Di luar sana, alam sedang tidak baik-baik saja. Hari belum usai, namun suasana sudah seperti malam kelam. Badai angin datang tiba-tiba dan menyerbu setiap pepohonan tanpa ampun. Ditambah langit yang terselimut kabut hitam membuat cuaca semakin mencekam. Azam telah sampai di rumah Farhan. Lelaki itu bergegas memasuki rumah dan terkejut melihat Renatha yang tersimpuh di lantai dengan memegangi perutnya yang bunting. Dia bawah kakinya tercecer darah serta air ketuban. Erangan serta teriakan kesakitan kerap terdengar dari mulutnya. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" Azam segera menghampirinya dan memegangi pipi Renatha. "Mas, Mas Azam ... perutku sakit sekali. Sepertinya bayiku sudah mau lahir. Tolong aku, Mas." "Kamu tenang ya, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Aku tidak akan membiark

