Ketika cobaan sepasang suami istri yang harus di uji dengan berbagai cobaan. Begitu menyakitkan saat orang yang kita cintai tidak mengenal kita lagi. Seperti halnya yang dirasakan Exelin saat ini. Hatinya begitu hancur saat mendengar bagaimana keadaan sang suami setelah mengalami kecelakaan saat bersamanya. Tidur panjangnya selama tiga tahun membuat Exelin harus melewatkan masa perkembangan sang putra. Buah cintanya dengan Amar. Laki-laki yang sangat dia cintai dengan sepenuh hati. Tapi dia sangat bersyukur, berkat sang kakak yang selalu merekam kegiatan sang putra mulai dia lahir sampai sekarang usianya menginjak umur tiga tahun. Dengan video yang direkam sang kakak, Exelin bisa melihat video-video putranya. Meskipun dengan hati yang sakit tidak bisa menyaksikan langsung bagaimana lucunya sang putra di saat itu.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” ucap Rio pada sang adik. Exelin menatap sang kakak yang sedang berdiri menatapnya.
“Aku merasa bersalah telah melewatkan masa kecil Alex,” ucap Exelin dengan sedih.
“Jangan bersedih! Yang terpenting sekarang Alex bisa bersamamu. Dia bisa merasakan kasih sayang mamanya kembali,” ucap Rio pada sang adik yang terlihat sedih.
“Apa Amar mengenal putranya, Kak?” tanya Exelin pada Rio. Rio menggelengkan kepalanya. Exelin yang mendengarnya, hatinya terasa sakit. Anak yang selama ini diharap-harapkan suaminya, malahan sekarang suaminya tidak mengenali anaknya sendiri. Exelin tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alex yang tidak dikenali papanya sendiri.
“Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Kamu harus sehat dulu. Kakak tidak ingin keadaanmu semakin memburuk karena memikirkan Amar. Ini sudah jalan yang di berikan Tuhan untukmu dan Amar. Kalau kamu sehat, kamu akan bisa mendapatkan hati dan cinta Amar lagi,” ucap Rio pada sang adik. Exelin menganggukkan kepalanya kepada sang kakak. Exelin mencoba untuk
tetap berpikir positif. Memang awal mulanya sakit Exelin mengetahui kalau sang suami mengalami Amnesia karena benturan di kepalanya saat dia dan suaminya kecelakaan. Baru dua hari Exelin sadar dari komanya. Selama tiga tahun Exelin tidur panjang karena koma. Exelin sangat merindukan suaminya.
"Dimana Alex, Kak?" tanya Exelin pada Rio.
"Sebentar lagi dia akan kesini bersama dengan mama dan papa," ucap Rio kepada Exelin. Tidak berselang lama terdengar pintu terbuka, terdengar di telinga Exelin suara Alex yang sangat menggemaskan.
"Alex jangan berisik! Mama sedang istirahat," ucap Elena pada sang cucu.
Alex tidak mendengarkan ucapan sang nenek sama sekali. Dia dengan tingkahnya yang menggemaskan tetap berceloteh sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Exelin. Alex langsung terdiam saat melihat sang mama bangun. Exelin menatap sang putra dengan perasaan rindu yang terdalam untuk sang putra. Exelin merentangkan tangan kepada sang putra dan Alex pun langsung berlari kearah Exelin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hey, Boy. Apakah Kau mengenalku?" tanya Exelin. Alex menganggukkan kepalanya dan menatap Exelin penuh rindu.
"Mama," ucap Alex. Exelin tidak bisa menahan tangisnya mendengar sang putra memanggilnya mama. Kata yang selama ini dia rindukan. Exelin memeluk Alex dengan erat.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Elena pada sang putri. Elena duduk di samping samping sang putri.
"Baik, Ma," ucap Exelin pada sang mama.
"Syukurlah kalau begitu. Penantian kita selama ini tidak sia-sia. Yang awal mulanya banyak yang putus asa saat kamu masih belum bangun dari koma. Tapi sekarang setelah melihatmu bangun, harapan kita selama ini menjadi nyata," ucap Elena dengan mata berkaca-kaca. Elena mencium puncak kepala sang putri dengan penuh rasa sayang seorang ibu pada putrinya.
"Terima kasih, Ma. Mama sudah merawat anakku dengan baik," ucap Exelin pada sang mama.
"Kita merawatnya bersama-sama, Sayang. Mertuamu juga sering datang kemari dan sering juga membawa Alex ikut bersama mereka," ucap Elena pada sang putri.
"Mama, kenapa papa tidak mengenal Alex? Apa Alex nakal, sampai papa tidak mau bermain dengan Alex?" tanya Alex pada Exelin. Hati Exelin tercubit mendengar pertanyaan sang putra kepadanya.
“No, Boy. Papa sangat menyayangimu. Papa ingin bermain denganmu dulu. Papa ingin melihat Alex menjadi anak kebanggaan papa. Baru setelah itu papa akan berkumpul bersama kita lagi,” ucap Exelin pada Alex. Alex yang mendengar penjelasan sang mama langsung tersenyum bahagia. Semua orang yang melihat interaksi antara ibu dan anak itu merasa terharu.
“Mama akan berusaha demi Alex. Mama akan membawa papa kembali ditengah-tengah kita, Sayang,” ucap Exelin dalam hati. Tidak berselang lama, papa dan mama Amar datang untuk menjenguk sang menantu.
“Hey, Sayang. Bagaimana keadaanmu sekarang?” ucap Pradipta kepada sang menantu. Pradipta mendekat kearah sang menantu. Mencium puncak kepala sang menantu penuh rasa sayang.
“Baik, Pa. Papa dan mama bagaimana kabarnya?” tanya Exelin pada kedua mertuanya yang barusan datang untuk menjenguk.
“Mama dan papa baik dan sehat seperti yang kamu lihat saat ini, Sayang,” ucap Melisa kepada sang menantu. Melisa duduk disamping sang menantu sambil mengajak sang cucu bersamanya.
“Cucu nenek lagi apa? Nenek dan kakek datang tidak dapat cium,” ucap Melisa pura-pura sedih di depan sang cucu. Alex langsung menghampiri sang nenek dan langsung mencium kedua pipi sang nenek dan sang kakek.
“I am Sorry,” ucap Alex merasa bersalah. Pradipta dan Melisa langsung menghujani cucunya dengan ciuman bertubi-tubi. Exelin yang melihatnya merasa sangat terharu.
“Sudah makan, Boy,” ucap Pradipta pada sang cucu.
“Sudah, Kek. Alex sudah makan bersama dengan kakek dan nenek tadi,” ucap Alex dengan tutur kata yang sudah jelas.
“Good, Boy. Itu baru cucu kakek dan nenek,” ucap Pradipta penuh rasa bangga dengan sang cucu.
"Bagaimana keadaan Amar, Pa?" tanya Exelin pada sang mertua.
"Dia baik. Seperti yang kamu dengar, Sayang. Amnesia Amar tidak bisa dengan muda dipulihkan. Terlebih lagi kalau kita memaksanya mengingat, nyawa Amar dalam bahaya," ucap Pradipta pada sang menantu. Exelin menghela nafas kasar mendengar apa yang barusan disampaikan sang mertua kepadanya. dia tidak ingin sampai suaminya terjadi apa-apa. Exelin percaya kalau Tuhan akan memberikan kebahagiaan yang utuh untuknya dan sang suami.
"Rencanamu setelah ini bagaimana, Sayang?" tanya Pradipta pada sang menantu. Exelin tersenyum hangat pada sang mertua. Semua menatapnya heran melihat Exelin malahan tersenyum.
"Lihat saja nanti, Pa. Apa yang akan Exelin lakukan untuk Amar," ucap Exelin dengan tersenyum kearah mertuanya.
"Papa dan mama percaya padamu. Kamu pasti bisa membuat Amar jatuh cinta lagi kepadamu," ucap Melisa pada sang menantu. Melihat cinta di antara Amar dan Exelin, dia yakin sang putra akan segera pulih dari Amnesianya. Meskipun sang dokter sudah mengatakan kalau itu mustahil untuk terjadi. Tapi Melisa percaya akan kekuatan cinta sang putra kepada istrinya. Dia yakin suatu saat alam bawah sadar sang putra bisa mengenali istrinya kembali.