Tahun pertama setelah pena para pendahulu dipilih oleh Noveren disebut sebagai Tahun Terbuka, masa di mana seluruh penjuru dunia mulai menggali naskah-naskah lama yang pernah disembunyikan atau dibatalkan. Setiap tempat kembali menyalakan perpustakaan jiwa, ruang-ruang kecil yang menyimpan ingatan, bukan dalam buku, tapi dalam gema benda-benda sehari-hari.
Di utara, gunung beku yang dahulu tak berpenghuni mulai menyuarakan kembali cerita-cerita dari klan Kovenith, yang selama berabad-abad dipercaya telah punah. Di selatan, sungai yang dulu hanya dikenal sebagai jalur perdagangan kini memperdengarkan nyanyian dari suku penanda air, lagu-lagu yang mampu memanggil kembali mimpi yang terbuang.
Namun di tengah kebangkitan itu, Noveren mulai berubah.
Ia masih anak-anak. Tapi tidak ada yang bisa menyangkal bahwa setiap langkahnya kini menorehkan gema, seolah setiap niatnya menjadi bagian dari naskah dunia yang baru.
Luvielle mengamatinya dari jauh. Di sudut taman Archivum, Noveren duduk diam, memandangi sebuah buku kosong di pangkuannya. Bukan pena yang ia pegang kali ini, melainkan sehelai daun yang memutih perlahan. Sejak pena itu menyatu dengannya, dunia telah memberinya jalan untuk menulis... tapi juga beban untuk tak asal menuliskan apa pun.
Rayzen bergabung, duduk di samping Luvielle.
"Ada yang berbeda dengannya," gumam Luvielle. "Bukan hanya karena dia membawa pena para pendahulu... tapi karena dia mulai mendengar dunia terlalu banyak."
Rayzen mengangguk pelan. "Suara-suara dari kemungkinan yang dulu ditolak masih memanggil. Tak semuanya ingin dilupakan."
Sementara itu, Yvana dan Aurel sedang menyusun kembali fragmen-fragmen nama yang pernah terhapus. Beberapa nama datang dari puing kota tua, beberapa lainnya hanya muncul sebagai bisikan dari orang-orang yang bermimpi. Semuanya mereka tulis ulang perlahan. Namun tidak satu pun berani menyentuh bagian tengah naskah.
Bagian di mana Noveren menyimpan satu halaman yang belum diisi.
Sore itu, langit tampak seperti cat air yang belum selesai dibaurkan. Dari balik warna-warna yang tak pasti itu, muncullah satu benda baru: sebuah menara kecil, mengambang di udara, seolah baru saja dipanggil dari tempat yang lama tertidur.
Menara itu tidak dikenal dalam peta lama maupun naskah Archivum.
Rayzen menyipitkan mata. "Itu... bukan bagian dari dunia yang kita bangun."
Aurel memegang liontinnya. Warnanya bergetar pelan, lalu meredup.
"Liontin ini tidak bisa menerjemahkan keberadaannya," katanya. "Seolah tempat itu belum pernah diputuskan akan ada atau tidak."
Noveren berdiri. Perlahan, ia meletakkan daun putih dari pangkuannya ke tanah. Daun itu langsung berubah menjadi pasir emas, lalu menghilang. Ia menatap ke arah menara yang kini tampak jelas.
"Ada yang menulis dari dalam mimpi," katanya pelan. "Dan mereka menulis tanpa sadar bahwa mereka sedang menulis."
Luvielle menatapnya khawatir. "Apa maksudmu?"
"Aku... tidak sendiri." Noveren menunduk. "Ada anak lain. Sepertiku. Tapi dia terjebak dalam kisah yang tidak bisa dia bangunkan. Dia menulis dunia yang terus mengulang luka. Dan kini... dunia itu mulai bocor ke kita."
Yvana menggenggam belatinya. "Kalau begitu kita harus masuk ke dalamnya."
Rayzen menggeleng. "Tidak bisa sesederhana itu. Dunia yang dibentuk dari mimpi orang lain tidak bisa dimasuki begitu saja. Kita harus membuat naskah jembatan. Satu kisah yang bisa diakui oleh kedua dunia."
Luvielle mengangkat pena ukir cahaya dari tempat penyimpanannya. "Kalau begitu, biar aku yang menulis awalnya."
Noveren menatapnya, lalu berkata, "Jangan menulis tentang penyelamatan. Tulis tentang pengakuan. Tulis agar dunia itu tahu... kita datang untuk mendengar."
Luvielle menuliskan kalimat pertama di udara. Setiap huruf melayang perlahan, menyala sebentar, lalu berubah menjadi batu pijakan ke arah langit.
> “Kami datang bukan membawa jawab. Kami datang membawa telinga.”
Batu-batu pijakan itu tersusun satu per satu, membentuk jembatan tipis yang mengarah ke menara yang menggantung.
Perjalanan menuju dunia lain pun dimulai lagi. Tapi kali ini, bukan untuk menyelamatkan. Bukan untuk menentang. Tapi untuk menyimak, dan memberi tempat bagi suara yang terlalu lama tertahan.
Langit mendengar.
Dan menulis ulang dirinya.
Berikut adalah lanjutan “Dunia yang Menulis Sendiri”, diulang dan ditulis ulang tanpa menggunakan em dash:
Langkah pertama di atas jembatan huruf terasa ringan. Tapi bukan ringan seperti terbang. Melainkan seperti berjalan di antara dua nada yang belum diputuskan akan menjadi lagu. Batu-batu pijakan yang tersusun dari kalimat Luvielle bergetar setiap kali disentuh, seolah menyesuaikan diri dengan tekad mereka.
Mereka berenam berjalan dalam diam. Tak ada angin. Tak ada langit yang pasti. Di sisi kiri, waktu terlihat seperti kain yang melar. Jam, musim, dan usia bergulung lalu menipis. Di sisi kanan, suara-suara kecil terus berbisik. Tangisan yang tidak lantang, tapi juga tidak mau hilang.
Menara itu semakin dekat. Semakin tinggi. Dan semakin tidak tetap.
Dindingnya terus berubah. Kadang menyerupai rumah pohon, kadang tampak seperti reruntuhan kastil, lalu berubah lagi menjadi kamar kecil dengan ranjang tunggal dan jendela yang menghadap hujan.
Rayzen menoleh ke Noveren. “Apa yang sebenarnya menunggu kita di sana?”
Noveren menatap lurus ke depan. “Seorang anak yang tidak tahu bahwa ia sedang menulis dunia dari rasa kehilangan yang tak sempat diucapkan.”
Luvielle menyambung, “Dan jika dunia itu selesai ditulis sebelum kita tiba, maka ia akan menjadi nyata. Lengkap. Tertutup.”
Aurel menggenggam liontin yang kini nyaris kehilangan cahayanya. “Dan kita tak akan bisa masuk lagi.”
Yvana menarik napas dalam. “Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa kita tiba sebelum cerita itu terkunci.”
Begitu mereka sampai di dasar menara, suara pintu terbuka sendiri. Bukan bunyi derit kayu, melainkan seperti suara kertas yang dibalik. Suara halaman yang dipaksa mundur.
Di dalamnya, bukan menara seperti bayangan mereka. Melainkan lorong panjang yang tak terlihat ujungnya. Dinding-dinding di sepanjang lorong terbuat dari lukisan yang bergerak. Beberapa menampilkan taman dengan ayunan kosong. Beberapa menampilkan ruang kelas dengan bangku tunggal. Semua menggambarkan satu hal yang sama: kesendirian yang dibungkus dalam keheningan.
Di ujung lorong, ada sebuah pintu kecil. Di atasnya tertulis kalimat yang nyaris tak terbaca:
> "Di sinilah aku tidak pernah hilang, tapi juga tidak pernah ditemukan."
Mereka masuk perlahan.
Ruangan di balik pintu hanyalah sebuah kamar anak. Kecil. Tenang. Ada tempat tidur mungil, sebuah boneka lusuh yang kehilangan satu mata, dan rak buku yang nyaris kosong. Di tengah ruangan, seorang anak duduk membelakangi mereka. Ia memegang sebuah buku besar yang tidak memiliki sampul.
Anak itu tidak menoleh. Namun suaranya terdengar jelas.
“Aku sudah tahu kalian akan datang. Tapi aku belum memutuskan apakah aku ingin didengar.”
Rayzen melangkah maju, perlahan. “Kami tidak datang untuk memaksa.”
“Aku tidak yakin kalian bisa memahami,” jawab anak itu. Suaranya tenang, tapi terdengar seperti seseorang yang kelelahan berbicara pada ruang kosong terlalu lama. “Aku menulis tempat ini agar tidak ada yang bisa masuk. Tapi entah kenapa, kalian tetap sampai.”
Noveren mendekat. “Kami juga pernah ada di tempat seperti ini. Tempat yang hanya terasa aman karena sunyi.”
Anak itu terdiam sejenak. Lalu ia membalik satu halaman dari buku di pangkuannya. Di halaman itu, muncul gambar mereka berenam. Berdiri di jembatan huruf, dikelilingi kabut yang tak menentu.
“Aku menulis kalian,” katanya pelan. “Tapi bukan karena aku ingin. Karena aku takut. Aku takut dunia luar akan mencoba mengubah apa yang sudah kutulis agar cocok dengan cerita mereka.”
Luvielle menunduk, lalu menjawab lembut. “Kami tidak membawa cerita kami. Kami datang untuk membaca punyamu. Kami ingin tahu... siapa namamu?”
Anak itu memeluk bukunya. Jemarinya menekan bagian tengah halaman seolah takut halaman itu tertiup.
“Aku diberi nama Kalem. Tapi dunia lama tak pernah memanggilku dengan suara yang mengenali.”
Rayzen mendekat. “Kalem. Dunia tidak punya hak untuk menghapus namamu dari ingatan siapa pun.”
Kalem menatap mereka untuk pertama kalinya. Matanya kosong, namun penuh bayangan dari semua halaman yang pernah ia tulis sendiri, dalam diam, tanpa saksi.
“Kalau kalian benar-benar ingin membaca ceritaku,” katanya perlahan, “maka bersiaplah. Karena aku menulis bukan untuk dikenang. Tapi karena aku tak bisa berhenti bermimpi tentang yang tidak pernah datang.”
Buku di pangkuannya terbuka. Angin tak terlihat menyapu ruangan. Dan halaman-halaman itu mulai bergerak sendiri.
Tiba-tiba, mereka tidak lagi berdiri di kamar. Tapi di tengah kota yang tak pernah dibangun. Kota yang digambar dengan arang dan kenangan, diwarnai oleh bayangan hujan yang tak pernah turun.
Langitnya seperti jendela yang tak bisa dibuka. Jalanannya tidak lurus, tapi melingkar, membawa siapa pun yang berjalan kembali ke titik awal. Bangunan-bangunannya setengah selesai, jendela tanpa kaca, pintu tanpa engsel.
Aurel bergumam, “Ini... dunia dari seseorang yang pernah menunggu terlalu lama.”
Yvana menajamkan tatapan. “Tunggu. Lihat di sana.”
Di salah satu sudut jalan, berdiri banyak sosok anak-anak lain. Mereka tidak bergerak. Wajah mereka tidak jelas. Namun semua memegang kertas kosong.
Noveren melangkah maju. “Ini adalah... mereka yang pernah ditulis tapi tak pernah selesai.”
Kalem muncul di tengah mereka. Tapi kali ini, bukan sebagai anak kecil. Ia menjadi tinggi. Matanya dalam. Suaranya bergema.
“Aku menyimpan semua mereka. Karena aku takut dunia tidak akan menuliskan mereka dengan layak.”
Rayzen berdiri di samping Noveren. “Tapi jika kau terus menulis sendiri, mereka tidak akan pernah berbicara. Mereka akan selamanya jadi bayangan dari luka yang kau lindungi terlalu erat.”
Kalem menatap pena di tangan Noveren. “Pena itu bisa menuliskan ulang dunia, bukan?”
Noveren mengangguk. “Bukan untuk mengubah masa lalu. Tapi untuk memberi tempat bagi yang masih ingin berharap.”
Kalem menarik napas, lalu membuka satu halaman terakhir. Halaman putih. Sepi.
“Aku... tidak tahu bagaimana menulis yang memberi harapan. Aku hanya tahu bagaimana caranya bertahan.”
Noveren menggenggam tangan Kalem.
“Kalau begitu, mari kita tulisnya bersama.”
Di atas halaman putih itu, dua pena mulai menari. Bukan menciptakan kemenangan. Tapi membuka ruang. Ruang bagi mereka yang ingin datang. Bagi mereka yang belum selesai berkata. Bagi mereka yang pernah merasa terlalu kecil untuk didengar.
Langit di atas kota itu mulai retak. Tapi bukan pecah. Melainkan membuka.
Dan suara pertama dari langit berkata:
> “Tak satu pun mimpi diciptakan untuk tinggal sendirian.”