Bab 5

1050 Kata
"Nyonya Vinelia sudah kembali ke Gold Land House sejak dua hari yang lalu. Dia tidak keluar dari kamar tidurnya," ucap Rama ketika Lagaskar sudah kembali dari perjalanan bisnis. "Tuan Taraka membuat masalah kemarin dengan melakukan kekerasan di sebuah club namun masalahnya sudah selesai seperti biasa." "Nyonya Kumalasari menghabiskan banyak uang untuk acara amal. Dia juga sudah kembali ke rumah." "Kondisi kesehatan Tuan Prawira sempat mengalami penurunan pagi ini namun dokter sudah memeriksanya." Lagaskar mengangguk mendengar laporan Rama malam ini. Lagaskar sudah sangat terbiasa mendapatkan berbagai macam laporan penghuni Gold Land House semenjak menjadi CEO Gold Land. "Oke, kau boleh istirahat. Tolong katakan pada Awan untuk meningkatkan keamanan Gold Land. Dan Rama batasi pengeluaran tante Kumalasari." Lagaskar menyerahkan jas nya pada pelayanan kemudian naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. "Lagaskar." Lagaskar menatap wanita yang duduk di sofa menggunakan gaun tidur. Kondisi Vinelia terlihat cukup buruk. Tapi Lagaskar tidak akan pernah lagi mempercayai wanita itu. Vinelia pembohong. Wanita itu hanya sedang mempermainkannya. "Kenapa ada dua ranjang di kamar kita?" tanya Vinelia. Lagaskar melepas dasinya. Dia kembali menatap Vinelia namun Lagaskar memilih tetap tidak mengatakan apapun. Lagaskar masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan dirinya. "Lagaskar jawab aku. Kenapa ada dua ranjang di kamar kita?" tanya Vinelia. Lagaskar mengeringkan rambutnya. Dia pikir Vinelia sudah menyerah bertanya. "Aku butuh ruang tidur yang lebih luas," jawab Lagaskar. Vinelia menggelengkan kepalanya. Wanita itu berdiri dan melangkah mendekat ke arah Lagaskar. "Sejak kapan kamu butuh ruang tidur yang lebih luas. Bukannya kamu selalu mengatakan lebih nyaman tidur di ranjang yang sempit asalkan di sana ada aku?" tanya Vinelia. Lagaskar memutar tubuhnya. Dia tersenyum miring. Menatap Vinelia dari atas sampai bawah. "Manusia berubah Vinelia," jawab Lagaskar. Vinelia terlihat terdiam. Wanita memegang pinggiran gaun tidur nya erat. "Apa salahku?" tanya Vinelia. Wanita itu mengangkat wajahnya. Dia menatap Lagaskar dengan sendu. Lagaskar membalas tatapan Vinelia. Menatap Vinelia dengan sangat dingin. "Kamu tanya salahmu apa?" tanya Lagaskar. Dia terkekeh sinis. "Aku nggak akan pernah tahu salahku apa kalau kamu nggak pernah kasih tahu aku. Lagaskar bukannya kita sudah berjanji untuk berkomunikasi dalam keadaan apapun itu?" tanya Vinelia. Wanita itu ingin menggenggam tangan Lagaskar namun Lagaskar menjauhkan tangannya dari jangkauan Vinelia. "Lagaskar." Jika dulu suara penuh permohonan Vinelia akan mempengaruhi Lagaskar namun sekarang tidak lagi. Lagaskar memakai bajunya kemudian membuka laptop nya. Lagaskar berhasil mengabaikan Vinelia. Tidak akan pernah ada maaf untuk wanita itu. Lagaskar akan membuat Vinelia merasakan sakitnya sebuah kehilangan. "Berhenti bicara omong ksong Vinelia," ucap Lagaskar. Lagaskar menutup percakapan dengan Vinelia. Membiarkan wanita itu berdiri tegap di sana penuh dengan kebingungan. "Ah ya, jangan berani-berani keluar dari Gold Land House tanpa seizinku. Jangan membuat masalah atau kamu harus membayar semuanya." Lagaskar kembali menatap wanita di hadapannya dengan sangat tajam. Vinelia terlihat kembali ingin membuka mulutnya namun Lagaskar memilih pergi meninggalkan kamar. Lagaskar tidak ingin mendengarkan suara Vinelia. Suara wanita itu mendadak terdengar sangat menyebalkan. *** "Siapa yang mengizinkanmu duduk di samping Lagaskar. Bantu pelayan menghidangkan makanan!" seruan itu membuat Vinelia yang baru akan duduk di samping Lagaskar menghentikan kegiatannya. "Kenapa melihatku seperti itu. Bukannya kau sejak dulu sudah terbiasa melayani banyak orang. Kau bekerja paruh waktu di kafe saat kuliah. Jadi apa bedanya dengan sekarang? Jangan pernah bermimpi menjadi ratu di tempat dimana kau tidak pernah di terima, Vinelia." Kumalasari menatap Vinelia dengan sinis. Lagaskar merasakan Vinelia menatapnya. "Lakukan apa yang di perintahkan tante Kumalasari. Bukannya apa yang dia katakan benar? Kau mantan pelayan di sebuah kafe saat kuliah." Suara dingin Lagaskar mengalun. Kali ini tidak hanya Vinelia yang terkejut namun juga semua orang yang ada di ruang makan keluarga Prabaswara. "Tunggu apalagi Vinelia. Lakukan. Hidangkan makanan untuk semua orang." Taraka tersenyum miring. Suasana ruang makan itu mendadak menjadi senyap. Vinelia mulai menghidangkan sarapan untuk semua orang yang ada di meja makan itu. Prabaswara memang selalu sarapan bersama sebelum mereka memulai kegiatan di luar rumah. "Melihat caramu menghidangkan makanan untuk semua orang kau memang sangat pantas menjadi seorang pelayan. Kenapa orang sepertimu tiba-tiba menikah dengan salah satu Prabaswara. Bukannya posisi itu terlalu berlebihan untukmu Vinelia?" Taraka dan mulut super menyebalkan nya. "Ambilkan jus untukku. Aku tidak ingin meminun s**u pagi ini," ucap Kumalasari. "Aku akan ambilkan," ucap seorang pelayan. "Siapa yang menyuruhmu mengambilnya. Aku ingin Vinelia. Ambilkan cepat. Aku tidak punya banyak waktu!" seru Kumalasari. Vinelia terlihat cukup terkejut namun wanita itu tetap melakukan apa yang diperintahkan. Lagaskar terus menikmati sarapannya. Pria itu tidak banyak bicara. "Bukannya berlebihan memperlakukan Vine seperti itu?" tanya Tuan Prawira. Pria dengan seluruh rambut yang sudah memutih itu menatap semua orang yang ada di meja makan. "Tidak ada yang berlebihan," jawab Lagaskar. Pria itu beranjak dari kursi. Awan dan Rama langsung mengikuti langkah Lagaskar. "Jadwalku hari ini," ucap Lagaskar. "Meeting bersama salah satu klien. Mereka menawarkan kerja sama dengan Hold Land." "Makan siang bersama Tuan Athur." "Bertemu dengan nona Gamya. Sisanya hanya pekerjaan di kantor." Rama menjelaskan dengan sangat cepat. Lagaskar mengangguk. Mereka masuk ke dalam mobil. Awan menyetir. Rama kembali menjelaskannya proses proyek baru yang sedang mereka kerjakan. "Bos." Rama menatap Lagaskar yang duduk di bangku belakang. "Katakan." "Bukannya terlalu berlebihan memperlakukan nyonya Vinelia seperti itu?" Lagaskar terkekeh sinis mendengar pertanyaan Rama. "Tidak ada yang berlebihan. Seorang pembohong, dramatis, dan pembunuh berhak mendapatkan perlakuan seperti itu." Awan dan Rama saling lirik satu sama lain. Mereka kompak menghela napas. Mereka berpikir bahwa Lagaskar tidak akan pernah bisa memperlakukan Vinelia dengan buruk namun ternyata apa yang mereka pikirkan salah besar. Lagaskar tetap memperlakukan semua orang sama. Tidak peduli siapa orangnya. Jika orang itu melakukan kesalahan maka mereka harus membayar semuanya. "Kondisi nyonya Vinelia mungkin belum sepenuhnya pulih. Aku dengar butuh berberapa waktu untuk pemulihan pasca keguguran. Jika nyonya Vinelia bekerja keras mungkin kondisi nyonya Vinelia akan menurun." "Dia hanya menghidangkan makanan. Itu bukan pekerjaan yang berat" ucap Lagaskar. Rama akhirnya mengangguk. Dia tidak berani lagi untuk memprotes Lagaskar. "Aku sudah bertanya pada dokter tentang kondisi Vinelia. Tidak ada masalah yang serius. Dia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa." Awan menjelaskan. Awan sudah sampai tiga kali menghubungi dokter yang merawat Vinelia. Dokter selalu mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan Vinelia. Kondisi wanita itu sangat stabil. "Berita tentang keguguran yang di alami Vinelia tidak ada yang menyebarkan nya ke publik, kan?" tanya Lagaskar. Awan dan Rama mengangguk. Mereka mengatasi berita itu dengan cepat. Berita kehilangan akan berdampak buruk terhadap saham perusahaan. Lagaskar tidak ingin rugi kedua kalinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN