Malam itu Si wanita sinting tengah berpulang dari rumah Farhan. Wajahnya kusut, tak ada seulas senyum yang terpancar dari garis bibirnya. Sepanjang jalanan ia hanya mengumpat dan melontarkan kata-kata kasar atas tidak terpenuhi keinginannya. Justru, malah kebenarannya yang terkuak di depan Farhan. Safira menapaki jalanan pekarangan rumahnya yang mulai ditumbuhi rerumputan kecil. Ia tak bisa melihat jalanan dengan jelas lantaran lampu halamannya putus belum diperbaiki. Sedangkan senter ponsel yang selama ini sebagai andalannya, juga tidak sedang bersamanya. Sepertinya hidupnya itu memang sudah dicap sial. Hawa dingin menyibak pelipis yang tertutupi rambut lebat. Bulu romanya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Safira bergegas mempercepat langkahnya, dengan jemari yang menggerayangi

