Gara-Gara Motor
"Bang, ajarin motor yuk!" ajak Anyelir pada Tara, kakak laki-lakinya.
"Males ah!"
"Bang, ayo!" rengek Anyelir sembari menarik lengan Tara.
"Nggak mau. Nanti motor gue penyok lagi." ucap Tara, mengingat motornya yang baru saja keluar dari bengkel karena mengajari Anyelir mengendarai motor minggu lalu. Sebenarnya Anyelir tidak terlalu buruk dalam mengendarai motor. Ia selalu lancar mengendarai motor saat bersama kakaknya, tapi saat ia mengendarai motor sendirian, rasanya siapapun yang ada di sekitarnya harus menghindar dan menjauh darinya saat itu juga demi keselamatan bersama.
"Pake motor mama deh, ya?" bujuk Anyelir
"Emang boleh?" tanya Tara
Anyelir langsung masuk ke rumah meninggalkan Tara sendirian di teras.
"Ma, pinjem motor mama ya?" ucap Anyelir pada mamanya yang tengah asik menonton tv di ruang keluarga.
"Mau kemana?" tanya mama tanpa mengalihkan pandangannya dari acara gosip di TV.
"Mau latihan motor sama bang Tara." balas Anyelir
"Yaudah, pake aja. Hati-hati ya jangan nabrak lagi." ucap mama
"Siap bos!" Anyelir langsung mengambil kunci motor dan menghampiri Tara.
"Ayo!" ajak Anyelir semangat.
"Mama emang nggak sayang motor." gumam Tara sembari menggelengkan kepalanya sebelum ia beranjak dari sofa hijau yang berada di teras depan rumahnya.
"Apa?" tanya Anyelir yang mendengar gumaman Tara.
"Nggak," balas Tara langsung. Jika dia mengulangi perkataannya bisa-bisa dia yang ditabrak oleh adiknya. Tara sadar ia masih muda, apalagi belum menikah, belum merasakan manisnya bangun tidur langsung melihat wajah sang pujaan hati di sampingnya. Lebih baik ia menutup mulutnya dari pada menantang maut. Anyelir tidak memperdulikan perkataan Tara dan lebih memilih pergi ke garasi mengambil motor, dengan Anyelir memposisikan dirinya duduk di depan.
"Belakang!" ucap Tara. Anyelir pun menggeserkan pantatnya ke belakang sembari mengerucutkan bibirnya.
"Gue masih pengen idup ya!" ucap Tara
"Ish!" balas Anyelir
Setelah kurang lebih sepuluh menit, Anyelir dan Tara sampai di lapangan dekat kompleks perumahan mereka. Tara pun turun dari motor.
"Nih, depan!"
"Lo mau kemana bang?" tanya Anyelir
"Gue disini lihatin lo latihan." ucap Tara
"Lo mau gue jatuh sendiri?" tanya Anyelir dengan membelalakkan matanya.
"Jatuh ngajak-ngajak?" balas Tara
Anyelir berdecak.
"Ayo dong bang. Tega lo sama adek lo sendiri?" Tara pun naik ke jok belakang. Dan Anyelir mulai menarik gas.
"Pelan-pelan aja." ucap Tara dan Anyelir pun mengikuti perintah Tara. Beberapa putaran berjalan lancar, Anyelir melajukan motor dengan kecepatan yang aman, masih batas aman. Dengan Tara yang berada di belakang Anyelir mulutnya tidak berhenti komat-kamit berdzikir agar mereka tidak jatuh lagi seperti minggu kemarin.
"Ya Allah, Ya Allah, tolong jangan cabut nyawa hamba sekarang Ya Allah." Mohon Tara saat Anyelir tiba-tiba mengegas kencang. Anyelir menahan tawa mendengar Tara ketakutan.
"RAFFLES LO MAU NGAJAK MATI!" teriak Tara. Anyelir menundukkan kepalanya mendengar teriakan kakaknya. Anyelir pun berhenti dan mematikan motornya.
"Bang jangan teriak-teriak kenapa? Lo mau bikin gue budek?"
"Dek jangan teriak-teriak ya anak saya lagi mau tidur." ucap ibu-ibu yang sedang menggendong anak kecil.
"Iya buk maaf." jawab Tara dan Anyelir bersamaan.
"Diem bang, jangan teriak-teriak! Kasian tuh nanti bayinya bangun." ucap Anyelir
"Lo! Makanya yang bener! Jangan bikin gue jantungan!" balas Tara memarahi Anyelir.
"Ada anak nendang bola ke arah kita bang. Gue takut kalo kena." ucap Anyelir
"Bukan ke arah kita! Dia nendang ke arah gawang bego!" balas Tara. Dilapangan itu memang ada anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Ada anak perempuan juga yang sedang bermain masak-masakan di pinggir lapangan. Dan ada pula ibu-ibu yang sedang menidurkan anaknya seperti ibu-ibu yang menegur Anyelir dan Tara tadi. Lapangan memang selalu ramai saat siang menjelang sore, apalagi hari Sabtu dan Minggu. Anak-anak selalu bermain sepulang sekolah. Terkadang ada juga yang sekedar bersantai sembari melihat anak laki-laki bermain bola.
"Bukan bang!" elak Anyelir
"Bukan gimana? Orang jelas-jelas kita lagi lewat di belakang gawang!" jelas Tara
"Ya kan gue takut bang, emang lo mau kena bola?" tanya Anyelir
"Mending gue kena bola dari pada mati jantungan gara-gara lo!" balas Tara
"Ish!"
"Udah ayo!" ucap Tara dan Anyelir pun melajukan motornya lagi. Beberapa putaran berjalan lancar seperti awal tadi.
"RAFFLES PELAN-PELAN! Lo mau nyebur ke got? Jangan ajak-ajak gue!" ucap Tara yang takut jika Anyelir lurus ke got di depan mereka, bukannya belok.
"KAGAK ARNOLDI! Jangan teriak di telinga gue juga!" balas Anyelir tidak mau kalah. Sampai anak-anak yang berada di dekat mereka pun mengalihkan pandangan ke arah mereka.
Anyelir pun mulai melajukan motor lagi.
"Ada batu jangan dilewatin! Hindarin!" ucap Tara
"Iya bang," balas Anyelir
"Anyelir kubangan! Jangan di lewatin!"
"iya bang,"
Ind* eskrim enak ~ ind* eskrim enak~ semua suka~
"Bang ada eskrim!" ucap Anyelir semangat mendengar suara tersebut.
"Anyelir liat ke depan! Itu ada gawang!" ucap Tara
"Iya bang!"
"Astagfirullah hal'azim, Ya Allah maafkan hamba mu ini banyak salah." ucap Tara sembari mengelus d**a.
Beberapa putaran kembali berjalan lancar. Tara pun tidak menunjukan tanda-tanda marah lagi karena Anyelir. Walaupun masih ada ketakutan di dalam hatinya. Setidaknya Anyelir tidak memmbuatnya jantungan lagi.
"Udah yuk udah mau ashar." ucap Tara
"Oke bos!" balas Anyelir
"Beli minum dulu, gue haus." ucap Tara saat mereka hendak melewati minimarket.
"Gue parkirin di sebelah ya bang?" ucap Anyelir
"Iya" balas Tara dan ia langsung masuk ke minimarket.
Ciitt--Brakk---
"Aduh mampus gue!"
"Kamu bisa naik motor nggak sih?!"
"Ah ma-maaf pak," ucap Anyelir dengan menundukkan kepalanya. Rasanya seperti mimpi, tapi ia bisa merasakan jika tubuhnya gemetar dan sekarang ada laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya. Ia tidak berani menatap laki-laki itu, jantungnya berdegup kencang, merasa bersalah dan juga takut. Tapi untung saja ia tidak apa-apa.