Ruang pribadi yang di maksud oleh Awan itu adalah kamar tidur Lagaskar dan Vinelia. Dulu itu satu-satunya tempat paling nyaman yang Vinelia miliki di Gold Land House. Disana satu-satunya tempat dia merasakan kehangatan karena Lagaskar bersamanya namun sekarang. Vinelia tidak lagi menyukai tempat itu. Semuanya berbeda. Tidak ada lagi kehangatan.
"Ada apa?" tanya Vinelia. Dia berdiri di ujung sofa. Menatap Lagaskar yang sibuk dengan laptop seperti biasanya.
"Ambil beberapa pakaianmu dan ikut denganku." Lagaskar dengan segala perintahnya.
"Pergi kemana?" Vinelia tidak ingin salah bawa pakaian lagi seperti yang sudah-sudah dan berakhir membeli pakaian baru.
"Cepat, jangan membuang waktuku Vinelia!" seru Lagaskar. Vinelia hanya mengangguk. Dia mengganti pakaiannya cepat dan membawa beberapa barang yang mungkin bahkan dia butuhkan nanti.
"Aku selesai," ucap Vinelia. Lagaskar berdiri dan melangkah keluar kamar. Vinelia mengikuti langkah lebar pria itu.
"Jam berapa penerbangannya?" tanya Lagaskar.
"Dua jam lagi. Kita masih punya cukup waktu," jawab Rama. Awan membuka pintu mobil untuk Lagaskar dan Vinelia.
Selama perjalanan Vinelia memilih diam apalagi ketika dia merasakan betapa menakutkan Lagaskar saat ini. Vinelia masih belum berani pada pria itu.
"Vine, apa yang kau lakukan seharian ini?" tanya Rama. Mungkin pria itu merasa tidak nyaman dengan suasana mobil yang sangat hening dan kaku. Rama memang orang yang paling hangat diantara mereka. Pria itu tidak suka dengan keadaan yang kaku.
"Membersihkan rumah kaca," jawab Vinelia seadanya.
"Rumah kaca yang sudah lama di tinggalkan itu? Bukannya nyonya Kumalasari tidak mengizinkan siapapun untuk menyentuh tempat itu?" tanya Rama.
Vinelia melirik ke arah Lagaskar sebentar. Memastikan Lagaskar tidak terganggu dengan obrolan mereka. Melihat pria itu bersikap tenang. Vinelia mengangguk.
"Memang, tapi hari ini nyonya Kumalasari memintaku untuk membersihkan rumah kaca itu dan menghidupkan semua tanamannya kembali," jawab Vinelia.
"Bos, aku dengar rumah kaca itu sangat indah dulunya. Bahkan orang-orang di Gold Land Office sering membicarakan tentang rumah kaca itu. Apa itu benar. Bisakah kau ceritakan seberapa indah rumah kaca itu?" tanya Rama. Si paling berani bicara dengan Lagaskar.
"Aku tidak ingin bicara," jawab Lagaskar dengan suara yang sangat dingin. Rama merapatkan bibirnya. Vinelia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
Suasana mobil kembali senyap dan dingin. Efek Lagaskar memang membekukan.
"Vine, apa kau merasa baik-baik saja?" Buka Rama namanya kalau tidak melanjutkan pembicaraan.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada masalah," jawab Vinelia santai.
"Aku dengar dari cerita teman-temanku. Pasca mengalami kecelakaan dan operasi. Harus istirahat total. Kemudian juga harus melakukan pemeriksaan rutin ke dokter. Karena jika itu tidak dilakukan bisa berbahaya. Banyak orang yang meninggal akibat hal itu. Temanku salah satunya, dia meninggal!" seru Rama.
"Rama, tutup mulutmu dan tatap ke depan!" seru Lagaskar. Rama kembali merapatkan bibirnya namun tidak lama pria itu diam-diam tersenyum.
"Vine, kau harus memberitahu Bos jika merasakan sakit. Dia pasti akan sangat menghawatirkan mu." Rama semakin jadi.
"Rama diam atau aku lempar kau keluar!" Rama kali ini benar-benar diam.
Vinelia terdiam mendengar ucapan Rama. Apakah efek pasca kecelakaan dan operasi sebesar itu?
"Kau tidur!" seru Lagaskar menoleh ke Vinelia sebentar dengan wajah datarnya. Vinelia mengangguk patuh. Dia langsung memejamkan matanya. Lagi pula Vinelia memang merasa lelah hari ini. Dia belum istirahat dari pagi.
