“Ma, Papa berangkat ya.” Tidak ada yang berubah dari sikap Damian yang masih baik pada anak dan istrinya. Usai sarapan dan membantu istrinya membersihkan piring bekas sarapan barusan. Dia juga tidak lupa memberikan ciuman pada Fiona. Dia tahu bahwa istrinya juga manusia biasa yang tidak akan pernah bisa sempurna sampai kapan pun. Apalagi dipaksa untuk mengandung anak laki-laki yang diharapkannya. Begitu lama waktu itu bergulir, setiap kali membawa Fiona USG. Hasilnya akan tetap sama yaitu bayi perempuan. Tapi dia berusaha menguatkan diri untuk tetap bertahan agar tidak terlalu menimbulkan kekecewaan di hati istrinya. Damian punya hidup yang baik bersama anak dan juga istrinya. Jadi mana mungkin dia mau menyakiti hati istrinya hanya karena belum ditakdirkan punya anak laki-laki yang begit

