bc

MAMA PACARKU b***k SEKSKU

book_age18+
1.4K
IKUTI
8.1K
BACA
dark
forbidden
family
age gap
forced
second chance
boss
drama
bxg
bold
city
secrets
like
intro-logo
Uraian

WARNING!!!!!

-----------

NOVEL INI BERGENRE 21++ DENGAN DESKRIPSI SEKSUAL EKSPLISIT DAN KONTEN KEDEWASAAN VULGAR. TIDAK DITUJUKAN UNTUK PEMBACA DI BAWAH UMUR. JIKA ANDA BELUM CUKUP UMUR, SILAKAN MEMBACA NOVEL LAIN.

-----------------

Aluna Maharani memperkenalkan Pacarnya, Rio Pradana kepada sang mama, Arumi Puspita.

Namun, saat pintu rumah Arumi terbuka, dunia seolah berhenti berputar. Arumi terbelalak melihat sosok di hadapannya, begitu pula dengan Rio. Sosok yang Aluna sebut sebagai calon masa depannya ternyata adalah pria dari masa lalu kelam Arumi.

Rio bukanlah orang asing bagi arumi, dia adalah berondong simpanan Arumi lima tahun lalu saat Arumi terjebak dalam kekosongan emosional pernikahannya.

Rio yang saat itu masih berumur 20 tahun menjadi pemuas nafsu Arumi, Rio begitu dimanjakan dengan materi oleh Arumi sebelum ia memutuskan komunikasi secara total tanpa penjelasan demi menyelamatkan nama baik keluarganya, dan meninggalkan luka yang mendalam pada diri Rio.

Alih-alih pergi karena merasa canggung, Rio justru melihat ini sebagai peluang emas.

Luka karena ditinggalkan lima tahun lalu belum sepenuhnya hilang dan Kini Rio menuntut kepemilikan kembali.

Jika dulu Arumi yang memegang kendali atas dirinya, kini Rio-lah yang memegang kendali penuh pada diri arumi.

Rio memberikan ancaman maut jika Arumi mencoba menjauh atau memutuskan hubungan mereka lagi, Rio akan membongkar semua rahasia kotor masa lalu mereka kepada Aluna.

Kini Arumi terjebak dalam posisi yang Sulit, Di mana ia harus berperan sebagai ibu yang mendukung hubungan anaknya, di sisi lain, ia terpaksa harus menjadi b***k nafsu Rio demi menjaga rahasia gelapnya tetap Aman.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Masa Lalu yang Menolak Mati
Kemacetan Jakarta sore itu rasanya jauh lebih menjengkelkan daripada biasanya. Di dalam kabin mobil-nya yang adem dan wangi, Rio duduk gelisah. Jarinya terus-menerus mengetuk setir mobil dengan gemetar halus. "Sayang, sudahlah, jangan tegang banget begitu mukanya. Ini pertama kalinya lho aku berani bawa cowok ke rumah," celetuk Aluna yang duduk di sampingnya. Suara Aluna terdengar riang dan lepas, tapi Rio bisa melihat jemari kekasihnya itu sibuk merapikan lipatan gaun motif floralnya berulang kali. Aluna juga gugup, dia cuma pintar menutupinya. Rio menoleh dengan senyum tipis. Aluna memang selalu punya sihir tersendiri yang bisa bikin kegelisahannya langsung melunak. "Gimana nggak tegang, sayang? Kamu rasain deh, telapak tanganku sampai basah begini," sahut Rio sambil terkekeh kaku. "Gimana kalau Mamamu tipe yang galak? Yang langsung pasang muka interogasi pas pertama kali lihat aku?" Aluna tertawa mendengar celotehan kekasihnya itu. "Nggak mungkin, ih! Mama itu tahu kok kalau kamu cowok baik-baik. Lagian, siapa sih yang bisa nolak cowok segigih dan seberjuang kamu?" ucapnya sambil menggelengkan kepala. Mobil perlahan berbelok dan masuk ke dalam sebuah kompleks perumahan. Deretan pohon peneduh yang rindang di kiri-kanan jalan entah kenapa nggak bikin suasana hati Rio tenang. "Eh, sayang, Kamu waktu itu sempat cerita, keluargamu pindah dari Semarang setelah Papamu meninggal, ya?" Rio membuka suara lagi, mencoba mengalihkan fokus dari debar jantungnya yang makin nggak karuan. Aluna terdiam sejenak. Sorot matanya yang tadinya ceria mendadak meredup sekilas. Kenangan lama itu rupanya masih menyisakan sedikit duri. "Iya.., Bisnis tekstil Papa dihancurkan total sama orang kepercayaannya sendiri. Rumah, pabrik, semua aset disita bank. Parahnya lagi, kerabat yang dulu nempel dan sok baik pas kami jaya, langsung putus hubungan begitu saja." jawab Aluna pelan. matanya menerawang menatap keluar jendela. Aluna menghela napas panjang. "Untungnya, Mama punya satu aset kecil yang tersisa di Jakarta. Butik tua peninggalan Nenek. Di situlah Mama merangkak lagi dari nol, sendirian. Jahit satu-satu potongan hidup kami yang sudah hancur lebur." lanjutnya dengan nada getir yang kentara dari suaranya. Rio manggut-manggut, rasa kagum sekaligus iba bercampur di hatinya. Dalam kepalanya, Rio langsung otomatis membayangkan sosok calon ibu mertuanya itu. seorang wanita paruh baya, berwajah kaku dan tegas karena ditempa kerasnya hidup, mungkin dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, dan rambut yang mulai memutih karena stres. "Mamamu hebat banget. Wanita yang luar biasa kuat," puji Rio tulus. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern. Rumahnya memang tidak terlalu besar, tapi taman kecil di bagian depannya tertata sangat rapi, cantik, dan estetis. Menunjukkan dengan jelas bahwa pemilik rumah ini punya selera seni dan kelas yang tinggi. Aluna turun dengan melompat saking antusiasnya. Dia langsung menarik lembut lengan Rio, menuntun pemuda itu menuju pintu. ​"jangan terlalu tegang sayang" ucap Aluna sambil menyenggol manja lengan Rio lalu menekan bel rumah. "Ting tong." Rio membetulkan kerah kemejanya untuk kesekian kali dengan Jantungnya yang berdegup kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, Berusaha menyiapkan mental seolah-olah dia mau menghadapi presentasi bisnis paling krusial yang menentukan hidup dan matinya. Pintu itu perlahan terbuka, Namun, begitu sosok dari dalam rumah muncul dan menampakkan diri, waktu seperti berhenti berputar saat Arumi Puspita berdiri tepat di hadapannya. Wanita berusia 43 tahun itu sama sekali berbeda, bahkan bertolak belakang dari bayangan wanita paruh baya yang ada di kepala Rio tadi. Kulitnya putih bersih, terawat sempurna tanpa kerutan yang berarti. Bentuk tubuhnya masih sangat terjaga di balik dress putih yang membungkus lekuk tubuhnya dengan pas. "Rio" ucap arumi dalam hati. Mata Arumi membelak saat bertatapan langsung dengan Rio dan cengkeramannya pada gagang pintu mengerat begitu kuat karena menahan syok. Rio juga merasakan hal yang sama. Kakinya terasa kaku dan berat. "Tante Arumi...?" batin Rio menjerit histeris. Wajah itu, Wajah yang selama lima tahun ini sudah mati-matian coba ia kubur, ia lupakan, dan ia hapus dari memorinya, kini berdiri nyata di depannya. Bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai ibu kandung dari wanita yang sangat ia cintai dan ingin ia nikahi. ​"Jadi... Rio yang diceritakan Luna selama ini-" ucap Arumi dalam hati. "Ya Tuhan... kenapa harus dia? Kenapa dunia sempit sekali?" Lanjutnya dengan debaran jantung yang tak beraturan. Lima tahun lalu, Saat Arumi masih terjebak dalam pernikahan dingin tanpa gairah dengan almarhum suaminya, dan Rio masih menjadi mahasiswa tingkat akhir. keduanya pernah menjadi b***k nafsu satu sama lain. Kini, sepasang mantan kekasih gelap itu saling mengunci pandangan. Ada ketakutan yang luar biasa besar, sisa-sisa gairah yang mendadak bangkit tanpa permisi. Udara di teras rumah yang tadinya hangat, mendadak drop menjadi sangat dingin dan mencekam. Aluna, yang sama sekali buta dengan ketegangan maut di depannya, mulai merasa aneh. Dia mengerutkan kening, menatap ibunya dan Rio bergantian dengan tatapan bingung. "Kok malah pada bengong begini sih? Mama? Rio? Kalian... jangan-jangan sudah saling kenal, ya? Ekspresi muka kalian berdua aneh banget, kayak habis lihat hantu tahu nggak," canda Aluna, meski kini ada nada curiga dan heran yang mulai menyelinap di suaranya. Rio menjadi orang pertama yang berhasil menarik kembali kesadarannya. "Ah... nggak, belum kok. Maaf ya, Luna," Rio berbohong, mencoba tersenyum meski suaranya terdengar agak serak dan bergetar. "Aku cuma... agak kaget saja tadi. Mamamu ternyata muda banget. Sumpah, pas pertama kali pintu dibuka, aku pikir ini tadi kakak kamu, bukan Mamamu." Arumi, sebagai wanita matang yang sudah terlatih memakai berbagai macam topeng di depan para pelanggan butiknya, langsung menangkap umpan sandiwara dari Rio. Dia menelan ludah lalu memaksakan sebuah senyum formal yang tampak kaku di bibirnya. "I-iya, Luna. Mama cuma kaget saja karena kalian datangnya jauh lebih cepat dari jam yang dibilang kemarin. Mama bahkan belum sempat bikin minum atau siapin camilan di dalam," timpal Arumi. Suaranya agak bergetar, tapi dia berusaha keras dengan seluruh sisa kekuatannya untuk menyetabilkan nada bicaranya. Arumi lalu mundur selangkah, membuka pintu lebih lebar dan memberi jalan tanpa berani menatap mata Rio lagi. Dia tahu betul, pertahanan mentalnya yang sudah dibangun selama lima tahun ini bisa runtuh total kalau dia berani menatap mata pemuda itu satu detik lebih lama. "Ayo, silakan masuk. Nggak enak dilihat tetangga kalau kalian cuma berdiri di depan pintu terus," lanjut Arumi dengan nada suara yang terdengar sangat kaku. "Iya, Tante. Maaf kalau kedatangan saya sore ini merepotkan Tante," jawab Rio pendek. Rio melangkah melewati ambang pintu dengan perasaan was-was yang luar biasa. Rasanya setiap jengkal lantai rumah yang ia injak sore itu seperti ladang ranjau yang siap meledak dan hancur berantakan kapan saja. Terutama saat dia bisa merasakan dengan jelas, di balik punggungnya, tatapan mata Arumi sesekali mencuri pandang ke arahnya. ​"Tolong... jangan sampai Luna tahu. Kalau sampai rahasia ini terbongkar, aku akan kehilangan putriku selamanya," ucap Arumi dalam hati. Tatapannya penuh ketakutan membayangkan memori lama mereka tentang hubungan gelap masa lalu yang semula mereka kira sudah mati dan membusuk di makan waktu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
743.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
976.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
358.0K
bc

Not just, the Beta

read
347.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook