Hari ini Zia dirias dengan sangat cantik oleh tiga perias yang dimiliki oleh Kenzo, rntah apa yang terjadi pada lelaki itu hingga bersikap baik padanya.
Sejak dari tadi, Kenzo bersikap lemah lembut pada Zia, tak ada bentakan, amarah dan paksaan seperti hari-hari yang lalu.
Zia hanya bisa menghela napas lega. Jika Kenzo terus menerus bersikap baik, mungkin dirinya bisa hidup tenang di rumah mewah ini.
"Sudah selesai, Miss Elleanor," ujar salah satu perias.
"Cukup panggil aku Zia saja." Zia tersenyum ketika mengatakannya. Ketiga perias tadi mengangguk mengiyakan permintaan Zia.
"Kalau begitu, kami pamit, Miss." Ketiga wanita itu menundukkan badan sebagai penghormatan terhadap Zia, lalu keluar dari ruangan setelah mendapat izin dari gadis yang mereka rias.
Entah kenapa Zia menjadi gugup, ia mengibaskan jemari tangannya beberapa kali karena mendadak terasa kram ringan. Sepertinya kerja jantungnya meningkat dua kali lipat daripada biasanya.
Ia terlihat sangat anggun dengan balutan gaun berwarna merah muda dengan tali spageti, riasan wajahnya yang natural menambah nilai plus pada penampilan gadis itu sore ini.
Ia menggigit kuku jarinya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar, menunggu sang pria datang menjemputnya.
Lalu suara ketukan dari pintu membuat Zia menghentikan aktivitasnya dan berjalan mendekat.
Ia buka pintu kamarnya. Terlihatlah Kenzo Alastair yang tengah berdiri di depan pintu. Ia sangat tampan dengan balutan tuxedo hitam dan celana berbahan kain dengan warna senada. Kemeja putih tampak cocok dipadukan dengan tuxedo itu.
Zia terkesima melihat penampilan Kenzo sore ini. Rambut lelaki itu ditata begitu rapi. Tidak seperti biasanya, yang hanya dibiarkan berantakan.
"Selamat sore, My Queen!" sapanya ramah.
Bukannya malu karena mendapat sapaan manis, gadis itu malah mengerutkan kening, bingung dengan perubahan sifat Kenzo yang hanya dalam semalam.
Zia ingin membuka suara dan bertanya, namun Kenzo mendahuluinya. "Ayo, kita bisa terlambat jika tidak bergegas!"
Kenzo mengulurkan tangannya. Dengan sedikit ragu, Zia mengambil uluran tangan Kenzo.
Tanpa diduga, Kenzo menarik tangan Zia dan membuat posisi mereka saling berdekatan.
Tak ada jarak diantara mereka. Bahkan dahi mereka saling menempel. Kenzo memejamkan matanya dan menghirup aroma Zia dalam-dalam.
Zia hanya membelalakkan matanya. Tubuhnya menegang. Namun gadis itu tidak menolaknya, ia membiarkan Kenzo melakukan apapun yang ia suka.
Namun pemuda itu tak melakukan apapun selama beberapa detik. Lalu Kenzo menjauhkan dirinya dari Zia. Ia berbisik tepat ke telinga gadis itu. Membuat Zia mengeryit geli karena deru napas pemuda itu mengenai lehernya.
"Kau tampak cantik, Sayang," pujinya lewat bisikan.
Zia hanya bisa menunduk, tersipu malu. Wajahnya mungkin sudah memerah saat ini karena perubahan emosi yang tiba-tiba.
Kenzo hanya tertawa melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Zia. "Benar-benar gadis yang polos," batinnya tersenyum licik.
Kenzo melingkarkan tangan Zia ke lengannya dan mereka bergegas turun dari lantai dua.
"Kita akan ke mana?" tanya Zia. Gadis itu sedari tadi menggigit bibir bawahnya karena gugup.
"Jangan banyak tanya!" ketus Kenzo. Zia mengerucutkan bibirnya. Baru saja ia bertingkah romantis, tapi lihatlah sekarang! Kembali dingin dan tak berperasaan.
Zia hanya mengikuti langkah Kenzo sampai ke pintu utama. Tunggu! Pintu utama? Apa artinya Kenzo akan membawa Zia pergi ke luar? Jika iya, maka gadis itu tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk kabur.
Hatinya berbunga-bunga memikirkan dirinya akan segera bebas dari belenggu yang mengurungnya.
Dua pelayan membukakan pintu untuk Kenzo dan Zia. Gadis itu tanpa sadar mengembangkan senyum manisnya pada para pelayan.
Kereta kuda sudah disiapkan di depan rumah. Kereta kuda yang terlihat mewah karena beberapa aksesorisnya terbuat dari emas.
Kenzo membantu gadis itu untuk naik. "Biar aku membantumu masuk ke kereta," tawar Kenzo dengan sopan.
Lelaki itu memegang lengan Zia dan menuntunnya ke kereta kuda. Pintu kereta kuda itu terbuka, anak tangga diturunkan dan Kenzo memegang pinggang Zia yang sangat ramping.
Mengangkat tubuh itu dengan tangan kekarnya ke dalam kereta kuda yang tertutup itu. lalu setelah Zia masuk, lelaki itu mengekor di belakang.
Kenzo menutup pintu kereta di belakang mereka, menyelimuti keduanya dalan kegelapan.
Kenzo mengetuk kaca yang menjadi pembatas antara dirinya dan ruang sang kusir. Setelah sekat kaca terbuka, pemuda itu menyerahkan secarik kertas pada sang kusir.
Setelah kusir menerima kertas pemberian Kenzo tadi. Ia kembali menutup sekat dan mulai memacu kuda agar bergerak.
Kereta mulai maju dengan sentakan yang keras, hingga membuat tubuh Zia yang kecil terguncang dan hampir jatuh.
Namun Kenzo menangkap gadis itu dengan cekatan. Membuat posisi mereka berdua berhadapan dan saling menatap.
Kedua netra mereka bertemu dan bertukar pandang. Kedua hanya bergeming. Seolah menikmati pemandangan yang indah.
Jantung Zia rasanya melompat ke lambung. Dirinya merasakan getaran aneh lagi dalam tubuhnya ketika bertatapan dengan mata dingin dan tajam milik Kenzo.
Dengan cepat, Zia mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan maut Kenzo Alasair. Gadis itu juga menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk ke tempat semula.
Kereta perlahan mulai berhenti. Hal itu membuat Zia tidak sabar ingin segera keluar. Kenzo membuka pintu kereta di belakang mereka, lalu turun terlebih dahulu.
Setelahnya, anak tangga kembali diturunkan untuk membantu sang gadis turun dari kereta.
Zia mendongak, menatap bangungan yang sangat tinggi di depannya. "Tempat apa ini?" tanyanya was-was. Dirinya sedikit trauma dengan tempat-tempat yang mewah semenjak kejadian ia dibawa paksa ke rumah b****l terkutuk itu.
"Ini adalah perusahaan milikku," ujar Kenzo dengan nada bangga. Zia hanya mengangguk dan membuka mulut membentuk huruf 'o' tanpa suara.
Kereta kuda yang tadi mereka tumpangi melesat menuju area khusus kereta. Atau biasa dikenal sebagai tempat parkir kendaraan.
Kenzo mengajak Zia masuk, lelaki itu kembali melingkarkan tangan Zia ke lengannya. Lalu ia memeluk pinggang Zia dengan posesif. Membuat gadisnya menjadi kurang nyaman.
"Jangan seperti ini! Kau membuatku malu," bisik Zia sembari melirik lelaki di sampingnya.
"Jika aku melepaskanmu, maka aku tak yakin kau bisa pulang dengan selamat, Cantik!" balasnya lalu mengedipkan sebelah matanya genit ke arah Zia.
Mereka berdua masuk ke gedung tinggi itu. Semua pekerja yang ada di sana menundukkan badan sebagai penghormatan terhadap Kenzo.
Banyak dari pegawai Kenzo yang menatap Zia. Terlebih pekerja perempuan. Tatapan yang mereka berikan adalah tatapan remeh yang membuat Zia jengah dan geram.
Namun gadis itu hanya bisa bersabar dan mengumpat dalam hati. Meladeni orang seperti itu tak akan memberikan keuntungan baginya. Jadi lebih baik pura-pura buta saja selama di sana.
Kenzo mengajak Zia menuju ruangan pribadinya. Lelaki itu langsung mendudukkan diri di kursi miliknya setelah menutup pintu.
Sementara Zia menempatkan dirinya di sofa. Gadis itu bingung kenapa Kenzo mengajaknya pergi ke perusahaan lelaki itu.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu candle light dinner malam ini, namun karena pekerjaanku menumpuk, jadi aku membawamu kemari. Kita akan makan malam setelah pekerjaanku selesai," jelas lelaki itu seolah ia paham apa yang tengah Zia pikirkan.
Zia hanya mengangguk. "Baiklah," katanya.
Kenzo mulai mengambil satu per satu berkas yang menumpuk di mejanya dan mengerjakan berkas itu.
Zia hanya bisa duduk dan mengamati Kenzo yang tampak serius di meja kerjanya. "Jika diperhatikan lagi, ternyata Kenzo memang sangat tampan," batinnya.
Lalu dengan cepat, ia mengusir pikiran konyol itu dari otaknya. "Tidak! Tidak! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau jatuh cinta dengan lelaki sepertinya, tidak boleh!" peringatnya pada diri sendiri.
Entah sudah berapa jam Zia menunggu Kenzo menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu mulai mengantuk. Beberapa kali ia menguap dan menggosok matanya yang terasa sangat berat.
Tak lama, ia merebahkan dirinya di sofa dan memejamkan kedua matanya. Lalu setelahnya ia terlelap.
Warna biru kehitaman kini telah datang menghiasi langit. Menggantikan warna biru dan putihnya awan.
Kenzo melirik ke arah Zia. Ia terkekeh melihat gadis itu tertidur pulas dengan posisi meringkuk. Sepertinya gadis itu kedinginan. Ruangan Kenzo memang sedikit terasa dingin.
Ia menghampiri Zia lalu melepas jas miliknya dan menyelimutkannya pada tubuh gadis itu. Kenzo memandangi wajah damai Zia.
Zia terlihat manis karena wajahnya yang baby face. Lalu setelahnya ia kembali memeriksa berkas-berkas penting yang belum selesai.
Ia memang tidak datang bekerja selama hampir satu minggu. Jadi wajar saja jika pekerjaannya sebanyak itu.
Setelah menyelesaikan semuanya. Pemuda itu merenggangkan ototnya agar lebih rileks. Ia membangunkan Zia dari tidurnya.
Mengajak Zia untuk makan malam. Karena malam sudah hampir larut dan mereka belum makan.
Zia yang terganggu tidurnya mulai membuka mata. Ia tidak sadar jika ketiduran di kantor Kenzo.
Zia mengernyit bingung mendapati jas milik Kenzo membalut tubuhnya. Apa lelaki itu yang melakukannya? Zia tersenyum membayangkannya.
"Ayo kita pulang, pekerjaanku sudah selesai," ajak lelaki itu. Ia mengambil jas miliknya lalu memakainya kembali.
Zia mengubah posisi tidurnya menjadi berdiri. Merapikan sedikit tatanan rambutnya yang berantakan karena tertidur.
Setelahnya mereka keluar dari ruangan itu. Berjalan menuju lantai dasar. Bangunan tampak sedikit sepi. Hanya ada beberapa karyawan yang masih bekerja.
Keluar dari bangunan, mereka berjalan menghampiri salah satu kereta kuda milik Kenzo. Menaikinya lalu menyuruh sang kusir untuk pergi ke restoran bintang lima yang terkenal akan kelezatan makanannya. Sementara Zia hanya mengikuti sang lelaki dengan patuh dan tanpa bertanya.
TO BE CNTINUE