Sepuluh : I'am Not a b***h

1443 Kata
Kenzo melepaskan pagutan bibirnya, ingin sekali lelaki itu menerkam Zia, namun suara ketukan pintu membuatnya mau tak mau harus membukanya. Ia berjalan dan membuka pintu kamar. Terlihatlah wanita pelayan yang usianya sekitar empat puluh tahunan itu menunduk memberikan hormat pada Kenzo. "Maaf My Lord, makan malam sudah siap," ujarnya. Kenzo hanya berdehem. Lalu ia menyuruh pelayan tadi pergi dan kembali mendekati Zia yang masih setia berbaring di kasur. "Pergilah! Sebentar lagi kita akan makan malam," titah Kenzo. Zia dengan cepat beringsut turun dari ranjang dan berlari kecil keluar dari kamar Kenzo. Lelaki itu terkekeh geli melihat tingkah Zia yang seperti anak kecil. Kenzo masih bergeming di tempatnya, ia menyentuh bibirnya sendiri, bibir yang ia gunakan untuk mengecap bibir Zia tadi. Bahkan rasa bibir gadis itu masih terasa baginya. Ia tersenyum miring sambil menggosok pelan bibirnya dan berjalan menuju ke kamar mandi. "Haruskah aku lakukan malam ini?" pikirnya nakal. Setelah selesai mandi dan bersiap-siap. Kenzo berjalan menuju ruang kamar Zia yang berada di sampingnya. Membuka pintu kamar gadis itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Zia terperanjat karena kaget, gadis itu sampai mengelus dadanya. "Ayo turun!" titah Kenzo. Zia menurut. Mereka berjalan berdampingan menuju ruang makan, bahkan Kenzo menggandeng lengan Zia dengan romantisnya. Semua pelayan menatap kedatangan mereka, Zia sedikit risih dengan hal itu. Karena sudah belasan tahun dirinya tak diperlakukan seperti itu. "Ada apa dengan lelaki ini? Tadi sangat kasar, tapi sekarang?" Zia pusing memikirkannya. Tapi, lagi pula untuk apa ia memikirkan lelaki kejam seperti dirinya. Zia dan Kenzo makan dalam diam, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang mengisi kosongnya ruang makan. Zia masih saja merasa risih, gadis itu berulang kali melirik para pelayan yang masih setia berdiri di ruangan. Kenzo yang sedari tadi memahami gerak-gerik aneh Zia hanya tersenyum miring. Tak ada niatan untuk membantunya sama sekali. Akhirnya acara makan selesai. Kenzo langsung menarik tangan Zia dan membawa gadis itu keluar dari ruang makan. "Aw lepaskan! Anda sangat kasar Lord Alastair," keluh Zia. Pergelangan tangan gadis itu memerah karena cekalan Kenzo. "Diam!" tegas pemuda itu. Tidak menghiraukan rintihan kesakitan Zia, ia terus saja menarik gadis itu menuju lantai dua. Jujut saja Zia sangat takut. Belum pernah ia berhadapan dengan lelaki macam Kenzo Alastair. Dengan kasar, Kenzo membuka pintu kamar Zia hingga gadis pemilik kamar terkesiap akibat terkejut. Benar-benar lelaki yang tidak sopan. Zia langsung di dorong ke tembok setelah pintu tertutup. Gadis itu menahan napasnya beberapa saat karena tindakan tiba-tiba yang dilakukan Kenzo. "Apa yang ingin Anda lakukan terhadap saya?" cicit Zia. Ia sedikit takut, hanya sedikit. Kenzo mendesis. Pemuda itu meneliti Zia dengan matanya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Zia yang mendapat tatapan seperti itu dibuat risih. Kenzo mulai mengelus wajah Zia secara perlahan. Entah kenapa memandang wajah Zia sangat menyenangkan baginya. Mata Zia yang indah dan berbinar membuatnya betah memandangi gadis itu. Tangan Kenzo mulai turun dari wajah Zia menuju bahu. Mencengkeram pelan bahu gadis itu, lalu turun kembali sampai ke jemari tangannya. Kenzo meraih jemari tangan Zia lalu mendekatkannya ke bibirnya. Mengecup punggung tangan gadis itu. Kembali menatap Zia dengan senyum manis yang belum pernah ia perlihatkan pada siapa pun. Za bergidik, gadis itu mendorong Kenzo dengan kedua tangannya hingga lelaki itu terjungkal ke belakang. "Beraninya kau mendorong seorang Viscount Alastair!" bentak Kenzo pada Zia. Zia sampai harus menutup matanya karena terkejut dengan suara bentakan yang keluar dari mulut Kenzo. Kenzo menarik Zia secara paksa dan mendorong gadis itu ke ranjangnya dengan kasar. Kenzo perlahan mendekat. Namun Zia dengan gesit langsung turun dari ranjangnya. Kembali mendorong Kenzo agar menjauh. "Jangan sentuh aku!" teriak Zia. "Shut up! You're just a bitch." Dengan mata berapi-api Kenzo membentak Zia. Lagi. "I'am not a b***h! Remember that!" jerit Zia kesal. Ia masih memiliki harga diri yang tinggi meskipun pernah tinggal di rumah b****l milik Madam Melany. Zia melangkah mendekati pintu dan membukanya. Berlari menjauh dari Kenzo. Lelaki itu sangat menakutkan baginya. Zia tidak sanggup harus hidup seperti ini terus. "Astaga, apa dosaku di masa lalu, Tuhan? Dan kenapa juga harus lelaki macam monster seperti itu yang disukai oleh sahabatku?" batinnya resah. Kenzo dengan cepat menyusul Zia. Lelaki itu kini ada di hadapan Zia. Kakinya yang panjang memudahkan dirinya menyusul langkah pendek gadis itu. "Jangan mendekat!" Sekali lagi, Zia memperingatkan Kenzo. Namun lelaki itu semakin mendekatinya. Zia memundurkan langkah. Gadis itu terjebak sekarang. Ia sudah tak bisa melangkah mundur lagi. Karena jika iya, maka dirinya akan terjatuh dari lantai dua. "Bagaimana jika aku menolak?" Senyum samar terlihat di bibir lelaki itu. "Aku ... Aku akan melompat dari sini!" ancam Zia. Gadis itu terlalu kalut hingga tidak sadar apa yang ia ucapkan. "Kalau begitu, melompatlah!" Kenzo malah makin memanasi gadis itu. "Aku tidak bercanda!" jeritnya saat melihat Kenzo semakin mendekat ke arahnya. "Coba saja!" tantang Kenzo. Kini lelaki itu telah benar-benar ada di depan Zia. Menjulang tinggi hingga Zia harus mendongak untuk melihatnya. Zia menatap Kenzo dengan tatapan memohon. Namun lelaki itu hanya menatapnya datar. Lalu terkekeh geli. Entah kenapa melihat senyum yang tersungging di bibir Kenzo membuat Zia semakin gugup. Ada getaran-getaran aneh yang menjalar di tubuhnya ketika melihat hal itu. Apa dia .... Namun segera ia buang pikiran konyol itu jauh-jauh. Tidak mungkin jika Zia memiliki perasaan pada lelaki kejam seperti Kenzo. Zia semakin takut. Dengan nekat, ia berbalik lalu bersiap melompat. Namun lengannya dicekal oleh Kenzo. "Jangan menyentuhku!" Zia mengibaskan tangannya agar terlepas dari cekalan Kenzo. "Benarkah? Kau ingin aku melepasmu?" tanya Kenzo. Lelaki itu menjilat bibirnya sendiri, berusaha menggoda Zia. Gadis itu meneguk salivanya lalu menggigit bibir bawahnya karena gugup. Kenzo mencoba melepas cekalan tangannya pada Zia dengan main-main dan sedikit mendorong gadis itu agar ia merasa takut. Zia ingin berteriak dan meminta agar Kenzo tidak melepaskan dirinya. Ia tidak ingin mati sia-sia karena terjatuh. Namun karena ego dan gengsi yang tinggi, yang keluar dari mulut Zia hanyalah kalimat u*****n. Gadis itu menyuruh Kenzo agar melepaskan dirinya. Dan yang membuatnya terkejut adalah Kenzo benar-benar melakukan permintaannya. "Baiklah." Kenzo benar-benar melepas cekalan tangannya pada Zia. Membuat gadis itu terjatuh sungguhan dari lantai dua. Zia berteriak, "Kenzo sialan!" Gadis itu terkejut karena Kenzo sedikit mendorongnya ketika melepaskan cekalan tangannya. Ia menutup matanya, terlalu takut melihat ke bawah. Dirinya mengumpati sikap dan tindakan bodoh yang ia lakukan. Namun beberapa detik ia menutup kelopak maniknya, tak terjadi hal apapun. Ia tak merasakan tubuhnya sakit akibat terjatuh. Dengan pelan ia membuka matanya, satu per satu. Zia terkejut karena dirinya kini telah berada di gendongan seorang lelaki yang tak lain adalah Alward. Ia bersyukur karena lelaki itu telah menolongnya. "Anda baik-baik saja, Miss?" tanyanya sopan. Lengannya masih setia memegang erat tubuh Zia agar tak terjatuh. "Aku baik-baik saja, terima kasih, Tuan Alward," ujarnya. Kenzo turun dari lantai dua. Wajah lelaki itu tertekuk karena sebal. "Lepaskan gadis itu!" tegasnya pada Alward. Lelaki itu menganggukkan kepala mengiyakan perintah Kenzo lalu menurunkan Zia dengan perlahan. "Untuk apa kau menyelamatkan nyawanya?" bentak Kenzo pada asisten pribadinya itu. "Miss Elleanor bisa terluka parah dan bahkan meninggal jika saya tidak menolongnya My Lord," jelas Alward. Namun Kenzo tampak tak terima dengan jawaban sang asisten. "Dia sendiri yang menginginkan kematiannya dan berusaha melompat dari lantai dua, untuk apa kau peduli?" dengus Kenzo. Tatapan matanya yang mengarah pada Zia menyiratkan jika lelaki itu akan mengibarkan bendera permusuhan dengan sang gadis. Dan Zia juga membalas tatapan sang lelaki tak kalah sengitnya. Gadis itu memprotes. Ia berkata pada Alward jika dirinya di dorong oleh Kenzo. Namun lelaki itu hanya diam tak menanggapi ocehan Zia. Zia memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya meninggalkan kedua lelaki itu. Kenzo yang hendak menyusulnya di tahan oleh Alward. Asisten pribadinya itu menasehati dirinya jika Zia perlu waktu untuk sendiri. Dan entah kenapa, Kenzo langsung menurutinya. Alward tersenyum melihat tingkah Zia dan Kenzo yang seperti anak-anak. Tak biasanya majikannya itu bersikap baik pada wanita yang ia bawa pulang atau wanita simpanannya. Alward hanya berdoa jika Zia adalah wanita terakhir yang akan menemani Kenzo dan membimbing lelaki itu menjalani kehidupan yang benar. Tidak hanya berjudi, bermabuk-mabukan dan bermain wanita. Meskipun pekerjaannya tetap ia selesaikan secara profesional. Kenzo berjalan masuk ke kamar pribadinya. Entah kenapa suasana hatinya cepat berubah hari ini. Terbesit wajah Zia di kepala pemuda itu. "Ada apa denganku? Kenapa aku memikirkannya? Tidak! Dia hanya mainanku, just a b***h," batinya meyankinkan dirinya sendiri. Melihat Zia ditolong oleh Alward tadi membuat dadanya sesak. Entah kenapa ia sangat protektif pada gadis itu. Ia tak suka jika mainan miliknya di sentuh oleh lelaki lain. Hanya dirinya yang boleh memiliki Zia, menyentuh gadis itu dan bersama gadis itu. Tak ada yang lain. "Aku akan membuatmu benar-benar menjadi milikku seutuhnya, Zia Elleanor!" lirihnya. "Apapun caranya!" Ia terkekeh geli setelahnya. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN