Satu bulan. Satu bulan Alisha masih dengan keterpurukannya. Namun perlahan ia kembali bangkit. Mengusir segala kesedihan yang merayap. Mengenyahkan segala tangisan tersayat. Meskipun tersadar bahwa kerinduan yang ia tekan tak kunjung meregang, bahkan sedikitpun menghilang. Seulas senyuman tampak hadir di bibir Alisha melihat Dzikra yang duduk bersila tampak tenang dengan ponselnya. Ponsel Dika yang beberapa hari lalu telah sampai bersama satu orang kepolisian sembari menanyai beberapa pertanyaan. Meski begitu Alisha tak begitu peduli dan tidak terlalu memfokuskan petugas itu. Ia lebih senang dengan kembalinya ponsel sang suami ke dalam genggamannya. Hal itu membuat dirinya kembali hidup meski hanya sebuah ponsel yang dimilikinya. Berkali-kali jemari mungil itu menggulir layar ke kiri hin

