Kabut di Kota Pertama perlahan menghilang, terangkat seperti tirai dari sebuah panggung yang menanti simfoni baru dimulai. Dalam diam, dunia menahan napas.
Rayzen berdiri di tengah lingkaran simbol kuno yang kini menyala lembut. Tidak lagi merah darah atau ungu ancaman, melainkan perpaduan warna—seolah sihir dan nasib tidak lagi hanya hitam dan putih, melainkan semua gradasi di antaranya.
Yvana mendekat, memandangi bekas retakan yang menghilang dari tanah. “Apa kau yakin ini akan berhasil? Dunia tidak hanya akan menerimamu begitu saja.”
Rayzen menoleh pelan. Mata dengan iris bercahaya itu tidak lagi penuh tekanan. Tapi keteguhan. “Aku tidak butuh mereka menerimaku. Aku butuh mereka punya pilihan… yang dulu tidak pernah ada.”
Suara lain terdengar dari belakang mereka.
“Pilihan tidak cukup, Valcirion.” Suara itu halus, tapi mengandung gema nyaring. Dari kegelapan yang tersisa di balik gerbang kuno, muncul Luvielle, mengenakan pakaian baru dari kain bercahaya dan senjata berbentuk pena-panah di punggungnya.
Yvana menatapnya heran. “Luvielle?”
Luvielle tersenyum tipis. “Kau benar. Aku bukan hanya akademisi. Aku… adalah Penulis Dunia.”
Rayzen menyipitkan mata. “Keturunan langsung dari para pencatat?”
Luvielle mengangguk, lalu mengangkat tangannya. Gulungan suci terbuka di udara, melayang seperti sayap transparan.
“Aku datang bukan untuk menghalangimu, Rayzen. Tapi untuk menjadi saksi. Dunia baru tidak bisa ditulis oleh satu tangan saja. Maka biarkan aku… menulisnya bersamamu.”
Rayzen mengulurkan tangannya. Jari-jemari mereka bersentuhan—dan seketika, cahaya dari gulungan menyelimuti seluruh area.
Langit berubah.
Bintang-bintang lama runtuh. Tapi bukan dalam kehancuran. Mereka membentuk pola baru—seperti huruf-huruf dari bahasa kuno yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang telah melewati gelapnya sejarah.
Di tempat lain – Ruang Retakan Realita
Dewan Dewa masih memandang turun dari ketinggian ilahi. Mereka adalah bayang-bayang dari konsep purba: waktu, kehendak, kehampaan, keteraturan, bahkan ilusi.
Dewa Tertua memukul tongkatnya. “Valcirion tidak lagi berada di sisi kita… atau sisi kehancuran.”
Salah satu dewa perempuan dengan jubah air menimpali, “Kalau begitu, dia adalah Anomali.”
“Bukan,” kata sosok bersayap kertas. “Dia adalah… katalis.”
Dan dari balik tirai realita, seekor naga transparan bermata tiga membuka matanya—Naga Asal, penjaga jalur yang menghubungkan semua masa.
“Ada yang bangkit. Sesuatu yang bukan dari kehendak Dewa. Bukan pula dari kehancuran. Tapi dari kebebasan.”
Dewan diam.
Kembali ke Rayzen dan yang lainnya
Tanah berguncang pelan. Tapi bukan karena serangan. Melainkan karena perubahan mendasar. Dari bawah Kota Pertama, muncul pohon besar—cabangnya terbuat dari cahaya dan bayangan, akar-akar menembus bumi hingga menyentuh batas dunia bawah.
Rayzen memegang dadanya. Suara Valcirion lama—versi dirinya yang dulu—masih terdengar samar.
> “Apa kau yakin… dunia layak diselamatkan?”
Rayzen menjawab dalam hati.
> “Aku tidak tahu. Tapi aku tahu… dunia layak diberi kesempatan.”
Luvielle menulis kalimat itu ke gulungan.
Dan di saat yang sama, sebuah suara baru—muda, polos, tapi penuh semangat—terdengar dari bawah akar pohon.
“Siapa… yang menulis ulang kehidupanku?”
Sosok kecil muncul—anak kecil, dengan rambut perak dan mata ungu-putih. Ia seperti miniatur Rayzen, tapi tak ada beban di wajahnya. Hanya keingintahuan.
Yvana melangkah maju. “Itu…?”
Luvielle bergumam. “Itulah Dunia Baru.”
Epilog Sementara
Selama berabad-abad, dunia hidup di bawah kehendak. Dewa-dewa menulis takdir, iblis-iblis menghapusnya. Tapi kali ini, Valcirion—yang pernah dikenal sebagai dewa penghancur dunia—telah menjadi pena tanpa rantai.
Dan dunia pun… untuk pertama kalinya dalam sejarah panjangnya, menjadi halaman kosong.
Dari abu kehancuran dan suara keberanian, dunia baru ditulis bukan dengan kekuatan, tapi dengan pilihan.
Rayzen tersenyum, memandang matahari pertama yang benar-benar terasa baru.
> “Selamat datang, dunia.”
Langit di atas Kota Pertama telah berubah. Bukan hanya warnanya—yang kini seperti perpaduan senja dan fajar yang abadi—tapi juga rasanya. Seolah setiap tarikan napas membawa inspirasi… atau kemungkinan.
Rayzen duduk di bawah pohon dunia yang baru tumbuh dari pusat Kota Pertama. Di sampingnya, anak kecil berambut perak dan mata ungu-putih memandangi langit dengan rasa takjub yang polos.
“Apa namamu?” tanya Yvana sambil berjongkok di depan anak itu.
Anak itu menggeleng pelan. “Aku… belum diberi nama. Karena aku belum tahu siapa aku.”
Luvielle berdiri tak jauh, membuka gulungan warisan para Penulis Dunia. “Dia bukan dilahirkan… tapi ditulis. Diciptakan dari kehendak baru dunia. Dia adalah hasil akhir… sekaligus awal yang belum punya isi.”
Rayzen menatapnya. “Kalau begitu, kita beri dia nama. Sebuah nama… yang tidak terikat pada masa lalu.”
Yvana tersenyum. “Bagaimana dengan Noveren? Dari ‘Nova’—bintang baru—dan ‘Ren’—harapan.”
Anak itu tersenyum. “Aku suka itu.”
Maka lahirlah nama itu. Noveren. Simbol pertama dari halaman kosong yang kini terbuka lebar di dunia.
Namun di tempat lain, jauh dari Kota Pertama, di reruntuhan Katedral Cahaya yang dulu disucikan oleh para Dewa Tertinggi, sebuah ritual kuno berlangsung.
Tujuh sosok berkerudung berdiri mengelilingi meja batu yang penuh ukiran bahasa sebelum zaman.
Di atas altar… tergeletak sepotong kulit dunia—fragmen dari zaman sebelum waktu tercatat.
Seorang wanita tua berbicara, suaranya seperti tulang digesekkan.
“Dunia ini tak butuh penulis baru. Dunia tak perlu halaman kosong. Dunia… harus tetap pada naskah asli.”
Ia disebut sebagai Elder Nysha, Pemimpin Penjaga Dunia Lama—sekte bayangan yang selama ini menyusup dalam tatanan kekuasaan, termasuk Dewan Dewa.
“Valcirion harus kembali ke bentuk lamanya. Tidak netral. Tidak bebas. Tapi patuh. Dan dunia ini… harus ditulis ulang dengan tinta darah, seperti dulu.”
Di sekeliling altar, mereka meletakkan tujuh pecahan Mantra Pengikat Takdir. Saat pecahan itu menyatu, suara dari dasar dunia menggema—membangkitkan makhluk yang selama ini tersegel:
Vorth-Kael, Penghancur Skrip Ilahi.
Nysha tertawa. “Jika mereka ingin menulis, maka kita tunjukkan… tinta mereka tak akan pernah cukup untuk menulis di atas takdir yang telah ditetapkan.”
Kembali ke Kota Pertama
Noveren berlari-lari kecil mengelilingi akar pohon. Setiap langkahnya membuat bunga-bunga baru bermekaran—warna-warna yang belum pernah ada sebelumnya.
Tapi suasana mendadak berubah.
Langit meretak. Bukan seperti kehancuran. Tapi seperti hapusnya sesuatu. Sebagian langit—dan semua kenangan yang terhubung padanya—mulai menghilang perlahan. Bukan meledak. Tapi… lenyap.
Rayzen berdiri. Tangan di gagang pedang Valcirion yang tergantung di punggungnya. “Itu bukan sihir biasa.”
Luvielle membuka gulungan, dan halaman-halaman mulai memudar.
“Ini... penghapusan. Seseorang sedang menghapus bagian dari sejarah. Bukan dengan api. Tapi dengan tinta lawas… tinta dunia lama.”
Yvana mengepalkan tangan. “Penjaga Dunia Lama… mereka bangkit.”
Malamnya, di pelataran Kota Pertama
Rayzen dan timnya duduk melingkar di sekitar api ungu-biru yang dibentuk dari Chi seimbang. Noveren tertidur di pangkuan Yvana, sementara Luvielle menyusun simbol-simbol pelindung.
“Kita tidak bisa menyerang langsung,” kata Luvielle. “Mereka tidak berada di satu tempat. Dan kekuatan mereka menyebar ke dalam jaringan dunia lama yang pernah menguasai sihir, sejarah, dan bahkan mimpi manusia.”
Rayzen menunduk, wajahnya terpantul api. “Mereka ingin menghapus kita. Bukan dengan membunuh. Tapi dengan menulis ulang dunia tanpa kita di dalamnya.”
Yvana menatapnya dalam. “Apa kita harus menulis dengan darah juga?”
Rayzen menggeleng. “Tidak. Tapi kita harus menulis dengan makna yang lebih kuat daripada ketakutan.”
Ia berdiri.
“Kita kumpulkan mereka yang percaya pada kemungkinan. Mereka yang pernah ditolak dunia lama. Para penyihir bebas. Pelukis Takdir. Pengendali Emosi. Bahkan makhluk buangan. Semua. Karena dunia baru ini… bukan hanya milik para pahlawan.”
Luvielle mengangguk. “Aku tahu harus mulai dari mana. Di reruntuhan timur, ada Kamar Refleksi, tempat para Penulis Dunia dulu menyimpan pena mereka. Jika kita bisa mendapatkannya kembali… kita bisa menulis penangkal pada apa pun yang mereka hapus.”
Rayzen menarik napas dalam.
“Kalau begitu… mari kita mulai bab selanjutnya.”
Di akhir bab – Narasi Penjaga Dunia Lama
Nysha berdiri di tepi jurang waktu, memandang pusaran sejarah yang kini berdenyut tidak beraturan.
Ia mencelupkan jarinya ke dalam tinta hitam kuno.
“Rayzen… Valcirion… siapa pun kau… aku tidak akan biarkan dunia jatuh ke tangan seseorang yang percaya bahwa manusia bisa memilih takdir sendiri.”
Satu goresan tinta…
Dan sebuah nama… mulai memudar dari semua catatan:
> “Noveren.”