Enam : Rumah b****l

1457 Kata
Zia menatap Albert yang tengah tertidur dengan senyum mengejek. "Dasar bodoh!" lirihnya. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengganti gaunnya dengan gaun lain berbahan satin yang tipis. Lalu setelahnya ia ikut tertidur di samping Albert karena kantuk mulai menyerangnya. °°°°°°°°°° Di sini lain, Kenzo menghadiri acara jamuan makan malam yang diadakan oleh keluarganya, semua anggota keluarga hadir di sana, acara yang membuat Kenzo muak dan bosan. Yang ada dipikirannya sekarang adalah rumah b****l milik Madam Melany. Wanita itu mengabarinya jika ada barang baru di sana, dan Kenzo tertarik ingin melihatnya. Namun niat itu tak bisa terlaksana karena acara yang menurutnya konyol ini, berkali-kali ia menghempaskan napas lelah. Ia bosan. Kenzo hanya menyimak para orang tua yang berbicara mengenai usahanya dan hal-hal lain yang mencangkup kekayaan, Kenzo tidak berminat sama sekali. Beberapa kali paman dan bibinya juga menanyakan kapan pemuda itu akan menikah dan memberikan mereka cucu yang lucu. Kenzo hanya tersenyum kecut, jika bukan karena ibunya, ia malas datang ke acara keluarga yang merangkap sebagai ajang pamer. Di keluarga Alastair, hanya Kenzo yang masih melajang. Karena sepupu-sepupunya sudah menikah dan berkeluarga, lalu mereka melanjutkan bisnis yang sudah dijalankan oleh orang tua mereka. Kenzo pamit pada semua orang yang ada di sana, ia bilang jika dirinya sudah mengantuk, sebenarnya sang Marquess, ayahnya tahu jika putranya itu tengah berbohong, namun ia biarkan saja Kenzo pergi dari sana. Kenzo merebahkan dirinya di ranjang yang berukuran king size itu, memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba saja, ia teringat akan Lina, wanita simpanannya selama satu tahun belakangan ini, ia sudah tidak mengunjungi wanita itu selama beberapa bulan, karena wanita itu juga sudah memutuskan untuk pergi dan menemukan pria gemuk lain yang memiliki dompet dengan isi lebih tebal dibanding dirinya. Ia menghembuskan napas, tampak lelah, seharian ini dirinya sibuk berlatih memacu kuda. Pemuda itu memang menyukai hal-hal semacam itu, bahkan ia sering kali berjudi hanya untuk bersenang-senang, tak peduli ia mau kalah atau menang, yang penting semua hal yang ia lakukan dapat menyenangkan dirinya. Sepertinya besok ia benar-benar harus pergi ke rumah b****l milik Madam Melany untuk mengistirahatkan otak sejenak, pekerjaannya yang juga menumpuk membuatnya sedikit sesak. °°°°°°°°°° Sementara Vivian Delbert, wanita uring-uringan hari ini, sejak pagi ia belum melihat batang hidung Zia di rumahnya, padahal rencananya ia akan kembali ke London besok. Namun Zia tidak datang untuk bekerja hari ini, bahkan gadis itu tak memberikan keterangan sama sekali. Vivian marah besar, ia bahkan menyuruh beberapa pekerjanya untuk mendatangi rumah sahabatnya itu, namun ketika sampai di rumah Zia, mereka tak mendapati ada orang di sana. Rumah itu tampak kosong. Bahkan ada papan yang tertancap di samping rumahnya dengan tulisan "Rumah ini dijual" dan hal itu semakin memancing amarah sang Countess of Delbert. Vivian menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk mencari Zia, Vivian yakin jika sahabatnya pasti sedang tidak baik-baik saja. Wanita itu mengetahui seluk beluk kebusukan Chriss dari dulu. Pria tua itu hanya menginginkan harta, karenanya ia menikah dengan ibu Zia, bahkan Zia, anak gadisnya sendiri harus tersiksa karena tinggal bersamanya. Vivian sering kali melihat banyak bekas luka di tubuh Zia, dan hal itu karena kekerasan yang dilakukan oleh sang ayah, Vivian yang prihatin dengan keadaan Zia selalu berusaha membantu gadis itu, namun sayangnya usahanya selalu ditolak secara halus oleh Zia. Chriss juga memiliki banyak hutang dimana-mana. Ia sering berjudi dan berakhir dengan kekalahan, ia juga sering menyewa jalang di luar sana semenjak sang istri meninggal. Vivian semakin cemas. Ia takut jika sesuatu hal yang buruk menghampiri Zia, Vivian sudah menganggap Zia seperti adiknya sendiri, lagipula mereka masih memiliki hubungan darah. Hari sudah larut. Namun Vivian masih tak bisa memejamkan kelopak matanya, ia tak akan bisa tidur dengan tenang jika Zia masih belum ditemukan. Sedangkan Zia? gadis itu kini tengah tertidur pulas di ranjang bersama lelaki asing yang telah menyewanya hingga pagi menyapa. Zia, gadis itu terbangun karena tepukan dari seseorang, ia menoleh ke samping dan mendapati Albert tersenyum ke arahnya. Lelaki itu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, ia bersandar ke kepala ranjang. "Sudah bangun?" tanya Albert ramah. Zia tersenyum. Gadis itu ikut mendudukkan dirinya di samping Albert, merenggangkan tubuhnya seolah-olah ia sangat lelah. "Kalau begitu saya pamit My Lord," ujar Zia. Gadis itu ingin kembali ke kamarnya, namun pemuda itu menghalanginya. "Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian semalam?" tanya Albert penuh selidik pada Zia. Gadis itu hanya tersenyum. "Apa anda lupa My Lord? Bahkan anda bermain dengan sangat baik dan hebat," pujinya pada Albert. "Tapi semuanya hanya dalam mimpimu pria bodoh!" lanjutnya dalam hatinya. "Jika sudah tidak ada yang ingin anda bicarakan, saya akan pamit My Lord." Zia geram sendiri. Dirinya sudah ingin pergi namun selalu ditahan oleh lelaki ini. "Aku menginginkanmu lagi, bagaimana dengan morning kiss?" Albert tersenyum miring, namun jangan lupakan jika Zia adalah gadis yang sangat pandai. Ketika lelaki itu memajukan wajahnya untuk mencium Zia, gadis itu memencet hidung mancung milik Albert hingga pemuda itu kesusahan bernapas. Albert otomatis menjauhkan wajahnya dari Zia, pemuda itu meraup napas sebanyak-banyaknya, Zia mengambil kesempatan itu untuk kabur dari ruangan itu. Zia berlari menuju lantai dua di kamarnya dan mengunci pintu, tak peduli jika Madam Melany akan memarahinya karena meninggalkan dan menolak pelanggan. °°°°°°°°°° Langit sudah berubah warna dari biru menjadi jingga sepenuhnya, mentari mulai menghilang dari langit dan menuju porosnya. Zia kini tengah dirias kembali oleh penata rias untuk bekerja, sudah hampir satu bulan gadis itu bekerja di rumah b****l. Dan banyak pelanggan yang menyewa dirinya, Madam Melany bahkan sampai memberikannya beberapa hadiah karena keuntungan yang diraupnya. Tanpa mereka sadari, Zia sudah menipu mereka semua. Pelanggan-pelanggan Zia tidak pernah benar-benar tidur bersama gadis itu, tentu saja karena Zia selalu memasukkan obat tidur ke dalam minuman atau makanan pelanggannya. Ia hanya memijat pelanggan dan memberikan kecupan kecil sebelum para lelaki yang menyewa terlelap karena pengaruh obat tidur. Dan dengan bodohnya mereka memercayai kebohongan yang terlontar dari mulut manis gadis itu, siapa yang menyangka jika gadis dengan wajah polos dan lugu ternyata memiliki otak yang cerdas? Sebenarnya malam ini, ia ingin istirahat sejenak, namun Madam gila harta itu menyuruhnya untuk turun malam ini. Dengan pasrah ia menuruti kemauan majikan barunya itu, namun Zia resah, obat tidur miliknya sudah mulai menipis. Ia bingung bagaimana caranya agar bisa keluar dan membeli obat itu untuk melancarkan aksinya. Ia sudah memiliki beberapa rencana untuk kabur sebenarnya, namun hal itu tidak bisa terealisasi karena ketatnya penjagaan. "Sudah selesai Zia, lihatlah! Kau semakin cantik setelah melakukan banyak perawatan. Sepertinya pelangganmu sangat banyak, sampai-sampai Madam Melany memberikan perawatan khusus untukmu," puji salah satu perias yang bernama Viena. Zia hanya tersenyum merespon pujian yang dilontarkan padanya. Dirinya melihat pantulan bayangan di cermin, ia memang cantik. Kulitnya yang kusam kini menjadi putih bersinar, bahkan bintik-bintik yang ada di wajahnya mulai menghilang sepenuhnya, kulitnya sangat lembut dan kenyal bila disentuh, ia sangat berterimakasih pada Madam karena hal itu. Kini Zia mengenakan gaun berwarna hitam yang sedikit tipis, gaun polos dan tanpa aksen itu memiliki belahan d**a yang rendah dan mengekspos punggungnya. Setelah selesai merias Zia, kedua perias itu pamit undur diri, sedangkan Zia kembali menyiapkan obat miliknya sebelum turun ke lantai bawah. Malam hampir larut, namun gadis itu masih belum mendapatkan mangsa baru, jadi ia hanya berbincang dengan bartender yang ia kenal di sana. Iya, Louis namanya. Lelaki itu menjalin hubungan pertemanan dengan Zia sejak pertama kali gadis itu menginjakkan kakinya di tempat ini. Namun kejadian mengejutkan terjadi, seseorang datang dan memesan minuman pada Louis, ia duduk di samping Zia. Lelaki itu menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Zia, dan gadis itu menyadari hal itu. Zia menjaga jarak dengan lelaki itu dengan menggeser pantatnya ke sebelah kanan, dan lelaki itu menirukan Zia hingga gadis itu terpojok di kursi paling ujung. Tanpa Zia duga, lelaki di sampingnya itu meremas bongkahan kenyal milik Zia, gadis itu merasa dilecehkan, karena hal itu, dengan spontan Zia menampar wajahnya. "Jaga sopan santun Anda, Tuan!" hardik Zia. Gadis itu menunjuk lelaki tadi dengan jari telunjuknya, tatapan matanya menyiratkan amarah. "Kenapa kau harus memprotes, Sayang? Bukankah hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari untukmu?" Lelaki itu berkata dengan nada meremehkan. "Jaga ucapan Anda, Tuan!" kata Zia marah. Gadis itu geram, namun ia mencoba untuk bersabar, ia sadar jika tingkahnya membuat banyak orang tertarik untuk melihat. Kegaduhan yang terjadi membuat Madam Melany harus turun tangan, wanita itu menarik Zia dan pria yang bersangkutan menuju ke ruangannya. Dan semua hal itu tidak luput dari pengawasan seorang Viscount Kenzo Alastair. Ya, lelaki itu sedari tadi mengawasi pergerakan Zia sejak datang ke rumah b****l, bahkan dirinya terkejut melihat Zia yang notabenya gadis dari keluarga baik-baik bekerja di tempat menjijikan seperti itu. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN