⚠️ 29 ⚠️

714 Kata
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Usia kandunganku sudah memasuki sebulan sehingga saat ini perutku sudah terlihat sedikit membuncit. Selain dipengaruhi oleh pertumbuhan janinku, mungkin juga dipengaruhi boleh nafsu makanku yang sebulan ini naik drastis. "Mas," panggilku yang langsung mendapatkan respons deham darinya, "aku gendutan ya?" aku berbalik badan sehingga saat ini menghadapnya. "Iya. Kan lagi hamil," jawabnya. Aku mengerucutkan bibirku lalu berjalan mendekatinya. "Aku jelek ya?" tanyaku lagi. Mas Aarav yang sedang membuka laptopnya mendadak menutup benda itu. "Enggak jelek," jawabnya cepat. Meskipun jawabannya cukup membuat aku tenang, tapi aku belum puas. Aku mau dipuji-puji cantik gitu. Atau dia bilang kalau aku gemukan aku lebih cantik. "Terus?" tanyaku meminta lanjutan. "Enggak ada kelanjutannya," dia meletakan laptopnya di meja lantas turun dari ranjang, "kamu nanya jelek atau enggak, saya jawab enggak jelek. Ya, hanya itu," ucapnya sambii berjalan ke arah lemari baju lalu menganti kemejanya dengan baju tidur dengan warna yang senada denganku. Biru tua. "Aku lebih cantik gemuk atau kurus?" tanyaku lagi. Dia enggak paham apa ya kalau aku ingin dipuji cantik. Aku ingin dapat pujian sampai harus bertanya pertanyaan-pertanyaan memancing seperti itu. "Sama aja," jawabnya setelah itu kembali menaiki ranjang. Argh. Ini suami ya. Enggak peka banget. "Sudah pakai skincare-nya?" aku menoleh ke arah meja rias lalu mengangguk. Semua rangkaian skincare sudah aku oleskan ke wajahku, "yaudah. Sini tidur," dia menepuk sebelah ranjangnya memberi isyarat agar aku tidur di sana. "Aku besok enggak mau makan banyak-banyak lagi. Enggak mau makan kaya sebulan terakhir," ucapku sambii membenarkan posisi bantalku. Pria itu langsung menatapku dengan tatapan tajamnya. "Makannya ya harus banyak. Kamu kan makan bukan buat diri kamu sendiri," ucapnya dengan nada lebih tinggi. Aku menaiki ranjang lalu masuk ke dalam selimut. "Ya habisnya. Aku kalau gemuk, jelek." Mas Aarav menarik napasnya lalu mengembuskannya pelan. "Enggak ada yang bilang kamu jelek." "Ya kalau enggak jelek apa?" Mas Aarav terdiam sebentar, terlihat seperti berpikir. "Ya, enggak buruk rupa," ucapnya memberitahukan hasil pemikirannya. Sudahlah. Cape juga. Aku nanya begitu biar dibilang cantik. Bukannya malah diberitahu sinonim dari kata jelek. Aku menjatuhkan kepalaku lalu menarik selimut sampai ke leherku. Aku memejamkan mata dan tiba-tiba aku merasakan ada pergerakan dari sebelahku. "Gemuk ataupun enggak. Kamu tetap cantik," ucapnya lalu mendaratkan kecupannya tepat di pipiku, "mau dipuji begitu saja sampai ngambek," ucapnya mencibir. Mataku seketika terbuka lalu menatapnya dengan sebal. "Kalau aku jelek, nanti Mas Aarav cari perempuan lain. Aku kan enggak mau." Dia terkekeh pelan lantas mencubit ujung hidungku. "Kamu selama hamil jadi suka marah-marah dan mikir yang aneh-aneh ya." Aneh apa? Aku kan hanya mikir kemungkinan yang akan terjadi. Mas Aarav memastikan lampu lalu dia membawaku masuk ke dalam pelukannya. "Besok aku ada jadwal cek up." "Kapan?" "Besok." "Iya, pagi? Siang? Sore? Atau malam?" Aku terdiam sebentar, mengingat-ingat. "Pagi menjelang siang," jawabku setelah ingat. "Tepatnya jam berapa?" "Jam sebelas." "Di mana?" "Rumah sakit Brianasandika." Mas Aarav terdiam, tidak ada pergerakan sedikit pun. Aku tunggu beberapa detik selanjutnya, dia masih diam. Sampai akhirnya aku berbalik lalu menepuk pipinya pelan. "Mas," panggilku, "tidur ya?" "Besok pagi saya ada pertemuan dulu. Kita langsung ketemuan di sana aja ya?" tanyanya memberi tawaran, "saya pesankan taksi online. Kita ketemuan di sana." Duh, ya namanya suami sibuk. Aku sepertinya harus terus memakluminya. "Yaudah. Jam sebelas kurang Mas udah harus ada di sana ya. Jangan telat." "Iya," dia menarik selimut kami lalu mengecup keningku, "sekarang tidur." Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Di k********a kalian bisa mendapatkan 1. Ebook Lengkap (59 part) 2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa Sudut Pandang Aarav (10 part) Sudut Pandang Dhara (3 part) Sudut Pandang Fajar (1 Part) Sudut Pandang Penulis (3 Part) Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN