bc

When The Wind Blows

book_age16+
167
IKUTI
1K
BACA
HE
arrogant
goodgirl
powerful
independent
drama
heavy
betrayal
first love
like
intro-logo
Uraian

Hidup Eliza berubah saat dia dipecat dari pekerjaannya sebagai asisten chef di kafe tempat dia bekerja. Tidak hanya itu, Eliza menerima sebuah pesan dari Nadia, mantan sahabat karibnya semasa kuliah, yang memintanya untuk merawat Keila, anak Nadia.

Dua tahun berselang, keadaan pun membaik, Eliza menjalankan bisnis event organizer bersama kedua temannya. Tiba-tiba muncul Alex, mantan kekasih Nadia.

Eliza juga tidak sengaja bertemu dengan Raefal, mantan bosnya, saat mobilnya mogok di jalan. Setelah itu hubungan mereka dekat kembali, dan mulai muncul benih-benih cinta di antara mereka.

Belakangan masalah baru muncul saat Keila mendadak sakit, dari diagnosis dokter dinyatakan bahwa Keila menderita penyakit leukemia parah. Eliza memutuskan menyewa jasa detektif untuk mencari ayah kandung Keila. Hasil dari penyelidikan memastikan ayah kandung Keila adalah Alex. Bagaimana caranya Eliza memberitahu Alex? Selain itu hubungan Raefal dan Eliza mulai renggang karena Raefal cemburu pada Alex. Apa yang harus Eliza lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Raefal?

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal Mula
Langit masih tampak gelap, padahal jam 8 pagi.  Bulan ini memang memasuki awal musim penghujan. Beberapa hari terakhir kota Jakarta telah dilanda hujan. Eliza lalu melajukan sepedanya, bergegas berangkat kerja. Dia merapatkan tudung jas hujannya. Meskipun belum hujan, tidak ada salahnya jika dia memakai jas hujan sekarang. Sepatu boot berwarna kuning melengkapi penampilannya. Eliza mengayuh sepedanya dengan mantap. Sesekali matanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jalanan yang dia lewati berkelok-kelok, di samping kanan-kiri ditumbuhi pohon yang rindang. Dengan naik sepeda, tempat kerjanya bisa dia capai dalam waktu setengah jam dari rumah mungilnya. Rumah pemberian orang tua angkatnya sebelum mereka meninggal menyusul kedua orang tuanya. Benar saja. Seperti dugaannya, tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Laju sepedanya agak terhambat. Tetesan air hujan yang menerpa tidak hanya membuat sakit di wajah, tapi juga membuat perih di mata. Sebuah papan penunjuk arah Sharfaraz Cafe mulai terlihat. Eliza mempercepat laju sepedanya. “Pagi Sam,” sapa Eliza pada teman kerjanya yang merupakan seorang waiters. Ditaruhnya jas hujan di atas gantungan yang berada tepat di depan pintu masuk kafe. “Pagi juga. Chef Bono belum datang,” beritahu Sam tanpa diminta. Eliza mengacungkan jempolnya terus berjalan menuju ruang loker. Dia membuka lemari penyimpanannya, meraih seragam kokinya. Setelah ganti baju, Eliza pergi ke dapur, mengeluarkan peralatan memasak, menyiapkan bahan dan bumbu-bumbu. Nanti saat Chef Bono datang, mereka tinggal memasak. “Kamu sudah tahu kabar terbaru belum?” Alena, waiters juga, tiba-tiba berbicara di belakang Eliza. Eliza melonjak kaget. Pikirannya sedang fokus pada bahan-bahan makanan, jadi sedikit terkejut mendengar suara Alena. “Kabar apa?” Eliza menghentikan pekerjaannya sejenak. Alena tidak langsung menjawab, sengaja membuat Eliza penasaran. Dia meraih sebuah strawbery, lalu mengunyah pelan. “Pak Adrian akan meninggalkan kafe ini bulan depan.” Eliza sama sekali tidak menyangka Pak Adrian akan meninggalkan Sharfaraz Cafe. Pak Adrianlah yang mendirikan kafe ini, menjalankannya hingga sukses dan dikenal oleh masyarakat luas. “Kamu tahu alasannya?” tanya Eliza kemudian. “Kami hanya tahu satu bulan lagi ada pemilik baru yang akan menggantikan Pak Adrian. Mengenai siapa dia, laki-laki atau perempuan, selebihnya, masih belum ada kepastian.” Saat Alena mengatakan “Kami”, Gya tersadar, selama ini dia tidak pernah mengobrol banyak dengan teman-temannya. Bahkan kabar terbaru yang didengarnya barusan sudah bukan rahasia umum lagi. “Aku harus membantu Sam di depan, nanti kita ngobrol lagi.” “Terima kasih telah memberitahuku, Alena.” Alena tersenyum lalu meninggalkan Eliza sendirian di dapur. Tidak lama kemudian semua karyawan telah berada di tempat masing-masing, bersiap-siap sebelum kafe mulai dibuka tepat pukul sebelas siang. “Ini piring dan gelas serta sendok-garpu.” Bu Nena datang ke dapur sambil mendorong meja troli yang berisi tumpukan piring dan gelas. “Terima kasih, Bu,” ucap Eliza. Bu Nena bertugas di bagian cuci piring. Salah satu karyawan terlama di kafe ini. Selain Pak Bono tentunya. Mereka berdualah yang menemani Pak Adrian sejak kafe ini berdiri. Jadi bisa dipastikan mereka akan merasa kehilangan saat bos mereka pergi meninggalkan mereka. “Eliza, bersihkan lobster-lobster ini!” pinta Pak Bono membuyarkan lamunannya. Kapan chef itu datang, Eliza tidak tahu pasti. Mungkin karena tadi sedang melamun, jadi dia sadar akan kehadiran seniornya itu di sana. Eliza cekatan membersihkan lobster-lobster itu, setelahnya beralih ke pekerjaan lain. Baginya, tidak ada kata berhenti sebelum kafe kosong alias tidak ada lagi pelanggan yang memesan makanan.Beruntungnya Chef seniornya tidak terlalu banyak menuntut. Yang terpenting Eliza selalu melakukan perintahnya dan tidak sungkan bertanya saat menemui kesulitan. *** Senja menjelang. Langit sore berwarna keemasan. Matahari malu-malu bersembunyi di balik awan yang bergerombol. Angin berhembus pelan terasa sejuk di kulit. Eliza berada di atas atap kafe, duduk di sebuah bangku kayu. Dia melihat beberapa kendaraan bermotor berlalu lalang di jalan depan kafe. “Rupanya kamu disini," sebuah suara terdengar di belakangnya. Eliza menoleh, mendapati Sam dan Baim berjalan mendekatinya. “Akhirnya bisa istirahat sejenak,” Sam berkata sembari merentangkan tangannya lebar. Di sebelahnya, Baim, si barista yang bersahabat dengan Sam cukup lama semenjak mereka duduk di bangku SMA, ikut merentangkan tangannya. Atap ini memang sering dipakai para karyawan untuk melepas lelah sejenak. Di lain waktu juga bisa menjadi tempat berkumpul-kumpul setelah kafe tutup. “Hari ini agak melelahkan. Kamu tahu, dari tadi tidak hanya satu atau dua orang yang permintaannya lumayan aneh.” Sam mulai mengeluarkan curahan hatinya. Eliza ingat, tadi ada beberapa orang yang membuatnya sedikit kewalahan. Entah ada yang merasa makanannya kebanyakan minyak, terlalu matang, atau keasinan. Padahal menurut Chef Bono maupun dirinya, semua makanan yang dikeluhkan baik-baik saja. Tidak cukup sampai disitu. Sam juga Alena beberapa kali harus bolak-balik ke dapur untuk memenuhi pesanan pelanggan yang membludak tidak seperti hari-hari sebelumnya. “Semoga setelah ini tidak ada lagi pelanggan yang terlalu banyak menuntut,” harap Eliza. “Aamiin”, Sam dan Baim menjawab serempak. Ketiganya lalu tertawa terbahak-bahak. Kemudian terdiam cukup lama. Fokus pada pikiran masing-masing. “Eh, sepertinya kita terlalu lama berada di sini,” ucap Baim. “Rupanya kalian di sini, ayo ke ruang rapat sekarang. Bos ingin bertemu kita,” Alena berbicara dari ujung tangga, lalu berbalik turun ke bawah. Eliza, Sam, dan Baim langsung menyusul dan berkumpul dengan karyawan lain di ruang rapat. Di ruangan itu masih tersisa dua kursi yang belum diduduki. Pak Adrian dan Niken-Manajer kafe-pasti sedang mendiskusikan sesuatu sebelum menyampaikan kepada mereka. Tidak lama kemudian Pak Adrian datang disusul Niken di belakang. “Maaf menunggu lama,” ucap Pak Adrian. “Saya mengadakan pertemuan hari ini untuk menyampaikan sebuah kabar yang pastinya sudah kalian dengar,” jeda sejenak.  “Benar. Saya akan mengundurkan diri dari kafe ini bulan depan.” Semua terdiam, menundukkan kepala lesu. “Sampai akhir bulan saya tidak sering berada di sini karena masih mengurus beberapa dokumen pengalihan. Sementara itu, semua kebutuhan yang berhubungan dengan kafe akan dipegang Niken hingga pemilik baru datang.” “Bos tidak mau memberitahu kami siapa pengganti Bos?” tanya Baim “Kalau saya bilang sekarang, tidak  jadi kejutan buat kalian,” jawab Pak Adrian seraya tersenyum lebar. Serentak dibalas “hu” panjang dari mereka. Selesai pertemuan mereka membubarkan diri, kembali ke tempat masing-masing. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekarang sudah jam 9 malam. Kafe telah tutup. Eliza membantu Chef Bono membersihkan peralatan memasak, menyimpan beberapa bahan makanan yang masih bisa dipakai besok. "Akhirnya selesai juga. Kamu boleh pulang duluan," kata Chef Bono setelah melihat dapur kembali seperti semula. "Terima kasih Chef. Saya pulang dulu ya..." "Hati-hati di jalan," seniornya itu mengingatkan. Eliza mengangguk mengiyakan. "Mau pulang sekarang?" Niken baru keluar dari ruangannya saat berjumpa Eliza. "Ya." "Ayo kita keluar sama-sama. Yang lain sudah pulang dari tadi." Niken berjalan mensejajari langkah Eliza menuju tempat parkir. Niken menghampiri mobil SUV seri terbaru dari sebuah brand mobil yang terkenal di negara ini. Sebagai seorang manajer kafe ternama, mobil tersebut ikut menunjang penampilannya Eliza mengambil sepeda, sengaja menuntunnya. Setelah sampai di depan halaman kafe, dia lalu mengayuhnya kencang. Sambil mengayuh sepeda, Eliza menengadah ke arah langit. Meskipun tadi pagi langit sempat gelap, malam ini langit tampak bercahaya, dipenuhi bintang-bintang yang berkilauan. Puas memandang, Eliza memusatkan perhatiannya ke arah jalan di depannya. Di jalan yang dia lalui hanya ada sedikit lampu penerangan, itupun sinarnya sedikit redup. Kendaraan bermotor yang kebetulan lewat cukup menolongnya, memberikan sedikit penerangan di tengah kegelapan malam. Eliza berhenti di sebuah minimarket langganan tempat dia berbelanja. Dia akan membeli beberapa barang yang sudah habis persediaannya. "Hai." Seorang karyawan minimarket melambaikan tangannya saat melihat Eliza masuk. Dia tengah berdiri di depan rak sambil membawa buku catatan dan sebuah pen. Eliza membalas lambaiannya. Dia mengambil sebuah keranjang belanja berwarna biru lalu berjalan menuju lorong lain. Dengan cekatan dia mengambil sabun mandi, pasta gigi, shampo, dan tisu dalam kemasan besar. "Pesananmu sudah ada," kata karyawan tadi yang berjalan menghampiri Eliza. Mereka berdua kemudian menghampiri meja kasir. Eliza mengenal baik karyawan minimarket yang bernama Alma itu. Eliza ingat, mereka dulu tidak sengaja bertemu saat datang ke sebuah toko buku. Sejak pertemuan di toko buku, mereka akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan pertemanan. Alma mengambil dua buah botol dari bawah meja kasir dan meletakkannya di atas meja. "Satu botol minyak wijen dan satu botol minyak ikan. Sesuai pesanan," ucap Alma sambil tersenyum tipis, memperlihatkan gigi gingsulnya. Eliza membayar barang belanjaannya. Dia memasukkan barang-barang itu ke dalam sebuah tas belanja yang terbuat dari kain bergambar kelinci yang menggigit sebuah wortel. "Apakah kamu buru-buru ingin sampai di rumah?" tanya Alma sedikit ragu. "Tidak," jawab Eliza cepat. "Ayo kita mengobrol sebentar. Kebetulan minimarket sedang sepi." Alma mendorong tubuh Eliza pelan. Dia mengambil dua kaleng minuman bersoda, membawanya keluar. Mereka berdua duduk di depan sebuah meja yang tersedia di depan minimarket. Alma membuka minuman untuk Eliza. "Terima kasih," ucap Eliza. Dia langsung meneguk minuman itu. Cairan dingin itu mengalir pelan membasahi kerongkongannya yang sedikit terasa kering. "Sudah lama kita tidak mengobrol santai seperti sekarang ini." Alma memecah keheningan di antara mereka. "Bagaimana pekerjaanmu?" "Semuanya baik dan berjalan lancar. Hanya saja, sebentar lagi aku akan memiliki bos baru." Eliza sedikit menekuk wajahnya. Mengingat berita yang disampaikan oleh pak Adrian beberapa saat yang lalu membuat dia merasa tidak nyaman. Dia harus menyesuaikan diri dengan atasan baru yang pastinya memiliki kepribadian yang berbeda dari atasan sebelumnya. "Aku bisa membayangkan suasana hatimu saat ini. Ada sedikit kekhawatiran. Bagaimanapun juga, sebagai seorang karyawan kamu harus menerima segala kondisi yang ada. Entah kamu suka atau tidak." Alma menggenggam tangan Eliza erat. Karena tidak ingin membuat Eliza lebih khawatir, Alma mencoba mengalihkan pembicaraan. Mereka akhirnya membahas beberapa topik yang ringan dengan diselingi sedikit tawa. Setengah jam kemudian Eliza memutuskan untuk segera pulang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.9K
bc

Kali kedua

read
223.3K
bc

TERNODA

read
204.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook