Bab 1

1294 Kata
Selamat membaca ^^ Santorini adalah pulau yang terkenal akan keindahannya. Banyak pemandangan yang indah dan dapat menyejukkan mata di sana. Tak heran jika para turis senang mengunjungi tempat ini sebab keindahan alamnya. Itulah sebabnya Santorini disebut sebagai Kota Para Dewa. Chrysanthos Carras, pria berusia 30 tahun ini adalah salah satu penghuni asli Santorini. Mansion miliknya berada di Pyrgos dan mansion itu terbilang cukup mewah di sana. Chrysanthos Carras atau yang biasa disapa Chris ini adalah seorang Godfather dari sebuah organisasi bernama Mávro Chéri dan dibesarkan namanya oleh ayah kandungnya sendiri, Orestes Ioannidis Carras yang berusia 61 tahun. Kelompok mafia ini didirikan sejak Orestes masih berusia 28 tahun dan dua tahun setelah berdirinya organisasi ini, Orestes memutuskan untuk menikah dengan wanita biasa yang bernama Myrinne Dima. Saat itu, usia Dima masih 25 tahun dan sekarang usianya sudah 58 tahun. Buah cinta dari pernikahan Orestes dan Dima adalah Chris. Chris sendiri merupakan anak tunggal dan pewaris satu-satunya dari keluarga Carras. Tak heran jika Orestes mengajarkan Chris banyak hal tentang organisasi-organisasi mafia agar kelak Chris bisa meneruskan Mávro Chéri. Mávro Chéri sendiri memiliki dua bisnis illegal yang tak banyak diketahui orang lain. Orestes sengaja menyembunyikan identitas kelompoknya untuk menghindari penyelidikan dari pihak kepolisian. Dua bisnis illegal itu ialah narkotika serta penjualan organ manusia. Orestes menyembunyikan bisnis illegal ini dengan membangun beberapa bisnis lain dalam bidang properti serta kuliner. Itu sebabnya, kelompok ini mampu bertahan dari incaran polisi berkat kelicikan dari Orestes sendiri. Orestes dikenal sebagai pria yang kejam dikalangan organisasi mafia yang ada di Yunani, khususnya Santorini. Jika ada orang lain yang mengetahui bisnis illegal tersebut, maka dapat dipastikan nyawa orang itu akan terancam dan mereka akan menculik serta menjual organ tubuhnya ke luar negeri. Orestes tidak pernah mengampuni siapa saja yang mengganggu privasi hidupnya. Itu sebabnya, tidak ada yang berani mengusik kehidupannya pada masa kejayaannya dulu. Namun sekarang, bisnis tersebut dikelola oleh putranya dan Orestes sudah pensiun dari pekerjaannya. Meskipun begitu, ia masih terus memantau Chris agar tetap menjalankan bisnis illegal itu sesuai dengan prosedur yang telah ia buat selama ini. Akan tetapi, pemikiran Orestes sangat jauh berbeda dari Chris. Putranya tidaklah sekejam dirinya yang menebas siapapun saat mengusik hidupnya, baik pria maupun wanita. Chris tidak pernah sekalipun membunuh wanita dan anak-anak. Entah mengapa ia merasa bahwa jika dirinya membunuh seorang wanita, itu sama saja ia sedang membunuh ibunya. Dan jika dia membunuh anak-anak, sama halnya ia telah menghabisi generasi penerus bangsa. Hal inilah yang menjadi perbedaan pendapat antara Chris dan Orestes. Bahkan mereka sering berdebat dan bertengkar sebab hal ini. Incaran Chris hanyalah pria dan itupun hanya orang-orang tertentu saja yang memang layak dibunuh serta dijual organ-organnya. Chris sendiri lebih mendalami penjualan obat-obatan terlarang, dibanding penjualan organ manusia. Chris lebih berjaya dalam penjualan tersebut sehingga dirinya mampu membeli sebuah mansion yang berada di Pyrgos untuk dirinya sendiri. “Kýrie, Chris.” Chris menoleh ke belakang saat namanya dipanggil oleh seseorang. Manolis Sakellarios sedikit menundukkan kepala untuk memberi hormat pada Chris. Kemudian pria itu tersenyum sambil memberikan ponselnya pada Chris. “Kýrie Orestes ingin berbicara dengan Anda, Kýrie Chris,” ujar Manolis. Chris menatap sejenak ponsel tersebut sambil menimbang, apakah dirinya akan menerima ponsel itu atau tidak? Sebab dirinya sedang tidak ingin membahas apapun dengan orang lain, termasuk Orestes. Suasana hatinya sedang kacau saat ini. Tetapi, jika ia menolak berbicara dengan ayahnya, makanya dapat dipastikan ayahnya itu akan langsung mendatanginya. Chris menghela napas berat, dan dengan sangat terpaksa menerima panggilan tersebut. “Chaírete, Bampás.” “Kau sibuk hari ini?” tanya Orestes. “Den,” jawab Chris malas. “Giatí?” “Hari ini Mamá memasak makanan spesial. Kau harus datang malam ini.” Chris menghela napas beratnya kembali. “Bilang pada Mamá, aku tidak bisa datang. Sampaikan maafku padanya.” “Giatí, Chris? Apa kau sedang dalam masalah?” “Tidak ada masalah apa-apa,” jawab Chris. “Aku hanya ingin sendiri untuk saat ini. Aku harap, Bampás mengerti.” Chris memutus sambungan teleponnya lalu memberikan kembali pada Manolis. Selanjutnya, ia memilih untuk kembali menatap pemandangan indah di depannya sambil memikirkan hal yang tidak diketahui oleh siapapun, termasuk Manolis. Manolis sendiri merupakan orang kepercayaan Orestes dan Chris yang sudah bekerja selama kurang lebih 12 tahun. Ia bergabung dengan organisasi ini sejak berusia 25 tahun dan dia merupakan anak dari mendiang orang kepercayaan Orestes yang bernama Stelios Sakellarios. Dan kini digantikan oleh Manolis yang usianya sudah 37 tahun. Stelios bekerja pada Orestes sejak organisasi ini pertama kali dibuat. Saat itu usia Stelios kurang lebih sekitar 30 tahun dan Orestes 28 tahun. Stelios juga sudah menikah dan sudah dikaruniai seorang anak saat bergabung dengan kelompok mafia yang diketuai Orestes. Usia putranya saat itu masih menginjak 3 tahun. Disaat usia Manolis mencapai 23 tahun, Stelios dan Orestes diserang secara tiba-tiba oleh sekelompok orang yang juga tergabung dalam dunia mafia. Saat itu, Stelios dan Orestes tak mampu menahan serangan dari orang-orang tersebut hingga membuat Orestes jatuh pingsan, sementara Stelios tetap berusaha melindungi ketuanya. Hingga akhirnya salah satu dari kelompok penyerang itu berniat menembak mati Orestes. Stelios yang mengetahui hal itupun langsung maju ke depan Orestes sehingga membuat dirinya yang terkena tembakan tersebut. Seketika Stelios meninggal dunia di tempat kejadian akibat tembakan yang mengenai bagian kepala belakang dan punggung yang menembus ke d**a bagian depan, tepat di jantungnya. Stelios meninggal di usianya yang ke 50 tahun. Keluarga Stelios seketika terpuruk mendengar kabar kematian pria tersebut, terutama Manolis. Selama 1 tahun lamanya Manolis menyendiri di kamar setelah kematian ayahnya. “Kýrie, apa ada masalah?” tanya Manolis yang sedari tadi memperhatikan kegelisahan Chris. Chris menggeleng pelan. “Aku hanya masih penasaran dengan orang yang membunuh Korinna, Manolis. Sampai saat ini, kita masih belum bisa mengungkapnya.” “Pelaku sepertinya sudah melenyapkan beberapa barang bukti di hotel itu, Kýrie. Vincenzo juga sudah melakukan investigasi di sana dan hasilnya tetap nihil,” ujar Manolis. Chris menghela napas beratnya. Ia berbalik menghadap Manolis yang berada di belakangnya dan berkata, “Apa kau mencurigai seseorang?” “Ennoeís?” “Maksudku, mungkin kau mencurigai salah satu musuhku? Misalnya Carlo, atau Assunta?” Manolis berpikir sejenak. Yang dikatakan Chris memang benar adanya. Bisa saja Carlo yang membunuh mantan kekasih Chris saat itu. Atau bisa juga Assunta yang melakukannya. “Apa yang Anda pikirkan, bisa saja benar, Kýrie. Mungkin salah satu dari mereka adalah pelakunya,” ujarnya. “Ya, mungkin mereka. Tapi, kita tidak bisa menuduh tanpa bukti.” “Anda benar, Kýrie.” “Sudahlah, lupakan,” kata Chris sambil menghela napas lelah. “Apa sudah ada kabar dari Enzo?” Manolis mengangguk. “Sudah, Kýrie. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Santorini menggunakan pesawat pribadi.” “Baiklah. Beritahu aku jika mereka sudah tiba di Santorini. Aku ingin istirahat sejenak,” ujar Chris sambil melangkah masuk meninggalkan Manolis. Manolis pun menunduk memberi hormat pada tuannya. Sebenarnya Chris tidak berniat untuk tidur. Dia hanya ingin sendiri untuk saat ini sambil bermain dengan pikirannya yang masih terbayang akan wajah Korinna dan kejadian kelam itu. Bahkan saat ini, Chris sedang menatap sebuah foto berukuran sedang di atas nakasnya. Ia mengambil foto tersebut, kemudian membelai wajah wanita yang ada di dalamnya. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Sedangkan kedua matanya sudah menggenang begitu banyak airmata yang siap membasahi pipinya. “Geia, Korinna. Bagaimana kabarmu di sana? Apa kau bahagia? Sudah lama sekali kita tidak bicara ya,” gumam Chris sambil membelai foto tersebut. “Aku yakin, kau pasti masih sedih di sana, kan? Maafkan aku yang tidak bisa mengungkap siapa yang membunuhmu. Aku belum bisa menangkapnya. Synchóresé me.” Chris tak mampu lagi menahan tangisnya untuk saat ini. Ia benar-benar menyesali kesalahannya yang membiarkan Korinna pergi di malam itu. Harusnya dia tetap mengikuti Korinna, meskipun hubungan mereka telah berakhir. “Andai saja saat itu aku mengikutimu, mungkin saat ini kau masih ada di sini bersamaku. Aku bahkan belum tahu, siapa pria yang sudah merebutmu dariku. Sampai detik ini, kejadian itu masih saja menghantuiku, Korinna. “Kenapa kau menyiksaku seperti ini?” ujar Chris dengan nada sedih bercampur kesal. “Harusnya kau katakan sejujurnya padaku. Kau pergi dalam keadaan hamil dan hal itu yang membuatku merasa bersalah padamu.” Manolis merasa sedih saat mendengarkan ucapan Chris dari luar pintu kamar tuannya itu. Ia tahu bahwa Chris masih saja memikirkan masa lalunya dan menyalahkan dirinya atas kejadian kelam beberapa tahun lalu. Manolis hanya bisa menghela napas lelah sambil berlalu dari tempatnya, karena ia baru saja mendapat panggilan dari Orestes.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN