Nia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe mencari dimana sahabat-sahabatnya sedang duduk. Mereka bilang, mereka sudah berada disini sejak tiga puluh lima menit yang lalu. Nia menangkap seseorang yang melambaikkan tangan darinya dari meja yang tidak jauh dari bar tempat membuat kopi yang berada persis di samping jendela, itu Lala yang tengah melambaikkan tangan padanya. Nia langsung bergegas menghampirinya.
"Maaf ya, gue lama ya?"
"Gak papa kok Nia, santai aja. Gimana interview lo?" Tanya Ovi antusias. Lala menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia juga penasaran dengan jawaban Nia. Hari ini hanya ada Nia, Ovi dan Lala. Dita paling tidak bisa diajak mengumpul sore-sore seperti ini karena ia masih bekerja. Sedangkan Lala yang merupakan guru di salah satu sekolah dasar swasta itu sudah pulang bekerja. Kalau Ovi jangan ditanya, ia bisa kerja kapanpun ia mau sebab itu perusahaan keluarganya.
"Lancar, gue udah diterima," jawab Nia senang. Kedua sahabatnya tampak ikut senang bahkan bersorak bahagia begitu hebohnya membuat suasana kafe yang tadinya sepi karena di jam segini belum ramai pengunjung langsung ramai seketika.
"Terusss... teruss... lo kerja sebagai apa?" Tanya Lala semakin ingin tahu. Yang ia tahu adalah Nia melakukan wawancara di sebuah hotel. Jadi mungkin pekerjaannya tidak jauh-jauh dari perhotelan.
"Asisten."
"Asisten? Wah asisten siapa? Head manager? Lo interview di hotel Grand Star kan? Itukan hotel bintang lima. Ah Nia, gue senang banget, lo dapat kerjaan sebagus itu." Ovi sampai terharu sangkin senangnya. Sejujurnya ia kesal mengapa Nia selalu menolak pertolongan darinya, tapi ia juga tahu seberapa mandiri Nia.
"Asisten anaknya pemilik hotel," kata Nia menyeruput milkshake strawberry yang sudah dipesankan sebelumnya untuk dirinya.
"Oh... jabatan anaknya disana apa emangnya?" Tanya Lala masih penasaran.
"Gak ada, anaknya baru umur 10 tahun."
"Apa????!" Lala dan Ovi kompak terkejut kerena jawaban Nia sungguh diluar dugaan. Nia yang sudah mengira respons mereka akan seperti itu hanya terlihat santai. Ia sudah selesai kaget tadi saat pertama kali mendengarnya.
"Maksudnya lo bakal jadi pengasuh?" Ovi kembali bertanya.
"Bukan, kata bapaknya anaknya udah terlalu besar buat punya pengasuh, jadi namanya asisten," jelas Nia sama seperti yang dijelaskan bosnya, Evan tadi. Sejujurnya Nia juga sampai sekarang mengira bahwa pekerjaannya itu lebih tepat disebut pengasuh. Namun benar juga yang dikatakan Evan bahwa usia sepuluh tahun sudah terlalu besar untuk memiliki pengasuh. Namun jika pekerjaan Nia mengurusi segala kebutuhannya, ya sama saja namanya pengasuh bukan? Entahlah, Nia mendadak bingung, yang terpenting ia sudah mendapat pekerjaan sekarang.
"Tapi gajinya lumayan banget loh, gaji pokoknya aja 15 juta sebulan." Kali ini Ovi terlebih lagi lala melongo mendengarnya.
"15 juta? Seriusan lo Ni?" Tanya Lala tidak percaya. Bagaimana bisa Nia mendapat pekerjaan dengan gaji seperti itu sedangkan dirinya mungkin harus menunggu beberapa bulan untuk mengumpulkannya.
"Iya, belum termasuk lembut katanya. Jadi gimana bisa gue nolak. Tau sendiri sekarang gue lagi butuh-butuhnya uang. Uang itu bisa gue pakai buat kirimin ke ibu gue buat perawatan dia di Jogja, terus bisa buat kebutuhan sekolah Windi, kebutuhan di rumah, bahkan bakal tetap ada sisanya buat ditabung," cerita Nia merincikan akan kemana saja perginya uang yang akan ia dapat nantinya. Nia memang sudah memikirkan hal ini sejak Evan memberi tahu nominal yang akan dia dapatkan dengan bekerja bersama Evan. Ya meskipun belum tahu akan seperti apa nanti kerjanya, yang penting dengan mengetahui nominal yang akan ia dapatkan sudah cukup membuat Nia bersemangat.
"Bener sih, kalau gue jadi lo gak bakal gue tolak juga," kata Lala.
"Setahu gue sih pemilik hotel Grand Star itu emang kaya banget, hotelnya bahkan ada di Singapore kan? Jadi ya wajarlah dia ngeluarin uang segitu. Bonusnya pasti lumayan banget nanti."
"Lo kenal pemiliknya?" Tanya Nia. Ovi kan orang kalangan atas, jadi tidak heran jika ia tahu.
"Enggak sih, tapi perusahaan bokap gue pernah nyewa ballroom hotelnya buat ulang tahun perusahaan." Nia dan Lala kompak menganggukkan kepalanya.
"Gue pikir pemiliknya udah tua loh, ternyata enggak. Masih kelihatan muda banget, bahkan gak kelihatan kalau udah punya anak umur 10 tahun," cerita Nia mengingat pertemuannya dengan Evan tadi. Ia masih terkejut sampai sekarang saat tahu bahwa yang mewawancarainya secara singkat itu adalah pemilik perusahaan itu.
"Kok lo bisa tau?"
"Tadi dia langsung yang wawancarai gue." Untuk kesekian kalinya Ovi dan Lala dibuat kaget oleh Nia hari ini.
"Kok bisa?" Itu adalah pertanyaan kesekian yang dilayangkan Lala pada Nia hari ini karena kebingungannya.
"Gue juga gak tau. Mungkin karena mau mewawancarai orang bakal kerja sama anaknya deh makanya harus dia langsung yang wawancara." Ovi dan Lala mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Oke udah cukup ngomongin soal gue, kita sekarang fokus ke tujuan awal kita datang kesini. Jadi lo mau minta pendapat soal apa Vi?" Nia mulai mengarahkan agar pembicaraan ini kembali pada tujuan awalnya. Mereka memang sebenarnya datang ke kafe ini bukan untuk bercerita tentang hasil wawancara Nia, melainkan ini atas permintaan Ovi yang ingin meminta pendapat banyak hal dari teman-temannya tentang perisapan pernikahannya.
"Kita mulai dari design undangan ya, tolong kasih gue pendapat dong bagusan yang gimana diantara ini semua. Gue bingung banget. Mas Aldi benar-benar nyerahin semuanya sama gue." Ovi terlihat begitu frustasi. Ia memperlihatkan berbagai macam design undangan yang dikirimkan oleh pihak WO padanya. Ternyata mengurus pernikahan sangat sulit meskipun sudah sangat banyak orang yang bekerja untuknya. Apalagi Ovi termasuk yang banyak permintaan karena ia ingin semuanya sesuai dengan yang ia inginkan. Beruntung ia memiliki sahabat-sahabat yang selalu bisa diandalkan seperti ini. Ketiganya terlihat larut memilih-milih design yang terbaik.
***
Nia memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Rasanya cukup melelahkan hari ini, namun tidak semelalahkab hari-hari sebelumnya. Lelah hari ini dihiasi kegembiraan karena dirinya sudah mendapat pekerjaan. Sedikit beban di pundaknya terasa terangkat sehingga ia merasa bisa berdiri diatas kakinya sendiri dengan lebih tegap lagi.
Nia pergi ke kamar adiknya Windi, untuk memastikan adiknya sudah tidur dan tidak memainkan ponselnya hingga tengah malam. Benar saja, adiknya itu sudah terlelap. Nia berlalu ke kamarnya pula. Tadi setelah bertemu dengan Ovi dan Lala, Nia memutuskan untuk membeli sepasang baju yang akan ia pakai di hari pertamanya bekerja. Ia merasa harus tampil rapi, bersih dan sopan di hari pertama kerjanya. Dibayar dengan angka yang sangat tinggi membuat Nia memiliki rasa tanggung jawab untuk memberikan kinerja terbaiknya. Untung ia masih ada sedikit tabungan. Nia tidak sabar untuk kembali mengisi tabungannya.
Gadis berparas cantik nan natural itu duduk di pinggir ranjang sejenak sebelum mengganti pakaiannya. Ia meletakkan sepatu yang tadi ia jinjing ke rak sepatu yang hanya berisi tiga pasang sepatu itu. Di rebahkannya tubuhnya di atas ranjang membuat rasa lega dari tulang-tulang belakangnya yang akhirnya bisa diistirahatkan. Tanpa sadar Nia tersenyum melihat langit-langit kamarnya.
Nia bersyukur dari sekian banyak hal buruk dalam hidupnya selalu ada hal baik yang datang. Sangkin bahagianya Nia hari ini mendapat pekerjaan baru, hatinya terasa begitu hangat dan berdebar. Rasanya kebahagian ini tidak cukup hanya dibagikan kepada sahabat-sahabatnya saja. Ia juga ingin sebenarnya membagikan kabar bahagia ini pada keluarganya. Ia ingin bercerita pada Windi dan memberi tahu Winda bahwa Winda tidak perlu khawatir lagi berangkat sekolah tanpa uang saku. Adiknya itu juga tidak perlu khawatir lagi ditagih pembayaran ini dan itu. Ia akan memberi tahu Winda besok pagi.
Tidak hanya ingin berbagi kabar baik ini pada adiknya, Nia juga ingin berbagi pada ibunya. Ia ingin bercerita bahwa sulitnya hidup tidak akan membuat ia lemah. Ia bisa membantu keluarganya keluar dari masalah terbesar yang ada yaitu masalah perekonomian ini. Meskipun nantinya ibunya itu tidak merespon dengan baik ceritanya, tidak apa. Nia hanya perlu di dengar saat ini.
Orang terakhir yang ingin ia beritahu tentu saja ayahnya. Di balik sikap ayahnya selama ini pada dirinya, adik dan ibunya, Nia tetap sangat menyayangi ayahnya itu. Dialah satu-satunya sosok pria yang ada dalam hidup Nia. Harusnya ia bisa menjadi tempat Nia bersandar, mengadu, berbagi cerita apalagi sejak keadaan ibunya tidak baik-baik saja. Namun itu tidak bisa terjadi, ayahnya bukan seperti kebanyakan ayah-ayah di luar sana. Mengingat hal itu membuat hati Nia terasa perih.
"Nia... Nia...!" Suara panggilan dan ketukan pintu itu membuat Nia tersadar dari lamunannya. Ia menatap pintunya yang diketuk secara tidak sabaran. Nia bergegas bangkit dari tidurnya dan membukakan pintu. Terlihat ayahnya sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah berang.
"Lama banget sih bukain pintu doang," kesalnya.
"Maaf Yah, ada apa?"
"Uang, ayah mau beli rokok." Pria dewasa itu menampung tangannya tanpa malu saat tangan itulah yang seharusnya memberi anaknya. Nia mengeluarkan sisa uang di dalam kantongnya dan memberikan pada ayahnya.
"Segini mana cukup!" Lantangnya merasa tidak puas.
"Kan buat beli rokok doang Yah."
"Lagi, ini gak cukup. Jangan pelit jadi anak!" Katanya berteriak. Nia bisa mencium bau minuman keras dari mulut ayahnya. Ia pasti baru saja minum.
"Uangnya cuma sisa buat jajan Windi, Yah." Sungguh Nia sangat lelah untuk berdebat dengan ayahnya saat ini.
"Windi gak perlu uang, ayah yang perlu! Anak gak berguna banget. Sini!"
"Buat Windi yah!" Nia yang mulai kesal ikut menaikkan suaranya. Sepaling tidak jika ayahnya tidak memikirkan dirinya, maka pikirkanlah adiknya.
Plakkkkk!!!!
Suara tampan terdengar menggema. Nia hanya membeku ditempatnya tertunduk hingga helaian rambut menutupi wajahnya.
"Anak gak berguna, nyusul ibu lo sana!" Setelah mengucapkan itu, Farhan, ayah Nia langsung berlalu pergi.
Nia mengangkat kepalanya saat ayahnya pergi. Melihat punggung besar itu hilang dari balik dinding. Nia tidak menangis, ia juga tidak meringis meskipun tamparan itu sangat kuat seolah rasanya sudah sangat biasa. Ia hanya menatap nanar lurus ke depan. Diurungkannya niatnya dalam-dalam untuk berbagi cerita dengan ayahnya tentang kebahagiaannya hari ini. Mungkin akan lebih baik jika ayahnya tidak tahu. Nia kembali menutup pintunya. Sayang sekali hidupnya dalam sehari tidak pernah seratus persen bahagia, pasti ada saja yang menorehkan luka.
***
Ojek online yang dinaiki Nia berhenti di depan sebuah rumah mewah nan megah. Kepalanya sampai harus mendongak jauh keatas agar bisa melihat rumah di balik pagar tinggi menjulang. Nia berdecak kagum dibuatnya, ini bahkan berkali-kali lipat lebih besar dari rumah Ovi. Padahal selama ini Nia pikir rumah Ovi lah rumah termewah yang bisa ia masuki, ternyata masih ada lagi.
Seorang satpam datang membukakan gerbang untuk Nia. Saat Nia memberi tahu siapa dirinya dan apa tujuannya datang ke rumah ini, satpam itu langsung mengantarkan Nia ke pintu utama. Sampai di pintu utama, ada pula seorang asisten rumah tangga yang menyambut kedatangannya. Ah tampaknya banyak sekali orang yang bekerja di rumah mewah ini, tapi rasanya sangat wajar.
Asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan Nia tadi meminta Nia agar mengikutinya. Katanya pak Evan sudah menunggu. Nia pikir asisten Evan lah yang akan menyambutnya disini mengingat Evan adalah bos besar, bisa saja ia sibuk dan sudah berangkat bekerja pagi-pagi begini. Mungkin karena ini berhubungan dengan anaknya, jadi ia sendiri yang harus turun tangan.
Nia mendengar suara cekikikan canda tawa, tampaknya suara itu berasal dari ruangan yang akan mereka tuju. Terlihat Evan dan seorang anak perempuan duduk santai di sofa. Keduanya belum menyadari kehadiran Nia sehingga masih asik bercengkrama.
"Permisi Pak, tamunya sudah datang," kata asisten rumah tangga membuat Evan langsung menoleh begitu pula anak perempuan yang tengah bersamanya.
"Ah kamu udah datang. Silahkan duduk," kata Evan menunjuk kursi di hadapannya. Nia mengangguk sembari tersenyum kikuk dan duduk di hadapan Evan beserta anak perempuan itu.
"Kenalin, ini Aliya Anderson, anak saya," kata Evan memperkenalkan anak perempuan di sampingnya. Anak itu terlihat sangat cantik. Meskipun baru bertemu dan belum begitu familiar dengan wajahnya, namun Nia bisa menyimpulkan bahwa ada kemiripan antara anak itu dan Evan. Ah tentu saja, Evan kan adalah ayahnya.
"Aliya, ini mbak Nia. Dia bakal gantiin mbak Nadiya buat nemanin Aliya," kata Evan pula memperkenalkan Nia pada putrinya yang sedari tadi terlihat bingung dengan kedatangan orang asing di rumahnya. Namun setelah mendengar penjelasan ayahnya, ia jadi tahu bahwa wanita ini adalah orang yang akan bekerja padanya mengganti orang yang sebelumnya. Aliya terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Nia tersenyum ramah padanya yang dibalas gadis kecil itu dengan senyum kecil.
"Nia, kamu udah tau kan kerjaan kamu apa aja?"
"Sudah Pak," balas Nia pasti. Asisten pribadi Evan sudah menjelaskannya pada Nia kemarin dan ia juga sudah memahami semuanya.
"Bagus deh kalau gitu," balas Evan tersenyum ramah.
"Baby, please be nice ke mbak Nia ya," kata Evan lembut mengelus pucuk kepala putrinya penuh sayang, tanpa sadar Nia tersenyum kecil melihatnya.
"Yes, Daddy," balasnya patuh.
"Sekarang siap-siap gih, sebentar lagi gurunya datang." Lagi-lagi Aliya mengangguk patuh kemudian berlalu pergi. Tampaknya ia akan ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Saya harus berangkat kerja sekarang. Kamu bisa santai dulu sambil nunggu Aliya home schooling," kata Evan bangkit dari duduknya. Sontak Nia ikut bangkit dari duduknya. Nia mengangguk atas instruksi yang diberikan Evan.
"Kalau ada apa-apa yang mendesak, kamu bisa hubungi asisten saya ya."
"Baik Pak."
"Meskipun gak mudah, tapi saya harap kamu betah bekerja disini."
"Saya akan berusaha sebaik mungkin Pak."
"Eh sebentar...." mata Evan memicing memperhatikan Nia membuat Nia salah tingkah. Tatapan Evan yang kini bukan menatap matanya melainkan turun ke arah bibirnya itu membuat Nia merasa tidak nyaman. Tubuh Evan bahkan sedikit condong ke depan.
"Sudut bibir kamu kenapa? Memar ya?" Tanya Evan. Sontak Nia langsung memegang sudut bibirnya. Ah ini pasti bekas tamparan ayahnya kemarin, agak sedikit luka. Nia tidak punya banyak alat make up untuk menutupinya, lagi pula ia tidak pandai melakukannya.
"Gak papa Pak, kebentur sesuatu kemarin." Evan mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Lain kali hati-hati. Baiklah, saya pergi dulu." Setelah mengucapkan itu Evan berlalu pergi untuk bekerja.
Sepeninggalan Evan, Nia baru bisa bernafas lega. Sejujurnya Nia senang memiliki bos yang sangat ramah dan terlihat sangat peduli dengan pekerjanya. Bahkan hal sekecil itu saja ia notice. Tapi Nia sering tidak siap dengan perlakuannya yang spontan itu.
"Daddy udah pergi?" Nia tersentak kaget saat mendengar seseorang bicara padanya di tengah lamunannya.
"Su.. sudah..." balas Nia masih kaget pada Aliya yang entah sejak kapan ada di hadapannya.
"Bilang sama pak Tomi ya, siapin mobil. Aku mau pergi beli komik baru."
"Loh bukannya Aliya harus sekolah? Sebentar lagi gurunya datang."
"Telfon gurunya bilang kelas hari ini di cancel."
"Mbak gak bisa, ini udah jadwalnya." Alis gadis itu mengernyit tidak suka mendengar penolakan Nia.
"Mbak ikutin aja, daddy bayar mbak untuk kerja sama akukan. Aku mau siap-siap dulu." Setelah mengucapkan itu, gadis kecil itu berlalu pergi. Nia dibuat mematung dengan sikap anak berusia 10 tahun itu. Tadi ia terlihat begitu manis dan patuh, tapi kenapa sekarang malah seperti itu? Apakah ini yang dimaksud Evan akan terasa tidak mudah?