Bab 6

1040 Kata
"Ikut aku." Vinelia yang baru saja selesai membantu para pelayan menyiapkan makan siang menatap Kumalasari dengan bingung. "Tunggu apa lagi. Ikut aku." Vinelia pada akhir nya mengangguk. Dia mengikuti langkah Kumalasari. Sejak pagi Kumalasari sudah meminta Vinelia melakukan banyak hal sampai Vinelia tidak memiliki waktu untuk istirahat. "Tante Kumalasari, untuk apa kita kesini?" Mereka berhenti rumah kaca Gold Land House, di sana banyak sekali tanaman yang tidak terawat karena yang Vinelia dengar tanaman yang ada di rumah kaca itu sebelumnya di rawat oleh ibu Lagaskar namun semenjak wanita itu meninggal dalam sebuah kecelakaan, tidak ada lagi yang mengurus taman itu di tambah lagi, Kumalasari melarang siapapun untuk menyentuh rumah kaca itu. "Bersihkan taman ini. Pastikan seluruh tanamannya hidup kembali. Kau bertanggung jawab untuk taman ini. Jangan mengeluh. Kerjakan!" seru Kumalasari. "Tante, apakah harus aku yang mengerjakannya?" "Kenapa? Kau ingin bermalas-malasan, ingat siapa dirimu, Vinelia, kau hanya orang asing yang tidak diharapkan di sini. Lakukan saja yang aku perintahkan kalau kau tidak ingin merasakan hidup di neraka lebih panas lagi," ucap Kumalasari. Wanita itu kemudian meninggalkan Vinelia begitu saja. Kondisi rumah kaca itu benar-benar sangat rusak. Tumbuhan-tumbuhan disana sudah mengering bahkan banyak sekali rumput liar. "Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan anda tapi aku sangat yakin rumah kaca ini dulu sangat cantik. Nyonya Laksita. Aku Vinelia Andromeda. Aku berjanji akan membuat rumah kaca ini kembali indah. Apakah Lagaskar kecil senang menghabiskan waktunya disini?" tanya Vinelia. Vinelia yakin bahwa Laksita dulu sangat sering menghabiskan waktunya disini. Dalam rumah kaca ini ada sofa-sofa melingkar yang sudah rusak parah. Vinelia menarik napas nya sebentar kemudian Vinelia mulai membersihkan tanaman-tanaman yang sudah kering dan juga rumput liar. Vinelia yakin akan membutuhkan banyak waktu untuk membersihkan rumah kaca ini dan menanam kembali tanaman. Vinelia beberapa kali berhenti ketika merasakan sakit kembali menyerang kepalanya namun Vinelia tidak menyerah. Mungkin nanti rumah kaca ini akan menjadi satu-satunya tempat yang bisa membuat nya bernapas di rumah mewah ini. Gold Land House itu sangat luas namun entah mengapa sangat sulit sekali bernapas disana. Ya, mungkin karena memang Gold Land House itu seperti rumah dinas. Orang-orang berkumpul atas kepentingan masing-masing bukan berkumpul karena mereka adalah keluarga. Jadi, tidak ada sikap yang alami. Hanya ada orang-orang penuh kepura-puraan. "Nyonya Laksita, apakah sejak dulu Gold Land House selalu seperti ini? Sangat dingin dan menyesakkan d**a?" tanya Vinelia. Dia menatap setiap sudut rumah kaca itu. "Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Lagaskar mengatakan bahwa anda dan tuan Widura adalah orang yang sangat hangat." Vinelia tersenyum. Laksita dan Widura. Selama Vinelia pindah ke Gold Land House. Vinelia tidak pernah sekalipun mendengar penghuni Gold Land House membicarakan tentang keduanya. Jangankan membicarakan. Mendengar nama mereka saja Vinelia tidak pernah. Bahkan Lagaskar. Pria itu tidak pernah bercerita tentang orangtuanya. Lagaskar hanya pernah mengatakan bahwa orang tua nya meninggal dalam kecelakaan mobil dan mereka adalah orang yang hangat. Vinelia tahu nama orang tua Lagaskar saat mereka mengurus berkas-berkas untuk pernikahan. "Lagaskar hangat namun ketika dia terkena angin kencang dia akan berubah menjadi sangat dingin kemudian aku akan sulit menyentuhnya," ucap Vinelia. Dia duduk di depan satu-satunya tumbuhan yang masih sangat subur. Vinelia bersikap seolah-olah dia memang sedang bicara dengan Laksita. "Nyonya Laksita, bagaimana caranya untuk membuat hubunganku dan Lagaskar kembali baik-baik saja?" tanya Vinelia. Vinelia tidak tahu dimana letak kesalahannya. Sikap Lagaskar berubah. Pria itu tidak lagi memiliki kehangatan untuknya. Vinelia menghela napasnya. Matanya mendadak memanas. Sikap Lagaskar sekarang mengingatkan Vinelia pada saat pertama kali dia bertemu dengan Lagaskar. Hari itu tahun ajaran baru. Hari dimana untuk pertama kalinya Vinelia menjadi seorang mahasiswa di universitas nya. Lagaskar seorang yang sangat dingin dan kasar. Dia tidak bergaul dengan siapapun. Dia tidak peduli pada siapapun Lagaskar hanya peduli dengan dirinya sendiri. "Perkenalkan namaku Vinelia Andromeda." Vinelia menatap cowok yang selalu duduk di kursi paling belakang di kelas. "Aku tidak ingin tahu." Lagaskar menyingkirkan tangan Vinelia dari hadapannya. Vinelia menarik napas nya. "Tapi kamu harus tahu namaku karena kita satu kelompok praktikum satu semester ke depan," ucap Vinelia. "Kau bisa mengurus nya sendiri." Lagaskar menatap Vinelia dengan sangat dingin. Vinelia tidak menyerah. "Lagaskar. Kamu juga harus terlibat di dalamnya. Kamu harus peduli pada tugasmu. Itu tanggung jawab kamu." Vinelia memang termasuk orang yang tegas kalau urusan seperti ini. "Berisik." Lagaskar kemudian meninggalkan kelas kemudian tidak pernah muncul lagi di kelas sampai dua minggu sampai Vinelia harus mengerjakan laporan praktikum sendirian. Hal seperti itu tidak terjadi sekali atau dua kali. Tapi itu terjadi berkali-kali sampai Vinelia mengancam Lagaskar tidak akan mencantumkan nama pria itu di laporan praktikum namun Lagaskar mengatakan. "Lakukan saja. Aku tidak peduli." Semenjak hari itu, Vinelia selalu berusaha mencari tahu bagaimana caranya membuat Lagaskar peduli terhadap sesuatu. Terutama tugasnya namun semuanya tidak semudah yang Vinelia pikirkan. Vinelia tersenyum tipis setelah mengingat kenangan masa kuliahnya dulu. Tidak mudah bisa dekat dengan Lagaskar. Vinelia bahkan sampai hari ini tidak menyangka bahwa pria tidak peduli dengan siapapun dan dingin itu menjadi suaminya. "Sekarang aku kembali ke titik awal. Lagaskar yang bersamaku sekarang adalah Lagaskar yang aku temui enam tahun lalu bahkan dia terasa jauh lebih menyeramkan. Nyonya Laksita, bagaimana aku bisa mendapatkan kembali kehangatan suamiku?" tanya Vinelia. Vinelia bisa menghadapi sekejam apapun dunia asalkan Lagaskar menggenggam tangannya. Namun ketika Lagaskar melepaskan tangannya, Vinelia merasa kebingungan. Vinelia ketakutan. "Tapi Nyonya Laksita, seberapa kuat pun Lagaskar mendorongku untuk pergi dari sisi nya, aku tidak akan pernah meninggalkan nya." Vinelia bangkit dari kursinya. Dia melanjutkan pekerjaannya. Vinelia akan membuat taman ini kembali cantik dan nyaman. Vinelia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang cara merawat tanaman. Vinelia berulang kali membaca artikel atau menonton video sampai dia tidak menyadari bahwa pencahayaan di rumah kaca itu sudah berganti. Tidak lagi sinar matahari tapi lampu. Vinelia merenggangkan otot-otot nya yang terasa sangat kaku. Bekas jahitan pasca operasi Vinelia sebenarnya juga belum sepenuhnya sembuh namun itu juga sudah tidak terasa sakit lagi jadi Vinelia juga memilih untuk tidak mengeluhkan tentang itu. "Vinelia." Vinelia yang sedang menutup pintu rumah kaca itu memutar tubuhnya. "Ada apa Awan?" tanya Vinelia. Bodyguard pribadi Lagaskar itu memasang wajah datarnya seperti biasa. Vinelia pernah bertanya kenapa Awan selalu memasang ekspresi seperti itu. Awan menjawab kalau wajah nya memang sudah seperti itu sejak lahir. "Tuan Lagaskar mencari anda. Dia menunggu di ruang pribadi kalian." Vinelia mengangguk. Jantung nya berdebar sangat kencang. Apa yang akan dilakukan oleh Lagaskar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN