Lima : Pelanggan Pertama

1488 Kata
"Zia, duduklah di meja rias! Mereka yang akan meriasmu malam ini," titah Madam Melany pada gadis itu. Dengan patuh, Zia menuruti ucapan Madam Melany. Bahkan wanita itu sedikit terkejut. Ia pikir Zia akan menangis dan menolak atau membuat drama seperti pegawainya yang pernah terjadi dulu, namun ternyata tidak. Madam Melany berjalan mendekati lemari baju dan membuka lemari tersebut, memilih satu baju yang cocok untuk dipakai oleh Zia. Setelah menemukan gaun yang dirasa cocok, ia meletakkan gaun itu ke kasur. Sementara Zia duduk dengan tenang di meja rias. Wajahnya di make up sedikit menor oleh penata rias itu. Rambutnya sedikit sakit karena beberapa kali tertarik oleh si penata rambut. Hampir empat puluh lima menit, Zia selesai di make over. Gadis itu tampak cantik dengan riasannya. Namun ia merasa tak nyaman karena menurutnya riasan wajahnya terlalu berlebihan. Kedua penata rias tadi membantu Zia menanggalkan pakaiannya dan memakaikan gaun yang sudah dipilihkan oleh Madam Melany untuknya. "Sempurna," takjub Madam Melany. "Kau sangat cantik, Zia. Tak sia-sia aku membeli dirimu dengan harga yang fantastis," tambah wanita itu. Madam Melany menyuruh kedua penata rias tadi keluar dari dalam kamar Zia. Menyisakan mereka berdua di dalam. "Ayo Zia! Pelanggan pasti sudah menunggu kehadiranmu di bawah," ajak Madam Melany pada Zia. Namun gadis itu seolah enggan untuk turun. "Emm, boleh saya ke kamar mandi sebentar Madam? Saya sangat gugup saat ini," bohong Zia. Sebenarnya dirinya ingin mengambil sesuatu untuk menjalankan rencana yang ia miliki. Tanpa curiga, Madam Melany mengizinkannya. Ia berpesan pada Zia untuk tidak merusak riasan wajah dan rambutnya. Lalu pergi ke depan duluan. Zia hanya mengangguk kaku. Setelah kepergian Madam Melany, Zia mengambil obatnya tadi dari dalam laci dan menyebunyikannya di balik gaun yang ia kenakan. "Semoga saja ini berhasil!" harapnya. Ia menyatukan kedua tangan memohon restu Tuhannya dan berdoa sebentar sebelum keluar. °°°°°°°°°° "Anda akan ke mana My Lord?" tanya Alward pada Kenzo. Pasalnya lelaki itu kini tengah tampil rapi dengan kemeja berwarna putih, celana kain berwarna hitam dan rompi dengan warna senada dengan celana yang ia kenakan. Kenzo yang mendengar pertanyaan Alward menulikan pendengarannya. Ia malah bersiul sembari mematut bayangannya di cermin dan merapikan tatanan rambutnya agar lebih rapi. "My Lord?" panggil Alward sekali lagi. "Berisik Al, aku akan pergi ke rumah b****l milik Madam Melany. Harusnya kau tak perlu bertanya karena sudah tahu," keluh Kenzo. Alward adalah ajudan Kenzo Alastair, namun Kenzo menganggap Alward adalah temannya. Ia sangat mempercayai Alward dan menjadikan lelaki itu tangan kanannya, segala hal yang berkaitan dengan Kenzo maka akan diurus oleh Alward. "Bukankah baru satu minggu yang lalu Anda baru datang dan membeli salah satu wanita dari sana My Lord?" Alward hendak menasehati Kenzo, namun lelaki yang ia nasehati itu malah mendengus kesal. "Anda tidak bisa datang ke sana My Lord, ada acara yang lebih penting dari pada mencari mainan baru," jelas Alward. Kenzo hendak memprotes, namun niatnya ia urungkan karena Alward kembali membuka suara. "Marquess dan Marchioness Alastair sudah menunggu Anda di rumah utama untuk menghadiri sebuah pesta resmi." Kenzo hendak menolak, namun dirinya sekarang adalah seorang Viscount dari keluarga Alastair, akan sangat tidak sopan jika dirinya tidak bisa hadir ke acara resmi tanpa alasan yang jelas. Akhirnya dengan sangat terpaksa, lelaki mengangguk, menyetujui Alward. Setelah selesai bersiap, mereka pergi ke rumah utama House of Alastair dengan kereta kuda. °°°°°°°°°° Langit sudah gelap sepenuhnya. Zia sedari tadi hanya duduk-duduk manis di ruangan yang ramai itu. Dirinya enggan menggoda para p****************g. Zia dengan santai malah membaca buku dan menyesap minuman yang tadi ia pesan ke salah satu pelayan yang ada di sana. Karena Zia memiliki rabun jauh, gadis itu kesulitan melihat dan mengenali orang-orang dari jarak jauh. Namun untunglah gadis itu bisa mengingat seseorang hanya dengan mengenali suaranya saja. Madam Melany tidak mengawasi dirinya, karena itu Zia bersikap seenaknya di sana. Gadis itu telah selesai membaca buku, ia berjalan ke arah salah satu bartender dan duduk di sana. "Terima kasih atas bukunya, Louis. Sangat bagus dan memberikan banyak informasi baru." Zia tersenyum sembari mengembalikan buku itu pada pemilik aslinya. Louis tersenyum. "Tidak masalah, ingin minum?" tawar Louis. Pria itu mengangkat segelas minuman dengan tangan kirinya dan menyodorkannya pada Zia. Namun Zia tidak bisa meminum alkohol. Ia sangat membenci cairan pahit itu, jadi ia hanya menggeleng pelan. Zia hendak meminta pada Louis untuk meminjamkannya buku yang lain. Namun seorang lelaki datang dan mengajak Zia berbicara. Lelaki itu tampan dengan balutan kemeja longgar dan celana berbahan kain. Busana yang sangat santai. "Sendirian saja, Nona?" tanyanya basa basi. Zia hanya tersenyum seramah mungkin sebagai balasan. "Siapa namamu, Nona?" Lelaki mengulurkan tanganya ke arah Zia. Gadis itu menjabat uluran tangannya dengan senang hati. "Zia," balasnya sopan. "Anda, Tuan?" Zia balik bertanya. "Baron Albert Hamilton." Lelaki itu membenarkan kemejanya seolah membanggakan gelar yang ia dapatkan. Lagi-lagi, Zia hanya tersenyum manis. Merasa dirinya sudah mendapatkan lampu hijau dari sang gadis, dirinya memberanikan diri untuk lebih mendekat, memangkas jarak di antara keduanya. Lelaki itu memajukan wajahnya ke arah Zia, ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh sang gadis. Zia melirik ke arah Louis dan pamit pada lelaki itu. Zia berdiri dari duduknya dan mengikuti kemana perginya lelaki yang bernama Albert itu, lelaki itu menggandeng Zia ke salah satu kamar yang ada di sana. "Mari ikut denganku malam ini, Nona!" Itulah kata yang dibisikkan oleh Albert pada Zia tadi. Zia hanya mengangguk lalu mengikuti permainan lelaki yang berjalan beberapa langkah di depannya itu. Setelah sampai, Albert langsung memutar kunci dan memegang kenop untuk membuka pintu. Sepertinya lelaki itu sudah mengawasi Zia sejak tadi. Terbukti dirinya langsung mengajak Zia ke sebuah kamar, bahkan Zia belum melihat lelaki itu menyewa kamar dan mengambil kunci, juga berembug dengan Madam Melany selaku pemilik tempat menjijikan ini. Zia masuk terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Albert. Lelaki itu hendak mengunci pintu kamar sebelum aktivitasnya terhenti karena seruan dari Zia. "Tunggu!" Albert melirik ke arah Zia dan bertanya kenapa, Zia hanya meminta pada Albert untuk membelikannya minuman terlebih dahulu. Lalu lelaki itu menyetujuinya. Ia kembali ke luar dan memesan dua minuman untuk dirinya dan Zia, setelahnya ia berjalan kembali menuju kamar. Zia merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, ia mencoba merileksasikan dirinya dengan menarik napas dan membuangnya beberapa kali. Tak lama, Albert kembali dengan pelayan yang membawa nampan berisikan dua gelas minuman. Zia menyuruh pelayan itu meletakkan minumannya di atas meja nakas yang ada di samping ranjang, setelahnya pelayan tadi pamit undur diri karena sudah menyelesaikan tugasnya. Zia meminta Albert untuk mandi terlebih dahulu. Sebenarnya lelaki itu sudah tidak sabar, mamun ia tahan gejolaknya dan menuruti kemauan sang gadis. Albert masuk ke dalam kamar mandi yang tersedia di ruangan itu, dengan cepat Zia memastikan jika pria itu sudah masuk. Zia mengambil bungkusan yang ia sembunyikan di balik gaun miliknya, membuka bungkusan itu dan mengambil satu tablet, lalu memasukkan obat tadi ke minuman milik Albert. Mengaduknya hingga larut, lalu meletakkan kembali cangkir itu setelah menandainya. Albert keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Zia yang melihat itu hanya tersenyum palsu ke arah pemuda itu. "Mau minum dulu, My Lord?" tawar Zia dengan nada bicara yang sedikit menggoda. Gadis itu memberikan gelas yang sudah ia taruh obat di dalamnya kepada Albert, dan pemuda itu meminumnya tanpa sungkan diikuti oleh Zia. Setelah menghabiskan minumannya, Albert mulai mendekat ke arah Zia. Pemuda itu menyudutkan Zia ke ranjang. "Apa kau masih baru di sini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya," tanya Albert. Kini lelaki itu duduk di samping Zia, memeluk pinggang Zia posesif. Zia hanya mengangguk. Zia mencari cara untuk mengulur waktu agar obatnya bisa bekerja, gadis itu menawarkan sesuatu pada Albert. "Ingin saya pijat terlebih dahulu My Lord? Anda terlihat lelah," tawar Zia. Albert tersenyum jahil, lalu menoel pipi Zia genit. "Tentu," balasnya. Zia mulai melepaskan kemeja berwarna putih yang dipakai oleh Albert. Lalu ia menaruh baju itu ke samping ranjang. Ia menyuruh Albert untuk tidur telungkup agar memudahkannya memijit lelaki itu. Mulai dari kepala sampai kaki sudah ia pijit. Sepertinya obat yang dicampurkan Zia mulai bekerja, Albert berulang kali menguap, lelaki itu mulai mengantuk. Zia bertanya pada Albert. "Bagaimana My Lord?" "Sebaiknya sekarang saja, sepertinya aku sangat lelah. Pijitanmu memanglah sempurna, sangat enak," puji Albert pada Zia. Dalam hati, Zia bersorak dan menertawakan kebodohan pemuda di hadapannya ini. Albert mengubah posisi dari tidur menjadi duduk. Ia mendekat ke arah Zia dan menggumamkan kata cantik. Lalu setelahnya benda lembut tak bertulang milik Albert menyentuh bibir milik Zia, hanya beberapa detik lalu kembali terlepas karena Albert sudah terlelap. Zia mengubah posisi tidur Albert. Membuang kemeja pemuda itu ke lantai secara asal, ia juga membuka zipper celana Albert dengan sedikit jijik. Lalu setelahnya ia tidur di samping lelaki itu, hanya dengan balutan gaun tipis. Karena sebelumnya Zia sudah melepas gaun yang ia kenakan dan menggantinya dengan gaun berbahan satin yang tipis. Menarik selimut sampai batas d**a dan ikut terlelap bersama Albert. Rencana yang ia susun berhasil. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN