Tujuh : Bertemu Kenzo

1419 Kata
Zia dimarahi habis-habisan oleh Madam karena kejadian tadi. Tentu saja wanita gila harta itu lebih memilih membela pelanggannya, karena mereka adalah sumber uang bagi dirinya. Zia hanya mendengus, gadis itu memprotes karena tak mendapatkan keadilan dari majikannya. Akhirnya Zia keluar dari ruangan itu dengan wajah ditekuk karena kesal, bwnyak orang yang ada di sana saling berbisik dan memandang sinis pada Zia. "Dasar tidak tahu diri! Baru sebentar sudah membuat ulah." "Baru sebulan ada di sini, sudah merasa jadi ratu?" "Berani sekali dia membentak pelanggan setia Madam!" Kurang lebih seperti itu cacian yang mereka lontarkan ke arah Zia, gadis itu mendudukkan dirinya kembali di meja bartender. "Pasti Madam memarahimu ya?" tanya Louis tampak prihatin. Zia mencoba kuat dan tersenyum palsu ke arah Louis. "Tidak masalah." "Kenapa kau harus marah? Itu akan membuat orang lain curiga padamu." Louis menasehati Zia. Hanya lelaki itu yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan pelanggan-pelanggan yang menyewa Zia setiap harinya, Zia memang menceritakan hal itu kepada Louis karena hanya lelaki itu yang ia percaya. Namun baru saja mereka berbincang, salah satu bawahan Madam Melany memanggil Zia dan menyuruhnya untuk masuk ke salah satu kamar VIP yang ada di rumah b****l itu. Ia bilang, ada yang ingin menyewa dirinya. Zia mendengus, hari ini benar-benar hari yang paling menyebalkan untuk dirinya. Zia melangkah menuju ruangan yang dikatakan oleh bawahan Madam Melany tadi, lalu mengetuk pintu perlahan. Sebuah suara mengintruksi dirinya masuk, Zia memutar knop pintu dan membukanya, ia sangat terkejut melihat siapa lelaki yang menyewanya malam ini. Dengan santainya, lelaki itu menatap Zia dan menyuruhnya untuk masuk, Zia menuruti perintah lelaki itu. "Apa yang Anda lakukan di sini Viscount Kenzo Alsatair yang terhormat?" tanya Zia terkejut. Pemuda itu tak menanggapi Zia, ia malah berjalan ke arah pintu dan menguncinya, mengantongi kunci pintu di saku celananya, lalu kembali duduk di tempatnya semula. Selama beberapa menit, mereka berdua terdiam, tak ada yang mau membuka suara. Zia yang dari tadi berdiri, kini merasakan pegal di area kakinya, terlebih ia mengenakan sepatu hak tinggi. "Kau bisa duduk Zia, jangan biarkan kaki jenjangmu pegal," kata Kenzo. Zia menarik salah satu kursi yang ada di sana dan meletakkannya di pinggir ruangan, yang dekat dengan pintu, lalu mendudukkan pantatnya dengan nyaman. Ia sangat ingin melepas sepatu hak itu karena tumitnya sudah terasa sakit, akhirnya ia melepas alas kakinya dan meletakkannya di samping kaki kursi. Zia berharap bisa kabur dari sini tanpa harus mengatakan sesuatu, namun ia akan mencari cara untuk kabur, apapun risiko yang akan ia dapatkan. Kenzo. Lelaki itu sedari tadi hanya mengamati pergerakan Zia dengan mata elangnya, ia sungguh tak menyangka jika barang baru yang dimaksud oleh Madam Melany adalah Zia Elina, saudara jauh Vivian Delbert. Apa yang akan terjadi jika wanita itu tahu sahabatnya berada di sebuah rumah b****l dan bekerja sebagai salah satu jalang kesayangan Madam? Kenzo ingin bermain-main dengan Zia malam ini, pemuda itu penasaran dengan kemampuan Zia dalam urusan ranjang sehingga banyak pelanggan rela mengantre dan membayar mahal hanya untuk menyewa dirinya. "Aku tidak seperti yang kaupikirkan!" Ketakutan mulai menerjang diri Zia, gadis itu tidak ingin terjebak di sini bersama Kenzo. Lelaki yang telah lama memikat hati Vivian, sahabatnya. "Bagaimana kau bisa tahu apa yang kupikirkan?" Kenzo menatap Zia santai, salah satu alis pemuda itu terangkat. "Aku .... " Zia bingung, bagaimana cara menjelaskan segalanya. "Percayalah padaku, aku tidak akan memaksamu, bagaimana jika kita berembuk?" tawar Kenzo pada Zia. "Bernegosiasi," tambahnya. "Negosiasi?" beo Zia. "Apa yang harus kita negosiasikan?" tanya gadis itu. Kata "negosiasi" mengejutkan dirinya. "Tentu saja syarat-syarat penyerahan dirimu untukku." Darah Zia berdesir, ia tak paham apa maksud dari Kenzo. "Baiklah, aku memilih menyerah, jadi bisa bebaskan aku sekarang My Lord?" katanya dengan cepat. "Sepertinya kau tidak paham dengan maksudku, Sayang." Bulu kudu Zia berdiri mendengar kata "sayang" yang keluar dari mulut lelaki itu. "Tidak ada penyerahan sampai kau bersedia memuaskan diriku, sampai kau memohon sentuhanku .... " Kenzo menjeda ucapannya. "Dan juga ciuman dariku," tambahnya. Kepanikan dan ketakutan menjalar ke tubuh Zia, ia tak bisa berpikir jernih sekarang, ia ingin segera keluar dari ruangan yang menyerupai neraka ini. "Tidak, aku tidak bersedia!" ujar Zia lantang. "Aku sudah membayar mahal dirimu. Aku berjanji tidak akan membuatnya terasa menyakitkan." Seulas senyum samar tersungging di mulut s*****l Viscount Kenzo yang anggun. "Bukankah Viscount Kenzo Alastair sangat terkenal memiliki wanita sinpanan yang terkenal sangat cantik di penjuru Inggris?" sinis Zia. "Bagaimana mungkin seorang Viscount Alastair mau merendahkan harga dirinya dengan meniduri wanita yang tidak bersedia?" tambah gadis itu. Kenzo mengamati sosok Zia tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat. Dan Zia mendapat kesan jika pria itu masih menginginkan dirinya. "Kau tidak akan tidak bersedia. Aku sudah membayar mahal untukmu jika kau lupa." Ada ketegasan dan ketenangan dalam nada bicaranya. "Kau sangat meremehkan pesonamu sendiri Miss Zia Elina. Kau tampak cantik malam ini," imbuh lelaki itu. "Kau tidak ingin melakukannya," ujar Zia dengan nada putus asa. Ia sudah menunjukkan kekurangannya pada sosok Kenzo, namun mengapa lelaki itu memaksa? Ia bahkan tak tahu kenapa ia harus menolak lelaki itu. Padahal ia bisa saja menerimanya dan akan menjebaknya sama seperti pelanggan-pelanggannya yang terdahulu. Kenzo berdiri, ia melangkah ke arah Zia dan berdiri di hadapan gadis itu. "Tentu saja aku ingin melakukannya. Aku sudah menunggu waktu ini sejak lama Miss Elleanor," katanya s*****l. Zia menggigit bibir bawahnya. Ia gugup, entah apa yang terjadi padanya, otaknya seolah kosong sekarang. Kenzo menyatukan benda tak bertulang milik mereka berdua. "Untuk ukuran ciuman, ini sangat buruk," batin Kenzo tenang. Zia Elleanor membeku ketika mulutnya tertempel sempurna dengan mulut Kenzo, terlalu terkejut untuk bergerak. Hal itu membuat Kenzo memiliki keuntungan. Di raihnya pinggang gadis itu dan dipaksanya Zia berdiri, menarik tubuh Zia untuk lebih mendekat ke arah Kenzo. Lelaki itu akan merayu mulut Zia terlebih dahulu sebelum gadis itu menyadari apa yang telah dilakukannya. Zia bisa merasakan gairah Kenzo yang membuncah dari ciuman mereka. Sangat mengagumkan, bahkan Kenzo tidak pernah merasa sesenang ini di awal permainan, namun Zia mengubah segalanya. Zia merintih, mengeluarkan suara cemas. Kenzo mengutuk dirinya dalam hati. Ia harus berhati-hati dalam memperlakukan Zia agar gadis itu tidak kabur. Lelaki itu melepaskan ciumannya dengan Zia. Karena gadis itu sama sekali tidak bernapas. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara berulang-ulang. Mengisi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya yang kering. Kenzo terkekeh. Ia tak yakin jika seorang gadis polos seperti Zia adalah jalang kesayangan Madam Melany karena pelayanannya yang memuaskan. Ia menundukkan kepalanya agar sejajar dengan Zia. Menatap mata Zia yang melotot karena amarah. Gadis itu terlalu pendek dari wanita umumnya. Membuat Kenzo sedikit kesulitan. "Akan lebih menyenangkan jika kau mau menutup matamu sayang," ucap Kenzo dengan nada praktis. Bukannya menuruti ucapan Kenzo. Zia malah menutup bibirnya rapat-rapat dan memalingkan wajahnya dari Kenzo. Ia sungguh malu. Kenzo menangkup wajah Zia agar kembali menatapnya. "Kalau begitu buka saja mulutmu!" titah Kenzo dengan nada suara yang tegas. Mata Zia terbelalak. "Kenapa harus?" Ia menatap Kenzo dengan tatapan menantang. Membuat lelaki itu terkekeh. Jujur saja, baru Zia wanita pertama yang berani bertanya dan menentang dirinya. Padahal wanita-wanita lain akan dengan senang hati menuruti semua yang Kenzo perintahkan. "Karena aku ingin menciummu seperti itu!" ketus lelaki itu. Zia membuka mulut. "Aku tidak paham apa yang Anda maksudkan My Lord. Tapi sungguh, Anda harus membiarkan akuー" Kenzo menutup mulut Zia lagi dengan mulutnya. Tubuh Zia menegang. Kenzo tahu bagaimana cara berciuman dengan benar. Ia sangat ahli dalam hal itu. Dan melihat Zia yang sama sekali bergeming dan tersentak membuatnya semakin yakin jika Zia memanglah hanya seorang gadis polos yang terjebak di tempat terkutuk ini. Kenzo ingin berlama-lama menelusuri mulut gadis itu. Ia ingin Zia merespon dan membalas ciumannya. Jadi Kenzo mencoba menggodanya. Namun hal itu gagal. Zia tak paham apa yang Kenzo kode kan untuknya. Lelaki itu menggeram di sela-sela ciumannya. "Balas ciumanku!" Zia menggeleng. Gadis itu bahkan tak tahu cara berciuman yang benar. "Balas ciumanku!" ulangnya dengan nada yang terdengar serak. Astaga, Zia dalam bahaya besar sekarang. Gadis itu bisa merasakan gairah Kenzo yang siap meledak sebantar lagi. Mata Zia melebar. Ia memutus penyatuan bibirnya dengan Kenzo. "Aku ... Aku tidak tahu cara berciuman." Ia mendongak menatap Kenzo dengan tatapan memohon. Ia ingin di bebaskan. Seulas senyum kembali tersungging di wajah Kenzo. "Aku akan mengajarkanmu," katanya. Zia menolak. "Tidak! Untuk apa? Kau hanya perlu membebaskan aku." "Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?" Zia tampak tertarik. Ia ingin tahu kesepakatan macam apa yang akan diberikan Kenzo untuknya. "Jika kau bisa membalas ciumanku dengan baik maka aku akan membebaskanmu," imbuhnya. Zia berpikir sejenak. Lalu mengangguk setuju atas kesepakatan yang dibuat oleh Kenzo. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN