Bab 42

1010 Kata

"Berhenti datang ke rumah itu." Kamari menggelengkan kepalanya. Pria di hadapannya itu menatap Kamari kosong. Tidak ada kata baik-baik saja setelah perusahaan Arham bangkrut. Pria itu selalu bersikap gila. Mabuk-mabukkan sampai akhir mengalami depresi kemudian harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. "Pa, mereka harus membayar semuanya," ucap Kamari. Pria itu menggeleng. "Kau tidak akan bisa menghadapi orang-orang itu Kamari." Arham terdengar semakin putus asa. Kamari melangkah mendekat ke arah Arham. Gadis itu duduk di hadapan Arham kemudian menggenggam tangan pria itu. "Pa, mereka harus mengembalikan semua hal yang sudah mereka ambil. Papa nggak harus terus mengalah pada nyonya Kumalasari. Papa selama ini terlalu peduli pada wanita itu!" seru Kamari. Arham menatap Kamari. Tatapa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN