Waktu yang ditunggu-tunggu Exelin akhirnya datang juga. Exelin bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya setelah tiga tahun dia harus berbaring di rumah sakit karena koma setelah kecelakaan. Exelin begitu bersyukur karena dia cepat pulih setelah kembali sadar dari koma.
Setelah ini tinggal dia merencanakan apa yang akan dia lakukan untuk mendapatkan hati suaminya lagi. Exelin bertekad dalam hatinya untuk mendapatkan cinta sang suami dan mengembalikan kebahagiaan keluarga kecilnya. Dia tidak ingin kalau sang putra berpikiran kalau papanya tidak menyayanginya. Meskipun berat, Exelin akan tetap berusaha demi sang putra. Dia ingin melihat sang putra bahagia dengan keluarga yang lengkap.
"Apa sudah siap semuanya?" tanya Alexander pada sang putri. Exelin menatap sang papa dengan tersenyum hangat.
"Sudah, Pa. Exelin sudah siap untuk kembali pulang ke rumah," ucap Exelin dengan penuh semangat. Alexander yang melihat sang putri semangat untuk pulang ke rumah, hatinya ikut bahagia melihatnya. Alexander berjalan mendekat ke arah sang putri. Dan mencium puncak kepala sang putri dengan penuh rasa sayang. Dia sangat bersyukur pada Tuhan. Karena Tuhan masih memberikan kesembuhan untuk sang putri.
"Sekarang kita pulang. Alex sudah menunggumu di rumah. Dia sangat antusias mendengar kamu bakalan pulang sekarang, princess," ucap sang Papa sambil menyunggingkan senyum kearah Exelin. Exelin yang mendengarnya juga tidak sabar ingin bertemu dengan sang putra. Hidup Exelin semakin bermakna karena adanya Alex dalam hidupnya.
????
Amar setelah mengalami kecelakaan, dia berubah menjadi pribadinya yang dulu lagi. Arogan dan sombong. Karena kekuasaan yang dia miliki, dia semakin semena-mena kepada bawahannya. Untuk saat ini yang dibuat pusing yaitu Adam. Kaki tangan yang sangat dipercayai oleh Amar. Tapi yang membuat aneh dalam diri Amar, Amar seperti tidak tertarik pada seorang wanita. Dia lebih fokus pada pekerjaannya. Bisa dibilang dia sekarang gila kerja. Kesehariannya sekarang, dia lebih banyak berada di kantor dan ruang kerjanya. Sampai-sampai kadang Adam ikutan khawatir dengan keadaan Amar.
"Dam, apa sekretaris baruku sudah dapat?" tanya Amar pada Adam.
"Belum, Bos. Semua yang melamar setelah mendengar persyaratan yang saya ajukan, semua pada mundur," ucap Adam pada Amar.
"Seperti aku sangat menakutkan saja, Dam. Padahal aku juga biasa-biasa saja," ucap Amar sambil terkekeh.
"Iya menurut, Bos biasa saja. Tapi menurut orang normal ya tidak biasa. Masa harus bekerja dua puluh empat jam full," batin Adam.
"Mereka tidak bisa bekerja seharian. Itu salah satu alasan menolak yang melamar kerja menjadi sekretaris di sini," ucap Adam.
"Pergilah kalau begitu. Carikan aku sekretaris yang mau bersama denganku dua puluh empat jam," perintah Amar.
"Baik, Bos," ucap Adam berlalu pergi dari hadapan Amar.
"Gila sih, Bos. Mana ada orang yang mau bekerja dua puluh empat jam kalau bukan istrinya sendiri. Mana ada acara amnesia segala sih, Bos," gumam Adam sambil berjalan keluar dari ruangan Amar. Tiba-tiba Adam sadar kalau dia kemarin diberitahu ayah dari bosnya kalau Exelin sudah bangun dari komanya. Dengan langkah cepat Adam masuk ke dalam lift menuju lantai bawah tempat parkir. Setelah sampai ke tempat parkir, Adam langsung masuk ke mobil dan mengendarainya menuju rumah Exelin.
"Yang bisa mengatasi bos laki-laki, hanya si bos perempuan saja," gumam Adam sambil tersenyum. Adam mengendarai mobil sambil mendendangkan lagu. Dia yakin kalau Exelin pasti bisa mengatasi Amar yang seenaknya sendiri memerintah orang. Tanpa tahu yang diperintah itu bukan robot. Seharian harus melayaninya. Semenjak Amar sadar, Amar sudah mengganti sekertarisnya sekitar 30 orang. Paling lama yang bekerja menjadi sekertarisnya bertahan cuma dua bulan. Setelah itu mereka dengan senang hati menyerahkan surat pengunduran dirinya. Meskipun Amar memberikan gaji yang besar. Semuanya pada menolak. Dan yang paling sering terkena imbasnya adalah Adam. Satu-satunya orang kepercayaan Amar. Yang mau menuruti semua perintah Amar tanpa mengeluh sedikit pun saat ada di depan Amar.
Exelin sampai di rumahnya. Dia tersenyum melihat suasana rumahnya yang sama seperti dulu. Tidak ada perubahan sama sekali. Exelin berjalan berdampingan dengan Alexander masuk ke dalam rumah. Saat pintu dibuka, dia langsung dikejutkan dengan pesta penyambutan dari sang putra. Mertuanya pun juga ada di rumahnya. Semua terlihat sangat bahagia melihat Exelin pulang ke rumah.
"Selamat datang, mama," ucap Alex dengan ceria. Exelin yang melihatnya, langsung merentangkan tangannya ke arah sang putra. Alex langsung berlari kearah sang mama. Memeluk Exelin dengan erat.
"Kejutan yang sangat bagus, Boy. Mama sangat bahagia dengan kejutan yang kamu berikan. Sampai kapanpun mama tidak akan melupakan kejutan ini. Karena kejutan ini melambangkan Alex sangat menyayangi mama," ucap Exelin pada sang putra. Exelin memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Alex. Membuat Alex tertawa riang karena geli dengan ciuman yang diberikan sang mama. Exelin menggandeng tangan sang putra menuju ke arah keluarganya yang sudah menunggu. Semua yang melihatnya ikut tertawa bahagia. Tanpa sepengetahuan yang lain, Adam melihat moment antara Exelin dengan sang putra. Dia teringat pada Amar yang sangat antusias saat menceritakan kehamipan sang istri. Disaat putranya sudah lahir dan sekarang beranjak besar, dia malahan mengalami amnesia. Tidak mengingat apapun tentang dan sang putra.
Rio melihat ada Adam di luar rumah. Dia menghampiri Adam dan mengajaknya masuk ke rumah.
"Masuk, Dam. Pasti ada masalah serius yang membawamu kesini. Dia membuat ulah apalagi yang membuatmu pusing," ucap Rio sambil terkekeh. Adam menghela nafas panjang kalau teringat dengan Bosnya yang paling menyebalkan.
"Saya benar-benar sudah capek mencarikan si Bos sekretaris. Masa sekretaris yang bekerja dengannya bertahan maksimal dua bulan," ucap Adam pada Rio. Rio yang mendengarnya tidak bisa menahan tawa. Semua orang memandang ke arah Rio yang lagi tertawa.
"Apa yang membuatmu tertawa, Rio?" tanya Alexander pada sang putra.
"Menantu kesayangan papa sekarang kerjaannya menyiksa orang," ucap Rio sambil tertawa. Alexander yang mendengarnya mengerutkan dahi tidak paham akan yang dikatakan sang putra.
"Amar sudah gonta ganti sekretaris sampai tiga puluh orang. Semuanya pada tidak sanggup dengan permintaan Amar yang harus bekerja dengannya selama dua puluh empat jam," jelas Rio pada Alexander. Pradipta yang mendengarnya cuma geleng-geleng kepala karena kelakuan sang putra. Tapi berbeda dengan Exelin. Exelin tersenyum simpul mendengar perkataan Rio. Tiba-tiba di otak cantiknya mempunyai rencana untuk menjadi sekretaris sang suami. Dari situ juga dia bisa dekat dengan suaminya.
"Adam, bilang pada bosmu kalau kamu sudah menemukan sekretaris baru untuknya," ucap Exelin pada Adam. Semua orang menoleh ke arah Exelin.
"Maksudmu apa, Princess?" tanya Alexander.
"Exelin yang akan menjadi sekretaris untuk Amar," ucap Exelin sambil tersenyum. Semua orang benar-benar tidak percaya dengan jalan pikir Exelin. Meskipun mereka juga setuju dengan rencana Exelin. Terlebih lagi Adam yang mendengarnya tersenyum bahagia. Karena masalahnya akhirnya terselesaikan.