Bab 4

1020 Kata
"Bos." Lagaskar yang sejak tadi menatap lurus ke depan menoleh. Satu alisnya terangkat. "Ini semua rekaman CCTV dan juga beberapa barang bukti di lokasi Nyonya Vinelia jatuh," ucap Rama. Pria ini menyerahkan iPad nya pada Lagaskar. "Kau sudah memastikan semuanya?" tanya Lagaskar. Rama mengangguk. "Rekaman CCTV itu langsung di dapatkan di hotel. Aku mengambilnya langsung dari petugas yang ada di sana beberapa jam setelah kejadian." "Oke." Lagaskar langsung melihat rekaman CCTV itu, menatapnya dengan wajah yang sangat serius. Rahang pria itu terlihat mengeras. "Kemungkinan besar nyonya Vinelia jatuh dari tangga karena dia mabuk. Dia memegang gelas wine. Gelas itu jatuh bersamanya sampai ke bawah." Rama menjelaskan. Itu memang tugasnya. Lagaskar diam. Sebelah tangan pria itu terlihat mengepal sampai urat-uratnya terlihat jelas. "Apa kata dokter?" tanya Lagaskar ketika Awan masuk ke dalam ruangan. Mereka sedang ada dalam perjalanan bisnis. "Dokter mengatakan malam itu nyonya Vinelia mengkonsumsi alkohol. Dia ada dalam pengaruh alkohol saat terjatuh. Dokter juga mengatakan bahwa nyonya Vinelia rutin mengkonsumsi obat pelemah kandungan. Selain jatuh dan mendapat benturan di perut. Kandungan nyonya Vinelia memang sudah lemah sejak awal." Lagaskar memutar tubuhnya. Pria itu terlihat sangat menakutkan. Awan dan Rama tetap berdiri di hadapan Lagaskar dengan tegap. "Kalian kembali terlebih dahulu. Jemput Vinelia dan jangan pernah biarkan dia melangkah keluar dari Gold Land House!" seru Lagaskar. Awan dan Rama mengangguk patuh. Lagaskar terkekeh miris sembari terus menatap layar iPad dan juga catatan medis Vinelia. Jika Vinelia sangat ingin membunuh anak mereka? Kenapa wanita itu menangis? Kenapa Vinelia juga hampir mengakhiri hidupnya? "Drama." "Pembohong" "Pembunuh." Lagaskar terus memaki Vinelia. Pria itu menatap lurus ke depan. Rahangnya masih mengeras. Tangannya terkepal erat. "Vinelia Andromeda. Kamu harus membayar semuanya!" "Aku akan menunjukkan padamu bagaimana rasanya hidup menyenangkan." Lagaskar tersenyum miring. Pria itu merapikan jas nya kemudian melangkah meninggalkan kamar hotel tempat nya menginap malam ini. Lagaskar membutuhkan sesuatu yang segar dan menggairahkan malam ini untuk melemaskan seluruh otot tubuhnya. *** "Ada apa?" Vinelia tersentak kaget ketika melihat kedatangan Awan dan Rama ke rumah ayahnya. Dua orang itu menatap nya dengan sangat datar bahkan Rama yang selalu bersikap ramah pun menatapnya datar. "Bos Lagaskar meminta kau untuk kembali ke Gold Land House hari ini." Vinelia menatap Awan dan Rama bingung. "Lagaskar sudah mengizinkan aku untuk berada di sini selama tiga hari." Lagaskar bukan orang yang mengingkari janjinya. Pria itu selama ini juga mengizinkan Vinelia untuk menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya. Sesibuk apapun Lagaskar, pria itu juga pasti akan menyempatkan waktunya untuk menjemput Vinelia ke sini dan mengobrol sebentar dengan ayahnya. "Kami hanya menuruti apa yang di katakan oleh Bos. Anda harus kembali ke Gold Land House." Awan menatap Vinelia. "Mungkin ada sesuatu yang sangat penting. Pulanglah bersama dengan Awan dan Rama. Kamu bisa mengunjungi ayah lagi lain waktu." Vinelia menoleh pada ayahnya. "Tapi kondisi ayah sedang tidak baik. Vine ingin menjaga ayah untuk beberapa waktu." Vinelia menatap ayahnya. Pria itu satu-satunya keluarga Vinelia yang tersisa setelah kepergian ibu dan kakak laki-lakinya. "Ayah baik-baik saja Vine. Kamu kembali dulu. Mungkin ada sesuatu yang harus kamu selesaikan di sana." Vinelia menatap ayah nya dengan sangat ragu namun pada akhirnya dia mengangguk. "Tunggu sebentar. Aku akan mengambil beberpa barangku terlebih dahulu," ucap Vinelia. Awan dan Rama mengangguk. Sepanjang perjalanan kembali ke Gold Land House. Suasana mobil sangat hening. Itu tidak seperti biasanya. Biasanya Rama akan mati-matian mencari bahan obrolan namun sekarang pria itu diam. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Vinelia sudah tidak tahan lagi. Dimulai dengan kedatangan Awan dan Rama yang tiba-tiba kemudian memintanya untuk pulang lebih awal atas perintah Lagaskar itu sudah sangat aneh. "Bos yang akan menjelaskan," jawab Awan. Vinelia memainkan jemarinya. Entah kenapa perasaannya terasa tidak enak. Awan dan Rama memang terkadang sangat serius namun keduanya belum pernah bersikap seperti ini padanya. "Lagaskar baik-baik saja, bukan?" tanya Vinelia. Dia merasa semakin khawatir. "Baik-baik saja." "Dimana Lagaskar?" tanya Vinelia. "Dia belum kembali," jawab Rama. Kening Vinelia semakin berkerut. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Awan dan Rama tidak lagi menjawab pertanyaan Vinelia. Keduanya memilih bungkam. Vinelia menghela napasnya berulang kali. Pikirannya mendadak kacau. Vinelia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Vinelia mencoba bertanya lagi pada Awan dan Rama namun dua pria itu tetap tidak mengabaikan pertanyaannya. *** "Kau bahkan tidak seperti orang yang kehilangan." Vinelia menghentikan langkahnya. Taraka Prabeswara sedang duduk di ruang santai keluarga sembari memainkan gelas wine. Taraka tanpa alkohol sepertinya memang tidak akan bisa hidup. Pria itu sepupu Lagaskar. "Aku dengar kau diam-diam sering mengkonsumsi alkohol dan juga obat pelemah kandungan. Kau hebat juga." Vinelia terlihat sangat bingung. "Alkohol dan obat pelemah kandungan?" tanya. Vinelia. "Dan sekarang kau bersikap pura-purah bodoh. Vinelia, kau sungguh hebat. Katakan padaku apa tujuanmu datang ke Gold Land?" tanya Taraka. "Apa maksudmu?" "Dan sekarang kau bertanya padaku? Bukannya kau yang seharusnya memiliki jawabannya. Vinelia tunjukkan saja wujud aslimu. Kau tidak perlu berpura-pura di hadapanku," ucap Taraka. Vinelia menatap Taraka semakin bingung. Pria ini memang selalu bersikap santai seolah dia tidak berguna. "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan." "Kau orang yang paling mengerti apa yang aku katakan Vinelia. Katakan saja padaku, apa tujuanmu datang ke Gold Land? Kenapa kau berusaha begitu keras untuk masuk ke sini. Bukannya Lagaskar bukan orang yang menyenangkan?" Vinelia menghela napas nya. Menghadapi Taraka memang butuh kesabaran. Vinelia tersenyum. "Sejak kapan kau berpikir bahwa Lagaskar bukan orang yang menyenangkan? Bukannya kau selalu ingin menjadi seperti Lagaskar?" tanya Vinelia. Taraka terkekeh, dia beranjak dari kursinya. Melangkah menghampiri Vinelia. "Vinelia, aku ingin memberitahumu. Lebih baik tinggalkan Lagaskar sebelum kau di buat tidak bisa berkutik olehnya. Mungkin dia tidak akan mengizinkan mu melihat matahari setelah dia kembali," ucap Taraka. Dia mencolek dagu Vinelia kemudian pergi meninggalkan ruang keluarkan itu sembari terkekeh. Vinelia terdiam. Semua orang bersikap sangat aneh hari ini walaupun Taraka memang sudah sangat aneh dari dulu namun tetap saja sikap Taraka sangat mengganggu Vinelia. "Nona Vine, apa makanan yang ingin anda makan untuk malam ini?" seorang pelayan menghampiri Vinelia. Gold Land House memang rumah yang sangat besar dengan puluhan pelayan di dalamnya. "Aku tidak ingin makan malam ini," ucap Vinelia. Dia melangkah meninggalkan ruangan untuk ke kamar yang dia tempati bersama Lagaskar. Vinelia merasa pikiran nya sangat kacau hari ini. Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN