"Aliya, kita gak bisa kayak gini, kita harus tetap minta izin pak Evan kalau memang mau libur sekolah." Nia masih berusaha membujuk anak usia sepuluh tahun yang dengan angkuhnya berjalan di hadapannya tanpa memperdulikan ucapan Nia sama sekali. Ia sudah terlihat rapi dengan pakaian yang bagus dengan tas yang disandang layaknya remaja berjalan keluar menuju pintu utama rumah mewah ini. Nia berusaha menyamai langkahnya.
"Kita pergi setelah mbak nelfon pak Evan ya," ucapan Nia sukses membuat langkah anak perempuan bernama Aliya itu terhenti. Ia berbalik menatap Nia tidak suka. Sejak bertemu dengan Nia, tampaknya hanya sekali Aliya memperlihatkan wajah bersahabat, yaitu saat ayahnya mengenalkannya tadi. Setelahnya tatapan seperti inilah yang selalu ia tunjukkan.
"Kalau Mbak bilang sama papa, besok Mbak gak bisa kerja disini lagi." Nia melongo, bagaimana bisa anak berusia sepuluh tahun itu mengatakan sesuatu yang terkesan mengancam seperti itu? Benar-benar di luar dugaan.
"Kalau minsalnya gak mau nemanin, aku bisa pergi sama Pak Tito aja."
"Oke mbak temani." Nia akhirnya menyerah. Ini hari pertamanya kerja, ia masih dalam tahap penyesuaian dalam situasi yang sangat membingungkan seperti ini. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Nia dan bagaimana cara menghadapi keras kepalanya ini. Ya, Nia bisa simpulkan di hari pertama mereka bertemu bahwa anak ini sangat keras kepala.
Aliya kembali berjalan, memasuki mobil mewah pribadi yang disiapkan ayahnya beserta supir. Nia ikut masuk sembari mencari kontak guru yang harusnya mengajar Nia dan menghubunginya, mengatakan bahwa Nia sedang tidak bisa ikut kelas sekarang. Saat Nia sedang berpikir alasan apa yang harus ia berikan, guru itu tampak langsung paham dan mengatakan kelasnya bisa diganti besok. Tidak ada pertanyaan lain yang dilontarkan untuk meminta kepastian mengapa anak itu tidak ingin masuk kelas seolah sudah begitu sering terjadi.
Nia menghela nafas panjang. Ia pikir gaji yang akan ia terima tidak sebanding dengan pekerjaannya yang akan santai-santai saja. Tapi tampaknya ia salah, firasatnya mengatakan bahwa gajinya setimpal dengan sulitnya pekerjaannya nanti.
***
"Makasih banget loh Van udah mau bantuin Nia."
"Sama-sama Mbak, lagiankan emang aku lagi butuh juga," balas Evan. Ia memasukkan sepotong daging sapi A5 yang terasa langsung meleleh di lidah. Jusnya keluar melebar diseluruh sisi indra pengecap memberikan rasa yang luar bisa.
"Semoga deh Aliya cocok sama Nia," kata Hani. Ia berharap banyak agar Nia bisa bertahan bekerja bersama Evan sebab ia yakin untuk masalah uang, ia akan aman disana. Hani mengenal baik Nia sejak menjadi dokter yang menangani ibu Nia. Ia merasa kasihan pada anak itu tapi tidak tahu harus menolongnya seperti apa. Hanya inilah yang bisa ia lakukan.
"Semoga deh Mbak, semoga Nia tahan," Evan terkekeh usai mengucapkan kalimat itu membuat Hani ikut terkekeh tahu arah pembicaraan Evan.
"Kamu harus lebih sering bonding sama anak kamu itu Van. Banyak hal yang bisa dibicarain, mumpung masih kecil, kamu bisa bentuk ulang kepribadiannya." Evan hanya tersenyum mendengar. Ia seolah mendapat konsultasi gratis tiap kali bertemu Hani.
"Tapi anak kamu itu lucu deh, kalau di depan kamu dia kayak kucing imut baru lahir yang seolah-olah takut disentuh sangkinkan lembut bulunya. Tapi sama orang lain, dia kayak singa yang udah gak berburu berbulan-bulan." Kali ini Evan terkekeh mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak bisa menyangkal hal itu.
"Aku memang harus lebih berusaha keras Mbak, tapi sayangnya kelemahan aku, aku gak bisa terlalu keras sama dia. Seperti Mbak bilang, dia selalu manis saat di depan aku."
"Mbak paham kok, kamu bisa coba pelan-pelan." Evan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Astaga, enak banget..." Hani tidak tahan untuk tidak memuji masakan Evan. Ia benar-benar beruntung bisa meminta chef sekaligus pemilik hotel ini memasakkan makanan untuknya. Padahal Evan sangat jarang memasak untuk pengunjung. Ia biasanya hanya memasak untuk dijadikan percobaan sebagai menu baru di hotelnya. Selebihnya nanti akan di eksekusi oleh koki-koki profesional lain yang bekerja untuknya.
"Sebenarnya kalau dagingnya di grill beberapa detik lagi pasti teksturnya akan lebih sempurna," kata Evan. Hani hanya mengangkat bahunya, baginya ini sudah sempurna, memangnya mau yang bagaimana lagi?
"Oh iya Van, kemarin mbak ketemu Amanda di Bali."
"Ah iya, dia bilang dia lagi ada kerjaan di Bali."
"Bukannya minggu lalu dia di Singapore? Mbak lihat waktu ulang tahun Aliya kamu cuma rayain berdua sama Aliya."
"Mbak kayak gak tau Amanda aja," balas Evan. Hani mengangguk kecil pertanda paham. Sebenarnya tanpa ia bertanyapun ia sendiri tahu apa jawabannya. Hani tidak mengerti jalan pikiran Amanda. Jika ia menjadi Amanda ia pasti akan lebih fokus memperbaiki apa yang harus diperbaiki.
"Makasih ya Van makanannya. Kalau perlu apa-apa gak usah sungkan-sungkan hubungi mbak."
"Makasih juga ya Mbak." Hani mengangguk sembari tersenyum kemudian berlalu pergi berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.
Evan melihat kepergian Hani hingga tidak tampak lagi dari jangkauan pandangannya. Tidak lama setelah itu seseorang datang menghampiri Evan.
"Maaf Pak, pihak dari Havana Resort sudah sampai."
"Ah baiklah, saya akan bersiap-siap sebentar. Antarkan saja keruang rapat." Orang itu mengangguk patuh dan berlalu pergi.
Evan bangkit dari duduknya, ia harus segera mengganti seragam koki ini menjadi jas rapi dan kembali pada rutinitasnya sesungguhnya yaitu sebagai seorang pembisnis. Ah sesungguh Evan lebih suka menghabiskan waktu seharian di dapur yang penuh asap, bumbu-bumbu dapur dan percikan minyak dari pada di ruang rapat. Tapi mau bagaimana lagi, sumber pemasukkan terbesarnya ya dari bisnis itu. Jadi berkutat di dapur sebenarnya hanyalah hobi.
***
Nia hanya memperhatikan Aliya yang sedang asik membaca komik yang tadi ia beli. Ia tak bergeming di sofa empuk dengan aksen bulu-bulu yang dapat ia duduki dengan gaya apa saja sangkin luasnya itu. Nia bingung harus melakukan apa saat ini.
Ia membuka file diponselnya yang berisi daftar mata pelajaran Aliya setiap harinya. Hari ini harusnya Aliya belajar matematika. Nia bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Aliya.
"Aliya, gimana kalau mbak yang ajari Aliya hari ini? Sepaling tidak Aliya tetap ada belajar meskipun bukan sama gurunya," kata Nia menawarkan dengan begitu bersemangat. Aliya tidak bergeming seolah ajakan Nia benar-benar tidak menarik. Nia memutar otaknya memikirkan harus membujuk Aliya bagaimana lagi.
"30 menit aja gak papa deh," kata Nia masih berusaha. Aliya menutup komiknya agak kasar menatap Nia geram. Ia sepertinya tidak suka diusik saat sedang membaca.
"Mbak, aku gak suka diganggu waktu lagi baca komik. Kalau aku hari ini mau libur, itu artinya aku emang mau libur. Mbak diam aja apa susahnya sih? Sekali lagi ganggu aku, aku benar-benar bakal marah," katanya penuh peringatan kemudian berlalu pergi dengan langkah yang agak dihentak-hentakkan.
Nia mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Anak itu benar-benar menguji kesabarannya. Padahal Evan tampak begitu baik, sopan, dan tenang, namun kenapa anaknya seperti itu?
"Mbak Asih... mbak!!!! Mbak Asihh..." Nia mendengar suara teriakan.
"Mau kue, bawain ke kamar. Jangan lama!"
"Baik Non." Nia menggeleng. Ia pikir anak orang kaya yang tingkahnya seperti seorang putri yang selalu ingin dilayani itu hanya ada dalam dongeng atau sinetron, tapi ternyata di dunia nyata juga ada. Sayang sekali rasanya sudah bisa menikmati fasilitas yang ada namun tidak bisa bersikap baik untuk mensyukurinya. Ya tapi mau bagaimanapun Aliya masihlah anak-anak. Ia masih dalam proses membentuk kepribadian, jadi dengan kesabaran Nia yakin bisa mengatasinya.
Nia menghampiri asisten rumah tangga yang tadi berbicara dengan Aliya, melihatnya langsung berkutat di dapur menyiapkan apa yang diminta oleh Aliya.
"Mbak Nia mau juga?" Tanya Asih menawarkan.
"Enggak Bi," tolak Nia halus.
"Bi kalau aku boleh tanya, Aliya emang gitu ya?" Asih terlihat terkekeh sebelum menjawab.
"Ya gitu, tapi ini kayaknya hari ini lumayan agak baik, biasanya lebih banyak tingkahnya."
"Agak baik?" Nia melongo dibuatnya. Apa maksud dari kata 'agak' yang dikatakan Asih? Apakah biasanya lebih parah dari ini? Bagi Nia saja ini sudah parah.
"Sabar, sabar ya Mbak Nia," katanya seolah menguatkan kemudian berlalu dengan membawa nampan berisi kue dan s**u.
"Mbak kalau mau minum ambil aja ya," Asih berbicara agak lantang agar Nia bisa mendengarnya. Ia lupa belum menawarkan Nia minum.
Nia duduk di bar yang berada di dapur bersih rumah ini. Tampaknya dapur ini hanya dipakai untuk menyiapkan makanan atau membuat minuman saja karena dapurnya begitu bersih. Biasanya rumah orang kaya memang seperti itu, sama seperti rumah Ovi.
Nia mengambil gelas kemudian mengambil air dari dispenser kemudian meminumnya. Tidak melakukan banyak hal namun ia malah merasa lelah. Pandangan Nia mengedar ke setiap sudut yang bisa ia tangkap dengan manik matanya. Rumah ini terlihat begitu sepi. Nia bahkan baru menyadari bahwa sedari tadi ia tidak melihat ibu Aliya sama sekali. Tadi hanya ada Evan dan Aliya. Evan bahkan tidak mengenalkan istrinya. Apakah istrinya tidak ada di rumah? Ya bisa saja sih istrnya sedang kerja. Biasanya orang-orang seperti mereka pasti sibuk dua-duanya. Padahal Nia ingin juga berkenalan dengan istri Evan.
Nia mengetuk-ngetuk jarinya di meja bar. Kalau dipikir-pikir, kenapa orang tidak bisa betah bekerja menjadi asisten Aliya jika yang mereka cari hanyalah uang. Bisa sajakan tinggal menuruti keinginan anak itu? Saat ia sedang tidak ingin belajar ya tidak usah belajar, saat ia sedang ingin main ya biarkan main. Tapi kenapa orang-orang malah berhenti hingga Evan harus mencari pengasuh baru?
Nia menggeleng kepalanya menghalau pikiran yang tidak seharusnya ia pikirkan itu. Nia bangkit dari duduknya berniat untuk ke kamar Aliya. Sepaling tidak ia harus tetap berada di dekat Aliya jaga-jaga jika anak itu sedang membutuhkan sesuatu. Siapa tahu ia mendapat hidayah dan jadi mau belajar.
***
Nia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah diganti. Helaan nafas kasar terdengar jelas beberapa kali darinya. Nia bisa mendengar suara kikikan yang ia tahu dari mana berasalnya tanpa melihat orang itu. Ia pasti tengah bersembunyi di balik tembok dan tertawa puas karena berhasil mengerjai Nia.
Nia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hampir tiga jam ia terkurung di kamar mandi, bahkan sebelum itu ia sempat jatuh saat memasuki kamar mandi karena lantai lincin seperti diberi cairan pembersih lantai hingga ia terjatuh dan celananya basah. Untun Asih bersedia meminjamkannya celana.
Nia benar-benar tidak habis pikir kenapa Aliya bisa sampai melakukan ini di hari pertama pertemuan mereka. Apakah ia kesal karena Nia memaksanya untuk belajar? Herannya di rumah ini tidak ada satupun yang membantunya padahal Nia yakin asisten rumah tangga tidak hanya Asih. Tadi kebetulan Asih sedang pergi berbelanja katanya. Ia malah yang membukakan pintu saat tidak sengaja melewati kamar mandi lantai dua.
"Aliya..." panggil Nia. Ia harus berbicara dengan anak itu. Terdengar suara langkah kaki pergi menjauh agak cepat. Tampaknya ia kabur. Nia segera menyusul namun pintu kamar itu buru-buru ia kunci.
"Aliya, buka pintunya." Nia mengetuk pintunya beberapa kali.
"Aliya gak boleh ya iseng kayak gitu. Itu bahaya, gimana kalau mbak kenapa-kenapa? Iseng boleh tapi jangan yang membahayakan." Jujur saja pinggul Nia kini terasa sangat nyeri karena jatuh tadi. Tidak ada jawaban sama sekali dari Aliya, tapi Nia yakin Aliya mendengarnya.
"Lain kali mbak gak mau ya lihat Aliya ngelakuin itu lagi," kata Nia memperingatkan. Ia tidak ingin anak itu menjadi kebiasaan menjahilinya. Apakah ia ingin membuat Nia kapok? Apakah juga seperti ini caranya membuat orang-orang tidak betah bekerja dengannya? Kalau iya sebenarnya caranya cukup berhasil. Tapi karena Nia sedang butuh sekali uang jadi ia tidak akan menyerah.
Nia menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali ia seharian ini menghela nafas, tampaknya sudah tidak terhitung. Nia pun memutuskan untuk pergi dari kamar Aliya, membiarkannya berpikir apa yang baru saja ia lakukan. Berbeda dari pemikiran Nia, di dalam kamar Aliya malah menutup telingat dengan headset dan menonton film disney kesukaanya.
***
Evan memasuki rumahnya yang terlihat sepi seperti biasanya. Hari ini ia pulang pukul tujuh malam. Tidak terlalu telat namun tidak terlalu cepat juga karena biasanya ia pulang sore hari. Langkah Evan melambat saat memasuki ruang santai, melihat seseorang yang tengah tertidur di sofa. Dahi Evan mengernyit menatap orang yang baru bekerja sehari di rumahnya itu tengah tertidur begitu pulasnya. Evan sebenarnya tidak ingin mengusik tidurnya, namun baru Evan ingin berlalu kebetulan ini terlihat terjaga dari tidurnya.
"Astaga, pak Evan, maaf." Seolah nyawa sudah berkumpul begitu cepatnya, dari posisi tidur ia langsung berdiri membuat Evan memicing agak ngilu. Pasti rasanya tidak nyaman bangun terburu-buru seperti itu.
"Gak papa tidur lagi aja."
"Ah maaf Pak saya ketiduran tadi."
"Kalau kamu mau lanjut tidur silahkan aja, atau kalau mau pulang juga boleh," kata Evan.
"Kalau gitu saya pulang aja Pak."
"Ah iya Nia, gimana Aliya hari ini?" Tanya Evan. Nia tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak untuk memilih apa yang harus ia ceritakan. Aliya yang tidak mau sekolah, Aliya yang membeli banyak komik dengan kartu kredit yang tampaknya memang diberikan Evan padanya, Aliya yang menguncinya di kamar mandi dan membuatnya jatuh atau yang mana? Pasalnya banyak sekali tingkah anak itu hari ini.
"Baik Pak, seharian Aliya cuma belajar, baca buku dan nonton di kamarnya," jawab Nia sembari tersenyum.
"Oh ya? Tumben banget. Benarkan kata saya, anak saya itu emang manis. Ya udah kamu hati-hati yang pulangnya," setelah mengatakan itu Evan langsung berlalu dari hadapan Nia dengan wajah senang seolah tidak pernah mendengar kabar seperti itu sebelumnya.
"Iya, manis banget emang. Emang kelebihan gula anaknya sampai aktif banget begitu," kata Nia berbicara sendiri dengan nada mengomel. Nia pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia meringis saat berjalan dan merasakan pinggulnya yang terasa sakit. Pasti ini adalah efek dari jatuh tadi.