"Ya Tuhan, ingin sekali aku memeluknya. Aku benar-benar sangat merindukan suamiku, Tuhan. Melihatnya di depanku tapi aku tidak bisa menggapainya. Kuatkah aku menjalaninya, Tuhan. Aku merindukan tatapan penuh cinta suamiku kepadaku. Perhatiannya, kasih sayangnya. Aku merindukannya, Tuhan," batin Exelin. Exelin berjalan menghampiri meja kerja Amar. "Pagi, Pak," sapa Exelin. Amar langsung menoleh ke asal suara yang menyapanya. Dia merasa suara itu sudah tidak asing lagi dengannya. Amar menatap Exelin dengan tatapan dingin yang tidak bisa terbaca. Exelin yang melihat tatapan Amar kepadanya yang terlihat dingin, dia mencoba menenangkan perasaannya. Hatinya terasa sakit. Orang yang sangat dia cintai tidak mengenal dirinya. "Apa kamu sekretaris baru yang dikirim Adam untukku?" ucap Amar pad

