part 17

796 Kata
Lidya pun menyesal dan setelah kejadian tersebut niko dan bram jarang sekali menegur sapa dengan lidya sehingga membuat lidya tidak dapat berbuat banyak selain meminta maaf dan meminta maaf ke bram dan niko, “pa, papa tau dari mana kejadian mama yang bilang kalau niko meninggal” Tanya niko di ruang keluarga, tiba tiba benda pipih bram berbunyi “maaf ini benar dengan wali dari niken” suara dari sebrang sana “benar ada apa” tiba tiba muka bram menjadi tegang dan langsung pergi keluar rumah “pa ada apa” teriak niko tapi bram hanya diam dan langsung pergi, “papa kemana ko”Tanya lidya sambil membawakan teh sereh kesukaan bram dan niko, niko hanya mejawab dengan menggangkat bahu dan meninggalkan lidya. Lidya pun memanggil bram dengan benda pipih nya tapi tidak di angkat oleh bram, “kebiasaan banget” lidya menyesal akibat perbuatan nya di masa yang lalu membuat nya tak di anggap di dalam rumah. Bram menuju asrama niken karena dewi memberi no hp bram dan meminta bram untuk membatu menjaga niken, “pak bram ada apa ke sekolah malam malam” kata bu tiar “niken bagaimana bu” Tanya bram dengan muka yang terlihat khawatir, “niken tadi terjatuh di kamar mandi pak, saat sedang mandi teman sekamar nya menemukan niken sekarang niken ada di rumah sakit karena kepala nya terbentur” jelas bu tiar, “rumah sakit mana” “rumah sakit mitra naungan wijaya group pak” bu tiar memberitahu, “terima kasih” bram langsung pergi menuju ke rumah sakit, “saya tadi telp kakek nya niken tapi kenapa pak bram yang datang” bu tiar kebinggungan dan melanjutkan kegiatan nya. Perjalanan ke rumah sakit tidak memakan waktu yang lama 30menit karena dekat dengan sekolah,”halo dokter lisa” Tanya bram saat bertemu dokter keluarga bram “sore pak ada apa malam malam datang ada yang sakit” Tanya dokter lisa karena melihat keadaan bram yang terlihat cemas, “tadi ada murid dari mentari masuk RS bagaimana keadaan nya tolong tangani dengan benar ya” bram mulai bisa mengatasi kecemasan nya, “opa ngapain kesini” tiba tiba niken sudah keluar dari ruang UGD bersama pak ujang dan ayu teman sekamar nya “sayang coba opa liat tidak apa apa kan” sambil memegang luka yang ada di kepala niken, “niken baik baik saja pak bram luka nya hanya tergores dan tidak terlalu parah” dokter lisa menjelaskan kondisi niken yang baru saja ia tangani. Setelah memastikan kalau niken baik baik saja bram pun pulang, tak lupa bram mengajak niken untuk tinggal bersama nya tapi niken menolak alasan nya tidak mau merepotkan opa nya, setelah berkendaraan 1 jam bram sampai di rumah nya niko dan lidya sudah tidak ada di ruang tamu, bram hanya berfikir “seperti nya niko belum tau tentang niken” benda pipih milik bram tiba tiba berkedip “malam pa maaf dewi mengganggu tadi pihak sekolah telp dewi kata nya niken terjatuh di kamar mandi apa benar pa” read “malam dewi, benar tadi papa sudah melihat dan niken baik baik saja” sent           “dewi titip niken ya pa, dewi belum bisa ke Jakarta, dewi baru bisa datang hanya sabtu dan minggu” read “kamu tenang wi, niken kan cucu papa sudah menjadi tanggung jawab papa” sent “terima kasih pa, maaf mengganggu” read “sama sama sayang” sent Lidya yang melihat dari lantai 2 mulai curiga ke bram, karena bram bisa tiba tiba pergi tanpa alasan dan juga suka berbicara di telp dengan sebutan sayang, “siapa wanita simpanan nya” lidya makin curiga ke bram. Tiga hari setelah kejadian kecelakaan tersebut niken bisa beraktifitas seperti biasa nya kembali, “niken bagaimana kepala nya masih sakit” Tanya bu cindy “sudah tidak bu, maaf merepotkan semua nya” niken menundukan kepala nya tanda meminta maaf, “tidak apa apa nak, ini tolong niken antar ya ke wijaya grup, karena sebentar lagi kita mau penerimaan murid baru dan ini daftar seleksi dan laporan keuangan sekolah kita” kata bu cindy memberikan map merah “bu maaf kenapa selalu niken yang ibu suruh kan banyak murid yang lain” Tanya niken hati hati “begini sayang kalau di wijaya grup hanya murid berprestasi yang bisa masuk dan sekalian biar mereka mengenal lokasi di mana nanti bila lulus mau langsung bekerja, dari dini di ajarkan seperti mengenal tempat kerja walaupun nanti niken tidak mau kerja di wijaya grup tidak apa” jelas bu cindy dan niken hanya menggangguk. Dan mulai mencari pak ujang “gimana ken kepalanya sudah tidak sakit” Tanya pak ujang sambil menyalakan mobil sekolah “sudah baik pak, tapi bekas luka nya belum hilang” neken memegang plester di jidat nya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN