Setelah berbicara dengan semua keluarganya, akhirnya semua keluarga bisa menerima keputusan Exelin untuk menjadi sekretaris untuk suaminya sendiri. Meskipun banyak yang menentang juga akan keputusan Exelin itu.
"Apa sudah kamu pikirkan baik-baik keputusanmu itu?" tanya Rio pada sang adik.
"Sudah, Kak. Aku tidak ingin ada orang yang mengeluh lagi karena ulah suamiku. Mungkin aku bisa menanganinya dengan caraku sendiri. Meskipun dia sekarang Amnesia, tapi aku percaya cintanya untukku masih tersimpan dalam hatinya. Meskipun akan berat menanganinya. Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hati suamiku lagi," ucap Exelin penuh harap.
"Biarkan saja adikmu melakukannya. Papa sangat percaya dengan kemampuan putri papa. Dia pasti bisa memulihkan ingatan suaminya sedikit demi sedikit," ucap Alexander pada sang putra. Dia sangat tahu alasan sang putra tidak memperbolehkan adiknya menjadi sekretaris Amar. Mungkin salah satunya alasannya karena Exelin baru sadar dari komanya.
"Tenang saja, Kak. Aku pasti baik-baik saja," ucap Exelin. Exelin menatap putranya. Meskipun Exelin sudah memutuskan, Exelin tetap minta persetujuan putranya.
"Bagaimana, Boy? Apa kamu mengizinkan mama untuk menjadi sekretaris papamu?" tanya Exelin pada Alex. Alex tersenyum ke arah Exelin.
"Bawa papa pulang, Ma. Alex ingin bermain dengan papa," ucap Alex pada Exelin. Exelin memeluk erat Alex. Mencium puncak kepala sang putra penuh rasa sayang.
"Pasti itu, Sayang. Mama akan berusaha sebaik mungkin untuk membawa papa pulang untuk Alex," ucap Exelin.
Semua orang menatap haru pada Exelin dan Alex. Mereka semua sedikit banyak tahu bagaimana kisah Amar dan Exelin.
"Mulai kapan aku bisa bekerja, Adam?" tanya Exelin.
"Mulai besok, Nona," ucap Adam. Exelin tersenyum hangat kearah semuanya. Sudah banyak rencana yang tersusun di otak cantik Exelin.
"Sudah sekarang kita makan dulu. Dari tadi kita ngobrol sampai lupa sama makan," ucap Elena.
Elena mengajak semua keluarganya untuk makan. Semuanya akhirnya mengikuti Elena untuk menuju ke ruang makan. Exelin merasa seperti ada yang kurang lengkap yaitu tidak adanya suaminya dalam keharmonisan keluarga besarnya.
" Wah masakannya pasti enak ini," ucap Alexander memuji masakan sang istri.
"Halah, Alexander. Memuji masakan istrinya, pasti ada maunya," ucap Pradipta.
"Kau memang sahabat terbaikku, Pradipta. Tahu saja kalau aku pingin romantis-romantisan dengan istriku," ucap Alexander. Semua orang tertawa mendengar perkataan Alexander. Alexander duduk di samping sang istri. Sambil sekali-kali mencium pipi sang istri. Exelin dan Rio yang melihatnya cuma bisa tertawa. Semua pada mengambil makanan masing-masing dan memakannya dengan lahap. Banyak yang memuji akan masakan Elena yang memanjakan lidah siapa pun yang menikmatinya.
????
Setelah semuanya pulang, Exelin masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan semua keperluan yang akan dia bawa untuk besok. Mulai dari baju yang akan dia pakai sampai merubah tatanan rambutnya. Exelin bisa memotong rambutnya sendiri tanpa harus dia pergi ke salon. Dia memilih memangkas rambutnya sampai sebahu. Wajahnya terlihat fresh dan cantik dengan rambut sebahunya saat ini. Exelin benar-benar sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sang suami. Laki-laki yang sangat dia cintai dengan sepenuh hati.
"Bagaimana dengan keadaanmu sekarang, Sayang. Aku sangat merindukanmu. Rindu saat kita bercengkrama bersama. Rindu akan perhatianmu kepadaku," ucap Exelin dengan lirih. Sambil memandang foto pernikahannya.
Exelin merasa seperti mimpi kehidupannya saat ini. Kebahagiaannya dulu cuma bisa dia kenang. Terlebih lagi sekarang suaminya tidak mengenalnya karena amnesia yang sekarang dideritanya.
“Mama belum tidur?” tanya Alex mengagetkan Exelin yang sedang melamun.
“Hai, Boy. Belum tidur?” tanya Exelin pada sang putra. Alex tersenyum sambil menghampiri Exelin.
“Alex ingin tidur bersama mama,” ucap Alex sambil naik ke tempat tidur. Exelin menghampiri sang putra dan mencium kening sang putra penuh sayang.
Exelin membaringkan putranya di sebelahnya sambil menceritakan dongeng sebelum tidur. Tidak berselang lama Alex pun tertidur sambil memeluk tubuh Exelin. Exelin yang melihat sang putra, dia tidak bisa menahan air matanya.
“Alex putra mama. Anak mama yang paling mama sayang. Mama berharap Alex tetap sayang sama papa. Meskipun papa tidak mengenal Alex dan mama. Alex cukup tahu, kalau orang yang paling bahagia saat mama mengandung Alex adalah papa. Papa sangat mencintai Alex melebihi dirinya sendiri,” ucap Exelin sambil mencium puncak kepala sang putra. Exelin pun ikut tertidur di samping Alex. Memeluk putranya dengan erat.
????
Pagi yang indah untuk memulai aktivitas. Exelin sudah bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan. Untuk kali ini Exelin benar-benar berubah 180° penampilannya. Mulai dari gaya rambut sampai gaya pakaiannya pun berubah. Kedua orang tuanya dan kakaknya pun sangat kaget saat melihat Exelin turun dari tangga.
"Wow... Aku nggak salah lihat kali ini. Ini beneran adikku? Cantik banget ya," ucap Rio. Exelin tidak bisa menahan tawanya mendengar perkataan sang kakak. Kedua orang tuanya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua putra-putrinya.
"Rencana kamu hari ini apa, Sayang?" tanya Alexander pada sang putri.
"Biar mengalir saja, Pa. Exelin tidak ingin memaksakan kehendak Exelin pada Amar. Mendengar amnesia Amar yang berbeda dari yang lain. Exelin takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Amar. Sudah bisa dekat dengan suami Exelin saja, Exelin sudah bahagia, Pa. Exelin cuma bisa berdoa yang terbaik untuk rumah tangga Exelin dan Amar," ucap Exelin. Alexander yang mendengar perkataan sang putri, dia benar-benar sangat terharu. Dia tidak menyangka kalau sang putri sekarang pemikirannya benar-benar sangat dewasa. Alexander benar-benar sangat terharu.
"Sarapan dulu, Sayang," ucap Elena pada sang putri.
"Nanti sajalah, Ma. Exelin makan di perusahaan. Exelin sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Amar," ucap Exelin penuh semangat. Exelin pamit kepada kedua orangtuanya. Dan dia berangkat menuju perusahaan dengan diantar oleh sopir pribadinya. Sekitar menempuh perjalanan setengah jam dari tempat tinggalnya, akhirnya Exelin sampai di perusahaan. Exelin dengan langkah pasti, dia berjalan menuju ke ruangan Amar.
Semua karyawan yang melihat Exelin tidak bisa melepas pandangannya sama sekali. Mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala terlihat sangat sempurna. Dengan body bagaikan gitar Spanyol semakin menambah kesempurnaan dalam diri Exelin. Exelin masuk ke dalam lift yang membawanya ke ruangan Amar.
Adam tersenyum saat melihat Exelin datang. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Anda sudah ditunggu bos, Nona," ucap Adam pada Exelin. Exelin tersenyum misterius ke arah Adam. Exelin berjalan ke arah ruangan Amar dengan langkah anggun. Exelin mengetuk pintu ruangan Amar. Dan terdengar suara Amar yang menyuruhnya untuk masuk. Exelin membuka pintu ruangan Amar. Dan dia pun masuk ke dalam. Jantung Exelin berdetak kencang saat dia bisa melihat lagi suami yang sangat dia cintai.