Siang itu warga kampung digemparkan dengan temuan mayat yang menggegerkan. Mayat Sumy, yang ditemukan di antara rerimbunan semak belukar dalam kondisi mengenaskan. Perutnya masih tertancap bambu runcing, serta tubuhnya kaku pucat. Tak ada setetes darah yang mengalir lagi, semuanya sudah terkuras. Tak sedikit warga yang menebak itu adalah korban pembunuhan. Kejadian ini menjadi momok bagi mereka tersendiri, rasa takut akan keluar malam mulai menggerayangi. Setelah diotopsi, kabar duka segera diumumkan di masjid. Jenazah Sumy pun segera dimakamkan dengan layak atas permintaan keluarganya. Mendengar kabar duka itu, Maria termangu dalam duduknya. Ia tampak berpikir, mengumpulkan semua argumentasinya. "Kemarin malam aku lihat Mbak Safira berada di tempat yang sama di mana mayat Mbak Sumy dit

