"Selamat istirahat Nona, Lord Kenzo pulang bekerja ketika sore hari, jadi Anda masih memiliki waktu untuk beristirahat sebelum makan malam." Zia hanya mengangguk mengerti.
Gadis itu masuk ke dalam kamar, setelahnya Alward keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.
Zia memang sedikit lelah setelah perjalanan panjang. Apalagi kereta kuda bergerak dengan cepat hingga menimbulkan goncangan yang membuat Zia sedikit pusing.
Ia menghempaskan dirinya ke ranjang berukuran king size itu. Kasurnya sangat empuk, jelas berbeda dengan kasur di rumah lamanya.
Ia jadi merindukan rumah lamanya. Ia teringat akan Vivian, bagaimana kabar wanita itu? Apakah ia baik-baik saja?
Zia hanya bisa menghembuskan napas kasar, ia ingin tidur, namun berbagai pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya membuatnya tidak bisa tidur.
Akhirnya ia memilih untuk membersihkan diri saja. Beranjak dari ranjang berukuran besar itu dan mengarahkan langkah ke kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.
Ia takjub akan desain kamar mandinya. Sangat luas. Bahkan terdapat bathup yang lumayan besar di sana. Terdapat berbagai alat perawatan diri di sebuah meja. Warna abu-abu mendominasi kamar mandi.
Ia menyalakan kran air panas untuk mengisi bathup. Setelah terisi ia mematikan kran air panas dan menyalakan kran air dingin.
Menunggu beberapa menit dan mencelupkan tangannya ke dalam bathup. Setelah dirasa suhu airnya pas, ia mematikan kran air.
Menanggalkan pakaiannya perlahan lalu mulai menceburkan diri ke dalam bathup. Berendam di sana sebentar untuk merileksasikan diri. Menenangkan pikiran sejenak dari semua masalah yang ada.
Zia merasa badannya kembali segar setelah mandi. Ia mencoba beberapa alat perawatan dan kecantikan yang tersedia di sana. Memakainya satu per satu lalu setelahnya keluar dari kamar mandi.
Ia lupa jika dirinya pergi tanpa membawa sehelai pakaian dari rumah Madam Melany. Dirinya masih terbalut handuk baju.
Melangkahkan kaki menuju lemari baju dan membukanya. Zia sangat terkejut. Banyak sekali pakaian wanita yang tersimpan di lemari itu.
Zia mengambil salah satu dan memakainya. Ia tampak anggun dengan balutan gaun berwarna merah muda. Meskipun sederhana, ia tetap terlihat memukau.
Ia bosan setengah mati berada di dalam kamar. Entah sudah berapa jam dirinya hanya duduk termenung di ruangan itu.
Ia keluar dari kamar, mungkin jalan-jalan sebentar akan membuat perasaannya kembali membaik.
Baru saja menuruni beberapa anak tangga. Zia dikejutkan oleh suara seorang lelaki. "Mau kemana, Nona?"
Zia menoleh, ternyata Alward. Gadis itu berbalik. "Sekedar jalan-jalan, aku bosan ada di kamar terus," ucap Zia. Tatapan gadis itu menyiratkan sebuah permohonan pada Alward.
"Mari saya temani Anda berkeliling rumah," tawar lelaki itu. Ia menggandeng tangan Zia menuruni anak tangga.
Mereka berkeliling ke setiap sudut bangunan itu. Zia agak pusing karena banyak ruangan dan pintu. Namun ia harus menghapalnya sedikit demi sedikit jika ingin menjalankan rencana kaburnya.
Banyak pegawai tersebar dimana-mana. Zia meringis melihatnya, sepertinya akan sulit keluar dari rumah Kenzo tanpa sepengetahuan pegawainya.
Alward dan Zia berjalan mengelilingi taman di samping rumah. Terdapat gazebo dan taman bunga di sana. Sepertinya akan sangat cocok mengadakan acara minum teh di sore hari di sana, sambil berbincang ringan dan menatap hamparan taman bunga.
Zia terseyum kecil membayangkannya. "Dasar gadis bodoh, memangnya siapa yang mau menemani dirimu dalam acara minum teh?" batinnya geli.
Alward yang melihat Zia melamun menyadarkan gadis itu. Zia tersentak karena terkejut.
"Apa yang Anda pikirkan, Nona?" tanya Alward penasaran.
"Tidak, aku hanya berpikir ingin minum teh dan berbincang ringan di gazebo itu. Pasti akan menyenangkan," jawabnya. Gadis itu terkekeh pelan.
"Tunggu dulu di sini, Nona, saya akan segera kembali." Tanpa diduga lelaki itu meninggalkan Zia sendirian dan masuk ke dalam rumah.
Zia hanya mengendikkan bahu lalu berjalan menyusuri hamparan taman bunga. Beberapa bunga tampak mekar dengan indah. Juga tanaman rambat yang tumbuh subur.
Pegawai di rumah ini sangat pandai dalam merawatnya. Zia berjongkok dan membelai beberapa bunga. Setelahnya ia melanjutka langkah menuju gazebo.
Hari mulai gelap. Warna jingga memenuhi langit. Zia duduk di pinggir gazebo dan memainkan kakinya karena bosan.
Beberapa menit kemudian, Alward datang bersama dua orang wanita. Dua wanita itu membawa nampan dengan isi masing-masing adalah teko, cangkir dan beberapa cemilan.
Zia tak menyangka jika Alward akan mewujudkan bayangannya.
Lelaki itu menyuruh pelayan untuk meletakkan nampan yang mereka bawa ke meja yang terletak di depan gazebo.
Setelahnya Alward menyuruh kedua pelayan tadi untuk pergi.
"Silakan dinikmati teh dan kuenya, Nona." Senyum tersungging di wajah tampan Alward.
Zia mengucapkan terima kasih dan mengajak Alward untuk ikut minum teh bersamanya.
Mereka berbincang-bincang ringan mengenai kehidupan pribadi dan hal-hal lainnya.
Zia sangat senang. Ia jadi mengetahui beberapa fakta tentang Alward.
Ternyata lelaki itu sangat ramah dan penyanyang. Sayangnya sikap itu hanya ditunjukkannya pada orang-orang terdekat. Ia cenderung pendiam dan pasif. Harus dipancing terlebih dahulu agar mau memulai obrolan.
Perut Zia mulai keroncongan. Tentu saja, sejak pagi ia belum mengonsumsi sebutir beras pun. Gadis itu menghabiskan cemilan yang tersedia di meja.
Alward yang melihat gerak-gerik Zia akhirnya paham jika gadis itu tampak lapar.
Alward ingin membawakan makanan untuk Zia, ia kasihan melihat Zia yang tampak kelaparan. Namun jam makan malam masih lama. Pelayan pasti belum selesai menyiapkan makanan.
"Wah sepertinya ada yang bersenang-senang tanpa aku." Sebuah suara terdengar keras di taman. Membuat dua manusia yang tengah asik berbincang menoleh.
Zia terkejut melihat Kenzo yang tengah berdiri tepat di hadapannya. Lelaki itu tampak menjulang tinggi untuk Zia yang berpostur pendek.
Alward menundukkan kepalanya sebentar untuk menyapa Kenzo. Namun tidak dihiraukan oleh sang lelaki.
"Alward bilang jika Anda akan pulang sebelum makan malam. Tapi kenapa sudah sampai rumah?" tanya Zia.
Kenzo mendengus. "Tentu saja untuk bertemu dengan ratu baruku." Kenzo mengedipkan sebelah matanya pada Zia setelah mengatakan kalimat itu.
Zia yang melihatnya hanya berkspresi biasa. Padahal dalam hatinya ia sangat ingin mengacak-acak lelaki tampan yang ada di hadapannya itu. "Aku mual mendengarnya."
"Ikut aku!" titah Kenzo pada Zia.
"Tapiー"
"Tidak ada penolakan!" Ucapan Zia di potong oleh Kenzo.
Gadis itu menatap Kenzo dengan tatapan permusuhan. Memotong pembicaraan orang lain tanpa permisi adalah adab yang buruk. Seharusnya keturunan bangsawan mengetahui hal sekecil itu. Namun ternyata Kenzo tidak. Sepertinya pria itu hanya diajarkan bagaimana mengurus bisnis keluarganya dan cara bermaij wanita.
Dengan sangat terpaksa, Zia mengikuti langkah Kenzo yang sudah mulai menjauh dari taman. Gadis itu menatap Alward dengan tatapan menyesal. Alward menganggukkan kepalanya yang berarti ia baik-baik saja dan tak perlu mengkhawatirkannya.
Kenzo menggebrak pintu kamar miliknya hingga tertutup. Zia terkesiap karena ulah lelaki itu. Ya, kini mereka sudah berada di dalam kamar Kenzo.
Lelaki itu mendekati Zia perlahan. Mencengkeram lengan Zia dan berbisik tepat di depan wajahnya. "Jangan terlalu dekat dengan Alward!"
Zia dapat merasakan hembusan napas Kenzo di wajahnya. Mata gadis itu terpejam. Jemari Kenzo bergerak menelusuri wajah cantik milik Zia. Mulai dari pelipis, tulang pipi, bibir dan dagu.
Zia sedikit menggeliat karena geli. Gadis itu kembali membuka kelopak matanya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah mata elang milik Kenzo.
Mereka berdua saling bertukar pandang selama beberapa saat. Merasa terpikat akan pesona masing-masing.
Zia merasa ada banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Sebuah gejolak aneh hingga dalam tubuhnya ketika bertatapan dengan Kenzo.
Perlahan tapi pasti, wajah Kenzo mulai mendekat ke arah Zia. Gadis itu panik. Dan dengan cepat ia mendorong wajah Kenzo agar menjauh dengan sebelah tangannya.
Cengkeraman tangan Kenzo pada salah satu lengan Zia mengencang. Lelaki itu sungguh tak menyangka reaksi yang diberikan oleh Zia padanya.
"Kenapa kau menolakku? Aku adalah Tuanmu jika kau lupa," ketus lelaki itu.
"Maaf, saya .... " Zia menghembuskan napasnya.
"Saya benar-benar tidak mengerti maksud Anda, My Lord. Kenapa Anda mau repot-repot mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli saya?" Zia mengalihkan pembicaraan.
Mana mungkin ia mengatakan jika dirinya sebenarnya belum pernah melakukan hal itu selama bekerja di rumah Madam Melany. Itu adalah hal privasi miliknya.
"Aku hanya penasaran. Mungkin aku bisa memainkanmu sebelum menemukan hal baru yang lebih seru?" Nada bicara Kenzo terdengar seolah dirinya sedang bertanya dibanding menjelaskan pernyataan.
Emosi Zia tidak bisa dibendung lagi. Apa-apaan maksud lelaki itu berkata demikian? Itu sangat menginjak harga dirinya sebagai wanita dari keluarga baik-baik.
Zia memberontak. Ia mencoba melepaskan cengkeraman Kenzo di lengannya. Namun gagal.
Kenzo yang tidak suka dibantah langsung menghempaskan tubuh kecil Zia ke atas ranjang dengan kasar.
Gadis itu merintih, merasakan sakit di punggungnya. Kenzo ikut menghempaskan dirinya ke atas kasur dan menindih Zia.
"Kau adalah milikku. Dan aku tidak suka dibantah!" tegasnya. Tatapan matanya yang tajam membuat Zia sedikit menciut. Merasa terintimidasi.
Setelah mengatakan hal itu, Kenzo kembali mencium bibir Zia. Bibir yang menjadi candunya sejak semalam setelah ia merasakannya.
Zia menutup matanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ingin menolak, namun tak bisa dipungkiri jika kemampuan berciuman Kenzo adalah yang terbaik menurutnya.
TO BE CONTINUE