Bab 5 - Sheina

1017 Kata
I can taste the tension like a cloud of smoke in the air Now I’m breathing like I’m running cause you’re taking me there —Domino, Jessie J—   Sore ini mendung, tapi hujan tidak juga turun. Aku lebih memilih membawa segelas jus alpukat ke balkon kamarku lalu duduk di sana. Sengaja aku gelar karpet bergambar Winnie The Pooh di sini, supaya aku nyaman duduk atau pun tidur-tiduran di sini. Memang sih, memalukan kalau nanti tetangga melihat ada cewek di balkon kamarnya yang berada persis di depan taman, sedang tidur-tiduran, tapi aku kan biasa cuek. Yang penting aku senang. Sambil membaca majalah GoGirl! yang baru kubeli kemarin, aku menikmati angin sore yang menyejukkan. Sinar matahari pun tidak menggangguku karena dihalangi awan mendung. Tanpa sengaja, aku menoleh ke balkon rumah sebelah dan aku langsung melotot dengan norak. Iya, di balkon rumahnya Nafran. Ada Anne yang sedang duduk lesehan dengan Nafran di sampingnya, mereka tertawa berdua. Hangat sekali. Aku langsung mengalihkan wajahku. Pasangan yang serasi. Anne pasti belum tahu kalau kami—aku dan Nafran adalah tetangga. Seminggu bersekolah di sekolahku yang baru dan berteman dengan Anne, dia belum sempat main ke rumahku. Ya, wajar sih, kami hampir menghabiskan waktu kami hanya di sekolah. Tentu saja tidak ada waktu bermain lagi. Aku mulai melanjutkan membaca. Tapi kok susah ya rasanya untuk sekedar berkonsentrasi membaca majalah saja? Kenapa juga sih aku harus mendengar obrolan mereka? Di balkon rumah sebelah masih terdengar samar percakapan dan candaan dari dua temanku di sekolah itu. Duh, kok aku jadi terlalu peduli terhadap urusan orang lain sih? That's none of your business, Sheina! makiku dalam hati. Aku pun akhirnya menyerah untuk 'berlibur santai di rumah' sesuai rencanaku tadi. Pelan dan tanpa suara--entah kenapa aku tidak ingin Anne tahu bahwa aku adalah tetangga Nafran--aku mengemasi barang-barang yang tadi kubawa dan masuk kembali ke kamar. Saat aku mau masuk ke dalam kamar, sekilas aku melihat bahwa Nafran sedang memandangiku. Ekspresinya datar. Tapi aku cepat-cepat masuk kamar dan menutup sliding door-ku yang menghubungkan kamar dengan balkonku. Gawat, nanti dikiranya aku memata-matai mereka, lagi! *** Musik dari MacBook-ku yang membahana membuatku tak mendengar bahwa Mbak Nia ternyata sudah sejak tadi memanggil namaku dari depan pintu kamar. “Sheina! Astaga, anak ini susah banget sih dipanggilnya?!” "Ups," aku langsung mematikan lagu yang tadi kuputar ketika sadar Mbak Nia sudah kelelahan memanggilku. Aku hanya bisa nyengir kuda, "Sorry, Mbak. Nggak denger aku." Mbak Nia sepertinya sudah agak maklum tentang kebiasaanku menyetel lagu dengan volume yang lumayan keras itu. "Ada temennya Mbak Sheina di bawah," ujarnya. Aku langsung duduk tegak di atas karpet kamarku. Jangan-jangan Anne tahu bahwa aku tadi tidak sengaja melihatnya di rumah Nafran? "Tolong anterin ke balkon belakang aja ya, Mbak,” Mbak Nia pun mengangguk. Aku lalu berdiri, memandang pantulan wajahku di cermin dan merapikan sedikit rambutku yang berantakan. “Nggak usah ngaca juga udah cantik kok,” Aku menoleh kaget mendengar kalimat itu. Dan lebih kaget lagi ketika melihat siapa yang mengatakannya. Bagaimana dia bisa di sini? “Elo? Ngapain lo di sini?” Mataku sudah memicing galak. Kok dia yang datang? “Katanya gue disuruh nunggu di balkon belakang, tapi yang mau gue temui aja masih di kamar,” jawabnya sambil tersenyum. Aku hanya memandangnya yang berdiri di depan pintu kamarku dengan sewot. Lalu mengajaknya pergi ke balkon belakang tanpa suara. Ia pun menurut saja. Balkon belakang ini hanya aku kunjungi ketika aku bosan berada di kamarku. Balkon ini biasanya tempat Mama minum teh sepulang kerja. Kadang, hanya dengan minum teh di sini saja, mood-nya bisa berubah baik dalam sekejap. Di bawah balkon ini, adalah halaman rumah yang berisi banyak tanaman kesukaan Mama. Mawar, anggrek, anthurium, dan masih banyak lagi lainnya. “Ada apa?” tanyaku ketika kami sudah duduk berhadapan di kursi rotan yang ditengahi oleh meja rotan berbentuk persegi. Ia menaruh Tupperware yang ternyata sejak tadi ia bawa di meja itu. Ia hanya tersenyum, “Itu dari Mama.” ujarnya. “Terima kasih, sampaikan salam pada Mama lo,” jawabku sambil membalas senyumnya. Ia kembali tersenyum. Lalu aku diam, mengalihkan perhatianku ke arah langit malam yang mendung. Nggak ada bintang sama sekali, batinku. Aku menoleh ke arah Nafran yang kini juga diam, ternyata ia juga memandang ke hamparan langit malam. Sejenak, yang terdengar hanya suara gemuruh air mancur yang ada di bawah balkon ini. Kalau sedang begini, rasanya damai juga walaupun ada dia di sebelahku. “Tumben hari ini nggak ada bintang sama sekali,” ujar Nafran yang langsung membuatku menoleh. Seperti apa yang kuucapkan dalam hati beberapa menit yang lalu. “Gue kira lo orang yang cerewet, ternyata pendiam juga,” Aku tak mengerti benar apa yang ia katakan. “Maksud lo?” “Seharian ini gue ngedenger lo selalu ceria dan lumayan bawel,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Tapi kalau dekat laki-laki, lo jadi agak pendiam,” katanya sambil memandangiku tepat di manik mata. Aku tak menyangka kalau ia memperhatikanku sampai tahu hal-hal seperti itu. Kupikir aku nggak cukup menarik untuk orang-orang memperhatikanku. Aku balas menatapnya, “Elo tipe orang yang menyukai observasi ya.” tanggapku. Kurang dari seminggu—waktu perkenalan kami—dan dia sudah pintar seperti itu membaca sikapku? Aku memang kurang percaya diri ketika harus berkenalan atau berinteraksi dengan kaum adam. Entah kenapa, rasanya aku terlalu canggung. Karena itulah aku lebih memilih untuk sebisa mungkin menghindar daripada harus terjebak dalam kecanggungan yang tak bisa kuatasi. Kalau pun aku disuruh untuk berpidato di depan satu angkatanku—seperti saat aku diminta mewakili angkatan SMP-ku untuk menyampaikan pidato di acara wisuda kami, kecanggunganku lebih banyak kadarnya ketika diharuskan berhadapan dengan laki-laki. Maka dari itu, kebanyakan orang, melihatku tidak suka bergaul dengan laki-laki. Aku bisa lebih bawel—menghilangkan sedikit sikap pendiamku—di antara cewek-cewek, bukan di antara laki-laki. Nafran tersenyum, lalu bangkit berdiri, “Gue pulang dulu, jangan lupa kerjakan tugas bahasa Jepang,” “Lo ke sini hanya untuk ngomong itu?” tanyaku sambil mengantarkan dia ke depan rumah. Ia diam, namun saat kami sampai di depan pagar rumahku, ia menjawab, “Kurang lebih begitu,” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN