"Cepat." Vinelia menatap Lagaskar bingung ketika pria itu membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan untuknya saat mereka sampai di kediaman Arthur dan Kimberly.
"Apa yang kamu pikirkan Vinelia, turun. Kita masuk," ucap Lagaskar. Vinelia akhirnya mengangguk. Dia menerima uluran tangan Lagaskar kemudian turun dari mobil.
"Kau boleh memeluk lenganku malam ini. Tapi tidak boleh lebih dari itu," ucap Lagaskar. Vinelia mengangguk. Dia melingkarkan tangannya di lengan Lagaskar.
Mereka mengikuti arahan para pelayan yang ada di sana. Awan dan Rama yang melangkah di belakang mereka langsung mencibir Lagaskar.
"Bersikap baik. Jangan membuatku malu," ucap Lagaskar pada Vinelia.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan Lagaskar," jawab Vinelia.
Lagaskar menganggukkan kepalanya. Mereka terus melangkah sampai mereka bertemu dengan pemilik pesta.
"Lihat siapa yang datang!" seru Kimberly, dia memeluk Vinelia dengan erat. Wanita itu terlihat sangat senang.
"Aku pikir Lagaskar tidak akan membawamu. Vine, you look so beautifull." Kimberly menatap Vinelia dengan mata berbinar.
"Kim, you too. You look so beautifull as alyaws," ucap Vinelia. Mereka kembali berpelukan. Mereka benar-benar seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
"Lagaskar." Kimberly juga memeluk Lagaskar. Vinelia memeluk Arthur.
"Kim, Arthur, thanks for the invitation," ucap Lagaskar. Kimberly dan Arthur tersenyum.
"Aku benar-benar sangat senang kalian berdua bisa hadir ke pestaku bersama dengan Kim," ucap Arthur. Lagaskar tersenyum.
Pria yang tadi mengatakan bahwa Vinelia hanya boleh memeluk lengannya itu kini justru memeluk pinggang Vinelia dengan sangat posesif.
Awan dan Rama yang sibuk dengan minuman mereka menahan tawa melihat apa yang di lakukan Lagaskar.
"Bukannya Bos sulit di percaya belakangan ini? Dia mengatakan tidak ada kesempatan untuk Vinelia tapi sikapnya menunjukkan kalau dia tidak bisa tanpa Vinelia. Cuihh, pria macam apa itu!" seru Rama.
"Kau benar, pria bodoh!" seru Awan. Keduanya menggelengkan kepala mereka kemudian mereka mulai sibuk menyapa para gadis yang menurut mereka menarik.
Mereka malas melihat pria gengsian sepeti Lagaskar.
"Lagaskar... Vine. Aku dan Arthur turut berdukacita atas kemalangan yang menimpa kalian." Raut wajah Lagaskar dan Vinelia langsung berubah walaupun itu tidak berlangsung lama.
"Terima kasih Kim. Mungkin memang belum waktunya aku dan Vinelia memiliki seorang anak," jawab Lagaskar dengan tenang walaupun pelukan tangan Lagaskar pada pinggang Vinelia mengerat bahkan pria itu cukup menekannya sampai Vinelia berusaha keras untuk tidak meringis karena itu cukup membuatnya merasa sakit.
"Suatu hari nanti kalian pasti akan memilikinya. Kalian akan menjadi keluarga yang sempurna," ucap Arthur. Lagaskar dan Vinelia tersenyum.
Senyum basa-basi tentu saja. Mereka tidak mungkin menunjukkan apa yang terjadi sebenarnya pada Arthur dan Kimberly.
"Kalian berdua juga sama. Kalian pasti akan menjadi keluarga yang hebat," ucap Lagaskar. Arthur dan Kimberly mengangguk.
"Silahkan nikmati pestanya. Aku dan Arthur akan menyapa tamu yang lain. Vine... Lagaskar terima kasih sudah datang," ucap Kimberly, dia kembali mencium pipi Vinelia.
"Kita membicarakan tentang kerja sama besok pagi. Kau mendapatkan kesempatan karena berhasil membawa Vine. Jadi berterima kasih lah pada Vinelia, tuan Lagaskar!" seru Arthur. Ada nada bercanda di akhir kalimat itu. Lagaskar tersenyum.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan tuan Arthur, sampai jumpa besok," ucap Lagaskar. Mereka saling berjabat tangan.
Arthur dan Kimberly pergi. Lagaskar langsung melepaskan pelukan tangannya pada pinggang Vinelia.
Vinelia sama sekali tidak bicara. Vinelia hanya perlu bersikap manis di tempat ini. Lagaskar akan marah jika dia membuat masalah.
"Lagaskar!" seruan itu membuat mereka menoleh. Ganya Gardapati melangkah ke arah mereka dengan sangat anggun. Lebih tepatnya ke arah Lagaskar karena wanita itu langsung memeluk dan mencium pipi Lagaskar.
"Aku merindukanmu," ucap Gamya, wanita itu kini memeluk lengan Lagaskar. Gamya bersikap seolah dia tidak melihat keberadaan Vinelia disana.
Wanita itu sama sekali tidak menyapa Vinelia.
"Kita baru bertemu beberapa hari yang lalu, Gamya," ucap Lagaskar. Pria itu terlihat sangat santai menanggapi Gamya.
Gamya Gardapati. Lagaskar dan Gamya merupakan sahabat masa kecil. Mereka sangat dekat satu sama lain.
"Tapi aku merindukanmu. Kau memiliki waktu setelah pesta ini?" tanya Gamya, Lagaskar mengangguk. Wanita itu membawa Lagaskar pergi bersama dengannya.
Keduanya meninggalkan Vinelia begitu saja. Meninggalkan Vinelia tanpa kata. Meninggalkan Vinelia yang wajahnya terlihat semakin pucat.
"Vine, are you oke?" tanya Rama ketika Vinelia hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Rama, bisakah kita pulang sekarang?" tanya Vinelia. Kepala Vinelia mendadak pusing. Perutnya terasa sangat mual. Semua hal yang terjadi di tangga malam itu berputar di kepalanya.
"Acaranya belum mulai Vine. Kita tidak mungkin meninggalkan tempat ini," ucap Awan. Rama mengangguk. Acaranya memang belum di mulai.
"Oke." Vinelia berusaha mengatur napasnya. Dia berusaha untuk mendapatkan kembali dirinya.
"Nona Gamya dan tuan Lagaskar hanya berteman. Mereka akan menjadi rekan kerja sebentar lagi karena perusahaan bekerja sama. Vine, jangan khawatir," ucap Rama.
Tatapan Vinelia tidak lepas sedikitpun dari Lagaskar dan Gamya yang sedang mengobrol di pinggir kolam renang sembari menikmati minuman mereka.
Beberapa tamu yang lain juga tampak menghampiri mereka. Mereka terlihat sangat sempurna ketika bersama.
"Awan... Rama... Aku ingin ke depan untuk menghirup udara segar." Vinelia merasa kesulitan mengendalikan dirinya. Rasa pusing dan mual itu kembali menyerangnya.
"Aku dan Rama akan menemanimu," ucap Awan. Vinelia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Wajah wanita itu terlihat semakin pucat.
"Kalian nikmati saja pestanya. Aku hanya akan duduk di bangku taman. Aku tidak akan membuat masalah," ucap Vinelia.
Awan dan Rama saling lirik satu sama lain namun melihat Vinelia yang semakin tidak tenang membuat keduanya mengangguk.
"Aku dan Awan akan menjagamu dari sini. Hubungi kami jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Rama. Vinelia mengangguk.
Dia menghela napasnya kemudian melangkah ke taman kediaman Arthur dan Kimberly. Vinelia tidak tahan lagi.
Vinelia duduk di bangku taman. Dia mengatur napasnya berulang kali. Vinelia tidak tahu kenapa setelah melihat Gamya dia tiba-tiba merasa sangat pusing dan mual.
"Butuh air mineral?" Suara berat itu membuat Vinelia menoleh. Mata wanita itu mengerjab berulang kali.
"Kairav," ucap Vinelia. Vinelia terlihat sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Yes, i am, Vinelia Andromeda," jawab Kairav. Pria itu memberikan sebotol air mineral pada Vinelia.
"Kenapa kau bisa disini? Maksudku, kenapa kita bertemu disini. Kai, ini sudah lama sejak terkahir kali kita bertemu," ucap Vinelia. Wanita itu masih terlihat sangat bingung.
Kairav terkekeh. Dia membantu Vinelia untuk minum.
"Minum dulu, Vine. Wajahmu terlihat sangat pucat," ucap Kairav. Vinelia mengangguk. Dia meminum air mineral yang di berikan oleh Kairav.
"Kai, kau berhutang banyak cerita padaku."
"Vine, kau berhutang banyak cerita padaku."
Keduanya saling tatap kemudian tertawa bersama. Setidaknya kehadiran Kairav bisa membuat Vinelia merasa jauh lebih baik malam ini.