"Selamat malam nyonya Vinelia, kami akan membantu Anda bersiap untuk pesta." Vinelia menatap dua orang yang berdiri di depan kamarnya.
"Tuan Lagaskar yang meminta kami melakukannya." Seolah menyadari kebingungan Vinelia, dua orang itu kembali menjelaskan. Saat itulah Vinelia membuka pintu kamar nya jauh lebih lebar.
"Silahkan masuk."
"Perkenalkan nyonya Vinelia, aku Jolly dan ini asistenku Kimboy haha." Jolly tertawa dengan sangat anggunly. Jolly itu adalah seorang pria berpenampilan anggunly sedangkan Kimboy adalah seorang perempuan berpenampilan tomboy. Vinelia rasa jiwa dua orang itu tertukar namun Vinelia tertawa mendengar itu.
"Aku Vinelia Andromeda." Vinelia menyambut tangan dua orang itu dengan sangat ramah.
"Aku baru melihat seseorang perempuan memiliki tubuh seindah ini dengan leher sangat jenjang. Nyonya Vinelia. Anda sangat sempurna!" seru Jolly. Vinelia tersenyum mendengar itu.
"Jolly jangan memujiku secara berlebihan, bisakah kita mulai sekarang?" tanya Vinelia. Vinelia sangat tahu, Lagaskar bukan orang yang bisa menunggu.
Rama tadi juga menjelaskan, acara malam ini sangat penting untuk Lagaskar.
"Baik, tuan Lagaskar meminta kami membawakan tiga gaun untuk anda. Anda bisa memilih sesuai yang Anda inginkan," ucap Jolly. Kimboy memperlihatkan tiga gaun itu pada Vinelia.
"Bantu aku memilih, semua gaunnya terlihat sangat indah. Aku bingung," ucap Vinelia. Jolly mengangguk.
"Aku akan membantumu untuk memilih. Sekarang izinkan aku untuk melukis di wajah indahmu. Nyonya Vinelia Anda sangat cantik." Vinelia hanya tersenyum.
Jolly dan Kimboy membantu Vinelia bersiap hampir satu jam. Cukup lama namun hasilnya benar-benar sangat sempurna.
"Perfect, Anda akan menjadi ratunya malam ini. Aku sangat yakin semua mata akan tertuju pada Anda. Anda terlihat sangat luar biasa nyonya Vinelia." Jolly terlihat sangat antusias. Pria itu sangat ekspresif.
"Terima kasih sudah membantuku merias wajah Jolly dan terima kasih sudah membantuku memilih gaun Kimboy," ucap Vinelia dengan sangat ramah. Dua orang itu mengangguk antusias.
Setelah mereka membereskan barang-barang mereka. Mereka berpamitan. Vinelia mengurus sisa penampilannya. Mengambil tas kemudian langsung meninggalkan kamar karena tadi Rama sempat mengatakan bahwa mereka akan menunggu di lobi.
Pesta nya memang tidak di gelar di hotel yang sama di tempat mereka menginap. Acara itu di gelar di kediaman pribadi tuan Arthur. Si pemik pesta.
***
"Aku penasaran, nyonya Vinelia malam ini akan tampil seperti apa." Rama berdiri di samping Awan. Disana juga sudah ada Lagaskar. Pria itu bersandar di mobil, fokus pada ponselnya.
"Aku juga." Awan menanggapi.
Vinelia jarang menggunkan riasan secara berlebihan. Wanita itu juga lebih sering menggunakan pakaian yang kasual. Jadi setiap kali Vinelia ikut menghadiri pesta atau acara penting bersama dengan mereka. Itu akan menjadi kejutan tersendiri. Vinelia akan selalu terlihat menakjubkan.
"Hubungi Vinelia, dia membuang-buang banyak waktu!" seru Lagaskar dengan suara dinginnya.
"Bos, kau memegang ponselmu sejak tadi. Kau bisa menghubungi nyonya Vinelia sendiri."
"Rama, kau berani memerintahku?" Lagaskar menatap Rama sinis. Rama nyengir.
"Baiklah, aku akan menghubungi nyonya Vinelia."
"Kau tidak perlu melakukannya, nyonya Vinelia sedang berjalan ke arah kita. Dia menakjubkan." Awan menghentikan Rama.
Rama ikut melihat ke arah pintu lobi, Vinelia memang sedang melangkah ke arah mereka dengan sangat anggun dan cantik.
"Bos, kau benar-benar memiliki seorang bidadari. Bagaimana pria tidak berperasaan sepertimu bisa memiliki wanita secantik dan selembut nyonya Vinelia?" tanya Rama. Pria itu terlihat sangat takjub.
Lagaskar hanya diam sembari menatap ke arah Vinelia. Pria itu tidak berekspresi.
"Bos, kau harus menggenggam tangan nyonya Vinelia sepanjang pesta. Aku sangat khawatir banyak orang yang akan berusaha mendekati nya," ucap Rama.
Lagaskar menatap Rama dengan tajam. Rama sepertinya memang sangat senang menggoda Lagaskar.
"Wah Awan pergerakanmu sangat cepat." Rama menggelengkan kepalanya melihat Awan yang sudah membantu Vinelia mengatur gaunnya.
"Bahkan pergerakanmu kalah cepat dari Awan, Bos. Aku pikir kau memang sangat payah!"
Plak!
Lagaskar memukul kepala Rama sampai membuat pria itu meringis.
"Kau banyak bicara Rama. Ayo berangkat," ucap Lagaskar. Dia masuk ke dalam mobil.
"Vine, suamimu sangat galak tapi kau sangat cantik. Aku akan menjagamu malam ini!" seru Rama cengengesan. Dia membantu Vinelia masuk ke dalam mobil. Mengatur gaun wanita itu dengan baik.
"Berhenti dengan omong kosongmu Rama. Awan jalankan mobilnya. Tinggalkan dia sendirian!" seru Lagaskar. Rama bergerak cepat. Dia langsung masuk ke dalam mobil.
"Vine, kau benar-benar cantik." Sepertinya Rama memang tidak memiliki rasa takut pada Lagaskar. Pria itu benar-benar ingin mati.
"Terima kasih Rama. Kau juga."
"Cantik?" tanya Rama dengan wajah syoknya. Sudut bibir Awan dan Lagaskar terlihat berkedut. Ekspresi wajah Rama sangat lucu.
"Tampan," jawab Vinelia.
"Dengar, aku orang pertama malam ini yang mendapatkan pujian dari Vine." Rama antusias. Vinelia terkekeh. Awan menggelengkan kepalanya sedangkan Lagaskar wajahnya kembali datar.
"Lagaskar, bagaimana menurut kamu?" tanya Vinelia. Vinelia sendiri merasa sangat puas dengan penampilan nya malam ini.
"Apanya?" tanya Lagaskar.
"Penampilanku. Bagaimana menurut kamu?" Vinelia menatap Lagaskar penuh harap.
Lagaskar mengamati Vinelia. "Biasa aja," jawab Lagaskar. Pria itu kembali bersikap santai dan menatap lurus ke depan.
Vinelia menghela napasnya. Senyum di bibirnya langsung hilang begitu saja.
"Bagaimana ada orang berbohong dengan sebodoh itu," gumam Rama di bangku depan namun itu masih terdengar cukup jelas.
"Bodoh." Awan juga ikut bergumam pelan.
"Aku dengar Rama... Awan!" seru Lagaskar. Dua orang yang selalu ada dimanapun Lagaskar berada hanya nyengir.
"Vine, aku dengar kau cukup akrab dengan tuan Arthur dan istrinya. Bagaimana kalian bisa saling kenal?" tanya Rama mencoba memecah kecanggungan akibat mulut kurang ajar Lagaskar.
"Saat aku menerbitkan buku pertamaku. Penerbit itu milik istri tuan Arthur." Rama mengangguk.
Vinelia memang seorang penulis. Novel pertama wanita itu meledak di pasaran membuat Vinelia memiliki basis penggemar yang cukup besar. Sosial media wanita itu di ikuti oleh ratusan ribu orang. Namun, semenjak menikah dengan Lagaskar, Vinelia memilih untuk meninggalkan profesi itu dengan alasan dia ingin mengabdikan dirinya pada Lagaskar dan juga Lagaskar kurang menyukai profesi Vinelia sebagai seorang penulis.
Lagaskar mengatakan Vinelia terlalu sibuk jika dia menjadi seorang penulis. Vinelia sering lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan beberapa perjanjian yang mereka sepakati bersama akhirnya Vinelia setuju untuk berhenti.
"Aku sekarang paham kenapa mereka sangat menginginkanmu datang ke pesta," ucap Rama. Vinelia hanya tersenyum.
"Sebenarnya Lagaskar juga mengenal tuan Arthur dengan baik. Jadi jelas mereka lebih menginginkan Lagaskar datang ke sana," ucap Vinelia.
"Itu benar juga," ucap Rama. Pria itu menganggukkan kepalanya mengerti.
"Bos, aku dengar nona Gamya juga salah satu tamu undangan di pesta ini," ucap Rama.
"Aku tahu," jawab Lagaskar.
Vinelia? Wanita itu diam. Dia menggenggam kedua tangannya dengan erat. Wajahnya terlihat pucat.