dari kamar mandi lalu masuk ke kamarnya yang berada di lantai atas. Sisil kembali terpana dengan pemandangan indah yang muncul di hadapannya. "Aku lupa bawa baju ganti,' ucap Dion. "Sebentar aku siapin bajunya, Di," sahut Sisil. "Ngga usah. Aku bisa sendiri kok, Sil." Dion membuka lemari dan mengambil kaos oblong, celana pendek beserta pakaian dalamnya dari sana lalu masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia kembali ke kamar dengan pakaian lengkap melekat di tubuhnya. "Lagi baca apa, Sil?" tanya Dion sambil ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Sisil. Sisil yang sedang asyik membaca menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas. "Biasa, baca novel, Di." Sisil menjawab pelan. "Boleh lihat?" tanya Dion. Tak menunggu persetujuan Sisil, ia meraih dan mengambil buku bersampul biru itu. Ia mengamati sampul depan dan sampul belakang buku itu lalu tersenyum. "Ohh, jadi ceritanya tentang orang ketiga dalam pernikahan?" gumam Dion. Senyuman belum hilang dari wajahnya. Sisil cepat merebut buku itu dari tangan Dion dan menyembunyikannya di balik bantal. "Jadi, kamu ... kamu cemburu ya?" goda Dion nakal. "Ngomong apa sih, Di?" elak Sisil. "Tadi itu kamu nangis karena cemburu ya aku ketemuan sama Angel?" goda Dion lagi. "Dionnnn!!!!" Sisil merengek sambil menelungkupkan wajahnya di bantal. "Haahhaahha ... ada yang cemburu." Dion mulai mengisengi Sisil. Ia menggelitik pinggang Sisil sambil tertawa terbahak-bahak. "Dion ... ntar aku ngambek lagi nih," rengek Sisil kembali dengan raut cemberut. Dion menghentikan aksinya menggelitik sang istri. Ia bergerak meninggalkan ranjang menuju sofa bed-nya. Dion memindahkan bantal dan gulingnya ke ranjang Sisil lalu melipat sofa bed itu sehingga tampak benar-benar seperti sofa. Sisil mengernyitkan keningnya tanda kebingungan. "Malam ini kita tidur bersama." Dion memposisikan bantalnya tepat di sebelah bantal Sisil lalu membaringkan tubuhnya. Sisil terdiam mencoba untuk menutupi rasa kekagetannya akan perubahan sikap Dion. "Nih ada bantal baru," ucap Dion sambil merentangkan lengan kanannya. Melihat Sisil yang kebingungan Dion melanjutkan ucapannya, "Mulai malam ini kamu boleh jadiin lengan aku sebagai bantalmu." Sisil mengangkat pelan kepalanya lalu meletakkannya di lengan kekar Dion. Senyuman yang terbit di wajahnya mengungkapkan betapa bahagianya ia saat ini. Dion mengecup pelan kening Sisil. "Met tidur ya, Sil," ucapnya. Sisil mengangguk lalu menenggelamkan wajah di dadda kekar Dion yang selama ini diidam-idamkannya. Dalam hati ia berharap dapat menghabiskan masa-masa yang manis seperti ini selamanya. Malam ini menjadi tidur yang terindah bagi Sisil. Bersambung... Besok kita lanjut yang manis-manis, ya. Love buat kalian semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN