Empat : Rumah b****l

1457 Kata
"Turun!" Bahu Zia di dorong oleh salah satu orang yang membawanya. Gadis itu turun dari kereta sambil mendengus. "Dasar tidak sopan!" gumamnya. Zia melompat turun dari kereta, lalu kereta kuda yang ia tumpangi kembali berjalan. Entah pergi kemana. Zia di seret paksa oleh dua orang yang membawanya. Namun langkahnya terhenti setelah melihat bangunan besar di depannya. Ia sangat terkejut. Tentu saja, kedua orang itu membawanya ke rumah b****l milik Madam Melany. Siapa yang tak kenal dengan rumah b****l itu? Yang digadang-gandang sebagai rumah b****l paling mahal dan terkenal di penjuru kota London karena kualitas pelayanan yang memuaskan. "Tu—tunggu! Untuk apa kita kemari?" tanya Zia. Gadis itu bahkan tergagap ketika mengatakannya. Tidak mungkin! Mustahil jika dirinya dijual untuk menjadi salah satu pekerja di tempat zina seperti ini. Ia tak ingin menjadi salah satu wanita bayaran yang menjajakan dirinya ke lelaki belang yang tak setia pada pasangannya. "Tentu saja kau akan bekerja di sini. Madam Melany sudah membayarmu dengan harga tinggi." Salah satu dari orang itu tertawa ketika selesai mengatakannya. Zia meneguk salivanya dengan susah payah. Dirinya akan bekerja sebagai pemuas nafsu b***t lelaki di sana. "Baiklah Zia, kau harus tenangkan dirimu! Kita akan cari rencana agar bisa keluar dari tempat terkutuk ini!" batinnya. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Zia kembali di paksa masuk ke dalam rumah b****l itu. Gadis itu melihat sekeliling, sangat banyak wanita cantik dengan pakaian yang kekurangan bahan jika menurut gadis itu. Berjalan ke sana kemari mencari mangsa baru. Zia bergidik ketika membayangkan dirinya harus menggoda lelaki dan melakukan hal yang sangat tak ingin ia lakukan hanya demi segelintir uang. Bahkan banyak lelaki dari keluarga terpandang juga berada di sini. Ya, Zia mengenal mereka, tentu saja berkat Vivian yang selalu mengajaknya datang dan bergabung bersama di sebuah pesta. Zia tak menyangka, ternyata banyak dari keluarga bangsawan malah menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Zia di dorong masuk ke sebuah ruangan, ruangan itu tak terlalu besar. Terdapat meja dan dua kursi yang saling berhadapan di sana, mirip seperti ruang kerja. Di dalam ruangan, seorang wanita dengan gaun mewah berdiri membelakangi Zia dan dua orang yang ada di samping gadis itu. "Madam, ini gadis yang dijual oleh Chriss tempo hari pada kita," ujar orang yang tadi mendorong Zia masuk. Wanita yang dipanggil madam tadi, berbalik dan menatap Zia dari atas sampai ke bawah dengan tatapan menelisik dan menilai. "Zia Elleanor, aku sangat terkejut karena Chriss menyerahkan dirimu sebagai pengganti hutangnya," ujar Madam Melany dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Countess of Elleanor bahkan datang ke rumah b****l milik Madam Melany dan bekerja sebagai salah satu jalang di sini?" Madam Melany tertawa ketika mengatakannya. Seolah tawa itu ia gunakan untuk mengejek Zia. Ya, Zia memanglah keturunan dari keluarga Elleanor. Namun semuanya hanya masa lalu. Karena keluarga itu tak menerima kehadiran Zia. Zia adalah aib bagi keluarga Elleanor. Karena ibunya menikah dengan seorang lelaki desa miskin biasa, yaitu Chriss. Cinta memang bisa membutakan segalanya bukan? "Saya bukan Zia Elleanor. Nama saya Zia Elina!" tekan Zia pada Madam Melany. Bahkan gadis itu menatap Melany tajam tanpa rasa takut, dan hal itu membuat Melany geram. "Kalian bisa pergi sekarang! Aku ingin membicarakan sesuatu bersama Zia," usirnya pada kedua orang yang datang bersama Zia tadi. Kedua orang itu keluar. Kini hanya ada Zia dan Madam Melany di ruangan tersebut. Suasana menjadi hening, baik Madam Melany maupun Zia tak ada yang berbicara. "Sepertinya tanpa kujelaskan lagi, kau sudah paham apa pekerjaanmu di sini, Zia," ujar Madam Melany dengan nada yang lembut. "Biarkan saya keluar, saya janji akan membayar hutang ayah saya pada Madam, tapi keluarkan saya dari sini Madam." Zia mencoba membuat kesepakatan bersama dengan Madam Melany. Namun bukan Melany namanya jika ia menyetujui hal tersebut. Wanita itu terkekeh pelan. "Kau tahu berapa jumlah hutang ayahmu padaku karena selalu kalah berjudi dan meminjam jalangku tanpa membayar?" tanya Madam Melany dengan senyum remeh. Zia hanya menggeleng pelan. Ia bertanya berapa jumlah hutang yang ayahnya miliki. Namun jawaban Madam Melany sangat mengejutkan dirinya. Sepuluh juta pondsterling. Atau sekitar seratus empat puluh miliar rupiah. Zia bingung. Bagaimana ia bisa mencicil hutang sebanyak itu, bahkan gajinya bertahun-tahun bekerja di rumah Vivian tidak akan bisa melunasinya. "Dari mana kau akan mendapatkan uang sebanyak itu Miss Elleanor yang terhormat?" Madam Melany mendecih. Ia sudah menduga jika gadis di depannya ini akan memberontak sama seperti bawahan barunya yang sudah-sudah. Zia menghela napas pasrah. Ia tak mungkin bisa menebus uang sebanyak itu. Satu-satunya jalan, ia harus meminjam. Namun siapa yang berkenan meminjamkan uang sebanyak itu padanya? "Lebih baik kau ke kamar sekarang, aku akan mengantarmu. Malam ini akan ada tamu dari keturunan bangsawan, kau bisa mulai pekerjaanmu dengan menggoda salah satu dari mereka," jelas Madam Melany. Zia dan Melany keluar dari ruangan itu. Mereka menuju lantai dua bangunan itu. Tempat di mana wanita bayaran tinggal dan berkumpul. Zia mendapatkan kamar paling ujung. Tidak terlalu besar memang, amun tampaknya ruangan itu nyaman untuk ia tinggali sementara waktu. Madam Melany meninggalkan Zia sendiri di dalam kamar. Sebelum ia pergi, dirinya memberikan pesan pada Zia jika nanti malam, dua orang akan datang ke kamarnya dan merias dirinya secantik mungkin agar pelanggan tergoda. Zia menghempaskan dirinya di kasur. Kasurnya empuk. Zia beringsut untuk ke tengah ranjang, namun ada sesuatu yang terasa mengganjal. Ia duduk dan meraba pakaiannya. Di dalam kantongnya terdapat sebuah bungkusan. Ia mengambil bungkusan itu dan membukanya. Ternyata obat yang ia beli tadi pagi. Zia lupa memberikan obat pengar itu pada ayahnya. Dan obat tidur itu juga masih ada di dalam bungkusan. Hal itu membuat senyum Zia mengembang. Entah apa yang ia pikirkan sekarang ini, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. "Sepertinya ide yang tidak terlalu buruk," lirihnya. Senyum miring tercetak jelas di bibirnya. Gadis itu berjalan menuju laci meja dan meletakkan obat itu di sana. Lalu ia berjalan mendekati lemari. Dirinya tidak membawa pakaian dari rumah karena dibawa secara paksa ke sini. Badannya terasa lengket dan tubuhnya lelah karena perjalanan jauh. Ia membuka lemari baju itu. Berbagai gaun yang indah menghiasi lemari. Namun yang membuat Zia malas adalah, semua gaun itu tampak sangat ketat dan juga memiliki belahan d**a yang rendah. Bahkan beberapa gaun mengekspos punggungnya. Zia mendengus pelan, ia tak minat mencoba gaun itu sama sekali. "Ini lebih mirip isi lemari milik Vivian," keluhnya. Akhirnya ia mengambil salah satu gaun yang di rasa masih sedikit sopan dibanding dengan gaun yang lain. Ia bergegas mandi. Untung saja kamar mandi terletak di dalam, satu ruangan dengan kamar. Jadi Zia tak perlu keluar dari kamarnya untuk membersihkan diri. Hari menjelang sore. Beberapa orang yang kamarnya dekat dengan Zia mengunjungi gadis itu, mereka saling bertukar pengalaman selama berada di rumah b****l ini. Sedangkan Zia hanya menyimak, ia sedikit bersyukur karena masih ada yang mau berteman dengannya. "Aku bahkan tidak melihatmu menangis atau memberontak ketika di bawa oleh dua pengawal Madam Melany," ujar Willie, salah satu wanita yang mengunjungi kamar Zia. "Iya, dulu ketika dibawa kemari untuk yang pertama kali. Kami semua bahkan memberontak hingga berakhir dipukul oleh dua orang itu," keluh Meggie, teman Willie. Meggie dan Willie adalah wanita yang baik, mereka berdua ramah dan juga cantik menurut pandangan Zia. "Untuk apa menangis? Hal itu hanya sia-sia," decak Zia. "Menangis tidak menyelesaikan masalah. Dengan menangis tidak akan bisa membuatku keluar dari sini. Jadi untuk apa menangisi hal yang tidak penting?" imbuh gadis itu. Meggie dan Willie menyetujui ucapan Zia. Memang benar, menangis tidak dapat menyelesaikan masalah. Namun setidaknya, dengan menangis bisa mengurangi beban yang kita tanggung. Willie memegang erat jemari Zia untuk menguatkan gadis itu, Menggie juga berkali-kali menasehatinya. Zia sangat berterimakasih pada dua wanita itu karena mau mengajak Zia berbicara. Willie wanita yang sangat cantik, dengan rambut kecoklatan yang bergelombang, kulitnya yang mulus dan bibir tipis yang s*****l. Tubuhnya sedikit berisi namun justru membuatnya terkesan sexy. Usinya tiga tahun lebih tua dari Zia, yaitu dua puluh delapan tahun. Sedangkan Meggie, wanita itu juga tak kalah cantik, dengan badan yang ramping, tinggi badan yang ideal, wajahnya yang oval dengan hidung bangir dan bibir tebalnya, rambutnya panjang dan lurus. Rambut pirangnya terlihat mengkilau. Usianya dua tahun lebih tua dari Zia, yaitu dua puluh tujuh tahun. Meggie dan Willie ternyata memiliki masa lalu yang sama dengan yang Zia alami sekarang ini. Mereka bekerja sebagai wanita bayaran di rumah b****l ini karena mereka dijual oleh orang yang mereka sayangi. Sehingga mereka berdua paham akan apa yang di rasakan oleh Zia sekarang ini. Karena terlalu sibuk berbincang, mereka tidak menyadari bahwa hari mulai gelap. Madam Melany datang ke kamar Zia bersama dua orang wanita di samping kanan dan kirinya. Madam Melany menyuruh Meggie dan Willie untuk kembali ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap bekerja. Setelah kedua wanita itu pergi, Madam Melany mendekat ke arah Zia. Ia meyuruh gadis itu untuk duduk di meja rias untuk di poles wajahnya. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN