Kedok Rahasia b***k Setan

1854 Kata

Azam telah sampai di rumahnya. Wajahnya kecut, tak ada seulas senyum yang tergores di bibir. Hanya aura kelam serta emosi tak terkontrol yang memberontak dalam d**a. Ia menggebrak meja dengan kedua tangannya. "Persetan!" Matanya menukik tajam, alisnya menebal, serta rahangnya mengeras. "Kenapa malah Kareem yang menjadi penerus imam selanjutnya?! Dia hanya anak kemarin sore! Cih!!!" Safira yang saat itu tengah duduk di kursi roda tak jauh darinya, tersenyum gembira. Terdengar pula kekehan pelan yang bernada mengejek. Wanita itu sebenarnya teringin tertawa lebar melihat kegagalan suaminya, namun mulutnya masih belum bisa mengeluarkan suara. Menyadari hal itu, tentulah membuat Azam teramat marah. Emosinya semakin membludak, sorot matanya menatap nanar ke arah Safira, lantas menghampirinya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN