Bab 8

1625 Kata
Langkah mereka memasuki ruang berikutnya seperti memasuki tubuh dari sebuah makhluk purba—dinding-dindingnya terbuat dari serpihan waktu yang pernah dilupakan. Huruf-huruf melayang di udara, membentuk puisi tak selesai, cerita yang belum ditulis, dan nama-nama yang tak sempat dipanggil. Ruang ini bukan hanya tempat. Tapi naskah itu sendiri. Hidup. Bernapas. Dan melawan segala upaya untuk dilupakan. Luvielle menggenggam gulungan yang ia bawa. Di ujungnya, sebuah pena muncul dari cahaya, mengambang seperti sedang menunggu pemiliknya. “Ini pena para pendahulu,” gumamnya. “Satu-satunya alat yang bisa menulis ulang takdir dunia tanpa dibatasi tinta dunia lama.” Rayzen melangkah mendekat. Namun sebelum bisa menyentuh pena itu, lantai di bawah mereka berguncang. Sebuah sosok muncul dari celah bayangan. Ia tidak memiliki wajah, namun bentuk tubuhnya menyerupai manusia yang hampir selesai digambar. Namun mata kosongnya terbuat dari retakan langit. “Aku... Penjaga Naskah Awal,” suaranya terdengar seperti gema yang merambat dari dasar laut waktu. “Dan kalian... adalah pelanggar.” Yvana langsung menarik belatinya, namun Rayzen mengangkat tangan. “Kami bukan datang untuk mengganti dunia sesuka hati,” kata Rayzen. “Kami datang karena dunia itu sendiri sudah mulai melupakan kebenarannya.” Sosok itu melayang turun perlahan. Ia tidak menyerang, namun auranya menekan mereka hingga lutut mereka bergetar. “Kalian membawa Noveren. Api yang seharusnya padam dalam naskah ketiga.” Aurel menjawab dengan suara tenang, “Noveren bukan api. Dia adalah cahaya yang belum dipahami. Ia tidak menyalahi takdir. Ia melanjutkan yang tak sempat ditulis.” Penjaga itu terdiam. Cahaya di sekitarnya redup sesaat, seperti ragu. Di sisi lain, pena para pendahulu masih menunggu. Luvielle menoleh pada Rayzen. “Kalau kita menulis ulang satu kalimat... hanya satu... mungkin kita bisa menyambung nama Noveren ke dalam naskah ini tanpa menghancurkan sistem lama.” Rayzen mengangguk. Ia maju. Tapi ketika ia hampir menyentuh pena itu, dari arah langit-langit yang berkabut, sebuah jalinan cahaya merah menyambar turun. Seseorang muncul. Sosok berjubah hitam, wajahnya tertutup topeng beling retak. Di balik jubahnya, terdapat lusinan liontin yang tergantung, semuanya kosong dan pecah. “Aku pernah seperti kalian,” katanya. Suaranya tajam, namun terdengar seperti sisa bisikan dari zaman yang terlupakan. “Tapi kalian terlambat. Pena itu... tak akan menulis yang baru. Karena tinta terakhirnya... sudah kutuangkan untuk menghapus semua nama yang tak pantas tinggal.” Aurel menyipitkan mata. “Siapa kau?” Sosok itu melepas topengnya perlahan. Di baliknya... wajah yang dikenali Rayzen. Wajah dirinya sendiri. Tapi lebih tua. Lebih lelah. Lebih keras. “Namaku... juga Rayzen. Tapi aku dari dunia yang kalian hindari. Dunia di mana Noveren gagal menyelamatkan siapa pun. Dunia di mana kalian menyerah.” Kejutan membekukan ruangan. Noveren mundur beberapa langkah, matanya menatap dua Rayzen yang saling berhadapan. Luvielle berbisik, “Refleksi dari jalur takdir yang terputus... bisa menembus ruang ini?” Rayzen tua mengangguk. “Dan aku datang... bukan untuk menyerang. Tapi untuk menawarkan kebenaran.” Ia menunjuk ke arah Noveren. “Anak itu... bukan kunci. Dia pintu yang tak bisa ditutup. Sekali kalian menulisnya ke dalam naskah, semua kemungkinan akan terbuka. Termasuk yang menghancurkan segalanya.” Rayzen muda melangkah maju. “Kalau begitu, kenapa kau tidak menghentikannya sendiri?” Rayzen tua menunduk. “Karena... aku mencoba. Dan aku kehilangan semuanya. Satu per satu. Hingga hanya aku yang tersisa. Dunia menghapus nama-nama, tapi lebih menyakitkan... ketika nama itu masih ada, tapi tidak ada yang mau menyebutnya lagi.” Noveren mendekat. Matanya tidak lagi ketakutan. “Aku... bukan hanya simbol,” katanya lirih. “Tapi bukan juga senjata.” Ia menatap pena para pendahulu. “Jika aku harus jadi bagian dari cerita... aku ingin jadi bagian dari cerita yang memberi pilihan. Bukan sekadar menang atau kalah.” Cahaya pena bergetar. Luvielle menyerahkan gulungan kepada Noveren. “Kalau begitu... tulislah. Satu kalimat. Bukan tentang kekuatanmu. Tapi tentang alasan kenapa kau ingin tetap ada.” Noveren menggenggam pena. Tinta muncul dengan sendirinya, seperti ditarik dari jantung dunia. Dengan tangan kecilnya, Noveren menulis: > “Aku ingin menjadi halaman yang memberi tempat bagi yang hilang. Bukan halaman yang menyuruh mereka diam.” Cahaya meledak lembut. Ruangan terbuka ke segala arah. Nama-nama yang pernah terhapus mulai bermunculan, perlahan membentuk ulang jalinan eksistensi. Desa Senja. Sungai Cahaya. Akar Pohon Dunia. Dan... semua anak yang pernah dilupakan. Rayzen tua memejamkan mata. “Mungkin... dunia tidak butuh satu Rayzen lagi. Tapi butuh satu Noveren yang tidak menyerah.” Dan tubuhnya mulai pecah menjadi cahaya. Ia tersenyum sebelum menghilang. Penjaga Naskah Awal menunduk perlahan. “Pena itu... sekarang milik kalian. Tapi ingat. Kata-kata memiliki nyawa. Sekali tertulis... tak bisa ditarik kembali.” Saat mereka kembali ke dunia nyata, langit belum sembuh. Tapi warnanya mulai berubah. Dari kelabu tinta menjadi biru kabur seperti pagi pertama setelah hujan panjang. Di tangan Noveren, pena para pendahulu bersinar lembut. Rayzen menatapnya. “Kita belum menang.” Luvielle menambahkan, “Tapi kita baru saja memberi dunia kesempatan kedua.” Yvana menatap ke arah Kota Pertama, jauh di kejauhan, dan berkata, “Dan saat kesempatan itu datang... kita akan tahu siapa yang berani menuliskan masa depan, bukan hanya membacanya.” Aurel memegang liontinnya, dan berkata pelan: “Lalu tugas kita sekarang adalah menjaga... agar tak satu nama pun lagi hilang tanpa sempat dicatat.” Dan begitu mereka berjalan kembali ke dunia yang berubah, satu kalimat menggetar di langit yang mulai pulih: > “Selama masih ada yang mengingat, tidak ada yang benar-benar lenyap.” Tiga hari setelah mereka kembali dari Kamar Refleksi, dunia tidak langsung tenang. Kota Pertama masih belum pulih. Langit memang membiru, tapi seperti langit yang tidak yakin akan dirinya sendiri. Di ujung cakrawala, batas antara dunia lama dan yang baru mengalir seperti tinta basah, terus bergerak, terus berubah. Di pusat kota, Menara Archivum—tempat seluruh naskah dunia disimpan—mulai memperlihatkan retakan di dindingnya. Dulu, retakan berarti kelalaian. Kini, retakan berarti… perubahan. Rayzen berdiri di depan halaman pertama Naskah Dunia Baru. Tulisan tangan Noveren bersinar samar, mengambang di udara. Tapi ada sesuatu yang mengganggunya. Tinta itu… berdesir. “Dia belum selesai menulis,” kata Luvielle yang berdiri di sampingnya. “Atau mungkin… naskahnya belum mau diam.” Rayzen menoleh. “Kau merasa ada suara?” Luvielle mengangguk. “Ya. Sejak kemarin malam. Ada suara-suara... bukan dari dunia ini. Tapi dari dunia yang tidak jadi. Dunia yang ditolak.” Aurel bergabung, membawa liontin Noveren. Warnanya tetap jingga fajar, tapi ada riak kecil di tengahnya. Seperti denyut jantung kedua yang tidak selaras. “Pena itu,” Aurel menunjuk ke tangan Noveren yang sedang tidur di ruang atas. “Ia menulis lebih dari kata-kata. Ia membuka jalan untuk segala yang pernah dimungkinkan.” Rayzen menarik napas. “Dan sesuatu... sedang mencoba keluar dari kemungkinan yang tidak dipilih.” Malam itu, langit terbakar dalam keheningan. Bukan api nyata, melainkan kilau merah tua seperti luka lama yang terbuka kembali. Dari arah barat, muncul lima cahaya. Mereka tidak terbang. Mereka mengalir. Seperti cerita yang dipaksa keluar dari kepala yang sudah melupakannya. Kelima cahaya itu menghantam tanah di sekitar Menara Archivum. Dari sana muncul lima sosok berjubah gelap, wajah mereka tersembunyi oleh topeng berlubang satu. Di d**a mereka, tergantung lembaran naskah yang belum tertulis. Mereka menyebut diri mereka: Pembaca Terakhir. “Kami datang bukan untuk menghapus,” kata yang berdiri di tengah, “tapi untuk mengunci. Dunia tidak boleh lagi menulis sembarangan. Setiap kemungkinan adalah luka. Dan luka harus dijahit. Dengan akhir. Tanpa pilihan.” Yvana melangkah ke depan. “Kalian ingin memaksakan satu akhir untuk semua?” Salah satu dari mereka menjawab, “Lebih baik satu akhir pahit... daripada ribuan kemungkinan yang tak pernah selesai.” Luvielle mengangkat pena para pendahulu, yang kini berubah bentuk: dari pena menjadi alat ukir cahaya, menusuk langsung ke naskah-naskah realitas. “Aku tidak akan membiarkan kalian menutup jalan mereka yang belum kembali,” ucapnya mantap. “Kalau begitu,” ucap Pembaca Tengah, “kita akan membakar pena itu. Dan setiap nama yang ditulis olehnya.” Pertarungan yang terjadi malam itu bukan dalam bentuk pedang dan sihir, melainkan konfrontasi naratif. Pembaca Terakhir menggunakan lembaran naskah kosong mereka sebagai perisai—setiap kalimat yang ditujukan untuk menyerang akan diserap dan ditulis ulang sebagai kekosongan. Rayzen menyadari hal itu lebih dulu. “Mereka bisa mengubah narasi yang kita ciptakan menjadi kebalikan makna.” Aurel menjerit ketika liontinnya memudar. “Mereka hampir menghapus tempat-tempat perlindungan.” Satu-satunya harapan tersisa pada Noveren. Anak itu terbangun di tengah badai tinta dan cahaya. Tapi matanya… bukan lagi mata anak-anak biasa. “Kalau mereka ingin menutup semua kemungkinan,” katanya perlahan, “aku akan memberi mereka satu kemungkinan yang tidak bisa dihapus.” Ia menaruh pena di dadanya. “Tulisan ini bukan untuk menyelamatkan. Tapi untuk mengingat.” Dan dari tubuhnya, mengalir kisah-kisah semua anak yang pernah hilang. Semua halaman yang pernah dibakar. Semua nama yang pernah dicoret. Mereka keluar seperti sungai cahaya dari pena yang kini menyatu dengan jiwanya. Cahaya itu menghantam Pembaca Terakhir, bukan untuk membunuh—tapi untuk mengingatkan mereka akan cerita mereka sendiri. Satu per satu, topeng mereka retak. Dan suara-suara pun terdengar: “Aku dulu bernama…” “Aku pernah menjadi bagian dari dunia…” “Aku juga pernah ingin menulis... tapi tak diizinkan.” Dan satu per satu, mereka memudar. Bukan lenyap, tapi menyatu kembali dengan jalinan eksistensi yang diterima. Mereka bukan musuh. Mereka adalah narasi yang terlalu lama disimpan sendiri. Langit kembali tenang. Menara Archivum menutup pintunya sendiri. Dan di atas meja kayu tua, naskah baru perlahan menulis satu kalimat: > “Dunia bukan tempat yang selalu tahu jawabannya. Tapi ia adalah tempat yang terus mau bertanya.” Noveren duduk di bawah pohon kecil yang tumbuh di halaman Archivum. Di tangannya, pena telah kembali menjadi biasa. Tapi di sekitarnya, udara terasa lebih siap menulis. Rayzen berdiri di belakangnya. “Apa judul yang kau pilih untuk dunia ini?” Noveren menoleh. Senyumnya tenang. > “Halaman yang Tidak Pernah Ditutup.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN