Selang beberapa saat, decitan pintu terdengar menggema, merasuk gendang telinga Maria hingga membuat gadis itu tersadar. Namun, ia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya. Hanya jemarinya saja yang menunjukkan reaksi. Sreg! Sreg! Suara derap langkah kaki mulai terdengar mengalun, bergesekan dengan lantai dan menjalar meraba telinga Maria. Gadis itu membuka matanya perlahan. Walau masih samar-samar, namun ia bisa melihat akan sebuah siluet hitam yang bergerak ke arahnya. Dari postur tubuhnya, seperti seorang pria dan penampakannya tak asing lagi bagi Maria. Gadis itu menarik bibir-tersenyum, ketika melihat wajah pria itu. "Farhan?" "Uhuk! Uhuk!" Maria mencoba membangunkan dirinya sembari terbatuk. Dadanya begitu sesak, serta punggungnya masih terasa ngilu. Ditambah lagi lengannya yan

