Zia dipanggil oleh Madam Melany hari ini, entah kenapa gadis itu dipanggil lagi ke ruangannya, bukankah masalah yang semalam sudah selesai? Apa ini ada hubungannya dengan Kenzo?
Apa lelaki itu mengadukan segala hal pada Madam Melany? Ah, sial, jika iya maka habislah riwayat Zia.
Tapi bukankah lelaki itu sudah berjanji? Mereka berdua sudah membuat kesepakatan bukan? Zia pusing memikirkannya.
Gadis itu bergegas menuju ruangan sang Madam, padahal matahari saja belum terbit, dan Zia belum cukup tidur.
Zia mengetuk pintu ruangan Madam setelah sampai. "Come in!" Gadis itu membuka pintu setelah mendengar interupsi dari dalam.
"Tutup pintunya!" titah Madam ketika Zia sudah berada di dalam ruangan, gadis itu menurut dan menutup pintunya.
Lalu ia berjalan ke arah Madam Melany, mendudukkan pantatnya di kursi dan bertanya. "Ada apa Madam memanggilku sepagi ini? Bahkan aku belum tidur dengan cukup," keluhnya. Tak ada raut takut yang tergambar di wajah Zia.
Gadis itu justru menatap Madam Melany dengan tatapan ketus. Hanya dia yang berani melakukannya di sana, sementara pegawai yang lain sangat takut dengan wanita itu.
"Kau tidak perlu cemas dengan tidurmu Zia sayang. Karena mulai malam ini kau tidak akan bekerja lagi di sini." Madam Melany bersorak ketika mengatakannya.
Zia membelalakkan matanya terkejut. Benarkah yang dia dengar?
"Aーapa Madam? Anda barusan bilang apa?" Zia tergagap ketika mengatakan hal itu.
"Aku belum selesai bicara, diam dulu!" ketus wanita itu. Zia mengangguk.
"Jadi tadi malam, Viscount Kenzo Alastair menghubungi Madam." Zia melotot mendengarnya. Ia ingin bertanya pada majikannya itu namun niatnya ia batalkan karena ia tahu, Madam Melany belum selesai bicara.
"Dia menginginkan dirimu seutuhnya. Jadi dia membebaskanmu dari sini dengan cara membelimu. Bahkan uang yang ia berikan lebih banyak dari pada hutang ayahmu," imbuhnya sambil tertawa renyah.
Zia menegang, ia tak paham dengan ucapan Madam Melany. "Jadi aku sudah bebas Madam?" Madam Melany menganggukkan kepala.
Zia sangat bahagia mengetahuinya, namun kebahagiaan itu lenyap mendengar lanjutan ucapan Madam Melany. "Ya kau bebas, karena kau akan dijemput untuk tinggal bersama Lord Kenzo di rumahnya."
Bagaikan terkena petir di siang bolong, Zia benar-benar tidak percaya dengan hal yang didengarnya.
Dirinya akan tinggal bersama lelaki yang sudah lama diincar oleh sahabatnya dan lelaki yang ia benci karena sikapnya yang sangat jauh dari kata baik.
Sejak awal mengenal Kenzo adalah suatu kesalahan bagi Zia, tak seharusnya ia mengenal lelaki itu, tak seharusnya ia berbincang dengannya, tak seharusnya ia bertemu bahkan melakukan hal yang tidak etis dengannya.
Namun semua telah terjadi, jarum jam tak mungkin berputar ke kiri. Zia hanya bisa pasrah, ia akan mencari cara untuk kabur dari sana secepatnya setelah sampai.
Zia tidak boleh lemah, ia tak boleh menyerah, namun kenyataan seolah menampar gadis itu. Baru keluar dari lubang buaya dan sekarang ia malah akan masuk ke kandang singa yang lebih menyeramkan tentu saja.
"Perias akan datang ke kamarmu satu jam lagi. Pagi ini bawahan Lord Kenzo akan datang untuk menjemputmu. Jadi bersiaplah!" ungkap Madam Melany.
Dengan wajah ditekuk dan langkah gontai, ia kembali ke kamarnya. Sungguh, ia merasa hidupnya tak akan tenteram jika ia benar-benar akan tinggal bersama seorang Kenzo.
Setelah sampai ke kamar, ia mengambil satu baju di dalam lemari dan meletakkannya di atas ranjang. Setelah itu ia bergegas mandi sebelum perias itu datang.
Hanya lima belas menit, Zia sudah menyelesaikan ritual mandinya. Ia mengenakan gaun panjang dengan lengan yang panjang pula, gaun itu sedikit tertutup.
Zia mengenakan gaun itu untuk berjaga-jaga. Karena di rumah Kenzo pasti akan banyak pekerja terutama laki-laki. Ia hanya tak ingin dipandangi dengan tatapan tak senonoh orang lain.
Zia menunggu selama kurang lebih dua puluh menit sebelum para perias datang ke kamarnya. Kini gadis itu tengah di rias oleh tiga orang sekaligus.
"Zia kau sangat beruntung," ujar wanita yang tengah menata rambutnya.
"Apa yang membuatmu bisa berasumsi seperti itu? Aku bahkan adalah wanita tersial sepanjang sejarah Inggris," cemberut gadis yang tengah dirias itu.
"Tentu saja kau sangat beruntung, Sayang. Lihatlah! Viscount Kenzo yang sangat terkenal itu bahkan merelakan banyak uang hanya demi dirimu!" sahut wanita yang tengah merias wajahnya.
"Ya, seharusnya kau bersyukur bisa keluar dari tempat terkutuk seperti ini." Kini perias yang tengah merawat kukunya yang berbicara.
"Apa yang harus aku syukuri? Mengingat fakta bahwa aku adalah seorang b***k sekarang." Zia tampak lesu ketika mengatakannya.
Hal itu membuat para perias jengkel sekaligus kasihan padanya. Mereka jengkel karena Zia terlalu munafik. Seharusnya gadis itu senang karena bisa bersama sang Viscount, Kenzo Alastair. Bahkan wanita lain rela menggantikan posisinya.
Namun di sisi lain mereka iba pada Zia. Karena gadis itu sepertinya mengalami tekanan batin. Butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri di tempat terkutuk seperti ini. Tempat yang selalu di anggap rendah dan menjijikan oleh orang lain.
"Sudah selesai, Zia. Lihatlah kau sungguh cantik!" ujar perias yang memoles wajahnya.
Zia menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia memang cantik sekarang. Kulit putih, lembut dan bersinar. Namun bola matanya yang berwarna biru keunguan tampak redup di sana. Tak ada binar kebahagiaan yang terlihat.
Zia hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Ia memaksakan senyum pada ketiga perias yang telah bekerja keras membantunya lalu mengucapkan terimakasih.
Setelahnya ketiga perias itu membereskan barang-barangnya dan pamit pergi dari kamar Zia.
Zia masih termenung di depan meja rias. Beberapa menit kemudian Madam Melany datang untuk membawanya turun.
"Zia, ayo! Utusan Lord Kenzo sudah sampai. Mereka akan membawamu ke rumah Lord Kenzo," titahnya.
Madam Melany menggandeng Zia turun ke bawah. Dan benar saja, di sana sudah ada dua kereta kuda yang terlihat sangat mewah.
Salah satu pria di sana mendekati Zia dan Madam Melany.
"Perkenalkan, saya adalah Alward. Saya utusan Viscount Kenzo untuk menjemput Anda, Nona Zia Elina." Setelah memperkenalkan diri, pemuda bernama Alward itu membungkukkan badannya sopan selama beberapa detik.
Zia hanya menanggapinya dengan senyum. Lalu Alward membimbing Zia untuk masuk ke dalam kereta kuda. Setelah masuk, Alward juga ikut masuk ke dalam. Dan setelahnya kereta kuda melesat dengan cepat meninggalkan rumah b****l Madam Melany.
Selama dalam perjalanan, Zia hanya diam. Suasana sangat sunyi dan canggung.
"Maaf, Tuan, bisakah kau membawaku lari saja? Aku tidak ingin menjadi b***k dari lelaki yang tidak mengenal adab seperti Kenzo itu," ujar Zia mengawali percakapan.
"Maaf, Nona, tapi My Lord hanya menugaskan saya untuk menjemput Anda dan membawa Anda ke kediaman Lord Kenzo," jawab lelaki itu kaku.
Zia menghembuskan napas kasar. "Anda sudah lama bekerja dengan pria tak berperasaan itu?" Zia bertanya untuk mengurangi kecanggunggan diantara mereka.
"Saya bekerja dengan Lord semenjak usia saya delapan belas tahun, Nona. Percayalah, Lord Kenzo adalah orang yang baik. Hanya saja faktor dari luar yang membuatnya menjadi seperti itu." Zia menyimak apa yang dijelaskan oleh Alward. Namun entah kenapa ia tak mempercayai kata-kata lelaki itu.
"Kapan kita akan sampai?" Zia aktif bertanya. Karena lelaki bernama Alward itu sangat kaku dan pendiam.
"Anda tidak tahu di mana kediaman Lord Kenzo?" Alward membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang tak mengetahui rumah seorang Viscount Kenzo Alastair? Bahkan banyak wanita entah itu gadis bahkan yang sudah bersuami serng berkunjung ke sana hanya untuk mengoda Kenzo.
Zia hanya menggeleng pelan. Dirinya hanyalah gadis desa. Dan letak desanya sedikit jauh dengan kota London. Ia hanya tahu kediaman Vivian saja di kota itu.
"Kediaman Lord Kenzo berada di Keningston Courtenay, Nona. Mungkin sebentar lagi kita akan sampai."
Zia melotot. Apa? Keningston Courtenay? Perumahan elit dan termahal di London. Zia sebenarnya tak terlalu terkejut mengetahui Kenzo tinggal di kawasan yang elit dan mahal.
Yang dirinya tak sangka adalah. Dia juga akan tinggal di sana. Dan lagi, kediaman Vivian tak jauh jaraknya dari Keningston Courtenay. Ia bisa saja membuat rencana kabur dari kediaman Kenzo dan menginap di rumah Vivian sambil menyusun rencana akan pergi ke mana selanjutnya.
Laju kereta kuda melambat. Sepertinya akan segera sampai. Dan benar saja, beberapa menit kemudian kereta itu berhenti.
Alward turun dari kereta kuda terlebih dahulu setelahnya ia membantu Zia untuk turun. Lelaki itu sangat sopan. Zia berterimakasih setelahnya.
Alward menggiring Zia masuk ke dalam rumah Kenzo. Suasana rumah tampak ramai karena banyak pekerja.
Zia melihat sekeliling. Bangunan rumah sangat luas dan mewah. Terdapat taman yang sangat indah di depan dan di samping rumah. Warna putih mendominasi bangunan.
Zia berjalan masuk bersama dengan Alward. Pelayan di sana tampak acuh tak acuh dengan kedatangan Zia dan Alward. Terbukti mereka masih tetap sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Enggan menyapa kedua orang itu.
Ya, memang sudah menjadi tradisi sebenarnya jika pelayan tak ada yang menyapa tuan rumah. Karena mereka menganggap hal itu kurang sopan.
"Mari saya antarkan Nona ke kamar Anda," ujar Alward ramah.
Lelaki itu berjalan terlebih dahulu dan Zia mengekor di belakangnya. Mereka menaiki tangga marmer rumah Kenzo menuju ke lantai dua.
Setelahnya sampai, Zia mengistirahatkan diri di kamar.
TO BE CONTINUE