"Kalau kalian mau bulan madu, gapapa. Ada adik-adik yang jaga Ibu di sini," ucap Ibu setelah kegiatan malam kami berakhir.
Aku terdiam sambil melirik Mas Aarav. Pria itu melirikku sekilas lalu kembali menatap Ibu dengan senyum di bibirnya. "Aarav tergantung Dhara, Bu. Kalau Dhara mau, pasti Aarav turuti permintaannya," jawab pria itu dengan begitu sopan.
Aku sebenarnya mau bulan madu, tapi enggak dekat-dekat ini. Soalnya aku harus mengurus perluasan lahan perkebunanku. Kemarin sudah diundur karena acara pernikahanku yang mendadak dan sekarang sudah tidak bisa lagi diundur-undur lagi.
Tiba-tiba aku merasakan sentuhan tangan Mas Aarav di bahuku. "Bagaimana?" tanyanya mempertegas.
Aku menegakkan tubuhku sebelum menjawab. "Aku belum kepikiran buat bulan madu. Aku harus ngurusin pekerjaanku, Mas. Nanti aja ya kalau waktunya sudah tepat," tolakku halus.
"Ya itu mah keputusan kalian saja," ucap Ibu mengakhiri sesi bincang-bincang pada malam ini.
Aku dan Mas Aarav bergegas menuju ke kamar. Aku mengelap wajahku dengan micellar water untuk membersihkan make up yang masih menempel, sedangkan Mas Aarav menganti kemeja hitamnya dengan kaus abu-abu.
"Mas," panggilku yang langsung mendapatkan perhatian darinya. Kami saling bertatapan melalui pantulan kaca, "besok aku udah kembali ngurus perkebunan aku. Pagi-pagi aku udah jalan, takut macet. Jakarta Bogor lumayan memakan waktu, Mas."
Mas Aarav berdeham lalu dia berjalan mendekati aku yang sedang duduk di kursi meja rias. "Boleh ga, Mas?" Dia semakin mendekat lalu mengelus puncak kepalaku dengan lembut.
"Jam berapa?"
"Jalannya?"
"Iya."
Aku berpikir sebentar, mulai mengira-ngira. Besok pagi aku sholat subuh, menyiapkan makanan untuk Mas Aarav beserta keluargaku, menyiapkan baju untuk Mas Aarav bekerja lalu bersiap-siap untuk pergi.
"Mungkin jam lima atau setengah enam pagi," aku memutar tubuhku menghadapnya, "Mas Aarav besok kerja kan? Biar pagi-pagi aku siapkan bajunya."
Mas Aarav mengangguk pelan. "Iya. Sudah beberapa hari ini saya meninggalkan kantor dan mahasiswa. Lagi juga, kalau saya cuti pun kamunya enggak ada. Percuma juga," ucapnya dengan nada kesal.
Aku terkekeh pelan sambil mengelus wajah datarnya. "Jangan marah ya," aku tersenyum kecil lalu tanganku bergerak mengelus alisnya yang tebal. Alis ini yang menambah kesan seram pada dirinya, "Mas meridhoi aku kan? Kalau enggak diridhoi aku takutnya kenapa-kenapa di jalan."
Mas Aarav mengelus tanganku yang berada di wajahnya. "Ponselnya tetap aktif ya. Angkat telepon dan pesan saya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut. Kalau udah di sana, jangan lupa kabarin saya," dia menarik tanganku lalu dia genggam, "intinya harus tetap mengabari saya. Jangan buat saya gundah gulana karena tidak mendapat kabar darimu."
Aku mengangguk menyetujuinya. Aku sudah tahu memang dari dulu suamiku ini begitu protektif. Dia begitu menyayangiku sampai tidak ingin hal buruk menimpaku. "Mulai besok saya pekerjakan supir pribadimu aja ya? Agar pikiran saya bisa lebih tenang," ucapnya memberikan tawaran yang tentunya langsung mendapat gelengan kepala dariku.
"Aku bisa sendiri. Lagi juga, enggak setiap hari aku ke Bogor. Biasanya cuma ngecek seminggu dua kali. Karena saat ini ada perluasan lahan aja jadinya mau enggak mau aku harus ke sana," aku mengecup pipinya singkat, "Mas Aarav doain aku aja ya biar aku selamat sampai rumah lagi."
Suamiku terdiam beberapa saat setelah itu mengangguk pelan.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Di k********a kalian bisa mendapatkan
1. Ebook Lengkap (59 part)
2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa
Sudut Pandang Aarav (10 part)
Sudut Pandang Dhara (3 part)
Sudut Pandang Fajar (1 Part)
Sudut Pandang Penulis (3 Part)
Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".