***
Singapura. Negara itulah yang mereka kunjung malam ini karena ada pertemuan bisnis. Dimana para petinggi perusahaan harus membawa pasangan mereka. Sang pemilik acara mengenal Vinelia dan Lagaskar dengan baik. Dan secara khusus mereka meminta Lagaskar membawa Vinelia. Oleh karena itu Lagaskar membawa Vinelia ke Singapura.
"Bagaimana? Apakah aku yang menggendong nyonya Vinelia ke kamar hotel?" tanya Awan. Mereka sudah sampai di hotel tempat mereka menginap dua hari ke depan. Vinelia tertidur dan sejak tadi tiga pria itu berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Tidak ada yang berani membangunkan Vinelia.
"Atau aku saja yang membangunkan Vine. Kita sudah berdiri disini hampir setengah jam!" seru Rama.
Awan dan Rama sama-sama melirik ke arah Lagaskar yang sejak tadi bersikap tidak peduli.
Rama tersenyum miring melihat itu, "Awan, gendong Vine dan bawa dia ke kamar tidur nya!" seru Rama cukup keras.
"Oke!" Seru Awan. Awan sudah bersiap-siap untuk menggendong Vinelia namun Lagaskar sudah lebih dulu menghalangi pintu mobil.
"Siapa yang mengizinkamu melakukannya?" tanya Lagaskar sinis. Pria itu langsung menggendong Vinelia. Meninggalkan parkiran mobil.
Rama merangkul Awan sambil tersenyum mengejek. "Siapa yang mengizinkan mu melakukannya?" Rama menirukan suara Lagaskar. "Lucu, aku tahu dia sangat mencintai Vine. Dasar gengsi. Pendendam. Aku tidak sabar melihat drama mereka selanjutnya!" seru Rama. Pria itu terlihat mendadak bersemangat.
"Aku setuju!" seru Awan dengan wajah tanpa ekspresi nya.
"Bos, apakah Vine bangun?" tanya Rama sambil melirik wajah Vinelia yang ada di dalam gendongan Lagaskar.
"Siapa yang mengizinkan mu memanggilnya seperti itu?" tanya Lagaskar. Rama menunjuk Vinelia.
Lagaskar menatap Rama tajam. Rama meringis.
"Aku salah," ucap Rama. Lift mereka terbuka. Mereka keluar dari sana.
"Bos, kau tidur bersama nyonya Vinelia bukan malam ini?" tanya Rama ketika dia membantu membuka pintu kamar untuk Vinelia dan Lagaskar.
"Bukan urusanmu!" seru Lagaskar. Dia menutup pintu kamar cukup keras di hadapan wajah Rama. Tawa Rama terdengar dari luar kamar.
Lagaskar menidurkan Vinelia dengan sangat hati-hati di tempat tidur. Lagaskar berdiri cukup lama di sana. Menatap wajah Vinelia.
Saat ingin meninggalkan Vinelia. Tiba-tiba Vinelia menggenggam tangan Lagaskar.
"Lagaskar." Suara perempuan itu terdengar sangat lirih. Lagaskar terdiam, dia tetap berdiri di pijakan nya. Tatapan Lagaskar tidak lepas dari wajah Vinelia.
"Lagaskar. Jangan pergi." Tangan Vinelia yang lain ikut menggenggam tangan Lagaskar. Lagaskar semakin terdiam.
"Lagaskar, maaf." Vinelia kembali bicara. Lagaskar semakin diam namun pada akhirnya dia melepaskan genggam tangan Vinelia.
Namun ketika Lagaskar ingin melangkah meninggalkan sisi tempat tidur. Vinelia tiba-tiba memeluk Lagaskar. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lagaskar.
"Lagaskar, jangan pergi. Temenin aku tidur malam ini," ucap Vinelia. Wanita itu memeluk Lagaskar cukup erat. Lagaskar bisa merasakan napas Vinelia perlahan kembali teratur.
Lagaskar memutar tubuhnya. Dan Vinelia sudah kembali tidur. Seperti hari ini Vinelia memang kelelahan sampai wanita itu bersikap seperti ini.
"Drama!" seru Lagaskar. Pria itu kembali membantu Vinelia mendapatkan posisi yang nyaman di tempat tidur kemudian mengatur selimut untuk wanita itu.
Setelah memastikan Vinelia benar-benar tidur. Lagaskar meninggalkan wanita itu. Seperti yang Lagaskar katakan. Tidak ada kesempatan untuk Vinelia.
Lagaskar malam itu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Waktu adalah uang. Lagaskar tidak akan pernah membiarkan uang nya pergi darinya.