🚫 18 🚫

932 Kata
Aku menunggu kepulangan Dhara di depan rumah. Tadi dia meneleponku dan mengatakan bahwa dia sudah sampai di depan komplek yang berarti tidak lama lagi dia akan sampai di rumah dan benar saja sepuluh menit kemudian mobilnya sudah berada di depan gerbang rumah. Gerbang itu terbuka otomatis lalu mobil Dhara masuk dalam pekarangan rumah. Dia membuka kaca mobilnya lalu menoleh ke arahku sambil melemparkan senyum tipis. "Sebentar ya," aku mengangguk lalu dia memasukkan mobilnya ke garasi. Dia berjalan ke arahku sambil membawa dua tas besar. "Aku bawa ini," dia menunjukkan dua tas itu tepat di hadapanku, "mangga, kesukaan Mas Aarav." Aku mengambil alih tas itu lalu sebelah tanganku merengkuh pinggangnya. Kami berdua sama-sama masuk ke dalam rumah. "Perkebunan kamu panen? Setahu saya kamu enggak tanam buah mangga." "Emang enggak," Dhara menunjuk ke ruang dapur memberikan isyarat agar kami berdua berjalan ke sana, "itu dari Fajar. Selain bekerjasama dengan aku dia juga punya kebun Mangga sendiri. Hebat ya dia." Aku menarik kursi meja makan lalu berdeham singkat. Kalau dibanding-bandingkan hebatan mana, tentunya aku yang lebih hebat. Menjalankan dua profesi sekaligus. Apalagi saat ini aku berpotensi untuk naik jabatan, tentunya aku yang lebih hebat. "Saya lebih hebat, Dhara," ucapku mulai tidak nyaman. Jujur saja, aku tidak suka apabila perempuan yang aku cintai memuji pria lain. Aku jadi merasa punya saingan. Dhara hanya melirikku sekilas lalu dia mengeluarkan mangga dari tasnya. "Mau aku potongin mangganya gak?" tanyanya menawarkan. "Kalau kamu mau ya makan aja." Tatapan matanya berubah menatapku menjadi tidak suka. "Kok tumben banget? Biasanya Mas suka banget sama buah Mangga." "Saya lagi enggak mau aja." Dia mengembuskan napasnya kasar lalu meletakan mangga-mangga itu di meja. "Mukanya jadi seram lagi," ucapnya sambil duduk tepat di sebelahku. "Kan emang muka saya seram. Kamu sudah bilang ratusan kali." Dia bangun dari duduknya, mencuci mangga-mangga itu lalu memasukkannya ke dalam kulkas setelah itu dia mengambil tas kerjanya. "Ayo ke kamar. Aku mau istirahat. Cape banget." Tanpa menunggu tanggapanku dia sudah lebih dahulu meninggalkanku. Beberapa saat kemudian, aku dan dirinya sudah berada di atas ranjang. Dia membuka tablet milikinya lantas menunjukkan layarnya kepadaku. "Tadi aku dan tim baru mengerjakan bagian ini," ucapnya sambil menunjuk bagian yang dia maksud, "besok yang ini. Coba Mas periksa lagi, ada gak konsep yang masih salah? Lebar atau kedalamannya gitu? Mungkin ada yang perlu untuk dikoreksi lagi," ucapnya. "Jadi ceritanya kamu mau bimbingannya dengan saya malam-malam begini?" tanyaku dengan sebelah alisnya yang menukik. Dhara berdeham singkat. "Mungkin bisa dibilang begitu," dia bersandar di bahuku, "aku kan punya suami yang katanya hebat. Pasti bisa lah, mengeluarkan ilmunya kapanpun dan dimana pun." Aku terdiam sambil menatapnya lekat. Malam-malam begini seharusnya aku dan Dhara sedang berperan sebagai suami-istri dan melakukan kegiatan yang romantis-romantis. Bukannya malah berperan sebagai dosen dan mahasiswi bimbingannya. Wajah Dhara berubah menjadi sayu. "I need your help, My Lecture," ucapnya dengan nada memohon. Aku tersenyum kecil lantas mengambil tablet itu. "Enggak gratis ya," ucapku sambil membuka lembar putih di tabletnya dan mulai menghitung ulang, ukuran yang sudah ditetapkan oleh Dhara dan tim. "Dulu waktu kita masih pacaran, Mas enggak pernah perhitungan sama uang," dia menegakkan kepalanya dari bahuku, "sekarang mau bantuin istri aja hitung-hitungan. Mau bayaran berapa? Uang Mas kan lebih banyak daripada aku." Aku menghentikan coretan di layar tablet lalu menampilkan wajah datarku. "Saya enggak bilang mau dibayar pakai uang," dia menatapku dengan tatapan was-was. Sepertinya dia mengerti maksud dari ucapanku. "Iya. Besok," jawabnya cepat, "besok malam." "Besok lusa juga." "Iya." Salah satu yang aku sukai dari Dhara adalah sifatnya yang penurut. Beberapa saat kemudian, Dhara sudah tidak lagi berbicara. Aku sempat melirik ke arahnya, dia sudah tertidur. Mungkin dia terlalu lelah hari ini sampai-sampai bisa ketiduran dalam waktu cepat. Aku membenarkan posisi selimut yang dia pakai. Membuka ikat rambutnya agar tidurnya nyaman. Setelah itu kembali memeriksa konsep lahan miliknya. Dengan menggunakan ilmu fisika aku mencoba menghitung ulang ukuran kedalaman sampai luas saluran irigasi. Hasil perhitungan yang aku dapatkan sesuai dengan konsep yang sudah Dhara gunakan. Aku cek ulang sampai beberapa kali, hasilnya sudah benar. Setelah dirasa tidak ada yang perlu dikoreksi, aku menutup aplikasi itu lalu dengan iseng membuka aplikasi galeri. Aku hanya ingin tahu, apakah di tablet ini Dhara juga menyimpan fotoku. Aku membuka album fotonya satu persatu, tidak ada satu pun fotoku di sana. Saat aku ingin mematikan layar tablet ini, tiba-tiba pandanganku langsung terpaku menatap foto Dhara dan Fajar yang sedang berduaan. Awalnya aku merasa foto itu wajar. Foto seorang bos dengan pekerjanya, tetapi saat aku memperbesar foto itu baru tampaklah kejanggalan di sana. Mereka berdua memakai cincin yang sama dan foto itu diambil sehari sebelum aku mendatangi Dhara untuk melamarnya. Aku jadi semakin curiga, ada hubungan apa antara Dhara dengan Fajar? Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Di k********a kalian bisa mendapatkan 1. Ebook Lengkap (59 part) 2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa Sudut Pandang Aarav (10 part) Sudut Pandang Dhara (3 part) Sudut Pandang Fajar (1 Part) Sudut Pandang Penulis (3 Part) Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN