Saat ini, Maria tengah mondar-mandir di kamarnya. Sudah lebih dari tujuh kali putaran ia ambil, namun kaki jenjangnya itu tak mau juga berhenti. Sesekali, maniknya melirik sepucuk surat yang ia genggam di tangan kanannya. Pikirannya sedang kacau, dilema serta kebingungan menyerbunya tanpa henti. "Apa sebaiknya aku baca saja surat ini." Gadis itu menimbang, lantas teringat akan pesan Safira kalau surat itu harus ia berikan pada Farhan. "Sebaiknya aku segera memberikan ini pada Farhan. Setelah itu, baru aku tahu apa isi surat ini. Ya!" Maria mengangguk tiga kali. Kemudian matanya melirik ke arah pintu. Gadis itu terkesiap ketika tiba-tiba suaminya memasuki kamar. Wajahnya menjadi pucat. "Kareem." Kareem yang melihat gelagat istrinya bak pencuri tertangkap basah, mulai terheran. "Kamu ke

