Kami terbangun saat pagi-pagi buta, membersihkan diri masing-masing lantas sholat subuh berjamaah. Selepas kegiatan itu Mas Aarav memintaku untuk membuatkannya sarapan, dia sudah mengeluh perutnya perih karena rasa lapar yang dia tahan dari semalam.
"Mau makan apa, Mas?" tanyaku saat kami sudah berada di dapur.
"Kamu mau makan apa?" ucapnya berbalik tanya. Memang aneh terkadang pria ini.
"Kan yang mau makan Mas Aarav, bukan aku."
Dia bangun dari duduknya lantas berjalan mendekatiku. "Ya kamu makan juga. Kita habiskan energi bersama, kita juga harus mengisi energi bersama," dia membuka kulkas lalu melirik sekilas ke arahku, "bahan-bahan masih banyak. Kamu bisa makan apa aja yang kamu mau."
"Makan ayam goreng. Sekalian buat sarapan yang lain. Mas mau gak?" tanyaku begitu melihat ada beberapa potong ayam di sana. Mas Aarav mengangguk lalu dia mundur menjauhi kulkas dan mempersilahkan aku untuk mengambil bahan-bahan.
Pagi-pagi buta begini rasanya begitu malas untuk mengulek ataupun memblender bumbu-bumbu sehingga aku memilih untuk memakai bumbu ayam goreng yang praktis. Tinggal buka bungkusnya, bumbu sudah siap untuk dicampurkan ke ayam.
"Saya cuci ayamnya ya, Dhar," dia mengambil piring yang berisi ayam itu lalu mendekatinya ke wastafel. Aku hanya menatapnya saja, ingin tahu dia bisa mencuci ayam itu atau tidak.
"Begini benar nggak?" tanyanya memastikan.
"Iya, benar. Lanjutkan, Mas. Aku siapin penggorengan dulu."
Kegiatan masak ini kami lakukan bersama-sama sehingga tidak membutuhkan waktu lama ayam goreng buatan kami sudah siap untuk disantap.
"Satu piring berdua aja, Sayang." Aku yang sudah berdiri di rak piring mendadak menoleh ke belakang. Mas Aarav menunjuk ke piringnya yang sudah berisi nasi dan dua potong ayam goreng, "sini, makan. Saya suapi."
Aku terdiam, memandangnya dengan tatapan ragu.
Aku senang sih kalau dimanja, tapi kan enggak sampai disuapi juga. Aku kan sudah besar bukan balita. Sudah bisa makan sendiri.
"Kalau kamu enggak mau saya suapi, saya yang minta kamu untuk menyuapi saya. Bagaimana?" tanyanya seperti sebuah ancaman.
Aku menghentakkan kakiku lantas duduk tepat di sebelahnya. Dia tersenyum kecil lalu menyuapiku dengan tangannya. "Pakai sendok, Mas. Nanti tangannya kegigit sama aku loh," ucapku memperingati.
"Kalau kamu gigit saya, saya gigit balik."
Ih, pria ini. Apa sih.
"Mas, ayamnya masih panas," ucapku setelah beberapa saat menerima suapan dari tangannya.
"Sebentar. Saya tiup dulu."
Ketika dia bersiap untukku meniup, aku menjauhkan tangan itu dari bibirnya. "Makanan enggak boleh ditiup tahu, Mas. Enggak sehat."
"Kan biar enggak panas."
"Iya, tapi jangan ditiup. Aku makan sendiri aja deh, beda piring."
Kedua netranya kembali menatapku dengan tajam. Tampaknya dia kesal. "Terus mau bagaimana? Saya kunyah dulu setelah itu kasih ke kamu?"
Ih, jorok.
"Enggak gitu."
"Ya gimana?"
"Diamkan dulu," dia berdecak sebal membuatku tersenyum kecil melihatnya, "jangan marah-marah tahu, Mas. Masih pagi."
Dia hanya terdiam dengan wajah datarnya. Tanganku bergerak untuk mengelus wajah itu. "Semalam manis-manis, tadi juga masih manis, kenapa sekarang jadi seram lagi?"
Dia mendengus dengan sorot mata kesal. "Ya habisnya kamu, enggak bisa diajak romantis-romantisan. Makan sepiring berdua aja enggak mau, pakai alasan panas. Padahal sebelum kamu makan sudah saya cobain dan ayamnya enggak panas."
"Lidah Mas tebal kali jadi tahan panas, lidah aku kan tipis."
Mas Aarav terdiam sejenak seperti sedang berpikir lalu mengangguk pelan. "Iya, benar," ucapnya menyetujui ucapanku.
"Tunggu dulu sebentar."
"Saya udah lapar, Dhara."
"Yaudah, makan duluan. Aku kan enggak larang."
"Saya mau makan bersama kamu. Setelah menyuapi kamu baru saya makan. Begitu."
Priaku ribet sekali.
Aku memejamkan mata lalu kembali membukanya. Menarik napas dan mengembuskannya sepelan mungkin. "Iya, berarti sabar ya," ucapku lembut.
Harus penuh kesabaran menghadapi pria modelan begini. Dari dulu sampai sekarang aku selalu dituntut untuk sabar menghadapinya. Aku sih enggak masalah selama masih dalam taraf yang wajar.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Di k********a kalian bisa mendapatkan
1. Ebook Lengkap (59 part)
2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa
Sudut Pandang Aarav (10 part)
Sudut Pandang Dhara (3 part)
Sudut Pandang Fajar (1 Part)
Sudut Pandang Penulis (3 Part)
Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".