Sore itu Farhan tengah berada di rumah Fatimah. Ia dan Ibrahim sibuk mengatur acara untuk tahlilan dan doa bersama nanti malam. Karena acaranya bakal diadakan di rumah, dan pastinya bakal banyak dihadiri oleh warga kampung, maka Fatimah dan keluarga ingin kalau acaranya benar-benar lancar. Mengingat Imam Zubair adalah kiai besar, tidak hanya warga kampung saja yang mengenalnya, tetapi warga desa lain juga orang-orang kota yang kenal baik dengan keluarga Fatimah pasti akan menghadiri acara doa sebagai pengabdian terakhir pada kiai mereka. "Farhan, bagaimana keadaan istrimu? Aku lihat sepertinya perutnya sudah sangat besar." Ibrahim bertanya pada Farhan yang saat itu tengah menata tikar. "Semoga cepat-cepat dapat kabar bahagia, ya," sambungnya. "Pasti semua akan lancar, Nak Farhan." Fatima

