Tiga : Dijual Ayah

1447 Kata
Karena merasa kedinginan, Zia mempercepat langkahnya. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri yang kini mulai menggigil pelan. Sampai di depan rumahnya. Ia terkejut melihat sang ayah tergeletak di depan rumah. Meskipun pencahayaan yang minim. Namun ia masih bisa mengenali sosok ayahnya, sosok yang tinggal bersamanya selama dua puluh lima tahun lebih. Zia menghampiri ayahnya yang tergeletak tepat di samping pintu rumah. Aroma alkohol langsung menyeruak di indrea penciuman Zia. Ayahnya pasti habis mabuk dan berjudi lagi. Namun ada hal aneh lain yang membuat Zia mengernyitkan dahinya, pertanda ia bingung. Wajah ayahnya memiliki beberapa bekas luka lebam. "Apa ayah habis dipukuli? Tapi siapa yang berani memukuli ayah? Dan kenapa mereka sampai memukuli ayah?" tanya Zia pada dirinya sendiri. Zia mengguncangkan badan ayahnya beberapa kali dan memanggil nama ayahnya. Namun lelaki tua itu tak kunjung membuka matanya. Ia juga menepuk pipi sang ayah berulang kali. Namun hasilnya tetap sama. Menghembuskan napas kesal, gadis itu mengangkat ayahnya dan membopongnya untuk masuk ke dalam rumah. Sebelumnya, Zia mengambil kunci yang selalu ia bawa dan memasukkannya ke lubang kunci di pintu rumah. Memutar kunci lalu memegang knop pintu dan membukanya. Ia membawa tubuh berat ayahnya seorang diri dan masuk ke kamar sang ayah. Ia rebahkan badan ayahnya ke ranjang kamar. Ia melepaskan baju sang ayah dan mengambil baju lain untuk dipasangkan ke badan ayahnya. Ia mengambil air hangat di dapur dan menuangkan air itu ke dalam baskom kecil. Ia mengambil handuk kecil dari dalam lemari. Setelahnya ia kembali ke kamar sang ayah. Dengan telaten, ia membasuh satu per satu bagian tubuh ayahnya yang terlihat. Mulai dari wajah, leher, tangan, kaki. Setelah itu, Zia menarik selimut dan menyelimuti sang ayah sampai ke batas d**a. Agar ayahnya tidak kedinginan. Zia keluar dari kamar sang ayah dan menutup pintu dengan sangat pelan agar tidur ayahnya tidak terganggu. Zia membuang air bekas tadi lalu membersihkan baskom dan juga handuk yang ia pakai untuk membasuh ayahnya. Setelahnya, ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia pergi ke kamar untuk berganti baju dan juga istirahat. Karena besok dirinya masih akan bekerja. Dan bekerja juga membutuhkan tenaga ekstra. Jadi ia segera beristirahat agar tubuhnya kembali segar. °°°°°°°°°° Suara kicauan burung mulai terdengar riuh. Cahaya mentari yang bersinar terang muncul melalui celah-celah jendela kamar yang masih tertutup dengan gorden. Zia membuka matanya perlahan karena silau mentari pagi. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelah sepenuhnya sadar, dirinya beranjak dari ranjang kecilnya. Melangkah keluar kamar menuju ke arah kamar mandi. Sebelum mandi, ia menyempatkan melihat keadaan ayahnya terlebih dahulu. Ia membuka pintu kamar ayahnya yang terletak di samping kamar miliknya. Setelah membuka pintu, ia memajukan kepalanya untuk melihat sang ayah. Rupanya masih tertidur. Zia kembali menutup pintu dan bergegas mandi. Setelah mandi, ia akan membelikan makanan pereda pengar untuk ayahnya dan juga obat untuk dirinya. Karena ia sulit tidur beberapa hari ini. Bahkan tadi malam, ia berhasil memejamkan matanya pada pukul tiga pagi. Entah kenapa, tapi Zia merasakan ada hal yang mengganjal di hatinya. Ia merasa tidak nyaman. Hanya perlu waktu lima belas menit untuk mandi, Zia masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju lalu memoles wajahnya tipis dengan bedak pemberian Vivian. Zia memang jarang mengenakan riasan, bukan karena tidak bisa dan tidak mampu membeli. Vivian sudah sering kali mengiriminya produk riasan dengan kualitas tinggi. Namun gadis itu menolak mentah-mentah pemberian Vivian. Ia hanya tak ingin merepotkan sahabatnya itu. Lagi pula Zia tidak terlalu suka berias diri. Itu malah akan semakin membuatnya terlihat tidak alami. Zia adalah gadis yang sederhana meskipun dulunya ia berasal dari keluarga terpandang. Mematut bayangan dirinya di cermin sekali lagi untuk melihat apakah ada yang kurang. Setelah merasa siap, Zia pergi untuk membeli obat pengar dan juga obat tidur untuk dirinya. Apotek terletak di ujung desa, sangat jauh dari rumah Zia. Karena itu gadis mungil itu pergi ke sana sepagi mungkin. Agar dirinya tidak terlambat bekerja di rumah Vivian. Setelah menempuh jarak yang jauh, Zia akhirnya sampai. Namun dirinya harus bersabar menunggu karena apotek masih belum buka. Hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya apotek pun buka. Zia bergegas mendatangai toko itu dan membeli keperluannya. Ia membeli obat pengar untuk ayahnya dan satu botol obat tidur untuk dirinya. Setelah membayar tagihan, Zia kembali pulang. Ia harus memasak untuk ayahnya dulu, lalu pergi bekerja. Zia bersenandung kecil untuk mengusir sepi. Dirinya hanya berjalan sendirian, dan suasana di desa memang sepi jika pagi hari. Hanya akan ada beberapa orang tua yang berkerja. Setelah itu tak ada lagi. Suasana desa di kota Sussex sangat indah. Hal itu yang membuat Zia enggan meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Zia cukup lelah karena berjalan jauh, terlebih ia belum mengisi perut kosongnya. Alhasil perut itu berbunyi sekarang. Ia melebarkan langkah kakinya agar cepat sampai di rumah. Setelah sampai, ia membuka pintu dan langsung masuk menuju dapur. Dengan cekatan, ia memasak makanan sederhana untuk dirinya dan sang ayah. Tak perlu waktu lama, masakannya telah selesai. Ia menyajikannya ke meja makan. Lalu berjalan menuju kamar ayahnya. Niat Zia ingin membangunkan sang ayah. Namun ketika ia membuka pintu kamar sang ayah, pemilik kamar tersebut tidak ada di dalam. "Ke mana ayah?" batin Zia. Zia keluar dari kamar ayahnya, memeriksa semua sudut ruangan yang ada di rumah. Namun ayahnya tidak ditemukan. Bahkan kamar mandi juga kosong. "Ke mana ayah? Apa dia berjudi lagi? Tapi aku belum memberikannya uang lagi," pikir Zia. Gadis itu pusing. Dia memutuskan untuk sarapan duluan, karena ia masih harus berangkat bekerja. Namun setelah acara makannya selesai, dan ia akan bersiap berangkat ke rumah Vivian. Ayahnya datang. Lelaki tua itu tidak sendiri. Ia bersama dua orang lelaki dengan postur tubuh yang besar dan tinggi. Bahkan pakaian yang mereka pakai berwarna hitam. Sungguh menyeramkan jika Zia lihat. "Ayah dari mana saja? Zia mencari Ayah sedari tadi. Mereka siapa, Ayah?" lirih Zia pada ayahnya yang untungnya masih bisa di dengar oleh lelaki itu. "Jadi ini putrimu? Lumayan juga," ujar salah satu dari dua orang asing itu. Tatapannya kepada Zia seolah ia sedang menilai dirinya. Hal itu membuat Zia marah. Itu tindakan yang tidak sopan. "Jaga sopan santun Anda, Tuan! Anda sedang berada di rumah saya!" hardik Zia. "Tidak perlu basa-basi lagi. Bawa saja dia dan hutangku pada majikan kalian akan lunas." Zia melotot ke arah ayahnya. "Jangan lupa kirimkan aku sisa uangnya nanti malam!" imbuh sang ayah. Zia sangat terkejut. Apa maksud dari ucapan sang ayah? Apakah dirinya dijual untuk membayar hutang-hutang ayahnya? Zia tak habis pikir dengan jalan pikiran ayahnya itu. Jika tidak ada dirinya, maka siapa yang akan mengurus ayahnya? Bahkan Zia rela menolak tawaran yang diberikan Vivian untuk tinggal bersamanya berulang kali hanya demi sang ayah. Namun apa balasan yang ia dapatkan? Ia dijual enta kepada siapa. "Apa maksud Ayah berkata seperti itu? Zia tidak mau ikut bersama mereka, Yah!" tolak Zia keras. "Jangan banyak bicara! Sebaiknya kau ikut dengan kami dan jangan membantah!" ujar salah satu dari dua orang tadi. "Zia tidak mau!" tolaknya lagi. Namun kedua orang itu memaksa Zia. Mereka menarik tangan Zia dan menyeret paksa gadis itu untuk keluar dari rumah. Zia sudah berteriak dan memanggil ayahnya berulang kali. Namun sang ayah hanya diam bergeming. Air mata lolos dari kelopak indahnya. Dengan berat hati ia mengikuti kedua orang tadi. Zia masuk ke dalam kereta kuda bersama kedua orang tadi. Kereta pun berjalan menjauh, meninggalkan pekarangan rumah Zia. Gadis itu mengusap air matanya kasar dengan menggunakan punggung tangannya. "Aku harus kuat! Menangis hanya untuk orang yang lemah," tekan Zia pada dirinya sendiri. Suasana di dalam kereta kuda sangat sunyi. Tak ada yang memulai percakapan baik dari pihak Zia atau kedua orang yang memasksanya tadi. Zia hanya bisa menghela napas pasrah. Dalam benaknya muncul bayangan Vivian. Wanita itu pasti akan marah jika Zia terlambat datang. Dan ia juga pasti akan murka mengetahui Zia telah dijual oleh ayahnya kepada orang asing, entah siapa Zia sendiri pun tidak mengetahuinya. "Hapus air matamu! Sebentar lagi kita akan sampai," ujar salah satu dari kedua orang itu. Zia hanya berdehem menanggapinya. Ia menarik napas dan membuangnya dengan perlahan. Hal itu ia lakukan berkali-kali untuk mengurangi rasa gugupnya. Jujur saja, detak jantungnya sedari tadi sudah mirip seperti atlit lari maraton. Darahnya berdesir. Keringat dingin mulai bermunculan di kening dan juga telapak kanannya. Ia sungguh takut, apagi ia tak tahu sedang berada di mana. Yang pasti sangat jauh dari Sussex, itu yang dia tahu. Karena kereta yang ia tumpangi tidak berhenti setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Namun setelah beberapa menit, laju kuda mulai melambat. Itu artinya ia akan segera sampai di tempat tujuan. Zia turun setelah di dorong paksa oleh orang yang membawanya. Gadis itu terkejut setelah tahu ia di bawa kemana oleh dua orang tadi. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN