Di tengah malam yang bisu, Rayzen terbangun dari tidurnya. Tubuhnya berkeringat dingin meski api di pelataran masih menyala lembut. Ia baru saja bermimpi, atau mungkin lebih tepatnya, diseret ke dalam penglihatan masa depan yang dipaksakan.
Dalam mimpi itu, ia berdiri sendirian di ruang putih yang tak berujung. Di sekelilingnya, nama-nama mulai terhapus dari udara. Pertama kota, kemudian sungai, lalu makhluk-makhluk yang pernah ia selamatkan. Dan akhirnya, Noveren.
Ia melihat anak itu berlari, memanggilnya. Namun suara Noveren tak lagi memiliki gema, seolah dunia telah memutuskan bahwa keberadaan anak itu adalah kesalahan.
Rayzen terdiam di tepi sungai kecil dekat akar pohon dunia. Di sampingnya, Luvielle datang membawa secangkir ramuan hangat.
“Kau melihatnya juga?” tanya Luvielle. Ia tak perlu menjelaskan lebih lanjut.
Rayzen mengangguk pelan. “Mereka tidak hanya menghapus. Mereka memutus jejak, menghapus nama dari jalinan eksistensi.”
Luvielle membuka gulungannya. Sebagian halaman masih kosong, tetapi satu nama di tengahnya tampak kabur. Noveren. Huruf-hurufnya seperti terbuat dari kabut, nyaris tak bisa dibaca.
“Kalau nama itu hilang sepenuhnya,” ucap Luvielle lirih, “bukan hanya dia yang lenyap. Pohon dunia juga akan runtuh. Karena Noveren bukan sekadar anak. Dia adalah manifestasi dari dunia baru.”
Rayzen menggenggam liontinnya. “Kita harus ke Kamar Refleksi. Kita butuh pena para pendahulu, sebelum tinta dunia lama menyebar terlalu jauh.”
Yvana, yang telah berjaga sejak malam, bergabung. “Aku siapkan rute. Tapi kabar buruknya, Kamar Refleksi ada di tengah tanah netral. Wilayah itu dijaga oleh para Perajut Kenangan. Mereka tidak percaya pada siapa pun yang membawa simbol Valcirion.”
Rayzen berdiri. “Kalau begitu, kita pergi sebagai siapa pun. Tapi bukan aku.”
Pagi itu, mereka meninggalkan Kota Pertama. Noveren masih tertidur, tubuhnya lemah. Setiap langkah semakin sulit karena dunia di sekeliling mereka mulai berubah.
Warna rumput memudar. Angin tak lagi beraroma tanah. Langit mulai merekah oleh retakan-retakan tipis yang bergerak seperti tinta di atas permukaan air.
Perjalanan mereka melewati Desa Senja, yang dahulu menjadi tempat perlindungan para penyair jiwa. Kini sunyi. Tak ada satu pun rumah berdiri tegak. Di tanah yang kosong itu, hanya satu hal yang tersisa, yakni cermin kecil yang tertancap di tengah jalan.
Aurel muncul dari balik bayangan. Ia adalah salah satu penjaga terakhir dari Desa Senja. Mata kirinya ditutup kain, tapi senyumnya tetap hangat.
“Aku sudah menunggu,” katanya. “Kalian membawa satu-satunya alasan dunia ini belum terbalik seluruhnya.”
Rayzen tak membuang waktu. “Apakah kau tahu jalan ke Kamar Refleksi?”
Aurel menunjuk ke arah timur. “Ada pintu di balik Danau Tanpa Nama. Tapi pintu itu hanya terbuka bagi mereka yang mengingat siapa mereka sebenarnya.”
Luvielle meraih lengan Rayzen. “Itu artinya, kita harus melewati ritual Pembersihan Nama.”
Yvana terlihat ragu. “Kalau nama kita dipaksa ditanggalkan, bagaimana kita kembali?”
Rayzen menjawab dengan suara mantap. “Kita kembali bukan karena nama. Tapi karena niat. Dunia lama hanya bisa menghapus huruf. Tapi tidak bisa menghapus isi dari tekad kita.”
Mereka berjalan. Melewati danau yang tenang, airnya seperti cermin tak berdasar. Di tengah danau itu berdiri sebuah menara tua, terbuat dari bayangan yang membeku.
Kelanjutan bab ini akan membawa mereka ke ritual pemisahan identitas, pertemuan dengan Perajut Kenangan, dan misteri siapa sebenarnya Noveren. Apakah dia hanya simbol, atau justru kunci sejati untuk mengakhiri naskah ilahi yang lama.
Menara Bayangan berdiri di tengah Danau Tanpa Nama. Airnya tidak bergerak, seolah seluruh danau membeku oleh waktu. Rayzen, Luvielle, Yvana, dan Aurel menyeberang menggunakan rakit tua yang terbuat dari akar sihir. Noveren tetap tertidur dalam pelukan Aurel. Bahkan langkah kecilnya pun sudah cukup mengganggu tatanan sihir di sekitar tempat ini.
"Begitu kita masuk," kata Aurel pelan, "kita akan kehilangan nama kita untuk sementara. Semua kenangan yang membentuk kita akan dipisahkan. Kita akan diuji oleh refleksi diri yang tak memihak."
Yvana menatap menara yang makin dekat. "Bagaimana jika kita tidak lolos?"
Luvielle menjawab tenang. "Maka kita akan terjebak dalam cermin. Menjadi bagian dari arus waktu yang diam. Tidak mati, tapi juga tak akan pernah kembali."
Rayzen tidak mengatakan apa-apa. Namun saat rakit mereka menyentuh pelataran batu hitam di depan menara, ia menatap ke arah pintu. Pintu itu berupa celah cahaya yang memantulkan bayangan yang bukan milik mereka.
Pintu itu terbuka sendiri.
Satu per satu mereka masuk. Mereka meninggalkan jejak nama dan bentuk di balik bayangan.
Dalam Ruang Tanpa Identitas
Ruangan pertama seperti kehampaan. Tidak ada dinding. Tidak ada langit. Hanya lantai putih dan kabut abu-abu yang menyelimuti segalanya.
Dari kabut itu, muncul empat sosok yang merupakan tiruan sempurna mereka sendiri. Namun ekspresi di wajah tiruan itu datar. Tidak menunjukkan emosi atau pengakuan.
Refleksi Rayzen menatap kosong. "Kau ingin dunia bebas memilih. Tapi dulu, kau menghancurkan setiap pilihan yang mereka punya. Siapa yang bisa percaya pada pemilik tangan pembakar masa depan?"
Refleksi Luvielle mengangkat gulungan dan membacakan kutipan masa lalunya yang penuh keraguan. "Kau menulis takdir, tapi kau sendiri takut mengubahnya. Apakah pena milikmu benar-benar bebas, atau hanya alat untuk menciptakan ilusi baru?"
Refleksi Yvana menyeringai. "Kau pernah membunuh demi keteraturan. Sekarang kau berbicara tentang kebebasan. Bukankah itu hanya cara lain untuk melarikan diri dari rasa bersalah?"
Refleksi Aurel menunjuk ke arah Noveren, yang tiba-tiba berdiri sendiri di tengah ruangan. "Dia bukan anak. Dia simbol. Kau terlalu ingin percaya bahwa simbol bisa menyelamatkan dunia. Padahal dunia bukan membutuhkan simbol. Dunia butuh batas."
Mereka diam. Satu per satu diuji oleh keraguan mereka sendiri.
Rayzen maju lebih dekat. Ia menatap refleksinya dalam dan berkata, "Aku memang pernah membakar. Aku pernah menghancurkan. Tapi aku juga penebus. Dunia ini tidak akan pernah tanpa luka. Namun luka bisa sembuh jika kita tidak menyangkalnya."
Celah terbuka di belakang refleksi. Lantai bergetar, seolah menerima jawaban itu.
Luvielle menggenggam gulungan dan menggoreskan kalimat:
> "Luka yang diakui adalah luka yang bisa disembuhkan."
Refleksi Luvielle tersenyum tipis dan menghilang menjadi cahaya. Satu per satu, refleksi lainnya mulai pudar, digantikan oleh getaran hangat yang terasa seperti pengampunan.
Noveren berlari ke arah mereka. Ia tidak lagi seperti anak kecil yang takut, tapi lebih seperti cahaya yang akhirnya menemukan bentuknya.
Aurel meraihnya, memeluk erat. “Kita belum selesai, tapi ini... sudah lebih dari cukup.”
Yvana menarik napas dalam dan menatap ke atas. Kabut mulai terangkat, memperlihatkan ruang berikutnya yang dipenuhi cahaya hangat dan dinding-dinding yang menulis sendiri.
Rayzen membuka langkah pertama menuju pintu itu. “Sekarang, kita tulis akhir yang tak bisa dihapus oleh siapa pun.”