BAB I - DISEKAP

1084 Kata
Argghhhh ... Ada di mana aku? Aku merasa sangat pusing dan ruangan ini sangat gelap. Aku berusaha duduk dan tidak sengaja tanganku menyenggol sesuatu dan ... Prank ... Ada sesuatu yang terjatuh dan seketika itu juga pintu ruangan ini terbuka. Seseorang yang baru saja masuk menghidupkan saklar lampu membuat silau mataku. Sebelum bisa melihat semua dengan jelas dan sebelum bisa mencerna apa yang terjadi, aku mendengar bunyi pintu kembali di kunci. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat siapakah yang menghampiriku. Samar-samar dan kemudian menjadi sangat jelas, membuatku tersentak. “Kau ... mengapa aku ada di sini! Apa yang sudah kau lakukan padaku?” Aku begitu mengenali pria yang sekarang berada sangat dekat denganku. Aku masih tersandar di dinding ranjang. “Sayang, kau sudah bangun rupanya.” Pria itu mencoba membelai kepalaku yang masih dibalut kerudung. “Jangan macam-macam Rafa, aku bukan siapa-siapamu lagi. Jangan berani menyentuhku!” Aku terbakar emosi. “Kau masih sama saja, Sayang. Sifatmu belum berubah, Annisa Secilia. Istri kesayanganku.” Rafa semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kedua tangan kekarnya mengusap lembut kedua pipiku. “Lepaskan tanganmu dari wajahku! Aku bukan lagi istrimu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah lagi jadi istrimu. Apa kau lupa, kita sudah talak tiga.” Aku berusaha melepaskan kedua tangannya dari wajahku. Aku tersentak tatkala Rafa Purnawan memukul dinding ranjang tepat di sebelah telinga kiriku dan tangan kanannya bersandar pada dinding sebelahnya. Sekarang posisinya mengapit tubuhku. “Sampai kapan pun kau tetap istriku! Hanya aku yang berhak memilikimu, selamanya.” Ia mengucapkan itu tepat di daun telinga kiriku. Suaranya masih sama seperti mantan suamiku yang memberiku talak tiga dua tahun yang lalu. “Tidak ada siapa pun yang boleh memilikimu selain aku. Pun tidak suami barumu itu!” Kali ini nada bicaranya sangat keras dan kembali memukul dinding ranjang. Aku tahu betul siapa Rafa Purnawan. Pria ini sudah menikahiku lebih dari 10 tahun dan kami sudah dua kali bercerai. Salah satunya karena ia melanggar perjanjian hingga juga terhitung cerai. Tepatnya dua tahun yang lalu kami sudah diputuskan talak tiga oleh pemuka agama di wilayah tempat kami tinggal. “Kau sudah tidak berhak atas diriku Rafa Purnawan! Kau bukan siapa-siapaku lagi. Aku berhak bahagia dengan pria mana pun yang aku mau!” Nada bicaraku keras kali ini. “TIDAK AKAN!” Rafa berteriak dengan sangat keras. Ia menjambak kerudung yang aku kenakan hingga terlepas. Memegangi rambutku dengan kasar dan melumat bibirku sebelum aku bisa menghindar. Dia menciumi dengan sangat arogan. Aku berusaha melepaskan diri, namun ia terlalu kuat. Ia sudah mengunci kakiku dengan kakinya dan mengunci tubuhku dengan sebelah tangannya. Setelah ia merasa puas, akhirnya Rafa melepaskan ciumannya. “b******k kau Rafa, kau fikir aku jalang. Kau sudah menghina diriku saat ini.” Tetesan-tetesan bening itu akhirnya keluar deras dari netraku. Aku berusaha menggapai kerudung untuk kukenakan kembali. Namun tangan Rafa lebih dahulu menyambar pergelangan tanganku, menggenggam dan meremas telapak tanganku. “Kau masih saja nikmat, kenikmatanmu tidak berubah sayang, bahkan lebih nikmat saat ini. Tapi sayangnya ini sudah bekas oranglain!” Rafa kembali kasar, memegangi rahangku dengan jari-jari kekarnya. “Apa kau lupa dengan sumpahku, Sayang. Tidak boleh ada orang lain yang memilikimu selain aku.” Dia membisikkan kata-kata itu dengan deru napas yang menggebu tepat di daun telingaku sembari menggigit lembut daun telinga ini. Aku merinding diperlakukan seperti ini. Walau otak, hati dan pikiranku menolak, namun reaksi tubuh tak mampu kukendalikan. Aku pun akhirnya tidak mampu menahan derasnya air mata yang mengalir di kedua pipiku. Rafa segera melepaskan cengkramannya. Ia membuang muka. “Maafkan aku, aku sudah menyakitimu.” Ucapnya sembari duduk ditepi ranjang dengan kedua tangannya mengepal di atas paha. “Kau terlalu jahat untuk aku maafkan Rafa! Aku menyesal kenapa aku harus mengenalmu. Kenapa harus kau yang jadi ayah dari Amanda.” Aku memegangi dadaku yang mulai sesak. Dengan penuh keberanian aku mencoba untuk bangkit dari ranjang dan berdiri menuju pintu kamar. “Mau kemana kau?” Suara berat Rafa menghentikan langkahku. “Aku mau pulang, keluarkan aku dari sini!” Tanganku mencoba membuka pintu kamar yang terkunci. “Mau bertemu dengan suamimu itu? Ingin b******u dengannya, iya?” Rafa bangkit dan berjalan ke arahku. Ia lalumenarik pergelangan tanganku dengan kasar. Mengangkat tubuhku dan membantingnya ke ranjang. Ahh ... Aku berteriak kesakitan. “Cukup Rafa! Kenapa kau begitu senang menyiksaku. Apa salahku padamu? Tolong keluarkan aku dari sini! Aku ingin bertemu Amanda.” Tangisku kembali pecah. Aku sadar kalau aku tidak akan kuat melawan Rafa. Melawan hanya akan meningkatkan emosi dan birahinya. Aku hanya bisa diam dan memelas, berharap ada belas kasihan darinya. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan Amanda, ia aman bersama nenek dan kakeknya.” Aku sudah sangat hafal bagaimana karakter Rafa. Dari dulu, ia seperti memiliki dua kepribadian. Terkadang dia sangat lembut, penyayang dan begitu romantis. Namun terkadang dia kasar dan bersikap tidak peduli. Ia bersikap begitu hanya kepadaku saja. Entah apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu kepada wanita yang katanya begitu ia cintai. Berbeda lagi sikapnya kepada keluargaku, keluarganya dan anak kami. Dia berubah menjadi lelaki yang begitu baik bak malaikat. Tidak ada cela dan cacat di mata mereka semua. “Aku mohon Rafa, izinkan aku pulang. Bukan’kah kita sudah sama-sama memiliki kehidupan masing-masing? Aku sudah mengikhlaskan dirimu, dan kumohon tolong iklaskan diriku untuk—” Belum selesai aku bicara, Rafa kembali memegang rahangku dengan kasar. “Tidak akan! Tidak akan pernah, Sayang. Aku lebih baik melihatmu mati daripada harus melihatmu bersama laki-laki lain. Kau lihat, ada yang terbakar di sini.” Ia menunjuk-nunjuk dadanya. “Katamu kau menyayangiku bukan? Katamu kau mencintaiku, seharusnya kau senang melihatku bahagia, bukannya membuatku tersiksa seperti ini.” Aku berusaha melunak. Air mataku tak kunjung berhenti mengalir. Aku hanya berharap dia berbelas kasihan terhadapku. “Tapi tidak dengan laki-laki lain.” Dia membelai rambut dan mengecup keningku. “Aku akan membahagiakanmu, Sayang. Percayalah, aku akan menebus semua kesalahanku.” Dia membisikkan itu tepat didaun telingaku. Hal itu kembali membuatku merinding. “Tolong jangan lakukan ini Rafa, kumohon ... Kita sudah bukan suami istri lagi. Ini sama saja kau menodaiku. Apa kau tega menodai ibu dari anakmu?” Aku kembali memelas. Tangannya malah turun membelai wajah dan terus ke bibirku. Dia memain-mainkan bibirku dengan jempol tangannya. “Suaramu malah membuatku tidak tahan, Sayang.” Tangannya yang satu membelai bagian pinggangku. “Rafa kumohon jangan. Ingat Amanda anak kita, kumohon ...,” ucapku dengan sangat pelan. Bersyukur, Rafa mulai menghentikan aksinya. Dia bangkit dari ranjang dan pergi keluar kamar. Tak lupa mengunci pintu dari luar. Aku sedikit lega karena terbebas dari nafsu buas Rafa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN