Dua Belas : Makan Malam Romantis

1456 Kata
Lidah Zia sangat dimanjakan oleh makanan yang telah disajikan, rasanya sangat lezat. Tak hanya makanan, terdapat orkestra musik yang menampilkan beberapa lagu ternama di restoran itu. Zia dan Kenzo sudah sampai di restoran beberapa waktu yang lalu, dan mereka kini tengah memakan hidangan inti setelah menghabiskan hidangan pembuka. Zia masih tidak menyangka Kenzo akan berbaik hati padanya, dirinya masih aneh dengan hal itu, ia masih penasaran, kira-kira hal apakah yang membuat lelaki itu berubah hanya dalam sekejap? Namun ia memilih untuk tidak memikirkan hal itu sekarang. Yang terpenting adalah ia harus bisa mengambil kepercayaan lelaki di hadapannya ini untuk kabur dari penjara berbentuk rumah mewah itu. Ia akan memikirkan rencananya dengan matang lalu melaksanakannya di waktu yang tepat. Lelaki bernama Kenzo itu, kini tengah asik menyantap makanan miliknya. Zia yang sudah selesai makan hanya bisa memandangi pria itu, tata cara makan Kenzo sangat anggun. Zia tidak menghabiskan makanan miliknya karena porsi yang terlalu besar, perutnya tidak bisa menampung itu semua. Kenzo yang melihat hal itu, lantas bertanya. "Kenapa tidak dihabiskan?" Zia menggeleng pelan. "Perutku sudah akan meledak jika aku memaksakan menelan semua makanan dengan porsi dua orang," balasnya dengan ketus. Lelaki itu hanya mengangguk paham dan melanjutkan acara makannya yang belum selesai. Zia menatap sekeliling, suasana restoran sangat romantis jika dilihat, banyak bunga-bunga yang dijadikan hiasan, pencahayaan dari lampu yang remang-remang, serta alunan musik yang indah. Zia tersenyum, ia jadi membayangkan bisa makan malam di sini dengan pria yang akan menjadi suaminya nanti, namun pemikiran itu hilang seketika, mengingat ia sudah bersumpah untuk tidak menikah. Ia terlalu trauma menjalin hubungan dengan lelaki manapun, hal itu karena pengalaman yang dimiliki ibunya dan juga Vivian. Mereka berdua adalah wanita yang baik namun memiliki pasangan yang sangat buruk, dan Zia tidak ingin mengalami hal serupa dengan kedua wanita yang dicintainya itu. Beberapa saat kemudian, para pelayan mulai mendekat ke meja Zia dan Kenzo dengan membawa nampan berisikan makanan penutup. Sebuah pudding s**u, sepotong chocolate cake dan minuman dingin yang manis. Pelayan tadi membereskan sisa-sisa makanan utama dan meletakkan dessert yang dipesan ke atas meja. Zia melihat hidangan penutup itu dengan mata berbinar,, sudah lama dirinya tidak mengonsumsi chocolate cake. Itu adalah kue kesukaannya sejak kecil. Setelah pelayan pergi, Zia langsung mengambil dan mendekatkan kue itu ke arahnya, menyendok sedikit demi sedikit kue di atas piring itu lalu melahapnya. Kenzo melihat semua gerak-gerik Zia, entah kenapa melihat Zia seperti itu membuatnya senang, Zia layaknya anak kecil yang sangat bahagia karena mendapat hal yang ia sukai. Kenzo mengambil salah satu pudding yang tersaji, lalu melahapnya, tatapan mata lelaki itu tak pernah lepas dari Zia. Zia mengeryitkan dahinya ketika merasakan benda keras berada dalam mulutnya, ia tak sengaja menggigit benda itu. Dengan cepat, ia mengambilnya dengan tangan, sebuah cincin yang ia pegang. "Cincin?" Zia menatap ke arah Kenzo, pandangan mereka bertemu, karena lelaki itu sedari tadi melihatnya, namun Zia tak ambil pusing. "Sepertinya cincin milik salah satu pelayan atau koki di restoran ini terjatuh ke dalam kue kita, Lord Kenzo," kata Zia. "Kita harus segera mengembalikannya!" Zia berdiri, gadis itu sudah siap untuk berjalan menuju salah satu pelayan. Namun langkahnya terhentikan oleh Kenzo yang mencekal lengan gadis itu, lalu sang lelaki mendekat ke arah Zia. Mengambil cincin yang masih dipegang oleh gadisnya, lalu mendudukkan Zia kembali ke kursi. "Tidak, cincin itu memang milikmu, Sayang," kata Kenzo dengan nada lembut. "AーApa? Tapi ... tapi." Zia tergagap ketika mengucapkan hal itu. Gadis itu semakin terkejut ketika Kenzo berlutut di depannya dan memasangkan cincin tadi pada jemari manis kanan miliknya. "Ini adalah hadiah untukmu. Bukankah aku sudah memberitahumu jika kau adalah ratuku? Selama kau menjadi milikku dan masih tinggal bersamaku, maka kau adalah ratuku, Darling." Kenzo mengecup punggung tangan Zia agak lama, lalu mereka kembali berpandangan, Zia tak percaya dengan apa yang dikatakan Kenzo, lelaki itu adalah perayu ulung. Jadi Zia berpikir, ini adalah salah satu siasatnya untuk mendapatkan sesuatu dari dirinya, namun apa yang ingin Kenzo dapatkan dari dirinya? Zia bahkan tidak memiliki uang, rumah dan hal lain yang bisa diambil oleh lelaki itu. Ia tidak memiliki apapun, semuanya telah hilang. Hanya harga dirinya yang masih menempel erat di dalam tubuh dan jiwa gadis itu, serta tekad dan kecerdasan, namun sepertinya hal semacam itu tidak akan diinginkan oleh seorang Kenzo. Tentu saja, lelaki itu bahkan memiliki segalanya, meluarganya keturunan bangsawan, ia memiliki harta yang banyak, ia adalah pemilik perusahaan besar di Inggris, dan jangan lupakan fakta jika ia adalah putra pertama dari keluarga Alastair yang artinya ia akan mengambil alih gelar Marquess dari sang ayah. Harta warisan lelaki itu menumpuk. Zia kembali berpikir, lalu apa yang diinginkan oleh Kenzo terhadap dirinya? Gadis itu tersentak, tersadar dari lamunannya dan kembali ke dunia nyata setelah Kenzo mengecup keningnya. Zia bahkan tak memprotes hal itu pikirannya mendadak kosong. Jadi ia hanya menikmati sensasi menyenangkan di dalam perutnya ketika bibir Kenzo menempel di keningnya beberapa saat. Lelaki itu tersenyum kepada Zia, lalu tanpa bicara, ia kembali duduk ke tempatnya dan menyelesaikan acara makan malam mereka. °°°°°°°° Atmosfer di antara mereka berdua benar-benar menegangkan sekarang, suasana sangat canggung. Kini Zia dan Kenzo tengah berada di kereta kuda milik sang pemuda, pulang menuju rumah mewah milik Kenzo Alastair. Setelah makan malam tadi usai, keduanya tertimpa keheningan, tak ada yang mau bicara, bahkan Kenzo, lelaki itu tidak menjahili Zia dengan godaan-godaan maut miliknya seperti biasa. Ia hanya menatap Zia diam-diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain jika gadis itu balik menatap dirinya. Batinnya terkekeh senang, ia yakin pasti gadis itu akan takluk padanya sebentar lagi, menurutnya menaklukan hati wanita sama dengan menaklukan seekor kuda. Yang benar saja? Ia hanya perlu mendekat dan bersabar dalam mengahadapi wanita agar mereka luluh setelahnya beri mereka pancingan lain agar lebih meyakinkan mereka. Sama seperti kuda, kita harus mendekat kepada hewan itu dan bersikap baik, lalu berikan ia beberapa makanan sebelum kau berhasil meluluhkan kuda milikmu. Akhirnya mereka sampai di rumah, Zia bernapas lega karenanya, ia dengan cepat melangkah meninggalkan Kenzo dan berjalan menaiki tangga rumah itu menuju kamarnya. Ia tak tahan berada di dekat lelaki itu, sedikit risih. Zia tahu jika sedari tadi pria gila itu memandanginya diam-diam, namun gadis itu memilih pura-pura tidak tahu. Ia ingin memprotes, namun kejadian di restoran barusan masih terbayang-bayang dibenaknya. Jujur saja ia malu, apalagi banyak orang yang juga makan di sana. Melihat adegan romantis yang tanpa sengaja mereka buat, dan menjadikan hal itu tontonan gratis bagi pengunjung dan juga beberapa pelayan yang melihat. Jujur saja Zia malu, dirinya terlalu kaku, ia belum pernah melakukan hal semacam itu dalam hidupnya. Sejak kecil, Zia terlalu fokus dengan hal-hal yang diajarkan oleh ibunya tentang adab dan tata krama, ia juga diajarkan sedikit mengenai urusan politik dan usaha yang ibunya rintis. Namun hal itu hanya bertahan sementara, ibunya meninggal ketika Zia remaja, ia baru menginjak usia dua belas tahun waktu itu. Ayahnya yang tidak bisa menjaga peninggalan ibunya dan malah hidup foya-foya membuat mereka berdua bangkrut. Sejak saat itu, Zia harus bekerja demi menyambung hidup, tidak bekerja sama artiannya dengan tidak makan. Ia terlalu fokus bekerja, maka dari itu dirinya tak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Zia merebahkan dirinya di atas ranjang. Ingin rasanya berteriak, namun dirinya akan dianggap gila karena berteriak tanpa sebab, dan hal itu bisa menimbulkan kegaduhan di rumah ini, jadi sebisa mungkin, ia menahannya. Diangkatnya kedua tangannya ke atas, matanya sibuk menelisik cincin berlian yang diberikan oleh Kenzo padanya. Ia mendekatkan jemarinya yang tersemat cincin itu, lalu melepasnya. Ia amati lebih dekat. "Kenapa sangat pas di jariku? Apa benar ini untukku?" pikirnya menerawang jauh. Masih tak menyangka jika lelaki yang menyebalkan semacam Kenzo ternyata memiliki sisi yang baik dan romantis pula. Ia jadi merasa bersalah pada Vivian. Wanita itu sangat menginginkan Kenzo menjadi miliknya, walau hanya semalam. Apakah Vivian akan kecewa pada dirinya jika tahu, dirinya tinggal dan hidup bersama lelaki pujaan Vivian? Semoga saja tidak. Vivian adalah gadis yang baik, jika ia tahu apa alasan dibalik itu, Zia percaya bahwa gadis itu akan memakluminya. Ia jadi merindukan Vivian. Ia ingin meminta Kenzo untuk mengantarnya ke sana, namun lagi-lagi niat itu ia urungkan. Jika Kenzo tahu bahwa Zia memiliki hubungan khusus dengan Vivian, maka jika dirinya kabur dari rumah ini, lelaki itu pasti akan langsung mencari dirinya ke kediaman keluarga Vivian. Hal itu tidak boleh terjadi, ia harus menjaga rahasia itu sendiri jika rencanya ingin berhasil. Ia kembali memasangkan cincin pemberian Kenzo ke jemarinya. Beranjak dari ranjang, ia memutuskan untuk mandi karena badannya pegal dan lengket. Ia sangat lelah karena perjalanan jauh, apalagi dengan kereta kuda. Ia sudah lama tidak naik kereta kuda, karena setiap hari hanya kakinya yang menemani kemanapun ia pergi, dan guncangan keras dari kereta membuat kepalanya pusing. TO BE CONTINUE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN